DI ATAS SAJADAH

DI ATAS SAJADAH
SAKIT PERUT


__ADS_3

Dua hari sudah Ara dan Sisil tidak pulang ke rumah karena kesal dengan Rafa, Rafa sudah sangat stres menghadapi dua istrinya yang sudah dua hari ngambek dengan nya.


"Kenapa dengan istri-istri ku suka sekali membuat aku pusing akhir-akhir ini" Lirih Rafa menatap photo dirinya dengan Sisil dan Ara yang baru di ambil beberapa bulan yang lalu.


Sedangkan Ara dan Sisil tengah menemani Aisya yang kini merasakan kontraksi palsu sedari Ara dan Sisil menginap di rumah Aisya. "Aisya sabar yah sayang memang begini nak, kalau tengah hamil tua" Ara tengah mengusap perut buncit Aisya dengan sholawat berharap kalau perut Aisya tidak sakit lagi.


"Kak, tapi aku tidak merasakan nya???" Sisil yang memang tidak merasakan sampai dia hamil sembilan bulan.


"Setiap kehamilan berbeda-beda tidak bisa di samakan!! Kamu seperti aku dulu yang tidak pernah mengalami kontraksi palsu" Ara menjelaskan kepada Sisil.


Sisil menganggukkan kepala nya dia menatap Aisya yang sedari tadi meringis ke sakitan, dia merasa iba, dia sama-sama hamil tapi dia tidak perna merasakan apa yang di rasakan rasakan anak tirinya. "Apa rasanya sangat sakit??" Sisil merasa mengeri melihat anak nya.


Sedangkan Ara masih mengusap perut putrinya sampai Aisya merasa nyaman dan kini masuk dalam alam mimpi nya. "Sungguh aku merasa ngeri kak melihat Aisya"


"Kontraksi palsu sama sakit nya dengan saat ingin melahirkan"


"Apa nanti Aisya tidak merasakan sakit saat ingin melahirkan?? Kan sekarang sudah merasakan nya kak!!"


Ara terkekeh mendengar pertanyaan istri istri muda suami nya yang lebih tepat sama dengan usia anak nya, Ara sangat lah maklum kalau Sisil belum mengerti.


"Kak, kenapa kakak malah tertawa sih!!"


"Kamu memang masih sangat muda jadi aku sangat memaklumi kalau kamu masih belum tau semua nya!!"


"Jadi bagaimana kak??"


"Meskipun Aisya merasakan kontraksi palsu sekarang tetap saja nanti saat ingin melahirkan dia akan tetap merasakan sakit"


"Lho kenapa kak??"


"Yah, memang sudah seperti itu. Berbeda lagi kalau melahirkan yang di sudah di tetapkan operasi, mungkin dokter akan menjadwalkan tanggal nya!! Ada lagi ibu yang tidak kuat melahirkan normal, ada yang ada kekuatan fisiknya tidak memungkinkan!! Setiap ibu hamil tidak sama Sil, pasti mereka punya pengalaman sendiri. Kamu besok juga akan merasakan pengalaman di mana anak pertama kamu"


Sisil mengusap perut nya sudah sangat membuncit, sudah sembilan bulan dan Anak tirinya juga sudah hamil tujuh bulan. "Kamu jangan sakit yah kalau keluar, Bunda ngeri melihat kakak kamu saja Bunda merasa ngeri saat kontraksi palsu tiba-tiba datang" Batin Sisil dengan mengusap pelan perut nya.


Ara tau kalau Sisil tengah takut apa lagi menjelang kelahiran yang hanya menunggu hari saja, atau bisa saja menunggu jam saja. "Kamu jangan takut Sil, ingat Allah akan membantu kamu dalam segala hal saat kamu mengingat nya" Ara memegang tangan Sisil dengan lembut.

__ADS_1


Jika Ara tengah menenangkan Sisil yang ada di kamar Aisya, maka di kantor Rafa sudah berkeringat dingin, perutnya sudah melilit sejak pagi, perutnya sakit dengan tidak pasti terkadang sakitnya sampai ke punggung, terkadang hilang, terkadang datang tapi tidak terlalu sakit.


Ingin pulang tapi pekerjaan nya masih sangat banyak, sangat menumpuk karena dia tidak fokus sejak pagi karena merasakan perut nya sungguh sangat melilit, keringat menetes dari kening Rafa, kemeja yang dia pakai saja sudah basa oleh keringat.


