
Ara tengah memandang bayi cantik yang ada di dalam box bayi, bayi kecil yang kini di beri susu oleh pengasuh yang di pekerjakan oleh Rafa untuk menjaga Raisya Hendarso. Yah Rafa memberi marga kepada putri angkat mereka, atau lebih tempat nya anak yang di beli oleh Rafa kepada Sasa. Sasa menjual anak nya kepada Rafa dan Ara sebesar 1M.
Ara merogoh uang begitu banyak demi anak yang akan di telantarkan Sasa di panti asuhan, yah Ara buka Rafa, karena Rafa tidak setuju dengan Sasa yang meminta uang begitu banyak untuk menghargai anak kandung nya.
"Anak cantik, anak Sholehah, jadi anak yang pintar yah sayang" Lirih Ara dengan menoel noel pipi Raisya.
Saat tengah melihat Raisya yang ada di dalam box bayi, perut Ara terasa sakit yang luar biasa, sakit yang sejak kemarin pagi datang dan pergi, Ara kira itu hanya kontraksi palsu yang seperti di jelaskan dokter.
Tapi siang ini perut Ara benar benar sakit, Ara berpegangan di box bayi tempat tidur Raisya, Siti yang melihat itu pun bingung kenapa Majikan nya seperti nya menahan sakit. Siapa yang tau kalau Ara memang menahan sakit di balik cadarnya.
"Bu, apa baik baik saja???" tanya Siti yang kini sudah ada ada di samping Ara
"Perut saya sakit bik, tolong panggilkan Mas Rafa di ruang kerja nya" Ara mengatakan nya dengan menahan sakit yang luar biasa di perutnya.
Siti yang mendengar itu berlari keluar kamar Raisya lalu berlari kearah ruangan Rafa, Siti mengetuk pintu ruangan Rafa.
Tok tok tok
Siti masuk setelah mendengar suara dari dalam, Rafa melihat endang yang khawatir di ambang pintu nya dengan memanggil sebutan pak. "Maaf pak, ibu seperti nya mau melahirkan" Siti mengatakan dengan rasa khawatir di wajah nya.
"Apa??"
"Ibu, sudah kesakitan Pak"
Rafa berlari kearah pintu yang belum di tutup oleh Siti, Rafa masuk kedalam kamar putrinya dan benar saja kalau Ara tengah berpegangan di box bayi putri nya. "Sayang"
Bayangan bayangan Sasa terlintas di pikiran Rafa, Rafa menggendong Ara ala bridal style keluar kamar Raisya, untuk menuruni tangga rumah nya. Untuk turun ke lantai satu.
Rafa sudah ada di dalam mobil bersama dengan Ara yang ada di samping Rafa, Rafa sangat khawatir apa lagi melihat keringat di kening Ara. "Sayang apa kamu kesakitan???"
"Mas shee rasanya orang melahirkan yah seperti ini Mas" Lirih Ara dengan menahan sakit.
Rafa melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi, membelah jalan yang seharusnya sampai tiga puluh menit, kini di tempuh Rara cuma Dua puluh menit. Rafa keluar dengan menggendong Ara masuk kedalam Rumah sakit.
__ADS_1
"Dokter, doker"
Dokter dan suster yang berjaga langsung mendekat kearah Rafa dengan membawa brangkar. Rafa menidurkan Ara di Brangkar rumah sakit, Suster mendorong brangkar masuk ke dalam lift.
Rafa dengan suster yang mendorong Ara keluar dari dalam Lift, suster membawa Ara keruang bersalin. Ara terus berpegangan di tangan Rafa begitupun dengan Rafa yang terus menggenggam tangan Ara.
di dalam ruang bersalin Sudah ada doker yang berjaga, dan kebetulan dokter Lisa yang berjaga. Dokter mengecek Ara, Dokter Lisa terkejut saat merasakan kalau Kepalanya sudah terlihat.
Lisa memberi arahan kepada Ara untuk menarik napas lalu buang perlahan lalu mengejan di lakukan berulang kali dengan Rafa yang menjadi pelampiasan Ara yang tengah berjuang untuk melahirkan buah cinta mereka.
