DI ATAS SAJADAH

DI ATAS SAJADAH
GEMBEL


__ADS_3

Ara benar-benar mendatangi pengacara keluarga nya untuk meminta nya mengurus perceraian dirinya dengan Rafa. Pak Lubis terkejut dengan apa yang di katakan Ara karena dia tau selama ini hubungan dengan suami nya baik-baik saja.


"Nona apa anda sudah memikirkan baik-baik perceraian ini??" Lubis memastikan kalau Ara sudah siap untuk menjalani perceraian ini.


"Kalau bapak tidak mau saya akan mencari pengacara lain untuk mengurus perceraian saya dengan Mas Rafa" tegas Ara membuat Lubis yakin kalau Ara benar-benar mau berpisah dengan Rafa.


"Bukan begitu tapi saya heran saja kenapa tiba-tiba anda meminta cerai dari Rafa"


"Dia sudah menikah lagi dan tidak adil kepada saya!! Jadi apa anda mau mengurus semua nya pak Lubis??"


"Tentu Nona Ara saya akan mengurus semua nya dan secepat nya"


"Terima kasih.. Kalau begitu saya permisi dulu pak Lubis"


"Iyah sama-sama Nona"


Ara meninggalkan ruang kerja Lubis dengan keyakinan yang sudah ada di dalam hati nya untuk bisa terus maju tanpa ada nya Rafa di sampingnya.


Dia sudah melepas semua rasa yang ada untuk Rafa dan fokus mencari tau tentang Naila perempuan yang perna dia temui waktu itu, Ara ingin memastikan kalau dia Aufia nya dia akan berjuang untuk mendapatkan anak nya kembali.


Jika Naila bukan Aufia nya dia akan benar-benar merelakan Aufia di sisi Allah yang lebih menyayangi nya. Ara keluar dari gedung kantor Lubis berjalan ke arah Mobil nya yang ada di parkiran.


Meninggalkan Ara yang ada di kantor Lubis, di kantor di mana Rafa biasa masuk kerja yang memang perusahaan Milik keluarganya harus berdebat dengan Aisya putri angkat nya.


"Kenapa kamu ada di sini??" Rafa bertanya kepada Aisya yang tengah duduk di kursi nya dengan menatap layar laptop yang ada di depan nya.


"Assalamualaikum Bi"


"Kenapa?? Jangan bertele-tele Aisya"


"Saya sudah menggantikan Abi untuk mengurus perusahaan"

__ADS_1


"Ada hak apa kamu menggantikan saya Aisya??"


"Abi lupa kalau aku anak Abi?? Tentu saja aku punya hak atas apa yang Abi miliki"


"Kamu hanya anak angkat perempuan ****** Aisya!! Yang di beli Ara waktu kamu masih bayi" Rafa mengatakan hal yang sangat menyakiti hati Aisya.


Tapi Aisya tidak akan gentar dengan apa yang di katakan oleh Rafa, dia akan tetap menghadapi Rafa walau dia di cap anak yang tidak tau di untung Aisya tidak peduli.


"Kalau itu Aisya tidak lupa Abi, tapi Kakek sudah menyerahkan semua kepemilikan perusahaan atas Nama Raisya Hendarso Abi"


"Tidak bisa!! Kamu bukan anak aku, Aufia sudah meninggal jadi nanti nya semua ini akan menjadi milik Alisia"


"Abi kalau tidak terima dengan semua ini silahkan protes kepada Kakek!! Mungkin Kakek akan segera sampai karena tadi dia bilang ingin menunjukan sesuatu kepada Aisya Bi"


"Keluar kamu dari ruangan ku anak haram!! Jangan perna kamu duduk di kursi ku" Rafa takut akan kehilangan semua nya, setelah berpisah dengan Ara Rafa takut akan menjadi gelandangan yang tidak punya apa-apa.


Rafa mendekat ke arah Aisya dia menyeret putri angkat nya yang selalu di sayangi selama ini seperti anak nya sendiri, tapi kini dengan tega Rafa menyeret Aisya berjalan ke arah pintu keluar.


Aisya hanya diam merasakan tangan nya yang sakit karena tarikan Rafa yang begitu sangat kuat, Rafa melempar Aisya sampai Aisya tersungkur di lantai depan ruangan Rafa.


