
Hari-hari berlalu begitu sangat cepat keluarga Rafa kini kembali norma seperti dulu dengan Sisil yang ada di tengah-tengah mereka, Sisil juga sudah bisa menerima kehadiran Rafa dalam hidup nya, perlahan benih-benih cinta tumbuh di antara Sisil dan Rafa.
Setiap hari bertemu, setiap hari berinteraksi, perlahan membuat keluarga itu kembali di hadiri kebahagian, keikhlasan Ara membawa kebahagiaan di keluarganya.
Rafa sudah bisa hidup dengan dua perempuan cantik di sisinya, Rafa tidak perna pilih kasih kepada mereka berdua. Rafa juga tidak mengistimewakan istri muda nya, dia perlakukan sama, terkadang mereka keluar bertiga, datang ke acara apapun Rafa akan mengajak dua istrinya.
Rafa selalu di puji kalau dia pria hebat karena bisa mempunyai dua istri cantik apa lagi istri kedua nya sangat lah muda. Walau begitu dia tidak menyombong kepada teman atau klien yang dekat dengan nya.
Seperti saat ini Rafa dengan dua istrinya tengah jalan-jalan ke Mall, Rafa tengah memanjakan dua istrinya. Sisil yang kini sudah mau berhijab atas bimbingan Ara, Rafa sangat bersyukur Ara bisa merubah Sisil dan mau sholat dan berhijab.
Suami dengan dua istri itu tengah ada di toko baju syar'i yang menyediakan berbagai model baju syar'i, dengan Ara dan Sisil tengah memilih baju sedangkan Rafa tengah mengikuti dua istrinya di belakang mereka.
"Mas, coba apa ini bagus??" Sisil bertanya kepada Rafa yang ada di belakang nya.
"Bagus, kamu coba dulu takut nya enggak muat!! Apa lagi perut kamu semakin membuncit"
Sisil menganggukkan kepala nya lalu meninggalkan Rafa dan Ara, Sisil yang ada di ruang ganti langsung mencoba baju yang dia ambil.
Sedangkan Ara tidak hanya membeli baju untuk dirinya melainkan untuk Aisya, Ara tidak mungkin melupakan putrinya saat membeli sesuatu. "Umi, kamu kan tidak suka warna dusty kenapa membeli dusty??" Rafa melihat Ara yang memegang baju yang dia tidak menyukai warnanya.
"Ini, Umi beli untuk putri ku yang sudah dua minggu ini tidak mengunjungi ku!! Dengan alasan perut nya mual saat masuk rumah kita" keluh Ara yang memang Aisya tidak datang ke rumah nya.
"Ah.. Seperti nya cucu kita punya dendam tersendiri dengan kita Umi"
"Hahahaha..Iyah cucu pertama ku!! Bisa-bisa nya tidak mau di ajak ke rumah Oma nya"
"Mas, ini pas dengan ku aku aku mau ini dan ini saja"
Suara lembut Sisil mengalihkan pembicaraan Ara dan Rafa yang membahas calon cucu mereka yang belum lahir. "Yah, kamu nanti kita bayar!! Tunggu Ara membeli baju untuk Aisya"
"Ah, Aisya.. Aku kemarin di buat kesal bukan main dengan Aisya kak!!!" Sisil kembali mengingat kemarin malam.
"Kenapa dia?? Apa kalian habis bertemu??" Ara penasaran kepada apa yang di lakukan putrinya kepada istri muda suami nya.
"Kakak tau dia menelpon ku hanya untuk menanyakan aku apa sudah tidur apa belum dan yang membuat aku kesal dia menghubungi ku jam 2 malam ada 100 kali panggilan yang tidak terjawab mulai dari jam 12 malam"
"Hahahaha.. Maafkan dia!! sejak hamil dia selalu saja membuat kamu kesal untung saja tidak satu rumah, bisa pecah kepala ku melihat kalian berdua"
__ADS_1
"Itu lah kak, anak kurang ajar emang"
"Hahaha.. Sudah ayo kita bayar, setelah itu mampir ke rumah Aisya dan Andika"
Mereka bertiga membayar baju-baju yang mereka beli di kasir, Saat tengah membayar baju Rafa dan dua Istrinya mendengar suara yang lembut, suara yang sudah hampir 2 tahun tidak mereka dengar.
