DI ATAS SAJADAH

DI ATAS SAJADAH
KONYOL


__ADS_3

Jasmin melihat Ara yang baru pulang dari kantor dengan wajah ceria seperti biasanya. Ara duduk di sofa di mana ada Jasmin dan twin yang ada di pangkuan nya dan ada Yanti.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam Ra"


"Gimana hari-hari kamu di kantor??" Jasmin berbasa-basi sebelum nanti dia bercerita tentang Rafa yang ingin meminta cerai.


"Seperti nya ada yang ingin kamu katakan Jas??"


"Kenapa?? Apa kamu sudah tau??"


"Tau apa??"


"Jangan lah kamu pura-pura Ra"


"Iyah tadi Mas Rafa menghubungi ku katanya aku keterlaluan yang menitipkan Alisia sama baby Sister" Ara mengatakan yang sebenar nya kepada Jasmin


"Lalu apa yang kamu katakan??"


"Aku mengatakan kalau di juga keterlaluan pergi berlibur tanpa pamit, tanpa mengajak, tanpa ngasih kabar"


"Lalu??"


"Dia mengatakan kalau Sisil juga Istrinya yang butuh perhatian nya dan di juga bilang kalau Alisia juga anak ku"


"Terus"


"Dia marah tapi aku sudah tidak mau mendengarkan lagi, lalu aku putuskan sambungan telpon secara sepihak"


"Terus??"


"Nabrak..!!"


"Kamu pasrah sekali seperti nya Ra??"


"Lalu aku harus bagaimana??"


Ara merasa rumah tangganya sudah tidak lagi harus di perjuangkan apalagi di pertahankan, karena Ara merasa kalau Rafa sudah puber yang kedua. Dimana dia mencintai yang baru datang dari pada yang sudah lama menemani nya.


Ara juga merasa kalau Rafa akhir-akhir ini tidak lagi bersikap adil yang dia prioritaskan Sisil, bukan Ara cemburu tapi Ara merasa kalau Rafa menjauh dari nya.

__ADS_1


Mulai berangkat kerja yang di dahulukan Sisil, setelah pulang kerja yang di cari Sisil, Saat malam dia juga mencari Sisil, padahal waktu Rafa bersama dengan Ara.


Tapi Rafa memilih untuk tidur dengan Sisil, Rafa juga sering mengajak Sisil jalan-jalan tanpa dirinya, Selalu Sisil dan Sisil. Saat pulang dari mana saja yang dia ingat makanan kesukaan Sisil, Apalagi yang dua minggu yang lalu Rafa dan Sisil pergi ke Negeri Ginseng tanpa memberi tahu nya. Malah Sisil berbohong mengatakan kalau Mereka ingin ke Mall.


"Lalu apa yang harus aku lakukan Jas?? Seharusnya nya rumah tangga kami sudah kandas sejak Mas Rafa menikah lagi, tapi aku berusaha menerima nya setelah kecelakan itu"


"Kamu perempuan baik Ra, kamu harus mengingat kalau Allah sayang sama kamu!! sehingga Allah memberi kamu cobaan yang tidak kunjung selesai"


"Iyah Jas, aku yakin ini awal bukan akhir di mana aku hidup"


Jasmin kagum sama Ara yang selalu saja bersikap baik-baik saja walau dalam keadaan yang sangat jatuh, apa lagi Ara memiliki kesabaran yang sangat besar selama ini.


Walau badai terus datang di dalam rumah tangga nya dia selalu berusaha kuat di depan orang-orang sekitar nya. "Ra apa yang membuat kamu bertahan di dalam keadaan yang tidak baik-baik saja"


"Yakin Allah akan membantu ku di setiap masalah, Yakin kalau Allah tidak perna tidur dan selalu melihat hamba nya yang tengah menjalankan ujiannya".


"Apa kamu sudah siap bercerai dengan Rafa???"


"Tentu saja aku sudah siap, karena Mas Rafa juga sudah tidak lagi mencintaiku" Ara mengatakan dengan sangat muda, padahal dada nya terasa sangat nyeri.


"Kamu berbohong Ra!!"


"Sudah lah mandi sana, bau kamu menyengat dan twins akan pingsan di sini mengendus Nenek nya yang sangat bau" Jasmin menggoda Ara, agar Ara tidak lagi memikirkan Rafa yang sudah keterlaluan.


"Aku meskipun tidak mandi twin tidak aka menolak aku untuk menggendong nya" Ara ingin menggendong Cucu nya tapi mendengar suara cempereng Putri dari belakang nya.


