DI ATAS SAJADAH

DI ATAS SAJADAH
TITIP


__ADS_3

Ara di sibukkan dengan tiga bayi yang kini dia rawat untuk mengisi kekosongan hari-hari nya, Ara rela menjaga dua cucu nya dan satu anak tirinya. Ara menjaga mereka bertiga dengan penuh kasih sayang yang sama tidak membeda-bedakan cucu dan anak tirinya.


Ara akan menjaga mereka sampai ibu-ibu dari Malaikat kecil yang dia jaga pulang dari kuliah, setelah pulang kuliah mereka akan menjaga nya sendiri berbeda dengan Aisya yang masih perlu bantuan nya karena dia mengurus dua bayi.


"Umi, terima kasih mau membantu Aisya menjaga buah hati Aisya dan Mas Andika" Aisya sangat bersyukur karena Ara mau menjaga Dua anak nya.


Sedangkan Mami Andika juga ingin merawat dua cucunya tapi apalah daya nya, kesibukan nya di butik membuat nya tidak bisa menjaga dua cucu nya. Menjadikan Ara yang menjaga dengan sangat senang.


"Sudah lah sayang jangan bilang seperti itu Umi malah senang bisa merawat dua cucu Umi"


"Apa Umi tidak kerepotan menjaga tiga bayi Umi??"


"Tidak sayang"


"Maaf Umi, Aisya belum bisa membahagiakan Umi malah menyusahkan Umi terus"


"Husss,.. Umi enggak suka yah kamu ngomong gitu"


Belum juga Aisya menjawab Umi nya, Baby A sudah menangis di box bayi nya karena haus. Aisya mendekat ke arah box bayi untuk memberi Asi yang sudah ada di dalam botol susu.


"Umi lihat dia sangat lahap meminum susu"


Ara mendekat ke arah box melihat cucu nya yang membuka mata indah nya, tengah meminum Asi dari botol susu yang di berikan Aisya. "Cucu, nenek yang cantik bagaimana tidur nya nyenyak sayang??" Ara mengusap pipi chubby Aulia yang tengah menyusu.


"Tidak terasa yah Umi sudah berusia 3 bulan" Aisya merasa waktu begitu sangat cepat, rasa nya baru kemarin dia melahirkan tapi kini usia anak nya sudah tiga bulan.


"Nanti kamu akan merasakan apa yang Umi rasakan saat twins sudah besar!! Kamu akan mengatakan, tidak terasa waktu begitu cepat kini anak-anak sudah dewasa" Ara mengingat saat Aisya dan Ara lulus sekolah SMA.


"Iyah aku ingat waktu kami lulus sekolah Umi mengatakan hal itu!! Umi merasa kalau kami masih anak-anak" Lirih Aisya dengan menatap putrinya.


Ara menatap putrinya yang sudah menjadi orang tua, tidak terasa kalau dirinya sudah tua dia punya dua cucu, mungkin kalau Aufia masih ada di tengah-tengah keluarga nya mungkin dia juga mungkin sudah menikah atau mungkin dia akan mengejar impian nya seperti yang dia harapkan dulu.


Aisya yang melihat Umi nya tiba-tiba murung, Aisya yakin kalau Umi nya tengah memikirkan Aufia. "Umi, Aufia mungkin tidak ada di tengah-tengah kita saat ini!! Jika Allah sudah berkehendak Umi akan bisa bertemu dengan Naila perempuan yang sangat mirip dengan Aufia.


"Amiin" Ara memang ingin bertemu kembali dengan perempuan yang sangat mirip dengan Aufia yang berbeda nama.


"Yah sudah Umi istirahat saja, Aisya yakin kalau Umi sangat lah lelah" Aisya ingin mengalihkan pikiran Umi nya terhadap Aufia yang selalu membuat Umi nya sedih.


"Iyah, Umi sudah sangat mengantuk ingin tidur siang Nak!! Kamu tidak apa-apa kan kalau Umi tinggal sendiri??"


"Tidak apa Umi, lagian kan ini kamar Aisya dulu"


"Hahaha..yah sudah sayang Umi tinggal dulu yah"

__ADS_1


"Iyah Umi"


Ara meninggalkan kamar Aisya yang dulu dia tempati saat belum menikah, Ara kembali ke kamar nya di samping kamar Aisya. sedangkan Aisya menatap Ara dengan iba, perasan nya sangat sesak melihat Umi nya yang terlihat murung.


"Ya Allah, jika Adik hamba masih hidup pertemukan Umi dengan nya, jika dia sudah ada di sisi mu beri petunjuk untuk keluarga ku" Batin Aisya.


Sedangkan Ara yang ada di kamar nya dia baru saja menyelesaikan sholat dan meminta agar kembali di pertemukan dengan perempuan yang bernama Naila.


Baru saja Ara ingin merebahkan dirinya di atas ranjang terdengar suara ketukan pintu, Ara membuka pintu siapa yang datang ke kamar nya.


"Kak.."


"Kenapa Sill..??"


"Aku titip anak aku dulu yah?? Aku mau pergi dengan Mas Rafa kak ke Mall"


"Kenapa tidak di ajak saja, dia juga butuh udara segar Sil"


"Tidak kak aku ingin jalan-jalan berdua saja"


"Yah sudah mana anak kamu??"