Sekertaris nya saja sampai bingung harus bagaimana, karena dia juga masih baru di perusahaan Rafa. Dia tidak tau harus menyuruh siapa untuk membantu bos nya yang sudah melipat kedua tangan nya di atas meja, dengan kepala yang sudah di tumpangkan di kedua tangan nya.


"Pak, apa bapak ingin di telepon kan ibu???"


"Hmmm, telpon kan istriku"


"Baik pak"


Sekertaris Rafa yang baru menghubungi Ara yang tengah bercerita dengan Sisil di kamar Aisya dengan menunggu Aisya yang tengah tertidur, dengan sangat pulas.


Ara yang melihat ponsel nya menyalah mengambil ponsel nya yang ada di atas meja dekat ranjang Aisya. "Tumben sekali kantor menghubungi ku!!!"


Ara mengangkat telpon dari kantor, Ara takut kalau ada masalah penting sampai kantor menghubungi nya. "Hello, Assalamualaikum"


"Hello, Waalaikumsalam"


"Pak Rafa tengah sakit perut sejak tadi pagi Bu, saya sudah menawarkan bapak pulang tidak mau!! Itu lah kenapa saya menghubungi ibu"


"Saya akan segera ke sana"


"Kamu maui ikut atau ada di sini??"


"Kalau aku ikut bagaimana dengan Aisya kak??"


"Yah sudah aku berangkat dulu, kalau butuh sesuatu kamu telpon aku saja"


"Yah kak"


Ara beranjak dari duduk nya mengambil tas dan ponsel nya yang ada dia atas meja, setelah itu Ara pamit sama Sisil ingin menjemput Suami nya yang ada di kantor. "Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam kak"

__ADS_1


Ara meninggalkan kamar Aisya dengan Sisil yang menunggui Aisya tengah tertidur pulas setelah dari kemarin malam dia tidak bisa tidur setelah terus mengalami kontraksi palsu. "Ha.. Kamu yang kontraksi palsu, Aku pun yang ngeri" Lirih Sisil yang mengusap punggung tangan Aisya.


Sedangkan Ara yang baru saja masuk ke dalam ruangan Rafa melihat suami nya yang sudah kacau, dengan jas yang entah ke mana, belum lagi dasi yang sudah ada atas meja, kancing kemeja yang sudah terbuka setengah.


Sedangkan Sekertaris Rafa duduk di sofa dengan menunduk, mungkin dia sudah lelah dengan Rafa. "Mas, kamu kenapa??"


Rafa mendongak melihat siapa yang datang ke kantornya, Rafa melihat Ara yang tengah menatap nya heran. "Umi, bantu aku!! Perut aku sangat sakit Umi sejak pagi"


Rafa menatap Ara yang semakin heran dengan Rafa, padahal tadi pagi Rafa sangat baik-baik saja saat datang ke rumah Aisya. "Mas, bukan kah kamu tadi pagi baik-baik saja"


"Iyah, Umi tapi saat aku sampai kantor perut aku sakit. Sakit datang dan pergi sesuka hati"


Ara terdiam mendengar yang Rafa katakan. "Gawat, Sudah ayo pulang!! Kamu kuat jalankan Mas???"


"Kenapa sih sayang??"


"Sudah lah nanti saja di jelaskan, sejak jam berapa kamu sakit perut"


"Yah sejak aku sampai kantor Sayang"


"Masih ada waktu untuk membawa Sisil ke rumah sakit"


"Sayang yang sakit suami kamu, bukan Sisil Ya Allah"


"Kamu saja yang bodoh Mas, kamu enggak ingat saat aku melahirkan Aufia siapa yang merasakan sakit perut sampai pingsan"


Rafa terdiam mendengar ucapan Ara, Rafa kembali mengingat bagaimana dirinya saat Ara saat itu melahirkan Aufia putri kandung nya.


"Maksud Umi"


"Sudah lah tidak ada maksud, ayo pulang"


Rafa di bantu sekertaris nya untuk berjalan keluar ruangan nya, Akhirnya Ara dan Rafa pulang karena mengingat Sisil yang ada di rumah Aisya mungkin sebentar lagi juga akan mengeluh kesakitan. Sama seperti Ara melahirkan Aufia dulu.


Dengan sangat buru-buru Ara melajukan mobil nya dengan Rafa yang sudah bersandar di pintu Mobil karena perutnya sudah sangat sakit. Rafa sudah sangat pasrah di mobil penumpang tanpa peduli dengan Ara yang melajukan mobil nya dengan sangat cepat.

__ADS_1


__ADS_2