
Sudah satu minggu Rafa ada di rumah sakit kini dia sudah di perbolehkan pulang oleh dokter dengan catatan tiga hari lagi harus datang ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.
Rafa yang sudah mengemas baju-baju kotor nya, siap untuk pulang tapi tidak ada satu istrinya yang datang. Rafa menunggu salah satu istrinya datang sudah satu jam lama nya tapi tidak ada yang datang menjemput nya.
Rafa terpaksa pulang sendiri, dia berjalan keluar dari ruang rawat nya dengan membawa tas di tangan nya. Rafa berjalan keluar rumah sakit mencari taksi yang ada di sekitar rumah sakit.
Saat Rafa menemukan taksi yang dia berjalan mendekat ke arah taksi yang baru saja menurunkan penumpang nya. "Pak, apa bisa mengantar saya ke jalan mawar??"
"Bisa pak, silahkan masuk"
"Terima kasih"
Rafa masuk ke dalam taksi, dia duduk memikirkan apa keputusan nya benar atau salah untuk pulang ke rumah Ara. "Apa keputusan ku pulang ke rumah Ara benar???" Batin Rafa.
Sopir taksi melajukan mobil nya membelah jalan yang sangat padat dengan pengendara roda empat dan dua yang memenuhi jalan. "Macet pak sabar yah pak" sopir taksi rama kepada Rafa.
"Iyah pak saya tidak buru-buru" Rafa memang tidak buru-buru dia memikirkan apa keputusan nya sudah benar atau malah sebalik nya.
Satu jam lama nya Rafa baru sampai di depan gerbang rumah mewah yang dia tinggali dengan Ara dan anak-anak nya. Rafa membayar tagihan taksi nya, setelah membayar taksi Rafa keluar dari dalam taksi.
Rafa membuka gerbang yang ada di depan nya terlihat sangat sepi, seperti tidak ada yang menempati. Penjaga yang ada di yang di depan tidak ada, Rafa berjalan ke arah rumah nya lumayan dari gerbang.
Rafa tidak melihat ada tanda-tanda orang yang ada di rumah, Rafa masih saja melangkah masuk ke teras rumah. Rafa membuka pintu rumah ternyata terkunci.
Rafa berulang kali menekan tombol bel rumah tidak ada yang membuka tau menyahut dari dalam rumah, Rafa menunggu di kursi yang ada di teras rumah.
Sedangkan Ara dan Aisya tengah ada di hotel di mana tempat pernikahan Aisya dengan Andika yang di lakukan di hotel milik keluarga Andika. Akad Nikah yang sudah di selesaikan sejak tadi pagi kini dua pengantin tengah di make up ulang untuk acara resepsi pernikahan yang akan di lakukan jam 3 sore.
Sedangkan sekarang sudah jam 2 siang, Ara di sibukkan dengan rekan bisnis keluarga dan mertua nya hingga lupa dengan Rafa yang sudah waktu nya pulang dari rumah sakit.
Apa lagi pernikahan anak pertama nya di gelar dengan sangat mewah di hotel berbintang lima, dengan di siarkan secara langsung di salah satu stasiun televisi.
__ADS_1
Menjadikan Ara sangat sibuk, bukan hanya Ara melainkan mertua dan juga orang tua nya juga sangat sibuk dengan kolega bisnis mereka yang di undang di acara resepsi pernikahan Aisya.
Sisil sebagai istri ke dua Rafa tentu saja membantu Ara menemui tamu undangan, Ara tidak malu untuk memperkenalkan Sisil yang menjadi istri kedua Rafa.
Sisil yang selalu ada di samping Ara sungguh sangat terhara.. Eh maksud mamak terharu dengan Ara yang sudah menerima nya sebagai madu nya.
Para tamu undangan tentu sangat kagum dengan Ara dan Sisil yang akur menjadi seorang istri, apa lagi Ara yang dengan muda nya menerima Sisil. tidak tau saja sebelum Ara menerima Sisil banyak drama yang harus di lewati Ara dan Sisil.
"Wah, apa ini putri anda nyonya Hendarso??" tanya salah satu tamu undangan yang belum tau siapa Sisil.
