DI ATAS SAJADAH

DI ATAS SAJADAH
MENERIMA SISIL


__ADS_3

Pertama kali yang Rafa lihat saat dia bangun di sini nya Ara dan yang duduk di sofa Aisya putrinya, tidak ada orang lain lagi yang berada di ruangan Rafa di rawat selain Anak dan juga Istrinya.


Sedangkan Sisil yang tidak mencintai Rafa hanya ingin anak nya memiliki ayah, tidak peduli Rafa pulang atau tidak, Rafa sakit atau sehat Sisil tidak mau tau.


Sisil tengah ada di lorong kampus bersama teman-teman kampus nya, tertawa bercanda tanpa memikirkan Rafa, tanpa anda nya beban tanggung jawab seorang istri.


"Sil, aku denger kamu sudah menikah???"


"Yah, sama pria yang lebih tua dari aku!!"


"Kenapa??"


"Nama nya cinta apa lah daya geas" Hati dan mulut tidak sama, jika hati Rafa bukan tipe Sisil.


"Iyah, kamu benar!! Kalau sudah menyangkut cinta mau tua, muda, brondong tetap gas"


"Hahaha, dulu Ibu dan ayah ku mah juga sama kayak kamu sil, malah tua.an ibu kau"


Mereka saling berbagi kehidupan mereka bersama dengan ibu dan ayah mereka sampai lupa kalau hari sudah semakin siang. "Gimana kalau lanjut sambil jalan-jalan aja gimana??"


"Kemana??"


"Ke Mall gimana??"


"Okay"


Jika Sisil dan dua teman nya memilih untuk pergi jalan-jalan, maka di rumah sakit Ara tengah menyuapi Rafa, Rafa menatap Ara yang menyuapi nya dengan sangat telaten.


"Terima kasih"


"Sudah kewajiban ku"


"Mau kewajiban atau enggak aku sangat berterima kasih kepada kamu"


"Iyah"

__ADS_1


Setelah menyuapi Rafa, Ara memberi Rafa minum dan juga obat. Rafa menerima obat dan gelas yang berisi air minum dari tangan Ara.


Rafa sangat bersyukur Ara masih mau menjaga nya, kalau saja Ara tidak mau menjaga Ara siapa yang akan menjaga nya. "Maafkan aku yang tidak perna bisa menjaga rumah tangga kita!! Selalu saja ada badai yang menerjang rumah tangga kita karena kesalahanku"


"Jangan terlalu banyak bicara lebih baik kamu istirahat" Ara duduk di sofa dengan Aisya yang berkutat dengan Laptop nya.


Rafa menghela napas lelah melihat Ara yang tidak menjawab, Ara lebih memilih dekat dengan putri nya dari pada dirinya. "Aku hanya meminta Maaf Ara, apa aku tidak pantas mendapat Maaf dari kamu"


Ara dan Aisya menoleh ke Rafa yang menatap mereka berdua dengan sendu, rasa bersalah penyesalan. "Mas, aku sudah memaafkan kamu aku hanya masih kecewa dengan kamu" Lirih Ara dengan menatap Rafa suami yang selalu dia cintai dan sayangi walau selalu mengecewakan.


"Ara, aku-aku tidak tau kalau semua akan jadi seperti ini!! Aku tidak tau kalau pertemuan ku dengan klien waktu itu membawa bencana bagi keluarga kita" Rafa benar-benar menyesal dengan apa yang terjadi.


"Sudah lah Mas, itu juga bukan kesalahan kamu sepenuh nya!! Andai aku waktu itu mau ikut dengan kamu mungkin ini tidak akan perna terjadi" Ara sudah ikhlas dengan semua nya, sudah memutuskan akan menerima semua yang terjadi walau masih ada rasa sesak di dadanya.


Aisya memeluk Umi nya, orang tua angkat yang selalu menyayangi dirinya, memberi cinta yang tulus seperti anak kandung nya sendiri. Sampai mau mengeluarkan uang demi dirinya yang lahir dari perempuan yang sudah berulang kali menyakiti dirinya. "Umi, semua akan baik-baik saja, percayakan semua kepada Allah yang maha mengetahui semua nya" Aisya menenangkan Umi nya yang saat ini ada di pelukan nya.


"Terima kasih nak kamu selalu ada untuk Umi, andai adik kamu masih ada di sini nak" Lirih Ara.


"Umi, Aufia sudah tenang. Jangan Umi bebani dengan kata-kata Umi"


"Aisya" Ara mengeratkan pelukan nya kepada Aisya, Aisya menepuk pelan Ara.


...****************...


