
Satu tahun kemudian...
"Hahaha Umi kenapa jadi cemong seperti itu???" Suara berat pria mendekat kearah Ara dan Aisya yang ada di dapur.
"Abi, ini semua karena ula putri Abi" Ara pura pura kesal dengan Aisya yang sudah cengengesan di balik cadar.
"Apa yang di lakukan Aisya Umi??" Rafa membersikan noda tepung yang ada di kening Ara dan juga jilbab Ara.
Ara dan Aisya mencoba membuat kue kesukaan Rafa tapi Aisya malah membuat dapur seperti habis tempur dengan tepung yang ada di mana mana. "Umi sudah katakan kalau kantung tepung nya sudah Umi sobek, terus ini tadi dapur baru saja di pell sama mbak siti tau tau ini anak datang malah melompat lompat kayak kayak Abi!! Terus Aisya kepleset, dia lempar tepung nya dan terjadi lah dapur Umi seperti habis bertempur" Jelas Ara panjang lebar.
"Umi jangan marah marah nanti cepat tua" Aisya malah menggoda Umi nya.
"Pusing Umi kalau setiap hari dapur Umi kamu datangi untuk meninta di ajari membuat kue!! Bukan nya jadi hancur dapur Umi" Ara membersikan tepung yang ada di jilbab Aisya.
"Lho kan Aisya pengen buka toko Roti Umi" Aisya mengatakan asal asalan.
"Kamu buka toko roti yang ada semua orang bisa sakit perut kayak beberapa hari yang lalu penghuni rumah ke rumah sakit berjamaah" Ara mengingatkan putrinya yang beberapa hari membuat kedua orang tua nya, pelayan dan penjaga datang ramai ramai ke rumah sakit dan membuat dokter dan suster heran.
"Haha kalau itu mah kesalahan teknis Umi" Aisya cengengesan.
"Yah udah naik, bersih bersih kata nya kuliah siang" Ara mengingatkan putri.
Aisya berjalan meninggalkan dapur dengan buru buru dia lupa kalau belum mengumpulkan tugas yang kemarin, Aisya membuka kamar nya dengan buru buru sampai menimbulkan suara dari pintu yang bertabrakan dengan dinding.
Ara dan Rafa yang ada di anak tangga terkejut mendengar suara dari pintu di kamar atas. "Ya Allah, pasti dia mengumpulkan tugas nya lagi" Lirih Ara yang sudah hapal dengan putri nya.
Ara dan Rafa yang sudah ada di lantai dua mendekat kearah pintu kamar Aisya yang bersebelahan dengan kamar Ara. "Aisya, kamu ngapain??" Ara menatap Putrinya yang menutup wajah nya dengan buku tebal.
"Aku belum mengerjakan tugas ku Umi dan waktu nya sangat mepet" Aisya yang tengah frustasi menatap laptop nya yang ada di depan nya.
"Itu lah kalau suka nya main main mulu!! Gimana jadi dokter hebat kalau kerja nya lupa mulu"
Aisya ternganga mendengar apa yang di katakan oleh Ara yang mendekat kearah nya. " Sudah mandi sana biar Umi bantu ini" Ara mengusap lembut kepala Aisya dengan sayang.
"Umi kan ini baru pertama aku lupa!!" Aisya merengek di pelukan Ara.
"Iyah iyan sayang semoga Allah menjadikan kamu seperti apa yang kamu inginkan" Ara mencium kening Aisya.
__ADS_1
"Aamiin Umi, terima kasih doa nya"
"Iyah, sana Mandi"
Ara membantu putrinya mengerjakan tugas Aisya, Ara selalu membantu mengerjakan tugas kuliah putri putri nya. "Lihat lah Abi putri kamu tugas banyak malah di lupakan" Lirih Aisya dengan mengotak atik laptop Aisya.
"Karena kamu selalu memanjakan nya".
"Andai Aufia masih bersama kita Abi" Lirih Ara yang masih bisa di dengar Rafa.
"Umi, dia sudah tenang di sana jangan kamu buat dia menderita dengan ke tidak ikhsan kamu"
"Maaf Abi"
Setelah setengah jam berlalu Aisya ke luar dari dalam kamar mandi, Ara melihat putrinya yang keluar kamar mandi menatap nya dengan senyum yang ada di bibir nya. "Umi, apa sudah selesai??"
