
Ara menatap kedua putrinya yang tengah meminum susu, Ara memberikan Aisya dan Aufia Asi, sebelum Ara melahirkan Aisya meminum susu formula, tapi kini Ara juga memberi Aisya minum Asi nya.
Ara dan Rafa benar benar tidak membedakan antara Aisya dengan Aufia, walau anak kandung mereka sudah lahir. "Kamu anak ke dua Umi jadi anak yang solehah, pintar, dan berbudi luhur" Lirih Ara.
"Bu, sepertinya nona Aufia mengerti apa yang di katakan ibu, dia menatap ibu" Ucap Inem yang menjaga Aufia.
"Ah iya Mbok, kemarin juga Aisya gitu menatap saya" ucap Ara sangat bahagia.
Saat tengah asik bercanda dan tawa Rafa masuk kedalam kamar Aufia dan juga Aisya, Rafa mendekat kearah Ara. "Sayang kamu melupakan aku?? Lirih Rafa yang berbisik di telinga Ara, dengan Rafa yang memeluk Ara dari belakang.
"Mbok, Mbak aku tinggal dulu yah mau ngurus bayi besar dulu"
"Heheh.. Iyah Bu" ucap Siti dengan Inem.
Setelah kepergian Ara dengan Rafa, Inem yang kepo dengan anak yang kini di rawat oleh Siti, bagaimana bisa dalam beberapa hari bisa lahir bayi lagi, begitu lah yang ada di dalam pikiran Inem. "Mbak, aku boleh tanya???"
"Iyah Mbok apa??" Siti lebih muda dari Inem, Inem juga yang menyuruh Siti memanggilnya mbok.
"Emm, apa mereka kembar???" tanya Inem dengan menatap bayi perempuan yang ada di box bayi satu lagi.
"Tidak Mbok, Aisya buka anak kandung Bu Ara dan juga Pak Rafa"
"Lalu anak siapa?? Kenapa bu Ara yang merawat bersama pak Rafa???"
"Ini anak mantan istri kedua pak Rafa yang enggak mau mengakui anak kandung nya"
"Jadi ini anak pak Rafa dengan istri kedua nya???"
"Bukan Mbok, ini anak Mantan istrinya pak Rafa, lebih tepat nya Pak Rafa dan Bu Ara membeli nya dari ibu kandung nya sendiri yang ingin menaruh nona Aisya ke panti asuhan"
"Mbok makin enggak ngerti neng, heheh"
Siti menceritakan seluk beluk Aisya yang ibu kandung nya tidak mau mengakui nya sebagai anak, malah ingin menaruh nya di panti asuhan, jika Ara dan Rafa mau merawat Aisya, Siti menjelaskan kalau Ara harus membayar uang kepada ibu kandung nya.
Inem yang mendengar cerita Siti merasa sesak di dadanya bagaimana bisa anak yang belum memiliki dosa harus tidak mendapat pengakuan dan juga ibu yang tega menjual anak nya demi uang 1M.
__ADS_1
"Untung saja Bu Ara orang baik jadi bu Ara yang memberi uang itu kepada ibu kandung nya tapi dengan Syarat ibu kadung tidak ada hak lagi atas anak yang sudah Ara beli" Lirih Siti taku ada yang mendengar obrolan nya dengan Inem.
"Yah sudah kamu tidur dulu saja nanti kita bergantian jaga" Inem menyuruh Siti untuk tidur dulu sebelum nanti dia akan tidur.
"Apa tidak Mbok saja dulu???" Siti kasihan dengan Inem karena baru datang harus langsung berkerja untuk menjaga Aufia.
"Tidak apa kamu tidur dulu saja" ucap Inem
Di kamar samping kamar Aisya dan juga Aufia Ara tengah bersama dengan suami nya, Ara menemani Raga mengerjakan pekerjaan kantor yang menumpuk. "Banyak sekali Mas pekerjaan kamu"
"Entahlah sayang aku sendiri juga bingung"
"Mau dibantuin Mas???"
"Boleh sayang"
Ara mengambil salah satu kertas yang tertumpuk rapi di meja kamar Ara dan Rafa, Ara mulai membantu Rafa untuk menyelesaikan pekerjaan nya. Setelah dua jam akhirnya tinggal satu berkas yang harus di kerjakan, Ara mengambil bekas itu.
