
"Mas, kamu kenapa bodoh sekali tidak menghubungi ku sejak tadi" kesal Ara yang melihat suaminya yang seperti orang yang sudah mau metong karena sakit perut.
"Sayang, kamu jangan marah-marah nanti lekas tua!!!" Rafa yang dalam keadaan sudah kesakitan masih bisa menggoda Istri tua nya.
"Sudah lah percuma saja aku bicara sama kamu!! Malah semakin membuat ku semakin kesal saja" Ketus Ara.
"Sayang..!!"
Ara tidak menyahut karena dia benar-benar kesal dengan suaminya yang selalu saja membuat dirinya khawatir dan juga kesal. "Bodoh amat, punya suami suka nya membuat ku kesal saja" batin Ara.
"Sayang.." Rafa memanggil Ara yang tidak menyahut panggilannya.
Lagi-Lagi Ara tidak menyahut dia masih fokus ke jalan tujuan utamanya adalah rumah putrinya di mana Istri muda Rafa ada di sana menemani putri tiri nya.
Sedangkan di rumah Aisya, Sisil terkejut dengan darah yang ada di kaki nya. "Apa ini?? Apa aku akan keguguran?? Mana mungkin usia kandungan ku sudah 9 bulan!! Apa aku akan melahirkan??? Tapi kok enggak sakit perut aku seperti yang aku baca di artikel" oceh Sisil yang ada di dalam kamar Mandi untuk mandi setelah itu sholat.
Sisil tidak menyelesaikan acara mandinya setelah itu dia keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan kimono mandi. Sisil mencari ponsel nya untuk menghubungi Ara untuk bertanya apa yang harus dia lakukan sekarang.
Panggilan pertama tidak ada jawaban, kedua, ketiga, ke empat, tidak ada jawaban belum sampai Sisil menghubungi Ara lagi pintu kamar nya di buka dengan kasar.
Brakkk.....
"Sisil ayo ke rumah sakit" Ara setelah membuka pintu langsung mengajak Sisil ke rumah sakit belum juga Sisil mengatakan sesuatu tapi Ara sudah lebih dulu mengajaknya
"Ngapain kak?? Apa suami kita metong kak???" ucapan Sisil berhasil membuat Rafa yang ada di samping pintu ternganga dan tidak percaya kalau istrinya bertanya hal demikian.
"Huusss jangan ngawur!! Kamu mau melahirkan ayo ke rumah sakit sebelum melahirkan di sini Sisil" Ara menarik pelan tangan Sisil untuk masuk ke dalam walk in closet untuk berganti baju.
Sisil dengan patuh mengikuti Ara yang menarik nya untuk masuk ke dalam walk in closet. "Kak, aku keluar darah"
"Apa???" Ara berhenti menatap istri muda suami nya dengan terkejut.
__ADS_1
"Kak, aku enggak tuli tau!!!" Sisil mengusap kedua telinga nya karena terasa berdengung.
"Kenapa kamu enggak bilang Sisil!! Kalau udah keluar darah!! Sudah cepat ganti baju kamu mau melahirkan, kamu tidak merasa sakit karena Mas Rafa yang kesakitan seperti orang yang mau mati" Ara menjelaskan kepada Madu nya.
"Sudah jangan banyak bertanya nanti saja aku jelaskan sama kamu saat kamu sudah melahirkan" Ara keluar dari dalam walk in closet.
Sisil berganti baju dengan baju yang sangat tertutup sesuai dengan ajaran Ara selama ini, Sisil tidak menyangka kalau dirinya bisa mendapatkan Suami orang dengan lapang dada Istrinya mau menerima Sisil, sampai mengajarkan semua tentang apa arti seorang Istri.
Setelah lima belas menit Sisil keluar kamar melihat Ara yang mondar mandir di kamar nya dengan Rafa yang sudah seperti cacing kepanasan di atas ranjang nya.
"Kak, ayo!!"
Ara melihat Sisil yang sudah siap, Sisil mendekat ke arah Ara yang masih tengah menatap nya dengan pandangan khawatir. "Mas ayo kamu jangan letoy Sisil mau melahirkan" Ara mengajak suami nya untuk pergi.
