DI ATAS SAJADAH

DI ATAS SAJADAH
KESAL


__ADS_3

"Aisya kamu harus dengarkan Bunda" Sisil menatap Aisya dengan serius.


"Apa??" Aisya sangat malas kalau ujung-ujung nya ibu tirinya berbicara yang tidak penting seperti saat mereka bertemu.


"Bunda serius" Kesal Sisil


"Iyah, Bun apaan??"


Ara yang menyimak anak dan ibu tidak kunjung masuk kedalam topik membuat Ara yang sudah kesal menjadi semakin kesal. "Kami bertemu dengan Aufia"


Aisya yang tadi nya bersandar malas-malasan di sandaran sofa, kini menegakan tubuh nya dan menatap Ara dan Sisil bergantian. "Umi bilang apa??'


Aisya bertanya kembali kepada Umi nya dia mengira kalau dia salah dengar atau memang benar kalau Umi nya mengatakan kalau baru saja bertemu dengan Aufia.


"Apa kamu mendadak menjadi tuli Aisya?? Kesal Ara yang mendengar pertanyaan putrinya.


"Umi, aku hanya memastikan kalau pendengaran ku masih baik"


"Yah sudah kami bertemu dengan Aufia di Mall"


"Apa Umi tengah menghalau??"


"Sil jelaskan kalau kita tidak halu saat di Mall tadi"


Sisil menceritakan kejadian dimana Ara dan Sisil bertemu dengan Aufia yang masih berhijab tapi tidak bercadar.


Aufia mendengarkan cerita Bunda nya dengan sangat fokus takut kalau pendengaran nya salah dengar. "Naila???"


"Iyah dia mengaku Naila"


"Di juga mempunyai tanda lahir yang sama dengan Aufia"


Aisya kembali mengingat bagaimana dulu cara Aufia pamit sebelum dia pergi ke Kairo, di selalu bilang kata-kata yang sama berulang kali.


"Aku akan pergi untuk kembali bukan untuk pergi tidak kembali"


Kata-kata Aufia kembali berputar di kepala nya, dia terus mengingat kata-kata adik nya sebelum dia pergi, berulang kali Aufia mengatakan hal yang sama kepada Aisya dan keluarga yang lain nya, Ara juga mengingat kata-kat Aufia yang seakan Ara terdengar terus.


"Apa Aufia jangan-jangan selamat lalu di tolong orang baik tapi sayang dia hilang ingatan dan orang yang sudah menolong nya memberi identitas baru kepada Aufia" Ucapan Sisil berhasil menarik perhatian Aisya dan Ara yang duduk berdampingan.


"Kamu benar juga Sil"


"Iyah kemungkinan apa yang Bunda bilang benar ada nya, kalau Aufia selamat tanpa mengingat kita keluarga nya"


"Lalu apa yang harus kita lakukan??"

__ADS_1


"Mencari tau dia benar Aufia kita atau bukan"


"Caranya???"


Tiga perempuan cantik yang ada di ruang keluarga rumah Aisya dan Andika itu tengah diam dengan memandang langit-langit ruang tamu dengan bersandar di sandara sofa.


Merasa lelah tidak menemukan cara nya mereka bertiga menegakkan badan mereka saling pandang. "Ini semua karena sih tua bangka sialan itu yang bodoh!! Tidak membiarkan kami memperjelas semua nya"


"Maksud Bunda siapa??"


"Yah Abi kamu siapa lagi!! Dia pria tua yang bodoh tidak bisa mengenali anak nya sendiri"


"Kenapa dengan Abi??"


"Dia menghalangi kami untuk mendekati Aufia atau Naila itu"


"Maksud nya???"


"Sudah lah jangan di bahas bikin pusing saja!! Kalau Allah berkehendak untuk mempertemukan kita lagi pasti ada saja jalan nanti" ucapan Ara yang terdengar menahan tangis, di mana dia baru saja melupakan dan mengikhlaskan putri nya yang lain malah kini di pertemukan dalam pertemuan yang tidak di sengaja.