Kejadian di mana Aisya di perlakukan kasar oleh Rafa menarik orang-orang sekitar yang tengah melintasi ruangan Rafa dulu. Rafa menatap tajam Aisya yang ada di depan nya.


"Kamu hanya anak haram yang di pungut Ara, jangan kamu pikir kamu bisa menguasai yang bukan hak kamu" pekik Rafa membuat karyawan lain keluar dari ruangan mereka untuk melihat apa yang tengah terjadi.


"Mungkin Abi yang lupa kalau semua ini sudah menjadi milik Aisya dan Aufia, Aisya bisa menjalankan perusahaan setelah Aisya berumur 21 tahun dan kalau Abi lupa Aisya sudah 22 tahun"


"Jangan kamu memanggilku Abi, aku bukan Abi kamu!! Kamu memang sama dengan Ibu kamu yang ja*****ng itu tidak tau diri"


Jika Rafa memaki Aisya dan disaksikan banyak nya karyawan, berbeda dengan Adam dan Ara yang baru saja sampai tempat di Mana Aisya memimpin perusahaan.


Adam dan Ara mendengar pekikan Rafa tapi tidak terlalu jelas, Adam dan Ara juga melihat kalau banyak karyawan yang berkumpul. "Ada apa ini Ara??"

__ADS_1


"Ara juga tidak tau Pa, coba kita lihat"


Ara dan Rafa membelah kerumunan melihat Aisya dan Rafa yang saling tatap dengan Rafa menatap Aisya dengan benci. "Ada apa ini???" Adam mendekat ke arah Aisya.


"Pa, kenapa Papa biarkan Anak haram ini menjalankan perusahaan"


"Rafa.. Jangan kamu katakan Anak ku anak Haram!! Jaga batasan kamu sebelum aku kehilangan akal sehat ku" pekik Ara yang tidak terima kalau Aisya di panggil anak haram.


Rafa terkejut dengan suara Ara yang tidak lagi lembut seperti biasa nya, Rafa menatap Ara yang juga menatap Rafa dengan tajam. "Ara, kamu jangan ikut campur di dalam masala ini".


"Kamu pikir kamu siapa Rafa?? Kamu tidak hak bicara begitu dengan ku!! kantor ini berada di bawa naungan Abraham"


"Aku tidak peduli yang aku tahu kalau perusahaan ini adalah hak anak kandung bukan hak anak haram"


Dada Ara naik turun mendengar apa yang di katakan oleh Rafa, Ara mendekat ke arah Rafa dengan emosi yang sangat membara.


Plakkkk


Plakkkk


"Dengar Rafa Hendarso aku datang ke sini dengan membawa berkas untuk menyerahkan semua kepemilikan Aisya dan Aufia atas nama kamu, karena Alisia mungkin lebih membutuhkan dari pada Aufia dan Asiya!! Tapi dengan cara kamu yang seperti ini aku hilang rasa simpati ku terhadap pria tidak tau diri seperti kamu Rafa. Lihat ini berkas ini ada berkas yang akan aku minta tanda tangan Aisya dan kamu nanti nya tapi semua ini sudah tidak penting lagi buat Aku Rafa, selamat menjadi gembel berserta anak dan istri kamu" Pekik Ara dengan menyobek dokumen pengalihan atas nama aset perusahaan yang akan di kembalikan kepada Rafa.


Rafa melihat itu pun menjadi diam dan bungkam, dia tidak mengira kalau Ara masih perduli dengan nya tapi kini semua nya dia hancurkan semua nya tanpa ada nya sisa.


"Ara, jangan kamu ambil hati ucapan ku Ara, tolong kembalikan perusahaan ku" Rafa mengemis kepada Ara yang kini memeluk putrinya.


"Tinggalkan kantor ini secara baik-baik atau aku menyuruh Security untuk menyeret kamu dari sini Rafa" pekik Ara menatap tajam Rafa.


"Ara jangan begitu kita masih sah suami istri Ara"


"Maaf tapi aku sudah menghubungi pengacara ku untuk mengurus surat cerai kita"

__ADS_1


"Ayo Sayang kita pulang tinggalkan pria tidak tau malu ini!! Biar dia tau bagaimana bersikap dan menghilangkan sifat sombong dan Arogan nya"


Adam, melihat putra nya dengan kecewa, dia mengikuti Aisya dan Ara meninggalkan kantor dengan rasa kecewa yang mendalam.


__ADS_2