
"Dasar perempuan enggak tau diri udah untung di nikahi malah ngelunjak" Rafa kesal di ruang kerja nya dengan bersandar di sandaran kursi kebesarannya.
"Kenapa Mas???" Ara yang baru keluar dari dalam kamar mandi menatap Rafa bingung karena tidak biasanya Rafa raut wajahnya terlihat marah dan kesal menjadi satu.
"Sasa, baru kemarin aku memberikan uang sekarang dia malah meminta lagi uang Ara" Rafa mengatakan dengan nada sangat kesal.
Ara melihat Rafa yang tengah marah mendekat kearah Rafa, Ara duduk di pangkuan suaminya lalu menatap mata indah suami nya. Ara mengusap rahang koko suaminya dengan manja, tentu saja Rafa tidak bisa menolak perlakuan Ara yang begitu sangat Manis. "Jangan marah marah nanti kamu cepat tua"
"Aku tidak akan tua sayang, kalau istrinya bidadari kayak kamu" Rafa menatap Ara yang juga menatapnya dengan tatapan sayang, cinta, hilang sudah raut wajah kesal dan Marah yang tadi Rafa tunjukan.
"Terima kasih atas pujian yang kesekian kalinya" Ara mencium kedua pipi kanan kiri Rafa.
"Enm, kamu yang selalu bisa membuat aku tenang dan nyaman!!" Rafa menatap mata indah dan bulu mata lentik Ara.
Setelah Rafa tenang, Ara mengajak suaminya untuk makan di kantin kantor. Ara yakin kalau suaminya belum perna makan dengan para karyawannya. "Baiklah tuan putri ananda akan menuruti kemauan tuan putri" Rafa memperlakukan Ara seperti Ratu yang menyuruh prajuritnya utuk melakukan sesuatu hal.
"Hahahaha...Mas geli tau"
"Yah sudah ayo kita makan sesuai permintaan kamu" Ara turun dari pangkuan Rafa setelah itu Rafa beranjak dari duduk nya. Rafa memegang erat tangan Ara yang ada di samping nya.
Marah Rafa seketika hilang saat Ara memperlakukan Rafa dengan sangat manis, Ara dan Rafa tengah di dalam lift untuk naik kelantai atas dimana kantin kantor berada.
Rafa dengan Ara keluar dari dalam lift, semua karyawan yang ada di kantin sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat, pasalnya yang mereka lihat Rafa ada di kantin sungguh sangat langka sekali seorang Rafa Hendarso datang ke kantin, apalagi mengajak sang istri.
Ara duduk di depan dua karyawan perempuan yang menatap mereka dengan heran, sedangkan Rafa tengah pergi pesan makanan yang ada di kantin. Ara meminta soto Ayam dengan koya yang banyak.
Sedangkan Ara tengah mencoba mendekatkan dirinya kepada Kedua karyawan yang kini tengah menatap nya dengan sangat heran. "Kenapa kalian menatap saya seperti itu???" tanya Aura yang sangat penasaran.
"Emm, kami hanya terkejut saja pak bos datang ke kantin, Nyonya" Jujur salah satu karyawan.
"Haha, itu tanda nya bos kalian tidak perna menginjakkan kakinya disini??" tanya Ara dengan menatap dua karyawan yang di depan nya
"Iyah Nyonya"
"Kalian jangan memanggilku nyonya, panggil Ara saja!! umur kita terlihat tidak terlalu jauh berbeda" Ara berusaha akrab dengan mereka.
"Kami tidak berani!!"
"Tenang saja, Rafa tidak akan marah kepada kalian!! Btw nama kalian siapa??"
"Ah saya Wulan"
"Kalau saya Sari"
"Saya Ara"
__ADS_1
"Sayang" Rafa duduk di kursi panjang di samping Ara di mantap karyawan nya tengah asik mengobrol, tapi tidak melihat ada nya makanan di meja mereka.
"Kalian tidak makan???"
"Sudah Tuan"
"Mereka tidak perna makan Tuan selama ini, hanya minum jus saja" Bik Jum memberi tahu dengan menaru pesanan Rafa untuk Ara dan Rafa.
Rafa menatap kedua pegawainya yang ada di depannya, padahal teman temannya yang lain makan semua. Saat Rafa ingin bertanya Ara sudah dulu bertanya kepada Wulan dan Sari.
"Kenapa kalian tidak makan??" tanya Ara penasaran, dengan menatap mata wulan dan Sari, Wulan dengan Sari yang di tatap ingin kejujuran membuat Ara dan bingung.
"Kami tidak lapar Nona" Jawab wulan memastikan, tapat setelah Wulan menyelesaikan perkataannya. Perut Wulan dan Sari berbunyi, menandakan kalau perut mereka lapar.
Kriuk kriuk kriuk..
Ara menatap karyawan suaminya dengan heran, kenapa mereka berbohong padahal mereka lapar belum makan. "Mas kamu pesan lagi soto buat mereka"
Mulut Rafa ternganga mendengar permintaan Istrinya, dia, Rafa memesan makanan untuk karyawannya. Wkwkwk hanya Ara yang bisa menyuruh Rafa.
"Kamu tidak salah???" Rafa bertanya dengan tidak percaya kalau Ara menyuruhnya memesan makanan.
