
Ara menangis di kursi tunggu dengan Aisya yang memeluk Ara, Aisya yang menemani Ara dari semalam. Ara terlihat hancur, sedih, merasa bersalah semua menjadi satu tidak bisa di jelaskan bagaimana Ara terpukul saat ini.
Aisya terus mencoba menenangkan Ara yang dari semalam menangis, Ara juga tidak tidur. Ara hanya menangis di kursi tunggu ruang Operasi dari semalam.
"Umi, jangan menangis lagi. Abi pasti baik-baik saja" Aisya sudah berulang kali mengatakan kalimat yang sama.
"Ini semua salah Umi yang tidak menerima pernikahan Abi, mulut dengan hati Umi tidak sama dengan kenyataan yang ada"
Saat Aisya tengah menenangkan Ara, mereka berdua mendengar suara lembut yang selalu ada untuk Ara selama ini. Ara mendongak menatap Aisya dengan Yesi yang berjalan mendekat ke arah nya, sedangkan suami mereka ad di belakang.
"Ara.."
"Ma, Mi.."
Dua wanita hebat itu memeluk Ara dengan sangat erat mereka menyalurkan rasa kuat, sabar kepada Ara yang terlihat kacau. "Ma, Maafkan Ara yang tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Mas Rafa" Lirih Ara dengan menangis.
"Nak, ini semua sudah takdir yang tidak bisa di ubah" Yesi mencoba menenangkan Ara menantu kesayangan nya.
"Nak, kamu harus sabar ini ujian dari Allah"
Ara terduduk lemas di kursi yang dia duduki bersama Aisya sebelum orang tua dan mertua nya datang, Ara bersandar di sandaran kursi yang dia duduki.
Yesi dan Aisya melihat Ara yang sangat terpukul dengan Rafa yang belum keluar dari ruang operasi hingga kini. Yesi dan Aisya duduk di samping Ara, sedangkan Aisya bergeser memberi waktu Nenek dan Uti nya menenangkan Umi nya.
"Ara, kamu tau nak semua rumah tangga tidak ada yang terus berjalan sesuai kemauan kita, setiap rumah tangga berbeda ujian nya. Mungkin di luar sana ada yang lebih di uji dari kamu nak, mungkin juga mereka kuat dan mungkin juga mereka menyerah. Allah tidak akan memberikan Ujian di luar batas kemampuan Umat nya" Aisya mengingatkan Ara kalau semua yang terjadi karena kuasa Allah.
Ara yang mendengar perkataan Aisya, Mami nya yang selalu ada di garda terdepan saat Ara dalam keterpurukan. "Apa belum cukup Mi, Aufia meninggalkan Ara dan keluarga nya??" Ara menatap mata Aisya seakan dua perempuan berbeda usia itu saling bicara dari tatapan mata.
"Apa kamu tau nak semua yang ada di dalam diri kita, apa yang kita punya, apa yang menjadi milik kita itu semua hanya titipan, kita sebagai penjaga nya saja. Bagaimana kita menjaga apa yang kita miliki dan punya, sewaktu waktu di Ambil kembali oleh yang memberi kita harus siap, siap tidak siap harus siap nak!! Sama hal nya dengan rumah tangga kalian saat ini Rafa di uji dengan dua perempuan apa kah Rafa bisa menjadi suami yang baik untuk istrinya atau tidak, begitupun dengan kamu yang di uji ada hati yang lain di rumah tangga kalian!! Tergantung kamu bagaimana kamu menyikapi, menghadapi semua ujian yang di beri. Kalau Aufia pergi itu tanda nya Allah lebih sayang Aufia dari pada kita keluarga nya. Perbanyak menyebut nama Allah, pasrahkan semua kepada nya" Aisya menjelaskan panjang lebar kalau kehidupan tidak selama nya akan lurus seperti yang di harapkan, ada kalah nya ada tikungan, lobangan, ada juga tebing yang curam, badai.
Ara mendengar semua yang Aisya katakan dia ingat kembali kejadian kemarin malam sebelum Ara mendapatkan kabar Rafa kecelakaan.
__ADS_1
Pukul 01:00
Rafa memasukan mobil mewah nya ke dalam gerbang tinggi dan mewah rumah yang sudah 20 tahun dia tempati bersama sang istri dan kedua anak-anak nya.
Rafa turun dari dalam mobil dengan keadaan kacau balau, tidak terlihat seperti Rafa sang CEO melainkan terlihat seperti gembel yang keluar dari dalam mobil mewah.
Rafa mengetuk pintu rumah yang sudah di kunci oleh pembantu atau Ara, beberapa kali Rafa mengetuk dan memencet bel rumah nya berharap masih ada yang bangun dia hari yang sudan sangat larut malam.