"Sudah.. Umi mau ke kamar bersih bersih"
"Iyah Umi.."
"Tunggu sayang"
"Girl pamit sekarang saja, Umi dan Abi mau olah raga di kamar"
Plakkkk
"Mas" Ara sangat kesal dengan suami nya.
"Baik kah Abi dan Umi, Aisya pamit berangkat kuliah dulu yah!! Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam" Ara dan Rafa menyahut tapi dengan kesal dan bahagia, bagaimana bisa putrinya menurut dengan Rafa.
Ara dan Rafa keluar dari kamar Aisya, sedangkan Aisya masuk ke dalam walk in closet untuk memakai cream wajah.
Sedangkan Ara dan Rafa di dalam kamar mandi saling cerita di guyuran shower. "Bi, andai dulu aku hamil lagi pasti tidak akan merasa kesepian di saat Aisya dan kamu tidak di rumah"
"Mi kamu jangan menyesali yang sudah terjadi, ini kehendak yang maha pencipta" Rafa memberikan kenyamanan kepada Ara yang menghadap kaca besar yang ada di depan nya.
__ADS_1
"Yah Umi tidak menyesali Bi, hanya merasa sepi aja"
"Lupakan Umi, lebih baik Umi menyenangkan Pusaka Abi yang sudah ingin masuk rumahnya"
Tanpa menunggu jawaban Ara, Rafa menciumi leher mulus Ara dengan hasrat yang menggebu gebu, setelah puas di sana Rafa membalik Ara menikmati indahnya tubuh Ara yang semakin hari semakin indah.
Erangan demi erangan terdengar dari dalam kamar mandi, yang kini menjadi saksi di mana Ara kembali melayani Rafa setelah satu tahun lama nya dia tidak ingin di sentuh oleh Rafa.
Banyak kesedihan selama satu tahun belakangan ini, Ara yang selalu menyalahkan Rafa atas dirinya kehilangan Aufia putrinya, dia juga menyalahkan Rafa karena kepulangan Aisya dari LA.
Ara yang sangat takut kehilangan Aisya karena putrinya hanya tinggal Aisya saja, itu lah yang ada di dalam pikiran Ara kalah itu. Sampai akhirnya Ke dua orang tua Ara membawa Ara ke psikiater karena Ara yang terkadang hilang kendali saat merasa sedih.
"Umi, ini sudah satu tahun Abi bisa merasakan kenikmatan lagi" Ucap Rafa yang menyentuh hati Ara.
"Kenapa Abi tidak jajan di luar Bi"
"Abi suka lobang yang sama bekas Abi, bukan bekas orang lain" Abi menjawab dengan masih setia bergoyang asoy di belakang Ara.
Ara sendiri juga merasakan hal yang sama kenikmatan yang tidak perna dia rasakan dari satu tahun yang lalu kini di rasakan dengan Rafa.
"Apa Umi merasakan apa yang Abi rasakan??"
"Tidak biasa saja"
"Bersiap lah Abi akan merapel kegiatan yang perna ada hilang kini Abi akan melakukan nya setia hari Umi"
Ara dan Rafa kembali ke masa di mana kebahagiaan menyelimuti mereka, Ara perlahan melupakan Aufia yang kini mungkin sudah tenang di sisi Allah.
Ara semakin sayang kepada Aisya sebagai anak satu satu nya, dia juga tidak mau kehilangan putri nya kembali dengan kesalahan yang terulang kembali.
Rafa bahagia melihat senyum di bibir Ara setela lama dia tidak melihat Ara tersenyum dengan masih mengerang di kungkungan Rafa.
"Ya Allah semoga engkau memberi kebahagian keluarga hamba" Batin Ara yang kini sudah ada di Walk in closet.
***Hay sayang nya Mamak, terima kasih karena kalian sudah membaca cerita ku!!!
Mamak mau minta Maaf karena kemarin tidak Up, karena Mamak enggak enak badan yah.
__ADS_1
Selamat membaca sehat selalu***..