DI ATAS SAJADAH

DI ATAS SAJADAH
BERUBAH


__ADS_3

Aisya tidak datang ke kantor sudah dus hari karena dis terus fi teror Rafa yang selalu datang ke kantor dan mengusir Aisya. Padahal dia sendiri tidak bisa masuk ke dalam kantor, karena Security melarang Rafa masuk.


Ara mengatakan kalau Rafa bukan lagi CEO di kantor melainkan putrinya Aisya Hendarso yang menjadi CEO di kantor, Ara juga mengatakan kalau Rafa datang tidak boleh masuk ke dalam.


Ara yang melihat putrinya bersantai di ruang keluarga bingung kenapa dua hari ini Aisya tidak datang ke kantor. "Aisya..!!"


Aisya menegakan tubuh nya setelah itu menoleh ke belakang melihat siapa yang memanggil nya karena pendengaran nya sedikit bermasalah karena teriakan Rafa kemarin.


"Umi.. Kenapa Umi pulang???"


"Umi rindu dengan cucu Umi!!" Alibi Ara, dia sebenarnya lelah di kantor harus di datangi oleh Rafa kalau tidak begitu dia akan berteriak di luar kantor.


"Benarkah Umi..?? Kenapa Aisya merasa kalau Umi tidak rindu dengan twin tapi menjadikan mereka alasan!!" Aisya menatap Umi nya dengan menaikan satu Alis nya.


"Kenapa?? Kamu tidak percaya Umi!!" Ara yang sudah ketahuan pura-pura kesal dengan Aisya yang sudah ingin tertawa melihat Umi nya.


"Ahh.. Yah Aisya tau pasti juga Umi juga di ganggu bukan??" Aisya menaik turunkan kedua Alisnya.


"Kamu juga Nak??"


"Hemmm..!!"


Saat Ara dan Aisya tengah asik membicarakan Rafa mereka mendengar suara Jasmin dari arah dalam rumah, Jasmin yang tidak sengaja mendengar langsung menyahut.


"Itu lah orang yang tidak punya rasa bersyukur atas apa nikmat yang di berikan Allah" Jasmin duduk di samping Ara yang kini sudah menggendong salah satu twin.


"Jas, aku kira kamu di butik!!"


"Tidak aku baru saja dari belakang sakit perut aku banyak makan sambal kemarin"


"Kamu sendiri yang buat, kamu juga yang makan"


"Karena kemarin aku sangat ingin makan ayam geprek"


Mereka malah membahas Ayam geprek yang di buat oleh Jasmin kemarin malam dan melupakan pembahasan Rafa. Sedangkan Rafa yang ada di rumah lama nya tengah menggendong Alisia yang sedari tadi rewel.


Rafa tidak tau kenapa Alisia rewel sedari tadi, tidak mau minum susu, juga tidak mau tidur hanya menangis. Sisil yang melihat suami nya menggendong Alisia merasa kalau Alisia perebut perhatian suami nya.


"Mas, sudah lah kamu tidurkan saja dia di box bayi!! Aku juga butuh kamu perhatikan Mas" ucapan Sisil menghentikan pergerakan Rafa yang tengah menggoyang-goyangkan Alisia di gendongan nya.

__ADS_1


"Bun, dia baru saja tenang dan baru juga tidur kalau di taruh langsung di box takut nya nanti dia akan terbangun dan rewel lagi" Rafa mencoba membuat Sisil mengerti kalau Alisia mungkin membutuhkan perhatian nya, karena dia terlalu sibuk akhir-akhir ini.


Yah Rafa sibuk bolak balik datang kantor Ara dan kantor nya yang lama untuk meminta yang bukan milik nya lagi. Rafa sudah tidak bekerja dia juga tidak dapat penghasilan, tapi kebutuhan banyak.


Seperti kuliah Sisil, bulanan Sisil, kebutuhan rumah tangga, kebutuhan anak nya yang masih bayi, gaji untuk pembantu dan penjaga rumah. Sebenar nya Sisil bukan orang yang tidak mampu dia sangat mampu tapi Sisil tidak mau untuk membantu keuangan Rafa.


Menurut Sisil uang nya adalah uang nya, uang suami adalah uang Istri. Kalau suami tidak bekerja Sisil juga tidak mau mengeluarkan uang nya untuk hidup nya selain membayar kuliah.


Kebutuhan anak nya saja Sisil tidak mau menanggung padahal Alisia adalah anak kandung nya, yang dia lahir kan dari rahim nya tapi dia tidak mau mengeluarkan uang sepeserpun pun untuk Alisia.


Uang tabungan Rafa saja sudah di ambil oleh Sisil untuk kebutuhan pribadi nya seperti perawatan badan nya sampai membeli barang-barang yang tidak di butuhkan.


