
Tok tok tok..
"Assalamualaikum"
Tidak lama Ara menunggu pintu Rumah terbuka, pelayan melihat Ara ada di depan pintu, Neneng menyuruh Ara masuk karena Yesi sudah menunggu nya di ruang keluarga.
Ara masuk dengan mendorong stroller Baby A, Ara melihat Yesi tengah cemberut di sofa ruang tamu, Ara mendekat kearah Yesi. "Assalamualaikum Maa"
"Waalaikumsalam Sayang"
Yesi menjawab salam Ara dengan senyum yang mengembang, tapi Yesi merasa aneh karena Ara datang dengan cucu nya saja, sedangkan anak nya tidak terlihat bersama menantu dan cucunya.
"Kemana anak nakal itu nak??" Yesi bertanya dia mana Rafa, sebagai orang tau merasa ada yang mengganjal karena Ara datang hanya dengan Baby A, karena selama ini Ara tidak bisa lepas dari Rafa begitupun dengan Rafa yang tidak lepas dari Ara.
"Maksud Mama, Mas Rafa??" Tanya Ara memastikan kalau yang di carinya adalah putranya.
"Iya siapa lagi nak"
"Mas Rafa ada meeting di kantor Ma, mungkin sebentar lagi juga ke sini" Bohong Ara, Ara tidak mungkin membuka Aib yang terjadi di keluarga nya.
Yesi tidak akan dengan muda percaya dengan ucapan Menantu nya, karena Yesi tau bagaimana sifat Ara yang sangat menghormati Rafa dia tidak akan mungkin berkata jujur.
"Nak kamu yakin Rafa Meeting??" Yesi bertanya kembali untuk memastikan nya
"Iyah Ma, Ara baru saja dari sana"
Mereka akhirnya saling bercerita bagaimana Baby A selama ini, lalu membandingkan Aufia dengan Masa kecil Rafa yang menurut Yesi sangat mirip dengan Rafa.
Yesi juga bertanya tentang Aisya selama ini, apa menuruni tingkah ibu nya atau tidak, Ara menjelaskan Aisya lebih tenang setelah Aufia lahir, Yesi mengingatkan Ara kalau tidak boleh membanding bandingkan Aisya dengan Aufia nanti nya.
Yesi juga mengingatkan agar Ara adil dalam memberi kasih sayang, tidak pilih kasih terhadap Baby A, karena sekarang Aisya sudah menjadi anak Ara dan Rafa.
Ara mendengarkan semua yang di katakan Yesi, karena Ara juga baru memiliki anak, jadi Ara mendengarkan semua yang di katakan ibu mertua nya. Jika menurutnya benar dia akan mendengarkan dan memakainya, jika salah dia akan menjadi pendengar yang setia.
Ara sangat bersyukur karena Mama mertua nya sangat mengerti Ara, Yesi juga tidak membanding bandingkan Cucu kandung nya dan bukan, menurut Yesi mereka sama. Walau Aisya dilahirkan oleh ibu yang perbuatan nya hina tapi Yesi yakin dengan didikan Ara kasih sayang Ara, Aisya akan menjadi anak yang Solehah nanti nya.
Saat Yesi dan Ara bercerita terdengar langkah kaki yang tergesa masuk kedalam rumah Yesi, Mereka menoleh kearah sumber suara, siapa yang datang dengan buru buru.
"Ara, kamu di sini kan sayang" teriak Rafa yang sudah terdengar dua wanita cantik yang ada di ruang keluarga.
Terlihat Ara menghela napas lelah mendengar suara suami nya yang kini tengah memanggil nya, dia sudah mengatakan kalau Rafa tengah rapat malah Rafa berteriak memanggil nya. "Huuff, Sabar Ara dia suami dan ayah dari anak anak kamu" Batin Ara.
__ADS_1
"Kenapa kamu teriak teriak Rafa, ini bukan hutan" ucap Yesi kesal dengan putra nya
"Ah aku tadi hanya takut Ara tidak ke sini Ma" Rafa duduk di depan Ara dan Yesi.
