
Ara menangis di atas pasir di peluk Yesi dengan Aisya, tanpa di temani oleh para suami mereka. Bukan hanya Ara yang menangis melainkan Aisya dan Yesi juga menangis, mereka menatap air yang ada di depan mereka.
"Ma, Mi.. Aku harus ada buat anak aku" pekik Ara memberontak
"Sabar sayang"
"Sabar nak"
"Mi, Ma gimana bisa sabar dia pamit pergi mengejar ilmu, dia pamit mengejar ilmu kenapa malah dia ada di sini" Ara sangat frustasi
"Sayang, enggak ada yang mau kejadian ini terjadi nak, semua kehendak Allah" Aisya mencoba menenangkan Ara.
"Enggak, aku enggak bisa membiarkan anak aku gagal mengejar ilmu dan menggapai cita cita nya" Ara terus memberontak dalam pelukan Yesi dan Aisya
Berbeda dengan para suami yang kini berada di dalam kapal penyelamat Rafa menatap lurus laut dengan memejamkan matanya di mengingat bagaimana Ara menyuruh nya untuk tidak membiarkan Aufi berangkat.
Dua hari yang lalu...
"Umi, Abi jangan kangen dengan Aufia" Aufia menatap Umi dan Abi nya bergantian
"Kami malah seneng kalau kamu enggak ada di rumah, enggak ada yang membuat kami pusing" Rafa menggoda putri nya.
"Kapan Aufia membuat pusing Abi dan Umi?? Aufia kan anak yang baik" Aufia menyahut dengan menatap Abi nya.
Para orang tua menyimak perdebatan antara anak dan Ayah nya selalu memperdebatkan hal hal sekecil apa pun. Menjadikan hubungan mereka sangat dekat antara anak dan Abi nya.
"Kamu dan kakak kamu suka membuat Umi dan Abi pusing, kalau kamu enggak ada damai lah Umi dan Abi" Rafa semakin gencar menggoda Putrinya.
Aufia mendengus mendengar apa yang di katakan oleh Abi nya, dia merasa kalah telak untuk perdebatan kali ini.
"Malas aku berbicara dengan Abi" Aufia kembali fokus ke makanan yang ada di depannya.
"Abi juga malas" Rafa terkekeh melihat Aufia kesal dengan nya
Berbeda dengan Ara yang menatap putrinya dengan pandangan yang lembut, sayang, dan cinta. Tapi ada rasa khawatir yang terpancar di mata Ara. "Aufia..". Ara memanggil Aufia dengan sangat lembut
"Iyah Umi kenapa??" Aufia menatap Ara dengan bingung begitupun dengan yang lain menatap Ara dengan bingung
"Kamu batalkan saja penerbangan kamu hari ini nak". Ara menatap Aufia dengan lembut dia berharap Aufia mau berubah pikiran.
"Umi, Aufia pergi untuk kembali, bukan untuk pergi dan enggak kembali Umi" Aufia meyakinkan Ara agar tidak merasa khawatir dengan nya.
__ADS_1
"Kalau kamu enggak kembali mau nggembel kemana kamu??" Adam bertanya dengan menatap Aufia yang sudah mendengus.
"Mana mungkin Aufia menjadi gembel Kek, Abi Aufia itu kaya!! Jadi Aufia tidak akan menjadi gembel" ucap Aufia dengan percaya diri.
Jika Aufia dengan Mertua dan kedua orang tuan nya tertawa saling menggoda, berbeda dengan Ara yang melihat putrinya dengan perasaan tidak menentu, dada Ara semakin sesak saat mendengar perkataan Aufia.
Rafa yang ada di samping Ara menatap istrinya dengan bingung, Rafa merasa kalau ada yang di sembunyikan Ara dari nya. "Sayang.."
"Abi, katakan kepada Aufia lebih baik membatalkan penerbangan nya hari ini" Ara langsung mengatakan apa yang ada di dalam pikiran nya.
"Kenapa Umi??" Rafa menatap Ara dengan heran
"Abi perasaan ku tidak enak Abi, aku berat melepas Aufia dada Umi terasa sangat sesak Abi." Ada mengatakan yang sebenar nya kepada Rafa.
"Umi, saat Aisya berangkat juga Umi mengatakan hal yang sama" Rafa kembali mengingatkan Ara.
"Abi tapi ini rasanya berbeda dengan saat melepas Aisya Abi"
"itu Mungkin Aufia anak kandung kamu"
"Abi jangan bicara seperti itu, Umi enggak suka"
Rafa diam tidak menyahut dia tidak mau kalau sampai membuat Ara semakin marah karena perasaan nya tidak menentu.