Rafa sampai heran kenapa Istrinya sangat berubah akhir-akhir ini dia selalu mementingkan dirinya sendiri tidak sama dengan apa yang selalu Ara ajarkan kepada nya. Sangat jauh dari apa yang Ara ajarkan.


Semenjak Sisil pindah kuliah sikap nya sangat bertolak belakang seperti saat masih kuliah di kampus lama, Sisil pindah dengan Alasan ingin cepat sampai rumah kalau pulang kuliah nyatanya kini malah sering pulang terlambat.


Sisil perna berniat untuk melepas hijabnya, tapi Rafa melarang nya, mungkin saat Rafa punya uang dan kedudukan Sisil akan patuh kepada Rafa tapi kini Sisil tidak lagi patuh dengan Rafa.


Dia melepas hijab nya, tidak lagi memakai hijab sering pulang telat sering keluar malam. Terkadang tidak pulang, Sisil yang kalem yang perna Aufia dan Aisya kenal seakan sudah tidak ada lagi hanya ada Sisil yang egois.


"Mas ini sudah sangat lama kenapa kamu tidak menaruh Alisia di box sih??"


Rafa menidurkan Alisia di box bayi yang ada di kamar mereka, Rafa mendekat ke arah Sisil setelah menidurkan Alisia. "Kenapa kamu ingin apa??" Rafa bertanya dengan bingung.


Sisil tiba-tiba saja bangun dari duduk nya dia melepas semua baju yang dia pakai di depan Rafa, Rafa bingung dengan apa yang di lakukan Sisil di depannya.


"Bun, kamu mau apa??"


"Kamu enggak lihat Mas aku mau apa??"


Rafa bingung dengan Sisil yang kini sudah telanjang, Sisil mendekat dan duduk di pangkuan Rafa. Sisil merayu Rafa, sedangkan Rafa yang sudah peka akhirnya tau apa mau Sisil.


Belum juga mereka melakukan apa yang Sisil mau tapi Alisia sudah menangis, Sisil benar-benar kesal karena kegiatannya di ganggu oleh Alisia. Sisil tidak turun dari atas Rafa dia terus merayu Rafa, padahal Rafa sudah meminta Sisil turun.


"Bun, anak kita menangis"


"Sudah lah kamu diam saja Mas dan nikmati semua nya"


"Tapi anak kita menangis"

__ADS_1


"Nanti juga akan diem sendiri"


"Tapi bun kasihan"


Sisil yang geram dan sudah tidak tahan dia langsung melancarkan aksinya di atas tubuh Rafa yang juga sudah tidak menggunakan apa pun. Sisil tidak menghiraukan Alisia yang sudah menangis kejer di dalam box.


Sisil terus saja bermain sampai dia merasa puas dengan mendengar suara putrinya yang masih menangis. Rafa sendiri juga tidak berbuat apa-apa dia malah menikmati semua yang di lakukan oleh Sisil dengan merasa kasihan dengan Alisia.


Namanya juga Rafa bodoh masak anak nangis malah dia dan emak nya enak-enak.. Gue tampol juga elo Fa..!!! Maap mamak Emosi sama Rafa dan Sisil.


Kita lanjut..


Lama-lama Alisia tidak terdengar suaranya lagi, Sisil dan Rafa merasa tenang karena Alisia tidak lagi menangis, Setelah satu jam mereka melakukan hal gila dengan membiarkan putri mereka menangis.


Rafa bangun dari rebahan nya dia melihat putrinya yang tidur dengan sesenggukan, dengan air mata yang menetes di sudut mata nya. "Maaf yah nak Abi tidak bisa melakukan apa-apa" Lirih Rafa setelah itu mencium kening Alisia


Sedangkan Sisil merasa puas karena semua yang dia inginkan terpenuhi. "Aku sangat puas Mas, kamu harus selalu siap saat aku meminta nya baru aku akan berhenti menuntut uang dari mu!! kamu harus jadi pemuas ku Mas" Oceh Sisil yang membuat Rafa harga dirinya di injak-injak Sisil.


Tapi dia tidak bisa melakukan apa pun untuk bisa membalas nya karena memang dia tidak lagi mampu memberi nafkah untuk Sisil dan Alisia.


"Bun kenapa kamu berubah"


"Tidak Mas aku tidak berubah!! Aku hanya mencoba saran teman-teman ku"


"Apa??"


"Sudah lah aku ingin mandi, ayo kita mandi bersama Mas"


"Kamu saja dulu Bun"


"Sudah lah ayo aku ingin lagi di kamar mandi"


"Aku lelah Bun"


"Lelah apa kamu hanya diam saja Mas"


"Bun"


"Mas, cepat dong lama sekali kamu"

__ADS_1


Rafa menuruti Sisil yang benar-benar berubah bukan lagi Sisil yang dia kenal dulu, yang selalu mengerti. Rafa paham lingkungan dan pergaulan dapat mempengaruhi.


__ADS_2