"Umi banyak Lah berdoa untuk Aufia, kalau di benar-benar Aufia Allah akan memberi jalan kita untuk bertemu dengan Naila atau Aufia, kalau Naila itu benar-benar Aufia maka kita harus mengembalikan ingatannya"


"Iyah kamu benar nak, Umi akan selalu berdoa untuk anak-anak Umi. Agar Anak-anak Umi di berikan berkah dan ridho nya Allah"


Saat mereka tengah membahas yang lain mereka mendengar suara yang mereka kenali, suara yang membuat Ara dan Sisil kesal setelah mati dengan Rafa, yah Rafa yang kini ada di rumah Aisya.


"Umi, Bunda"


Tidak ada yang menyahut panggilan Rafa yang kini mendengus melihat ke dua istrinya yang cuekin dirinya. Rafa duduk di samping Aisya yang kini menatap Rafa juga dengan malas.


"Kamu jangan ikut-ikutan Umi dan Bunda kamu"


"Kenapa tidak, karena gara-gara Abi Umi dan Bunda kehilangan jejek Naila"


"Umi dan Bunda kalian membuat keributan apa Abi harus diam saja???"


"Itu lah perempuan cara penyampaian nya sangat berbeda dengan laki-laki!! Tidak bisa di samakan"


Rafa mendengus mendengar Putrinya juga menyalahkan atas apa yang terjadi dengan Umi dan Bunda nya yang jelas-jelas mereka berdua sudah membuat keributan.


"Kalian kaum perempuan jelas yang akan menang berdebat dengan Abi"


"Karena di sini Abi yang salah"


"Salah nya di mana Aisya sayang???"

__ADS_1


"Abi tidak membiarkan Umi dan Bunda bertanya setelah membuat keributan"


"Jadi Abi lagi yang salah"


"Sudah lah Bi, aku pusing mendengar ocehan kamu yang tidak berfaedah"


Sisil menghentikan perdebatan Aisya dan Rafa yang tidak akan ada ujung nya karena disini Rafa tidak mau kalah dengan Aisya.


"Bunda, Umi ayo pulang sudah sore"


"Kami akan menginap di sini"


"Tapi kan di rumah sepi para pembantu tengah libur"


"Yah itu sebab nya kami mau menginap di sini!! Yah kan Aisya??"


"Iyah Umi"


"Abi silahkan pulang jangan ada di sini karena Andika tidak ada di rumah"


"Kemana??"


"Andika tengah ada di luar kota jadi lebih baik Abi pulang"


Rafa dengan rasa kesal kepada dua istrinya beranjak dari duduk nya meninggalkan Dua istrinya berada di rumah putri mereka, sedangkan Ara dan Sisil malas melihat Rafa yang tengah berjalan lunglai keluar rumah Aisya.


"Pulang juga tua bangka itu" gerutu Sisil


"Hah.. Kesal dengan suami juga kita yang berdosa, enggak kesal bikin emosi saja"


"Lelah sudah aku kak dengan Mas Rafa"


"Sama bukan kamu saja"


"Sudah lah ibu-ibu ku yang baik hati dan tidak sombong jangan kesal dengan Abi, mari kita bersiap-siap menghilangkan stres"


"Kemana???"


"Ke Mall menghabiskan uang yang ada di dalam kartu"


Dengan semangat empat lima tiga perempuan yang beda usia itu bergerak ke dalam rumah masuk ke dalam lift naik ke lantai atas di mana ada kamar Sisil dan Ara di rumah Aisya.


Kamar Ara dan Sisil ada di lantai dua sedangkan kamar Aisya dan Andika ada di lantai tiga, Aisya perna menawarkan kamar yang ada di lantai tiga tapi Ara dan Sisil tidak mau.


Ara dan Sisil keluar dari dalam lift menyisakan Aisya yang ada di dalam lift akan naik ke lantai tiga. Ara dan Sisil berjalan ke arah kamar mereka masing-masing dengan terbayang-bayang wajah Aufia.

__ADS_1


__ADS_2