
Perut Sasa dan Ara sudah semakin membuncit, Ara yang sudah memasuki kehamilan 8 bulan dan Sasa yang tengah hamil 9 bulan tanpa di temani oleh Rafa, sedangkan Ara selalu mendapatkan apa yang dia mau bahkan Rafa selalu ada di samping Ara.
Tentu saja Sasa semakin membenci Ara yang selalu mendapat perhatian Rafa, seperti saat ini Sasa tengah ada di depan kantor Rafa untuk menemuinya, Sasa yang ingin masuk kekantor selalu saja di halangi oleh security yang ada di pintu lobby.
"Aku butuh Rafa buat temenin aku, awal kalian" Sasa memaksa ingin masuk kedalam kantor, salah satu security menghubungi Rada yang kini ada di dalam ruangan nya bersama dengan sang istri yang mengeluh punggung nya sakit.
Rafa yang mendapat telpon bawa Sasa membuat ricuh di lantai satu, Rafa menatap Ara yang tengah baringan di sofa ruang Rafa. "Aku kebawa dulu sayang??"
"Untuk apa Mas???" Ara menatap suaminya yang menahan amara, terlihat wajahnya memerah.
"Sasa ada di bawa, Sayang" Rafa mencoba tenang menahan segala amara nya agar Istri tercinta nya tidak kena amarahnya.
Ara menganggukkan kepalanya mengizinkan suami nya untuk turun kelantai satu untuk menemui Sasa yang ada di lobby bawa membuat keributan.
Rafa berjalan cepat keluar lift dia ingin menghentikan semuanya, dia tidak ingin Sasa terus membuat keributan di kantornya. Security yang tau tuan muda nya keluar salah satu dari mereka membuka pintu untuk Rafa.
"Sasa...!!"pekik Rafa menatap tajam Sasa yang terus memberontak di pegangan Security yang tengah memegang kedua tangan nya.
"Rafa mereka semua kurang ajar sudah menyentuh ku Rafa, menyentuh milik kamu" Sasa mengadu kepada Rafa, Rafa sendiri masih menatap tajam Sasa.
"Untuk apa kamu datang kemari??" tanya Rafa to the poin tidak lagi basa basi kepada Sasa yang kini tengah hamil tua, Sasa hanya menunggu hari dan jam saja.
"Sayang, aku mau kamu pulang ke rumah ku!! Aku mau melahirkan anak kamu sayang"
"Cuii.. Anak, anak siapa yang kamu maksudkan?? Anak dalam perut kamu yang enggak tau bapaknya siapa!! Anak Ha-ra-m kamu itu" Rafa memekik dengan mata yang semakin tajam.
"Rafa cukup, dia anak kita sayang" Sasa masih dengan sabar mencoba mengendalikan Rafa
"Hahah, dasar perempuan gila, tidak tau malu"
"Rafa, kamu suami aku!! kamu juga ayah dari anak aku. Stop bilang ini bukan anak kamu"
"Sampai kapan pun aku tidak akan menerima anak haram kamu sialan, aku masih untung menikahi kamu ja****ng. Kalau tidak kamu akan menjadi bualan orang orang.
Rafa mendekat kearah Sasa, Rafa mencengkram kuat pipi Sasa dengan menatap Sasa tajam, Sasa tengah berjuang melepaskan tangan Rafa dari pipinya. "Ra-fa, He-n-ti-kan"
__ADS_1
Ara keluar dari dalam kantor dia melihat suaminya yang mencengkram kedua pipi Sasa, sampai wajah Sasa memerah. "Mas.."
Rafa yang mendengar suara lembut istrinya, Rafa melepas tangan nya dari kedua pipi Sasa. Dia menoleh kebelakang dia melihat Ara yang tengah berjalan kearah nya, Rafa segera mendekat kearah Ara yang kesusahan berjalan karena hamil tua.
Sasa yang melihat perut Ara membesar sangat terkejut, karena selama ini dia tidak tau kalau Ara tengah hamil. "Ha.. Sialan kepada perempuan sok suci itu juga hamil" Batin Sasa dengan menatap Ara benci, Apalagi Rafa sangat perhatian.
"Lihat ja****ng di anak kandung ku" Rafa memberi tahu Sasa kalau di dalam kandungan Ara itu anak nya.
"Kamu yakin Rafa kalau dia anak kamu?? aku yakin dia bukan anak nya" Sasa menghina Ara, tanpa mengaca kalau yang di dalam kandungannya bukan anak Rafa.
