
Ara menggandeng tangan Rafa masuk ke dalam gedung kantor Rafa, Rafa tidak berani bertanya atau melarang Ara untuk ikut ke kantor karena kesejahteraan sih pedang kramat di pertaruhkan.
Ara dan Rafa sudah ada di dalam lift untuk naik ke lantai atas di mana ruangan Rafa, saat keluar Ara tidak mengikuti Ara untuk ke ruangan nya. Dia malah mencari Sari dan Wulan untuk menanyakan soal ibu nya.
Rafa membiarkan istrinya sesuka nya di kantor nya, karena selama ini Ara juga membantu mengurus perusahaan yang Rafa jalankan. Menurut Rafa apa yang di miliki juga milik Ara, Istri tercinta nya.
Saat Rafa ingin membuka pintu ruangan nya dia mendengar suara perempuan yang sangat manja, Rafa menengok ke belakang. Rafa melihat perempuan seksoiii ada di belakangnya dengan membawa setumpuk berkas di tangannya.
"Selamat pagi pak Rafa" Adelia menyapa Rafa, Adelia sekertaris baru Rafa
"Ada apa??" tanya Rafa dengan dingin seperti biasa hanya kepada istrinya saja Rafa akan berbicara lembut dan hangat.
"Nanti di jam makan siang ada meeting diluar pak" Adelia mengatakan dengan nada yang di buat semanja mungkin dan selembut mungkin. Kayak kapas kira kira wkwkwkwkw.
"Hemmm"
Rafa masuk tanpa memperdulikan Adelia yang kini tengah menatap kagum dan penuh ingin terhadap Rafa, tentu saja Rafa tidak tau kalau dirinya di pandang seperti itu oleh Adelia.
Rafa kembali ke kursi yang ada kebesaran nya, yang ada di ruangannya dengan berbagai pekerjaan yang menumpuk di meja nya. "Hah.. Aku ingin liburan bersama dengan Ara dan dua anak perempuan ku" Lirih Rafa dengan membuka laptop nya.
Sedangkan Ara, tengah berjalan kearah ruangan Rafa, setelah menemui Sari dan Wulan menanyakan bagaimana kabar ibu nya setelah operasi yang di jalani nya.
Saat ingin sampai di ruangan Rafa, Ara mendengar suara yang menyapa nya. "Maaf anda siapa yah bu?? Ada keperluan apa??" suara Adelia menghentikan langka Ara.
"Emm saya, mau bertemu dengan Rafa" ucap Ara menatap perempuan yang ada didepan nya.
"Kalau saya boleh tau siapa ibu??"
"Menurut kamu saya siapa??"
"Maaf saya tidak mau salah menebak" Jawab Adelia yang masih terkesan lembut tapi tidak tau saja kalau Adelia tengah menggerutu di dalam batin nya.
"Udah penampilan nya aneh, di tanya berbelit belit seperti orang penting saja!! Udah kelihatan mata nya saja aku yakin dia sangat jelek" Batin Adelia.
"Sudah lah saya mau bertemu dengan Rafa" Ara melangkah meninggalkan Adelia yang tengah melamun dengan pemikiran nya tentang Ara.
Ara masuk ke dalam ruangan Rafa tanpa mengetuk terlebih dahulu, Ara menutup pintu ruangan Rafa dengan sangat keras.
__ADS_1
Brakk...
"Astaga"
"Lho kemana perempuan aneh tadi" Lirih Adelia saat sudah sadar dari lamunan nya.
"Jangan jangan" Adelia langsung nyelonong masuk kedalam ruangan Rafa begitu saja, karena selama ini dia melakukan hal seperti itu dan Rafa tidak marah.
Adelia melotot saat melihat Ara duduk di pangkuan Rafa yang tengah berkerja, Rafa menyadari kalau ada yang tengah melihat diri nya dengan Ara. Rafa mendongak menatap Adelia yang tengah menatap dirinya dengan Ara.
"Ngapain kamu di sana" Suara Rafa mengejutkan Adelia yang tengah melotot melihat Rafa
Ara menengok kebelakang dia melihat Adelia yang melihat nya tanpa berkedip. "Ada apa yah mbak???"