"Apa yang salah Mas???" Ara bertanya dengan bingung dan mata polosnya
"Mereka saja yang pesan, kenapa harus aku sih ck" Rafa menatap istrinya dengan malas karena sudah menyuruh nya hal yang tidak mungkin.
Akhirnya dengan sangat berat Sari mengeluarkan uang untuk makan siang mereka, padahal niat hati ingin membantu Ibu untuk membeli obat bersama dengan kakak.
Ara yang melihat gelagat aneh Sari dengan Wulan, Memberi tahu Rafa yang ada di samping nya dengan memakan soto yang ada di depannya.
"Mas lihat Sari dan Wulan"
"Kenapa dengan mereka Ara??" Rafa sangat kesal bertanya kepada Ara, kenapa dengan meraka.
Ara yang tau suami nya kesal tidak menghiraukan nya dia malah masih membahas Sari dan Wulan . "Mungkin mereka lagi susah sayang, karena itu.mereka takut kalau uang mereka tidak cukup" ucap Ara dengan masih menatap suaminya.
"Lalu kenapa??? Apa hubungannya dengan kita sayang???" Rafa bertanya kepada Ara, pertanyaan Ara membuat Ara kesal, suaminya sangat tidak peka.
"Bantu dong, kamu bantu mereka tidak akan membuat bangkrut selama kamu ikhlas" perkataan Ara membuat Rafa menggeruru dihatinya, karana Ara dengan tidak langsung mendoakan dia bangkrut, itu lah yang ada di dalam pikiran Rafa.
Rafa dengan sangat patuh walau dia kesal kepada Ara, Rafa tetap menyetujui kemauan Ara untuk membantu Sari dan Wulan. Rafa akan menyuruh orang untuk mencari tau tentang Sari dan Wulan.
Setelah lima belas menit berlalu Rafa dan Ara sudah selesai dengan makan soto nya, mereka mematap Sari dengan Wulan yang kini makan soto dengan sangat ragu.
"Sebenarnya kalian kenapa???" Ara yang semakin penasaran kepada Sari dan Wulan.
__ADS_1
"Kami tidak apa apa Nona" Sari dan Wulan masih menunduk tanpa mau menatap Ara. Mata Ara seakan bisa menghipnotis Sari dan Wulan.
"Hemm, Apa kalian sedang ada Masalah?? Katakan saja, kalau pun butuh uang pinjam di Heni. Dia pasti akan memberi pinjaman" Rafa yang berbicara karena sangat geram dengan Sari dan Wulan yang tidak jujur kepada Istrinya, apalagi Ara tengah menunggu jawaban kejujuran mereka.
"Tapi kami tidak boleh meminjam uang dari mbak Heni pak" Wulan mengatakan dengan jujur.
"Mbak Heni bilang kalau uang perusahaan akan habis jika kami pinjam, lalu dia mengatakan kalau kami tidak pantas ada di sini" Jawab sari lemah, pasalnya saat ini dia dan Wulan membutuhkan uang yang banyak untuk ibu mereka.
"Karyawan kamu tuh Mas" Ara mulai geram dengan karyawan suaminya.
"Iyah aku tau Cinta" Rafa yang kesal pun tidak bisa marah dengan Ara istri tercinta nya
"Mas, Ish... Selalu saja"
Ara tidak lagi menatap Rafa dia kembali menatap dua perempuan cantik yang ada didepan nya, menurut Ara mereka memang tidak lagi berbohong di lihat dari wajah dan tatapan mereka.
"Kamu butuh uang berapa??? Untuk Apa??"
"Kami butuh untuk operasi ibu kami Nona" Jawab Wulan dengan menggengam tangan sang adik yang ada di samping nya.
"Emm, sakit ibu kalian!! Kalian bersaudara??? Butuh uang berapa???"
"Iyah Nona, iya kami bersaudara kami kembar tapi tidak seperti kembar!! 250 juta"
Ara menatap mereka sedih, karyawan suaminya susah tapi bos enggak tau. sungguh miris sekali bukan, bos nya punya uang banyak karyawanya harus berjuang mencari pinjamana saja tidak di perbolehkan.
"Mas pinjam ponsel kamu"
"Buat apa sayang???"
"Udah sini Mas"
Rafa walau tidak paham masih memberi ponsel nya kepada Ara, Ara mengotak atik ponselnya Rara. "Berapa nomor rek kalian???"
"Untuk apa Nona??"
"Mana Rek nya"
Sari menunujukan Rek nya kepada Ara, tidak lama ponsel Ara berbunyi menandakan ada pesan masuk, Sari membukan ya ada uang yang tidak sedikit masuk ke rek Sari. Sari menatap Ara dengan tidak percaya, dia bingung bagaimana mengganti uang yang Ara transfer.
"Nona bagaimana kami akan mengganti uang ini"
"Ini untu kamu dari Tuan Muda kalian"
"Terima kasih pak"
__ADS_1
"-Hemm" Rafa sangat tidak semangat karena melihat berapa uang yang Ara berikan kepada Sari.
"Hah begini amat punta bini yang hatinya kayak salju lembut bangat" Batin Rafa dengan menghela napas pasra dia kehilangan uang 500 juta dalam kurung waktu setengah jam.