DI ATAS SAJADAH

DI ATAS SAJADAH
SAJADAH


__ADS_3

Ara duduk lemas di sofa yang ada di dalam ruangan Aisya, sudah dua jam Aisya belum juga bangun. Ara, Andika dan semua keluarga menatap Aisya dengan iba.


"Aku akan membalas nya nanti" Geram Andika yang ada di samping Aisya.


"Yah, Mimi setuju dengan apa yang kamu katakan, dia bukan lagi manusia!!" ketus Jasmin yang sudah sangat marah melihat menantu nya terbaring di ranjang rumah sakit.


Sedangkan Adam dan istrinya hanya diam mereka tidak berani mengeluarkan suara mereka mengingat perbuatan Rafa kali ini sudah di luar batas kemanusiaan.


Rafa tega mencekik Aisya yang sedari kecil sudah bersama nya, dia rawat dan dia sayangi. Hanya karena harta Rafa menjadi tidak terkendali, dia juga tidak mengingat Aisya putri nya.


"Aisya bangun nak jangan kamu buat Umi menjadi gila" Batin Ara menatap putrinya dengan sangat sayang dan takut kehilangan.


Ara sudah cukup kehilangan Aufia jangan lagi untuk ke dua kalinya, jangan lagi dengan Aisya yang sudah mempunyai keluarga. Ara terus meneteskan cairan bening dari pelupuk mata nya.


Aisya dan Zenufu mencoba menenangkan Ara yang sangat terpukul dengan Aisya yang tidak berdaya di ranjang rumah sakit. "Kamu harus banyak berdoa untuk Aisya nak!! Jangan kamu buat diri kamu sibuk dengan keadaan dan lupa dengan Allah" lirih Aisya Mami Ara.


"Apa salah dan dosa ku Mi?? Sampai ujian ini tidak kunjung selesai" Lirih Ara yang sudah putus asa dengan keadaan.


"Apa yang kamu katakan nak, jangan kamu berkata seperti itu!! kita di ciptakan untuk mengingat Allah di setiap saat, di saat senang, susah, sedih, bahkan sakit kita di takdirkan untuk mengingat nya. Setiap manusia berbeda ujian ada yang terlanjur kaya, ada yang terlanjur susa, ada yang di uji rumah tangga nya, ada yang di uji sibuk, banyak ujian di setiap keluarga, tidak semua yang kita lihat bahagia itu benar ada nya!! Ada yang hanya untuk menutup kesedihan dan kehancuran diri mereka"


"Apa selama ini kurang ujian ku Mi??"


"Nak Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan umat nya"


"Ara tau Mi, tapi Ara sudah enggak sanggup Mi!! Ini terlalu berat mulai Aufia, Mas Rafa, dan kini Aisya"


"Ikhlas semua akan baik-baik saja"


Ara memeluk Aisya dengan sangat erat dia mencurahkan semua kesedihan nya kepada Mami nya yang selalu menjadi penenang di saat dirinya merasakan kesedihan.


Aisya memeluk putri satu-satu nya dengan sayang, dia hanya bisa memberi dukungan tidak bisa ikut terlalu jauh masalah rumah tangga Putrinya. "Kamu harus tau kalau Allah sayang sama kamu, karena itu Allah terus menguji kamu" Lirih Aisya dengan mengusap punggung Ara yang bergetar karena menangis.


"Sampai kapan ujian ini berakhir Mi??"


"Sampai Allah yakin kalau kamu pantas untuk menyudahi ujian yang di berikan"

__ADS_1


"Mi, aku sangat lelah Mi menghadapi semua ini, jujur saja Ara tidak sekuat apa yang di lihat Mi!! Ara sudah kehilangan Aufia Mi, apa Ara harus kehilangan Aisya juga" Ara melepas semua apa yang ada didalam hati nya.


"Sabar Nak, semua akan indah pada waktu nya!! kamu sekarang hanya perlu bersabar dan ikhlas dengan apa yang sudah terjadi, Allah maha tau, Allah Maha baik, curahkan semua nya di atas sajadah"


Ara menganggukkan kepala nya dengan masih memeluk Aisya yang senantiasa selalu ada untuk nya. Sedangkan Aisya yang ada di ranjang mulai sadar, Aisya perlahan membuka mata nya.