Ara mendongak menatap Zeufa yang menatap nya dengan pandangan yang sulit di artikan. "Tidak baik membentak suami".
Ara hanya diam mendengar apa yang di katakan oleh Papinya, Ara lebih tertarik dengan putrinya yang tengah makan, perasaan nya benar benar berat melepas Aufia.
Aufia memecahkan keheningan yang terjadi setelah Ara membentak Rafa yang entah apa mereka bicarakan sampai membuat Ara marah, dan sampai membentak Rafa.
"Kakek, Nenek, Uti, Abah jangan kangen dengan Aufia" Aufia menatap para orang tua dengan menaik turunkan kedua alis nya.
"Kami malah bahagia kamu tidak akan membuat ke huru haraan di Rumah kami" ucap Zeufa dengan menatap Aufia yang tengah mengunyah makanannya.
"Kenapa kalian sangat jahat sekali pada Aufia" Aufia mulai mendrama dengan pura pura mengusap air mata nya.
Mereka terus mengobrol dan canda tawa diruang keluarga dengan candaan Aufia dengan para orang. Di mana mereka saling ejek tanpa ada sakit hati.
Saat tengah bercanda dengan Aufia Yesi menatap Ara yang ada di pelukan Rafa, seakan Raga memberikan Ara kekuatan dan ketenangan. "Ara.."
Para orang tua lain dengan Aufia menatap Yesi yang memanggil Ara dengan sangat lembut, mereka bingung dengan Yesi yang tiba tiba memanggil Ara.
__ADS_1
"Iyah Ma" Ara menyahut dengan masih ada di pelukan Rafa.
"Kenapa Nak??" Yesi bertanya dengan sangat lembut kepada Ara.
"Ara berat melepas Aufia Ma, dadaku terasa sesak Ma"
"Sayang, putri kamu dia pergi untuk kuliah jadi jangan membuat dia tidak semangat, kamu harus mendukung nya"
Dengan segalah bujukan, pengertian Ara sudah mau melepas kepergian Aufia yang kurang tiga jam lagi, Ara mengikhlaskan Aufia mengejar cita cita dan menimbah ilmu di negara lian.
...****************...
Aufia bersama dengan keluarga nya sudah ada di bandara, Aufia memeluk satu persatu keluarga nya yang terakhir Ara yang memeluk Aufia dengan sangat erat.
Ara memberi Aufia tasbih untuk di dalam pesawat, Agar Aufia selalu mengingat Allah. "Sayang jangan lupa berdoa minta perlindungan kepada Allah, kelancaran, kesuksesan, baca doa, perbanyak menyebut nama nama Allah sayang"
"Iyah Umi"
Aufia bejalan sendirian masuk kedalam bandara dengan menyeret dua koper yang ada di kedua tangan nya. keluarga nya menatap Aufia dengan perasaan berat, Aufia berhenti dia berbalik kebelakang dia melambaikan tangan nya sebelum melanjutkan langkah nya masuk kedalam bandara.
Beberapa jam sudah berlalu perasaan Ara semakin tidak karuan, dia mencoba mengalikan dengan menonton film kesukaan nya emak emak rempong di tv yang ada di ruang keluarga.
Saat tayangan iklan belum selesai muncul acara berita new yang menyiarkan kecelakaan pesawat ***** yang jatuh di laut*****, perasan Ara tidak karuan melihat berita yang dia dengar dan dia lihat.
Belum hilang rasa terkejut Ara, kini Ara melihat nama nama korban yang ada di dalam pesawat**** dada nya seakan berhenti melihat mana yang ada di atas sendiri, Nama Aufia terpampang di urutan kedua.
"Raufia Abraham Hendarso" Lirih Ara.
"Aaaahhhhhhhh.... Aufia"
Hiks hiks hiks
"Tidak ini tidak mungkin"
Semua penghuni Rumah keluar melihat apa yang terjadi dengan majikan nya, mereka bersama sama mendekat kearah ruang keluarga. Rafa yang ada di taman belakang mendengar teriakan istrinya langsung berlari masuk melihat apa yang terjadi.
Ara menceritakan apa yang dia lihat, Rafa sangat terkejut mendengar perkataan Ara membuat nya terluka, merasa bersalah dan juga sesak di dalam dada nya. Malam itu juga Ara dan keluarganya datang ke tempat di mana pesawat**** jatuh.
...****************...
Lamunan Rafa terpecah saat Mertuanya menepuk pundak nya tiga kali. "Pasrahkan semua kepada Allah"
__ADS_1
Rafa memejamkan mata nya perasaan bersalah seakan terus menghantui Rafa. Rafa dan mertuanya dengan Ayah kandungnya yang ada di kapal penyelamat.