"Apa kalian habis bertengkar iya, kamu membuat Ara kesal Rafa??? Kamu sebagai suami itu jangan membuat Ara kesal terus!! Nanti berpengaruh pada Asi nya, bagaimana kalau Asi nya tidak keluar?? Kamu beri minum apa anak kamu Rafa?? Tajin?? Yah kamu tau tajin?? Dasar laki laki paya, jadi suami kok mau enak terus" oceh Yesi dengan nada kesal kepada putranya, Yesi menatap putra satu satu nya yang kini tengah memejamkan matanya mendengar semua ocehan Yesi.
"Ma, sudah" Ara mengusap usap lengan Yesi, agar Mama mertua nya berhenti untuk mengomel.
"Kamu jangan belah suami kamu yah Ara, dia jangan kamu manja!! Nanti keterusan bikin salah" kesal Yesi melihat Menantu nya yang membelah Rafa.
Ara meringis menatap Mama mertua nya, bagaimana bisa Mama mertua nya dalam mode galak seperti ini, Ara merasa ngeri menatap Yesi.
"Bukan begitu Ma, ada baby A lho nanti mereka kebangun Ma" Ara mencoba mengalihkan perhatian Yesi kepada Baby A yang tengah tertidur di gendongan menantu nya dan juga dirinya.
"Huufffff Ma" Rafa mencoba menenangkan hati nya, yang di rundung rasa bersalah kepada Ara yang membuat nya salah paham dengan nya.
"Apa??" Yesi menyahut dengan sangat ketus.
"Emmm, Mama jangan marah marah nanti cepat tua, Aku dan Ara tidak bertengkar, tapi ada ke salah pahaman sedikit Ma" Rafa menjelaskan dengan hati hati tidak mau kalau sampai Yesi mengira yang tidak tidak.
"Salah paham apa sampai Ara datang kemari lebih dulu??" Yesi bertanya dengan masih ketus
"Ghemmm, Adelia membuat ula pagi ini Ma"
"Kekasih baru kamu??"
"Bukan Ma"
"Lalu apa??"
"Sekertaris Rafa Ma"
"Kenapa dia???"
Rafa menjelaskan apa yang terjadi pagi ini di kantor sampai tadi ingin datang ke rumah Yesi, Adelia masih membuat ulah, dengan menghadang mobil Ara dan juga mobil nya.
"Terus kemana sekarang perempuan itu??"
"Yah Rafa enggak tau Ma"
"Ingat yah Rafa sampai ada wanita lain yang mengaku hamil anak kamu, Mama coret kamu dalam data Warisan Mama dan Papa"
__ADS_1
"Enggak akan ada yang seperti itu Ma"
"Mama enggak mau tau, mama lelah sama kamu bandel minta Ampun"
"Itu kan dulu Ma, kalau sekarang mah enggak"
"Intinya Mama lelah sama kamu"
Yesi menatap Ara dengan kesal, Yesi menasehati Ara agar tidak terlalu melindungi Rafa jika memang Rafa bersalah, kadang apa yang kita lihat belum tentu benar, tapi bukan berarti semua yang di lihat salah.
Yesi mengatakan kalau jangan terlalu baik dengan orang, karena belum tentu semua orang yang kita baiki itu tau diri dan juga baik kepada kita, ada yang kita baiki tapi dia menusuk dari belakang sampai kita hancur juga ada.
"Iyah Ma, Ara paham"
"Yah dan ingat jangan membuat kebebasan Suami bandel kamu"
"Iyah Ma"
"Yah sudah ayo kita makan siang dulu"
Yesi mengajak menantu dan anak nya makan siang, sebelum pergi ke meja makan Ara dan Yesi menidurkan Baby A di box bayi yang memang ada di rumah Yesi.
"Ma, di mana Papa??"
"Papa ada di London"
"Mama enggak ikut"
"Tadi nya Mama ikut, setelah kejadian di mana Mama banyak yang menggoda di sana akhirnya Papa menyuruh Mama pulang"
"Mama banyak yang suka, orang tuwir gini" ejek Rafa kepada Mama nya
"Mama sudah tua tapi masih sangat cantik yah"
"Masak"
"Iyah jelas, mungkin kalau bersanding dengan Ara tidak akan jauh berbeda"
"Suka suka Mama yang penting Mama Bahagia"
"Harus itu"
__ADS_1
Mereka bertiga makan siang bersama, dengan ocehan Yesi yang enggak perna berhenti, sampai makan siang selesai.