"Air..!!!" Lirih Aisya dengan suara yang sangat serak.


Andika yang mendengar suara Istrinya langsung mendongak menatap sang istri yang menatap nya dengan mata sayu. "Air..!!"


"Kamu mau minum yank..?? Sebentar aku ambil kan" Andika langsung beranjak dari duduk nya mendekat ke meja yang ada di belakang nya mengambil minum untuk istrinya.


Semua yang ada di ruangan Aisya mendengar suara Aisya yang sangat serak, Ara langsung mendekat ke arah putrinya. "Aisya..kamu sadar nak?? Sayang kamu baik-baik saja" Ara menciumi Wajah Aisya yang baru sadar dengan sangat bersyukur putrinya sudah sadar.


Andika mendekat Ara melepas pelukan nya agar Andika bisa memberi minum Aisya yang merasa haus, Andika membantu Istrinya untuk meminum air yang ada di dalam botol.


Setelah minum Aisya selesai minum Andika membantu Aisya untuk kembali rebahan, Andika menaruh botol yang dia bawa di meja samping ranjang Aisya.


"Apa ada yang sakit Nak..?? Ara menatap Aisya dengan memegang tangan Aisya.


"Umi akan membuat dia mendekam dalam jeruji besi"


"Umi maafkan Aisya"


"Untuk apa??"


"Karena Aisya Umi menjadi susah"


"Apa kamu bicara apa Umi tidak suka yah Aisya"


"Umi.."


"Umi tidak mau mendengar apa pun dari mulut kamu Aisya!! Umi mau kamu cepat sembuh karena twin butuh kamu bukan butuh pengasuh" kesal Ara menatap putrinya.


Aisya sangat tau kalau Umi nya sangat khawatir dengan nya sampai mata nya terlihat sangat sebam. "Umi Aisya sangat lapar"

__ADS_1


"Kamu lapar..?? Umi akan pesankan makanan yang kamu mau nak"


"Umi Aisya makan buah saja, tenggorokan Aisya sangat sakit"


"Baik lah kamu mau makan buah apa nak??"


"Pisang saja Umi"


Semua yang ada di ruangan Aisya merasa senang karena Aisya sudah sadar dan kembali kepada mereka. nyawa Aisya yang hampir saja melayang membuat keluarga sangat terpukul setelah mereka kehilangan Aufia, mereka tidak mau kehilangan Aisya.


"Ara jangan kamu manjakan dia, kamu melupakan kalau dia punya suami??" Goda Jasmin yang sangat senang menantu nya sadar dan Ara kembali tersenyum.


"Ah.. Suami nya!! Sudah lah hari ini aku akan lupa kalau Aisya sudah bersuami" Lirih Ara yang menatap Jasmin.


"Umi, jangan memonopoli Andika" Rengek Andika.


Ara yang mendengar rengekan Andika menatap Andika dengan mencibik, Ara lupa kalau Andika sudah seperti anak nya yang juga terkadang manja kepada nya. "Sudah lah kamu urusi twin saja"


"Umi saja yang mengurus Mereka"


"Tidak kamu saja!! Umi sudah tidak sanggup kalau harus mengurus twins"


"Bohong sekali Umi"


"Ini, sudah lah Umi malas dengan kamu!! Kamu membuat kesal Umi, jangan harap kamu akan mendapat masakan Umi"


"Lho..lho.. Kalau bukan Umi siapa yang akan memasak Umi??"


"Mami kamu"


"Apa?? Tidak aku akan beli saja di luar"


Semua keluarga kembali bahagia Ara dan Andika mencarikan suasana dengan perdebatan yang tidak penting, Andika menjadi pria yang hangat setelah menikah dengan Aisya tapi hanya ada di dalam keluarga nya tidak dengan diluar masih sama dengan sikap dingin nya.


Aisya sangat bahagia melihat Umi nya kembali terlihat bahagia, walau mata nya menyimpan banyak kesedihan setidak nya Umi nya bisa tertawa dan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2