Ara menatap secarik kertas yang ada nomor ponselnya dan juga ada pesan di kertas itu. "Jika Istri kamu belum bisa menuntaskan hasrat kamu, kamu bisa hubungi aku pak Rafa. Saya akan memberikan kehangatan untuk bapak dan saya yakin kalau bapak akan merasa ketagihan saat sudah bersama dengan saya"
Adelia"
Ara yang sudah membaca itu menatap tajam suami nya, Rafa yang menghadap laptop nya merasa Ara tengah menatap nya tapi tidak seperti tatapan cinta seperti biasa nya. Rafa menoleh kebelakang dan benar saja kalau Ara tengah menatap sangat tajam dirinya.
"Sayang kenapa???" Rafa bertanya dengan sangat lembut takut kalau dia benar benar membangunkan singa betina.
Ara tidak menyahut pertanyaan Rafa, Ara memberikan secarik kertas kepada Rafa, Rafa menerima kertas itu lalu melihat nya. Dia sangat terkejut melihat nama yang di kertas itu Adelia. Sekertaris baru nya.
"Mampus aku" Batin Rafa.
"Sa-yang, ghemm ini aku enggak tau apa apa" Lirih Rafa memandang takut Ara.
"Siapa Adelia???"
"Ini ini se-Sekertaris baru aku" Rafa menjawab jujur pertanyaan Ara, yang menatapnya tajam.
__ADS_1
"Hemmm, besok aku mau ikut ke kantor"
"Ngapain yank"
"Enggak boleh???"
"Boleh boleh"
Ara membanting berkas itu ke meja yang ada didepannya, Ara beranjak dari duduk nya berjalan masuk kedalam walk in closet. Ara keluar membawa selimut tebal lalu melempar nya ke sofa yang tadi dia duduki.
"Sayang apa maksud nya ini???"
"Seminggu tidur di situ"
"Apa???" pekik Rafa terkejut bukan main, bagaimana dia tidur tidak dengan memeluk Ara
"Sayang aku puasa lho ini, kamu juga tega kalau aku tidak memeluk kamu???"
"Bodoh Amat"
Ara berjalan kearah ranjang, Ara membaringkan dirinya ditengah tengah ranjang. Rafa yang melihat itu menarik napas lelah. "Sudah puasa tidur di sofa pula" Lirih Rafa yang kini kembal mengerjakan pekerjaan nya yang tinggal satu lagi.
Ara terlelap begitu cepat nampak nya Ara benar benar kelelahan mengurus dua bayi sekaligus walau di ada dua pengasuh yang ikut menjaga. Apalagi Ara ibu muda yang baru saja melahirkan apa lagi langsung mengurus dua bayi sekaligus.
Rafa yang sudah selesai menyelesaikan pekerjaan nya mendekat kearah Ara yang sudah terlelap. "Kamu benar benar kecapekan Sayang mengurus dua bayi sekaligus" Lirih Rafa menarik selimut untuk menyelimuti Ara.
Rafa kembali ke sofa dia mana dia akan tidur satu minggu di sofa di dalam kamar nya, Rafa sudah sering mendapat hukuman yang sama seperti saat ini. Rafa mulai memejamkan mata nya, dia kembali teringat secarik kertas yang berikan Ara sebelum Ara tidur.
Rafa membuka kertas itu membaca kembali, dia sangat terkejut dengan isi surat itu, selain dia langsung mencantumkan namanya, dia dengan tidak tau malunya menulis salam yang menyukai mu. "Ternyata aku salah mencari sekertaris" Batin Rafa
Rafa menghubungi Asisten pribadi nya untuk mencarikan dia Sekertaris yang baru yang enggak ada surat menyurat apa lagi menulis kata kata yang menjijikan, Rafa buka nya suka malah merasa sangat jijik dengan perempuan yang mengobral tubuh nya begitu saja.
Rafa mematikan sambungan telpon sebelum orang yang di sebrang telpon mengatak sesuatu, Rafa mematikan terlebih dahulu.
"Bos kurang ajar emang" gerutu Asisten Rafa yang waktu tidurnya di ganggu oleh Rafa.
__ADS_1