Pintu terbuka Rafa melihat Ara yang membuka pintu Rumah nya, Rafa mengira kalau Ara menunggu nya seperti biasanya saat sebelum dia menghancurkan segalanya.
"Assalamualaikum Umi"
"Waalaikumsalam, kenapa kamu datang malam-malam"
"Umi bukan kah kamu menunggu Abi, seperti dulu???"
"Aku tidak menunggu kamu, aku terbangun dari tidur ku saat mendengar suara bel berbunyi"
Ara membuka pintu rumah nya setelah Rafa masuk Ara menutup pintu rumah nya dan tidak lupa dia mengunci pintu rumah nya.
Rafa berjalan lunglai masuk kedalam rumah sampai menaiki anak tangga, Ara melihat nya dari jarak yang tidak jauh dari Rafa. Ara melihat punggung suami nya yang perlahan mulai sampai di lantai dua. Rafa berjalan ke arah kamar nya dengan Ara, Rafa masuk ke dalam kamar sedangkan Ara masuk ke dalam kamar Aufia.
Rafa yang merasa kalau Ara tidak ikut masuk dia kembali keluar mencari Ara di lantai bawa tidak menemukan Ara, terakhir Rafa mencoba untuk mencari Ara di kamar putri nya Aufia.
Ceklek..
Rafa melihat Ara tengah tertidur di kamar putrinya, Rafa mendekat ke arah Ara yang baru saja memejamkan mata nya. "Umi.. Kenapa kamu tidur di sini??"
Ara yang mendengar suara suami nya yang sudah puluhan tahun yang menjadi penenang hati nya, kini Ara membenci nya. Ara membuka mata nya melihat Rafa yang menatap nya dengan rindu. "Aku ingin tidur di sini silahkan kamu keluar dari sini"
"Umi, aku rindu dengan kamu"
__ADS_1
"Maaf tapi aku tidak bisa"
"Kenapa Umi?? Kamu istri aku".
" Karena kamu sudah melukaiku"
"Aku sudah minta maafkan Umi"
"Memaafkan **kesalahan** kamu tidak lah muda!! Aku selalu teringat penghianatan kamu"
"Lalu untuk apa kita bertahan kalau kamu tidak memaafkan aku???"
"Karena kamu yang memohon dan mengemis kepada ku Rafa!!!" Hilang sudah Akal sehat Ara dihari kepulangan Rafa selama satu minggu.
Rafa menatap Ara tidak percaya kalau Ara bisa dengan tidak punya hati mengatakan itu semua kepada Rafa. "Kamu berubah Ara"
"Berubah!! Kamu yang membuat ku menjadi seperti ini ingat itu"
"Kamu tega dan tidak punya hati Ara"
"Hahaha.. Apa kamu tidak ingat satu bulan yang lalu kamu mengatakan kalau aku seperti anak kecil!! Kamu lupa itu?? Apa kamu punya hati saat mengatakan itu kepada ku?? Sedangkan aku di sini yang terluka" pekikan Ara yang menggelegar di kamar Aufia, kamar anak ke dua mereka. Diaman kamar yang selalu ada kenyamanan kini menjadi saksi perselisihan, cekcok orang tua nya.
Rafa berbalik berjalan keluar meninggalkan Ara di kamar putri nya, dengan menangis sesenggukan, Rafa meninggalkan rumah entah kemana tujuan nya. Yang Rafa tau kalau Ara hanya mengasihani bukan cinta di antara mereka.
Rafa melajukan mobil nya dengan kecepatan di atas rata-rata, kata-kata Ara terus teringat, terngiang-ngiang di kepala Rafa. "Ahhhhhhm..." teriak Rafa di dalam mobil dengan menambah kecepatan mobil nya
Rafa yang sudah sangat frustasi tidak menyadari kalau di depan nya ada truk pengangkut barang yang tengah melaju dengan sangat kencang. Bunyi klakson terus terdengar dari truk di depan mobil Rafa.
Rafa yang menyadari ada kendaraan lain yang ada di depan nya dia langsung membanting stir ke sisi lain, mobil yang Rafa kendarai menabrak pohon di tepi jalan dengan sangat keras, kepala Rafa terbentur oleh stir mobil dengan sangat keras, Rafa langsung kehilangan ke sandaran nya.
Sedangkan truk pengangkut barang selamat, tanpa menghiraukan Mobil Rafa yang menabrak pohon. Supir truk melajukan mobil nya tanpa melihat spion lagi.
__ADS_1
Pukul 03:00 Ara mendapat kabar kalau suami nya kecelakaan di rumah sakit