Rafa, Ara dan Sisil menoleh ke arah samping Ara, mereka bertiga melihat perempuan cantik berhijab yang tengah bertanya ukuran baju. "Aufia" Lirih Ara.
"Aufia, kamu Aufia Umi kan nak??"
Perempuan cantik dan berhijab tanpa cadar itu menoleh ke arah yang sudah menitihkan air matanya. "Maaf tante saya bukan Aufia!! Saya Naila"
"Tidak nak kamu Aufia Umi bukan Naila"
"Maaf tante mungkin anda salah mengenali orang"
"Abi, lihat dia putri kita Abi" Ara menarik tangan Rafa yang ada di samping nya.
"Umi tenang dulu Umi!!" Rafa mencoba menenangkan Ara yang sudah histeris melihat perempuan yang mirip dengan Aufia.
Rafa membayar semua tagihan baju yang di beli kedua istrinya, setelah itu mengajak mereka berdua pulang. Agar tidak menjadi keributan yang membuat mereka akan malu. "Umi, Bunda dengarkan Abi!! Kalian jangan membuat keributan atau kita akan di usir dari sini"
"Abi dia Aufia kita Abi"
"Bunda tolong jangan membuat keributan lagi"
"Abi yang tidak mengerti"
"Apa yang tidak Abi mengerti Umi??"
Dua perempuan cantik itu meninggalkan Rafa yang frustasi di depan toko baju, dengan menatap dua istrinya yang meninggalkan dirinya begitu saja. "Ya Allah apa lagi ini" Batin Rafa.
Rafa mengejar dua perempuan cantik yang kini sudah meninggalkan Rafa dengan menaiki taksi yang ada di depan Mall, Rafa memanggil mereka tapi sayang mereka berdua tidak menghiraukannya.
"Umi, Bunda"
"Ahhh..."
__ADS_1
"Aufia nak apa benar yang tadi kamu" Batin Rafa yang juga yakin kalau yang ada di depan nya tadi adalah Aufia putri nya yang sudah menghilang hampir dua tahun.
Sedangkan Ara dengan Sisil tengah menggerutu di dalam taksi sampai sopir taksi bingung dengan dua perempuan cantik yang ada di kursi penumpang. Sopir taksi sesekali juga melirik kebelakang memastikan kalau dua perempuan yang menumpang baik-baik saja.
"Kak, sudah lah suru orang buat cari tau saja nunggu pria tua bangka itu kelamaan" Sisil memberi saran Ara yang juga tengah menggerutu.
"Iyah kamu bener, dia tambah tua enggak bisa di andalkan"
"Itu karena setiap hari yang dia tau hanya tumpukan kertas yang ada di mejanya"
"Yah kamu bener, dia itu emang enggak bisa di andalkan"
Mereka menggerutu sampai depan gerbang mewah, setelah membayar tagihan mereka berdua turun dari dalam taksi, berjalan ke gerbang yang menjulang tinggi di depan nya.
Saat Ara dan Sisil ingin membuka gerbang mewah yang ada di depan mereka, gerbang sudah terbuka. "Eh.. Umi, Bunda"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Kamu mau kemana??"
"Menunggu kang cilok"
"Buat ngisi tangki"
"Sudah lah Umi dan Bunda ingin masuk haus dan lelah"
"Apa Bunda dan Umi ke sini jalan kaki??"
"Kami kesini naik Jet"
"Wah, benarkah!! Di mana kalian parkir??"
"Hah.."
Dua orang tua Aisya ternganga mendengar apa yang di tanyakan putri mereka, sungguh membuat dua perempuan cantik beda usia itu merasa frustasi, semenjak hamil Aisya sikap bodoh nya datang entah dari mana dan mampu membuat ke tiga orang tua nya merasa frustasi.
__ADS_1