Belum juga Ara dan Sisil melangkah untuk keluar kamar, dia mendengar suara putrinya memanggil nya dengan sangat lembut. "Umi.."
Ara dan Sisil menoleh ke arah pintu kamar Sisil dia melihat putrinya dengan pandangan yang aneh. "Sayang kamu sakit???"
"Kita ke rumah sakit saja sekarang ayo"
"Iyah Umi"
Akhirnya Ara, Sisil, Aisya dan Rafa ke rumah sakit, dalam perjalanan Sisil mulai pucat, apa lagi dia mulai merintih kesakitan. Tidak dengan Rafa yang sudah tidak merasakan sakit di perut nya.
"Kak, perut ku sakit"
"Sabar yah sebentar lagi kita akan sampai"
"Iyah kak"
Begitupun dengan Aisya yang merasakan sakit luar biasa di perut nya, tapi dia berusaha untuk tenang karena tidak mau membuat Umi nya semakin khawatir dengan dirinya.
__ADS_1
Aisya sangat paham saat ini Ara tengah mengkhawatirkan ibu tirinya yang ingin melahirkan anak nya dengan Rafa.
Aisya menyebut nama-nama Allah agar rasa sakit nya bisa sedikit berkurang, dia selalu melakukan apa yang di katakan Umi nya di saat dalam keadaan apapun. Mau sehat, mau sakit harus ingat kepada Allah, seperti saat ini dari rumah sampai di rumah sakit Aisya menyebut, mengingat Allah di dalam hatinya, pikiran nya dan di bibir yang tertutup cadar.
Sisil sudah tidak kuat untuk berjalan sampai Ara harus memanggil dokter dan suster untuk membantu Sisil sedangkan Aisya yang juga merasakan Sakit perut nya yang membuncit masih bisa berjalan seperti biasanya.
"Mas kamu tunggu Sisil aku akan mengantar Aisya untuk mengecek kandungan nya"
"Kan dokter nya tengah membantu Sisil Umi??"
"Aku sudah menghubungi dokter Sela yang untuk membantu proses persalinan Sisil, karena dari Awal dokter sela yang memeriksa Sisil"
"Yah sudah kalau begitu, kalau butuh apa-apa kamu telpon aku saja"
"Iyah Mas"
Rafa meninggalkan Ara dengan putrinya yang akan memeriksakan kandungan Aisya, Ara dan Aisya berjalan berbeda arah dengan Rafa yang ingin menemani Sisil melahirkan.
Rafa masuk ke dalam ruang bersalin, hati nya terasa sesak dia mengingat bagaimana dulu dia menanti kehadiran buah hatinya dengan perempuan yang sangat berbeda.
Di ruangan yang sama, Rafa melihat bayangan Aufia kecil yang menangis saat baru keluar melihat dunia tipu-tipu. "Abi rindu nak!! Ya Allah jika putri ku masih hidup kembalikan dia kepada keluarganya, jika dia sudah ada di sisi mu jadikan dia penghuni syurga mu" Batin Rafa melangkah mendekat ke arah Sisil.
"Mas, sangat sakit"
"Sabar yah!! Kamu pasti kuat, kamu perempuan kuat sayang" Lirih Rafa dengan menggenggam tangan dingin Sisil.
Sisil tengah berjuang untuk melahirkan malaikat kecil yang sudah lama ada di perut nya dan kini dia akan hadir untuk mewarnai keluarga nya bersama suami dan juga madu nya.
Begitupun dengan Aisya di ruangan yang berbeda tengah berjuang melahirkan di usia kandungan nya yang masih 7 bulan. Tanpa di temani Suaminya hanya Umi nya yang menemani dirinya berjuang untuk melahirkan.
Dua perempuan solehah bertaruh nyawa demi melahirkan Malaikat kecil yang akan membuat keluarganya semakin lengkap. Sama-sama berjuang, sama-sama sakit tapi tidak sama dalam mempertaruhkan nyawa.
__ADS_1