"Ah.. Bukan tuan Ano, dia Istri muda Mas Rafa!! Kenalkan ini Sisil Hendarso"
Ano dengan istrinya terkejut karena Rafa yang selama ini terkenal setia ternyata punya istri muda yang sepantaran dengan anak nya.
"Ah, Maaf Nyonya Hendarso saya kira anda putri nyonya Ara" Ano merasa tidak enak kepada Sisil
"Tidak apa tuan, saya memang masih sangat muda"
Ara yang melihat Sisil melamun merasa ada yang aneh dengan sisil. "Sill.." Ara memegang punggung tangan Sisil dengan lembut
"Iyah kak, kenapa??"
"Ah tidak aku hanya berpikir dimana aku meletakan kado untuk anakku" Elak Sisil yang kini memegang tangan Ara menenangkan Ara agar tidak khawatir dengan nya.
"Kamu masih muda, cantik-cantik lupa!! gimana kalau sudah tua nanti" Ara menggoda Sisil.
"Hahaha..kalau sudah tua pikun mah wajar kak"
"Jadi kalau sekarang tidak wajar dong kan kamu masih muda!! Apa bawaan anak yah?? Dulu saat hamil Aufia juga begitu aku" Ara kembali mengingat dirinya saat hamil Aufia yang memang sering lupa dengan barang-barang yang dia bawa.
Ara dan Sisil tertawa bersama dengan melupakan Rafa yang menunggunya di rumah, ralat di depan rumah. "Dimana kamu Ara, kenapa kamu tidak menjemput ku di rumah sakit, tidak memberi aku kabar sampai saat ini" Batin Rafa.
__ADS_1
Banyak tamu undangan yang sudah memberi selamat kepada Aisya dan Andika yang ada di atas panggung pengantin. semua sorot kamera menghadap kepada dua pengantin yang sangat tampan dan cantik malam hari ini.
Ara dan Sisil mendekat ke arah dua pengantin yang kini sudah mulai duduk saat tamu undangan tidak ada lagi yang memberi selamat. "Selamat anak Umi yang bandel akhirnya kamu sudah menemukan pawang kamu" Lirih Ara menggoda putri nya.
"Umi, aku tidak badel lho!! Aisya anak baik hati dan tidak sombong" Aisya pura-pura merajuk.
"Kamu merajuk kepada Umi, kebetulan sekali Jadi Umi tidak perlu memberi kamu hadia"
"Lho lho lho.. Aisya mau Umi hadia nya!!" Aisya bergelanyut manja di lengan Ara, Andika yang melihat interaksi Mertua dan Istri yang bagaikan teman di saat tertentu.
"Sudah lah Umi bawa pulang lagi saja kado ini, Ayo Sil kita pulang saja"
"Lho.. Lho.. Jangan dong Umi yang cantik dan tua, eh maksud Aisya Umi yang muda".
" Kurang ajar!! Umi tidak tua yah"
Aisya dan Ara terus bercanda menjadi pusat kamera yang menyorot mereka berdua, baru kali ini mereka melihat anak dan ibu yang layak nya seorang teman bukan lagi seorang ibu dan anak yang di didik dengan keras.
"Sudah lah ini simpan baik-baik yah nak!! Jangan sampai hilang" Ara memberi kotak kecil kepada Aisya. Setelah itu Ara memeluk Aisya dengan sayang.
Kini giliran Sisil yang memberi selamat kepada Aisya, Aisya sudah mencoba menerima Sisil sama dengan Ara menerima Sisil. "Selamat yah anak Bunda" ucap Sisil memeluk Aisya
"Maafkan aku yah!! semoga kamu bahagai selalu"
"Sudah lah lupakan, kamu sudah menjadi Istri Abi. Aku akan menerima semua nya" Aisya melepas pelukan Sisil dengan senyum yang menghiasi bibir Aisya.
Sisil memberi kotak hadia kepada Aisya, Aisya menerima kotak yang di berikan oleh Sisil. "Terima kasih yah bun"
"Sama-sama nak"
Mereka berdua tertawa bersama, Ara melihat pemandangan di depan nya dadanya menghangat. Ada rasa bahagia, ada rasa sesak yang melanda. "Ya Allah semoga setelah ini engkau selalu memberi kebahagian kepada keluarga kami" Batin Ara
__ADS_1