Rafa menatap Sasa dengan senyum mengejek. "Hahaha... Kalau pun dia bukan anak aku, aku akan tanggung jawab, karena aku sendiri tau kalau Istriku masih suci saat menikah dengan ku"
"Mas... Kenapa kamu meladeni dia yang jelas jelas sedang memancing kamu untuk emosi" Ara mengusap lembut lengan Rafa.
Rafa memegang tangan Ara, Rafa menatap Ara yang ada di samping nya dengan senyum. Rafa tidak menyangka kalau Istrinya sangat dewasa dan juga sangat baik. "Sayang, ayo kita pulang. Waktu nya kamu istirahat"
"Apa pekerjaan kamu sudah selesai Mas???"
"Aku akan mengerjakan di rumah saja dengan kamu sayang"
"Yah sudah kalau begitu!!"
"Aku juga istri kamu Rafa"
Rafa tidak peduli dengan teriakan Sasa yang ada di belakangnya, Sasa juga kesulitan berjalan karena perut nya yang sangat besar. Sasa tidak menyerah begitu saja, Sasa berdiri didepan mobil Rafa yang siap melaju. "Rafa.."
"Rafa keluar, aku juga istri kamu!!! Aku butuh kamu Rafa, aku mau melahirkan"
"Minggir"
"Rafa"
"Hey perempuan sialan, kamu jangan serakah. Rafa juga suami ku sialan" Ara yang mendengar Sasa memakinya dia hanya diam tidak meladeni Sasa.
"Minggir, atau aku tabrak" pekik Rafa.
__ADS_1
Rafa yang geram melajukan mobil nya, Sasa seketika itu menepi. "Ahhhhhh, Rafa sialan"
Pegawai yang melihat itu hanya menatap Sasa dengan sinis, pasalnya mereka tau siapa Sasa yang sebenarnya. Dia banyak bermain dengan laki laki lain, mereka juga yakin kalau yang Sasa kandung bukan anak Rafa.
"Kenapa kalian menatap ku seperti itu sialan" pekik Sasa yang merasa malu dan juga kesal.
"Dasar wanita tidak tau diri" semua karyawan yang melihat itu mengolok Sasa.
Sasa berjalan kearah mobil nya, dengan memegang perutnya yang terasa sangat sakit, Ara masuk kedalam mobilnya.
Sasa sampai di rumah sakit dengan berjalan tertatih masuk kedalam rumah sakit. "tolong.. To-long" suara serak dan menahan sakit.
Suster yang mendengar suara Sasa langsung mendekat kearah membantu Sasa, mereka membawa Sasa keruang bersalin. "Tolong keluarkan bayi sialan ini dari perut ku" pekik Sasa yang membuat suster merasa heran dengan Sasa bagaimana bisa seorang ibu berkata kasar kepada Anak nya.
"Bu yang sabar jangan mengatakan yang tidak tidak" Suster menasehati Sasa yang kini tengah meringis kesakitan.
"Hey kamu sebaiknya diam, jangan banyak bacot" Sasa malah semakin menjadi setelah di nasehati.
"Bu, tarik napas keluarkan perlahan. Lakukan berulang kali bu, agar tidak terlalu sakit" Suster dengan sabar memberi tahu Sasa.
Sasa melakukan apa yang dikatakan suster, Sasa berbaring tidak tenang di atas ranjang rumah sakit, malah membuat perutnya semakin sakit.
"Sus, cepat bantu saya mengeluarkan anak ini"
"Sabar yah bu"
"Lalukan operasi saja Sus"
"Coba saya akan periksa dulu bu, sudah pembukaan berapa"
Suster memeriksa Sasa sudah pembukaan berapa, tapi belum ada pembukaan. Suster menyuruh Sasa untuk bersabar lagi. "Bu apa ini anak pertama??"
"Iyah" dengan meringis sakit
"Kalau begitu sabar yah bu, ini menunggu pembukaan lengkap baru anak ibu bisa lahir"
__ADS_1
"Kelamaan aku keburu mati karen rasa sakit Sus"
Suster pun bingung karena tidak ada jam praktek dokter, kalau pun ada pasti sudah pulang. Karena hari juga sudah siang menjelang sore, Suster menyuruh Sasa untuk bersabar dan mengatur napas kalau tidak mau semakin sakit.