"Umi stop!!!" Aisya menghentikan pergerakan nya di berbalik menatap Aisya yang berkacak pinggang


"Oh, yah lupa sekali aku kalau ada pekerjaan yang belum selesai di kamar"


Ara mengambil tas mewah nya setelah itu dia berjalan cepat ke arah lift yang tidak jauh di mana Ara tadi mengobrol dengan Jasmin


Sedangkan Ara sudah kini sudah ada di kamar nya yang ada di rumah Anak dan Menantu nya, dia menatap gambar dirinya dengan dua anak nya saat Aisya dan Aufia belum menikah.


"Assalamualaikum Aufia"


"Bagaimana kabar kamu nak?? Umi baik-baik di sini walau ada banyak cobaan yang datang silih berganti sejak kamu pergi" Ara mencurahkan semua sesak di dadanya di gambar yang ada di tangannya.


Ara mengusap photo Aufia dan Aisya yang masih menggunakan baju sekolah SMA, mereka terlihat sangat menggemaskan. Apa lagi Aufia yang selalu kesal saat Aisya tengah menjahili nya.


Ara kembali mengingat pertemuan nya dengan Naila perempuan yang sangat mirip dengan Aufia hanya berbeda Naila tidak bercadar, sedangkan Aufia bercadar.

__ADS_1


Naila dan Aufia perempuan yang menurut Ara sama saja satu tubuh satu jiwa dan satu raga hanya berbeda nama. "Umi yakin kalau itu kamu nak Aufia nya Umi yang hilang" Lirih Ara dengan menatap photo yang dia pegang.


Saat Ara tengah mengingat Naila dan Aufia dia mendengar ponsel nya berdering dengan sangat nyaring. Ara menaruh photo kembali di meja yang ada di dekat ranjang.


Ara mengambil ponsel nya yang dia tinggalkan di dalam tas di meja depan sofa, Ara melihat nama Rafa di layar ponsel nya. "Kenapa dia menghubungi ku lagi" Ara menggeser gambar hijau yang bergerak gerak.


"Assalamualaikum.."


"Ara, aku harus pulang dan Minta Maaf sama aku dan Sisil atas apa yang kamu lakukan sama Alisia" Ucapan Rafa yang terdengar memerintah Ara.


"Maaf apa kamu tidak salah Mas, di sini aku yang kamu bohongi!! Sisil mengatakan kalau kamu dan dia akan pergi ke Mall, tapi kalian pergi ke Negeri Ginseng tanpa memberi kabar aku selama dua minggu"


"Sisil juga Istriku yang berhak mendapatkan hak nya sebagai Istri Ara"


"Kalau begitu apa kamu perna mengajak aku pergi keluar Negeri?? Apa kamu perna mengajak aku pergi tanpa anak-anak?? Apa kamu perna tau apa yang aku inginkan?? Tidak kan Mas"


"Sudahlah Ara jangan banyak drama kita sudah bukan anak kecil yang selalu bertengkar masalah kecil"


"Kalau begitu aku tidak akan pulang apa lagi meminta Maaf sama kamu dan Sisil!! Jangan konyol Mas, harus nya kamu dan Sisil yang meminta Maaf. Aku tau kamu pasti ingin keluar kan bersama dengan Sisil berdua menghadiri acara ulang tahun pernikahan tuan Lotus dengan Istrinya!! Dan kamu ingin meninggalkan Alisia di rumah bersama ku dan kamu pergi dengan Sisil"


"Ara kamu itu Umi nya jadi kamu berhak untuk mengurus Alisia" bentak Rafa.


"Apa kamu lupa kalau aku bukan ibu kandung Alisia?? Yang ibu kandung nya adalah Sisil"


"Sama saja Ara"


"Tidak sama dan Maaf aku tidak mau mengurus Alisia lagi walau pun kamu memaksa aku"


"Kalau begitu aku akan menceraikan kamu tanpa memberi harta sedikit pun"


"Kalau begitu silahkan kamu pergi dari Rumah yang kamu tempati saat ini, kalau kamu tidak lupa kalau Mobil Rumah atas nama Zeina Johara Abraham"


"Yah aku akan pergi setelah aku mendatangani surat cerai kita"


"Iyah silahkan ditunggu dan selamat menempuh hidup baru"


Ara mematikan sambungan telpon dengan dada yang begitu sangat sesak, sedangkan Rafa yang ada di dalam kamar nya dengan Ara tengah kesal karena Ara dengan muda mau pisah dengan nya.


"Aku harus bagaimana Ara tidak mau kembali dan Sisil tidak mau direpotkan oleh Alisia" Batin Rafa dengan frustasi.


Rasa cinta Rafa kepada Ara sepertinya sudah perlahan hilang dan di gantikan nama Sisil di hati Rafa. "Ahhh.. Sialan!!" pekik Rafa yang sudah salah mengambil langkah.

__ADS_1


__ADS_2