"Tidak ada, saya pikir pak Rafa terganggu dengan ke datangan seseorang ke ruangan nya" Lirih Rafa
"Bagaimana saya terganggu kalau saya sedari tadi menunggu bidadari saya" Rafa menyahut dengan menatap mata Ara.
"Ah, maksud bidadari pak???" Adelia bingung dengan apa yang di katakan oleh Rafa.
"Apa maksud bapak?? saya tidak mengerti sama sekali" Adelia menyahut dengan perasaan yang dongkol.
"Istri aneh saja kok di banggain" Batin Adelia
"Mbak saya beri tahu kamu, tidak baik menggoda suami orang, kamu hanya akan menurunkan harga diri kamu sebagai perempuan" ucap lembut Ara, membuat Adelia semakin geram.
"Apa beda nya ibu, orang ibu juga menggoda suami orang" Lirih Adelia
"Suami orang yang mana Mbak??" tanya Ara dengan nada yang masih sangat lembut seakan tidak terpengaruh oleh perkataan Adelia
"Pak Rafa kan suami dari ibu Sasa, ibu juga istri kedua pak Rafa"
"Jaga ucapan kamu Adel, kamu belum tau tapi kamu sudah berani menghina istri saya??" pekik Rafa yang enggak terima kalau istrinya di bilang merebut suami orang.
"Mas, karyawan kamu ini sangat lucu!! Apa dia pegawai baru Mas???" Lirih Ara menatap suami nya
"Dia baru dua bulan di sini Mi"
__ADS_1
"Tidak apa Bi kalau begitu" Ara turun dari pangkuan Rafa setelah itu dia menunjukan photo pernikahan nya dengan Rafa kalah Rafa menjadi kekasih Sasa. "Lihat yah Mbak saya istri sah Mas Rafa, kami menikah sejak satu tahun yang lalu"
"Photo saja bisa di edit bu sekarang sudah jaman sudah sangat canggih" Adelia dengan tidak tau malu nya mengatakan kalau Ara mengedit photo nya dengan Rafa.
"Kamu cari saja di ponsel canggih kamu ketik nama saya Mbak Zeina Johara Abraham, nanti mbak bisa tau siapa saya yang sebenar nya!! Dan ingat jangan meninggalkan surat apa pun untuk Mas Rafa, sebelum kamu saya depak dari Kantor suami saya dan ada di bawa naungan saya"
Ara kembali mendekat kearah Rafa dan duduk di pangkuan Raga seperti dia datang, Sedangkan Adelia tengah cemburu melihat Rafa dengan Ara yang selalu di manja Rafa.
"Seharusnya gue yang ada dipangkuan Rafa" Batin Adelia berjalan keluar dari ruangan Rafa.
Ara menatap suami nya kesal, Ara turun dari pangkuan Rafa berjalan kearah sofa yang ada di dalam ruangan Rafa. "Lho Umi kenapa pinda ke sana???"
"Lalu aku harus duduk di mana??"
"Di sini dong sama Abi"
"Enggak sudi, duduk aja sama Sih odel odel"
"Hah.. Odel siapa Umi???"
"Itu tadi siapa nama nya???"
"Adelia Mi"
"Enggak tanya"
Rafa ternganga mendengar jawaban Ara yang sangat mengesalkan, bagaimana bisa Ara bilang enggak nanya. "Sabar, perempuan tempat nya bener" Batin Rafa
"Kenapa enggak terima kau panggil odel??" tanya sinis Ara
"Aku mah terserah kamu aja sayang mau panggil siapa" Lirih Ara menatap kesal Rafa.
"Udah benar kemarin sekertaris nya nurut, malah dapat ganti kayak Badut sewaan" kesal Ara.
"Astagfirullahaladzim"
"Tuh kan jadi julit ini mulut gara gara Abi" kesal Ara, menatap Rafa kesal. Semua yang dia ucapakan menyalahkan Rafa yang sedari tadi mendengarkan Ara mendongeng, kalau kata Rafa.
__ADS_1