"Ada di kamar kak!! Aku bawa dia ke sini dulu yah kak"


"Iyah"


Mungkin rasa cemburu ada karena sejak tiga bulan terakhir Rafa selalu mengajak Sisil tanpa mengajak Ara sebagai istri tertua nya.


Tapi Ara menerima nya segala resiko suami nya menikah dengan yang lebih muda, Rafa juga jarang mengunjungi kamar Ara akhir-Akhir ini. Rafa sering kali tidur dengan Sisil dan anak mereka di taru di kamar Ara.


Saat Ara tengah melamun dia di kejutkan dengan Andika yang baru pulang ke rumah setelah dari kampus. "Assalamualaikum Umi"


"Ah.. Nak. Waalaikumsalam"


"Kamu baru pulang nak??"


"Menunggu Sisil yang ingin menitipkan putrinya ke Umi"


Andika merasa aneh dengan ibu tiri nya akhir-akhir ini, dia sering menitipkan putrinya kepada Umi nya. Andika tidak tau kenapa tapi Andika tau kalau Ayah mertua nya mulai tidak adil. Andika merasa sudah tiga bulan ini Rafa dan Sisil berubah.


"Umi rumah kami sudah lama kosong!! Andika ingin mengadakan tahlilan di sana, apa Umi bersedia untuk tinggal di sana sebelum acara tahlil berlangsung???"


"Tentu saja mau nak kenapa tidak!! Itu bagus sekalian kamu adakan Aqiqah untuk dua putri kalian"

__ADS_1


"Ide yang bagus Umi, besok kita pulang ke rumah Andika!! Untuk putri Abi dan Bunda biar Andika carikan Baby Sister atau Baby sister Andika dulu Mi"


"Iyah Nak itu terserah kamu saja Umi manut!! Yang penting baik dan telaten"


"Iyah Umi, kalau begitu Andika ke kamar dulu sudah kangen dengan twins"


"Iyah nak!! Jangan lupa cuci tangan dan kaki kamu sayang"


"Iyah Umi, terima kasih sudah di ingatkan"


"Sama-sama"


Andika berlalu dari hadapan Ara dan setelah itu pas sekali Sisil tengah datang dengan membawa putrinya di gendongan nya. "Kak, titip yah??"


"Iyah sil"


Sisil berlalu dari harapan Ara dengan membawa tas besar yang entah apa isinya, Ara tidak curiga atau bertanya apa yang di bawa oleh Sisil. Ara membawa Alisia masuk ke dalam kamar nya.


Sedangkan Andika yang sudah ada di kamar bersama dengan Istri tercinta nya, membicarakan tentang Umi dan rencana nya. Aisya juga merasa kalau Sisil berubah, menjadikan Aisya menyetujui saja apa rencana nya untuk membuat Ara jauh dari Rafa dan Sisil.


Andika ingin tau apa Rafa akan mencari Ara atau tidak setelah Ara tidak pulang ke rumah. Setelah membicarakan rencana nya dia menghubungi Mami dan Papi nya untuk membicarakan rencana nya dan ke dua orang tua nya setuju.


Saat Andika ingin menutup sambungan telpon Mami nya menghentikan Andika, Mami nya mengatakan kalau melihat Rafa dengan Sisil di bandara. Karena Mami dan Papi Andika yang ada di bandara kebetulan mereka ingin melakukan perjalanan bisnis.


Mereka melihat Rafa dan Sisil menyeret koper masuk ke dalam bandara. Andika mengatakan kalau Sisil menitipkan putrinya kepada Mertua nya karena ingin pergi ke Mall kenapa sekarang ada di bandara.


Setelah banyak yang Andika dan Mami nya bicarakan Akhirnya Andika menutup sambungan telpon nya dan mengatakan kepada Aisya kalau Rafa tengah ada di bandara bersama dengan Sisil.


"Sebaik nya kita bicarakan sama Umi Mas"


"Iyah"


Andika dan Aisya dengan kedua nya menggendong anak mereka, keluar kamar untuk bertemu dengan Ara yang ada di kamar nya. Andika mengetuk pintu kamar Ara, Ara yang ada di dalam membuka pintu kamar nya.


"Ayo masuk ada apa tumben kalian berdua"


Mereka bertiga duduk di sofa yang ada di kamar Ara, Andika menceritakan apa yang Maminya katakan. Ara juga mengatakan kalau Sisil tadi pergi membawa tas yang entah apa isinya.


Ara tidak menyangka kalau madu dan suami nya tega membohongi nya, Ara benar-benar kecewa dengan Rafa dan Sisil. Sudah sering Ara merasa di abaikan oleh Rafa akhir-akhir ini.


"Umi, kita pinda ke rumah Andika saja, Umi mau kan??"


"Lalu bagaimana dengan putri mereka??"

__ADS_1


"Kita bawa saja ke rumah Andika nanti kalau mereka pulang di kembalikan sama mereka Umi"


Ara menyetujui apa yang di katakan oleh menantu nya, Ara mulai mengemas barang-barang nya dan ikut bersama anak dan menantu nya pulang ke rumah lama mereka.


__ADS_2