Tidak lama setelah mengejan terakhir Ara sudah melahirkan suara tangis bayi menggema di ruang bersalin, Ara terlihat menitihkan air matanya begitupun dengan Rafa yang menitihkan mendengar anak nya lahir ke dunia tipu tipu.
Oek oek oek..
"Selamat pak anak bapak lahir normal, anak bapak perempuan" ucap dokter Lisa yang kini sudah menyerahkan bayinya kepada suster untuk di timbang dan di ukur panjang nya.
"Sayang terima kasih" Rafa menciumi seluruh wajah Ara yang terlihat bahagian di balik cadar.
"Maaf pak silahkan bapak keluar dulu kami ingin membersihkan Nona Ara" Suara suster mengalihkan perhatian Rafa yang tengah mencium Ara.
"Aku keluar dulu sayang"
"Iyah Mas"
Rafa mengadzani putrinya yang baru lahir sebelum Rafa keluar dari ruangan bersalin Ara. Rafa menghubungi kedua orang tua nya dan juga Mertua nya kalau Ara sudah melahirkan.
Di dalam ruang bersalin Ara sangat bersyukur memiliki dua bayi perempuan yang akan mewarnai hari hari nya nanti. "Terima kasih Ya Allah engkau beri aku malaikat kecil di tengah tengah keluarga hamba dengan suami" Batin Ara.
Sedangkan di rumah Aisya yang tengah bermanja dengan suami dia sudai karena mendapat telpon dari Rafa kalau Putrinya sudah melahirkan, Aisya dengan Zeufa bergegas bersih bersih setelah itu mereka akan pergi ke rumah sakit di mana Ara melahirkan.
Begitupun dengan Yesi dan Adam yang ingin makan siang bersama, mereka urungkan karena mendapat telpon dari Putra nya kalau menantu kesayangannya sudah melahirkan. Mereka bersiap siap untuk ke rumah sakit.
Setelah satu jam lama nya Yesi dengan Adam sudah ada di parkiran rumah sakit, mereka berjalan masuk kedalam rumah sakit, saat ingin masuk kedalam lift Yesi melihat Besan nya yang juga ingin masuk kedalam lift. "Mbak Aisya" panggil Yesi yang berjalan mendekat kearah Aisya dan Zeufa.
__ADS_1
Aisya dan Zeufa menoleh kebelakang mereka melihat Yesi dengan Adam yang berjalan mendekat. "Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Mereka masuk kedalam lift bersama dengan perasaan yang bahagia, tidak lama mereka keluar dari dalam lift berjalan di kearah kamar Ara, Ara yang sudah di pindah ke ruang rawat Vip.
Yesi mengetuk kamar Vip yang ada di lantai lima rumah sakit, setelah itu mereka masuk kedalam ruang rawat Ara. "Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalama" Ara dengan Rafa menyahut salam keempat orang tua nya.
"Bagaimana sayang apa masih ada yang sakit nak?? Aisya bertanya kepada Ara yang kini Aisya sudah ada di samping Ara begitupun dengan Yesi.
"Alhamdullilah Mi enggak ada"
"Alhamdullilah kalau begitu".
"Anak kamu perempuan atau laki laki?? Tanya Yesi yang sudah sangat kepo.
"Perempuan Ma"
"Kalian punya dua putri iya?? Wah kala begitu Mama akan sering sering datang membawa boneka" Yesi yang terlihat sangat senang mendengar kalau dia punya cucu perempuan lagi, walau yang satu lagi bukan anak Rafa dan Ara.
"Ah iya, nama anak kalian siapa nak???" kini giliran Aisya yang bertanya.
"Belum tau Mi, Mas Rafa masih memikirkan nama yang cocok buat Putri kedua kami" jawab Ara jujur.
"Raufia Abraham Hendarso" Rafa menyahut pertanyaan Aisya.
"Emmm, nama yang cantik"
"Aisya dan Aufia" ucap Aisya
Kebahagiaan menyelimuti keluarga Ara dan Rafa karena keempat orang tuanya mau menerima Raisya yang bukan anak kandung mereka.
__ADS_1