"Mas waktu nya sarapan bangun dulu" Ara membangunkan Rafa yang masih tertidur. Mungkin pengaru obat menjadikan Rafa tidur sangat nyenyak.


Ehmmm..


Rafa mulai membuka mata nya saat mendengar suara lembut Ara yang kini ada di samping ranjang nya. "Ara, ini sudah jam berapa kenapa aku masih sangat mengantuk??"


"Ini sudah jam 8 Mas, kamu tidak bangun-bangun jadi aku membangunkan kamu. Apa lagi kamu belum sarapan, belum minum obat"


Ara membantu Rafa bangun dari rebahan nya, Ara sangat telaten merawat Rafa yang sakit. Saat Ara ingin mengambil makan untuk Rafa terdengar pintu terbuka, Ara dan Rafa menatap pintu ingin melihat siapa yang datang.


"Kak, Mas"

__ADS_1


"Assalamualaikum Sil.."


"Waalaikumsalam"


"Hari ini biar aku saja yang menjaga Mas Rafa, aku kasihan dengan kakak yang sudah dua hari ada di sini" Sisil benar-benar kasihan dengan Ara yang sudah dua hari menunggu Rafa tanpa ada niat untuk mengajak dirinya gantian.


"Emm, kalau gitu ini makanan untuk Mas Rafa, ini obat nya!!" Lirih Ara yang mencoba menerima Sisil.


Sisil menerima makan dan obat yang di berikan Ara kepada nya, Ara menatap Rafa dia mengambil tangan Rafa mencium tangan suami nya yang selalu dia lakukan sebelum badai menerjang. "Aku pulang dulu Mas, kalau nanti Sisil kuliah aku akan menggantikan nya" Pamit Ara.


"Iyah Umi, hati-hati"


"Iyah"


Ara berjalan ke arah sofa mengambil tas mewah nya, lalu mendekat ke arah Sisil yang sudah menyuapi Rafa. "Sil, aku pulang dulu yah!! Kalau ada apa-apa kamu telpon aku saja"


"Iyah kak"


Ara meninggalkan Rafa dan Sisil di ruang rawat inap Rafa, Sisil yang masih menyuapi Rafa dengan telaten. Walau sebenarnya tidak ada cinta di antara mereka.


"Terima kasih karena kamu sudah mau menjenguk saya di sini" Lirih Rafa


"Itu karena aku kasihan dengan kak Ara yang sudah dua hari ada di sini" Sisil menyahut dengan menaruh mangkuk bubur yang sudah habis.


Sisil memberi obat dan air minum untuk Rafa setelah Rafa minum obat, Sisil duduk di sofa dengan menatap Rafa. "Mas, kamu kan sudah berumur, kenapa kamu tidak punya pikiran" ketus Sisil


Rafa yang mendengar ucapan Sisil tidak mengerti apa maksud Sisil mengatakan itu kepada nya. "Apa maksud kamu Sil"


"Mas, kamu punya Kak Ara yang bagaikan malaikat tak bersayap tapi kenapa kelakuan mu bagaikan iblis yang menjelma seperti manusia" Sisil sudah mencari tau semua tentang Ara setelah dia menikah dengan Rafa, dia ingin tau bagaimana istri Rafa yang pertama.


Sisil melakukan itu karena dia ingin tau dan bagaimana cara menghadapi Ara, perempuan baik yang mau menerima Rafa dengan segalah kekurangan nya.


Selama dia menikah dengan Rafa tidak sekalipun Ara memaki atau mengatakan hal yang tidak pantas, Ara hanya diam tidak banyak bicara.


Sedangkan Rafa yang mendengar perkataan Sisil yang menohok membuat dadanya bagaikan di tusuk jarum berulang kali. "Aku perna melakukan kesalahan tapi tidak dengan yang waktu itu dengan kamu Sil, waktu itu aku tidak tau apa yang terjadi!! yang aku ingat aku bertemu dengan Klien di luar hotel"

__ADS_1


"Itu karena kamu bodoh Mas, bisa di jebak oleh Klien!! Sudah lah Mas, lebih baik kamu istirahat agar cepat sembuh dan pulang. Aku tidak mau kamu susahkan apa lagi aku juga kasihan dengan kak Ara yang baik itu rela menunggu suami yang enggak tau diri kayak kamu" Sisil mengambil ponsel di dalam tas nya, dia membuka App novel mencari novel yang baru dia baca yang berjudul TERJERAT CINTA CASANOVA KEJAM.


Sedangkan Rafa membaringkan dirinya di atas ranjang nya, dia mulai memejamkan mata nya karena merasa mata nya sangat berat. Rafa dengan muda masuk ke dalam Mimpinya.


__ADS_2