DI ATAS SAJADAH

DI ATAS SAJADAH
FLASHBACK


__ADS_3

Aisya masuk ke dalam kamar Aufia adik tercinta nya yang sudah meninggalkan dirinya sendiri di rumah yang sangat besar. Aisya menatap photo dirinya dan Aufia saat lulus sekolah SMA..


Aisya mengambil photo yang yang ada di meja belajar waktu Aufia masih ada, Aisya mengusap photo adik nya tanpa terasa air mata Aisya turun tanpa di undang.


Aisya mengusap Air mata yang membasahi cadar nya, Aisya mencoba tegar dengan apa yang telah terjadi. "Maaf adik nakal, kakak sudah menangis!! Apa kamu kesakitan adik nakal??" Lirih Aisya menatap Aufia.


Aisya membawa photo Aufia mendekat kearah ranjang di mana ranjang yang sangat besar itu, dulu menjadi tempat Aisya dan Aufia berdebat tidak mau mengalah, terkadang menceritakan impian mereka, sampai menceritakan kehidupan yang belum tentu mereka bisa jalani.


"Adik nakal, kamu selalu seja membuat kakak kesal setengah mati!! Malah kini kamu pergi ninggalin kakak sendiri, kakak rindu dek" Lirih Aisya dengan merebahkan dirinya di atas ranjang Aufia.


Aisya menatap langit langit kamar Aufia dengan mengingat masa indah mereka.


Flashback on..


"Kakak..!!" teriakan Aufia menggelegar di kamar sampai terdengar di luar kamar.


Aisya yang tengah menikmati kue buatan Ara di sofa ruang tamu menghitung mundur sepuluh sampai satu. "Sepuluh, Sembilan, Delapan, Tujuh, Enam, Lima, Empat, Tiga, Dua, Sat- .." belum juga Aisya menyelesaikan hitungan nya sudah terdengar suara Aufia yang tengah berteriak kencang.


"Kakak....!!!" Aufia tengah berkacak pinggang menuruni anak tangga di rumah mereka.


Ara yang ada di dapur memasak terkejut sampai spatula yang dia pegang dia lempar, sangking terkejut nya mendengar teriakan putri kedua nya. suara nya menggelegar sampai keluar rumah.


"Eala ini anak teriak teriak!! ini bukan hutan" Aisya menyahut dengan memakan makanan yang ada di tangan nya.


"Mana Baso aci yang ada di meja kamar aku kak??" Aufia langsung bertanya di mana baso Aci yang dia beli di depan rumah saat lewat.


"Di sini" Aisya menunjukan perut ramping yang tertutup baju yang Syar'i nya"


Aufia mendekat kearah Aisya dengan alis mengkerut, dengan gerakan cepat Aufia mengambil toples yang berisi kue buatan Umi nya, dari tangan Aisya.

__ADS_1


"Adekkkkkkk" kini giliran Aisya yang berteriak menggelegar di rumah besar mereka.


Aisya mengejar Aufia yang sudah naik kelantai dua dia mana dia akan bersantai ria dengan kue buatan Umi nya. Aisya yang terlambat saat sudah ada di lantai dua dia melihat pintu kamar yang tertulis "******Princess******" sudah tertutup dengan rapat.


Flashback off


Aisya tersenyum mengingat dirinya memakan baso aci Aufia saat Aufia sedang ada di dalam kamar mandi. "Dek.. Apa kamu enggak mau beli baso aci lagi??" Lirih Aisya.


Aisya terus mengajak ngobrol photo Aufia dan dirinya yang kini masih ada di tangan Aisya, Aisya seperti tidak memiliki kebas mengajak bicara photo yang tidak akan perna menyahut perkataan nya, meski begitu Aisya masih saja mengajak bicara photo Aufia.


"Lihat kakak, dek!! Kamu akan marah kalau kakak pegang boneka kelinci kesayangan kamu bukan?? Lihat kakak memegang boneka kamu, kakak menguasai nya sekarang!! Kenapa kamu diam?? Marah sama kakak, dek marah" Aisya mengatakan nya dengan air mata yang kembali turun.


"Lihat kan, kamu dulu selalu mengadu kepada Umi, sekarang sana mengadu sama Umi dek, sana mengaduh dek" Suara Aisya semakin berat dada nya semakin sesak mengingat bagaimana dia dan Aufia selalu berdebat tapi saling menyayangi.


Ara yang mencari Aisya untuk makan malam, karena sudah waktu nya makan malah melihat putrinya yang menangis di kamar Aufia, Ara hanya melihat tidak mendekat. Ara tau kalau Aisya sangat kehilangan Aufia sama dengan dirinya.


Ara menutup pintu dengan sangat pelan, agar Aisya tidak terganggu atau pun malu. Ara lebih memilih membiarkan putrinya menangis, menghilangkan rasa rindu nya kepada adik nya.


Rafa merasa aneh melihat Ara kembali sendiri tampa putri nya. "Dimana Aisya Umi??" Rafa akhirnya bertanya kepada Ara.


"Di kamar Aufia Bi" Ara menyahut dengan memberi piring yang sudah terisi untuk Rafa. Rafa menerima piring yang di berikan Ara untuk nya.


Rafa tidak langsung makan dia lebih dulu menunggu Ara selsai mengisi piring nya, baru setelah itu mereka makan bersama.


"Bi.. tadi Andika kirimin brownis kata nya mama nya yang buat!! Abi mau??" Ara menawarkan brownis yang di berikan Andika tadi sore.


"Boleh Mi, nanti kamu antar ke ruang kerja Abi" Rafa menyahut dengan mengunyah makanan nya.


"Iyah Bi"

__ADS_1


"Lalu di mana Andika Mi??"


"Pulang Bi, tadi Umi sudah menawarkan untuk makan malam di sini, tapi katanya dia banyak kerjaan Bi" Ara mengatakan yang sebenar nya kepada Rafa.


"Dia juga mengurus kantor Mami dan Papi nya belum lagi dia menjadi dosen di kampus ternama Mi"


"Pria yang sangat berkerja keras Bi"


"Seperti Abi" Rafa menepuk dada yang dengan bangga..


"Sudah lah tua bangka bukan nya tua makin sadar makin gila"


Rafa mendengus mendengar ejekan Ara yang sangat suka mengejek Rafa, Rafa bukan nya marah malah senang karena Ara sudah semakin hari semakin banyak bicara.


"Meskipun begitu Mami cinta mati sama Abi" Rafa menyahut dengan bangga nya.


"Enggak.. Aku lebih suka yang sipit sipit"


"Mata ku juga sipit Umi"


"Mana kok Umi enggak kelihatan"


Makan malam yang di barengi canda tawa Ara dan Raga, sejenak mereka melupakan Aufia yang sudah meninggalkan keluarganya yang mencintai nya dengan tulus.


Tanpa mereka sadari Aisya melihat Umi dan Abi nya yang berdebat di meja makan, Akhirnya Aisya kembali ke kamar tidak ingin mengganggu kebersamaan Rafa dan juga Ara.


Aisya masuk ke dalam kamar nya dia membuka ponsel pintar nya, membuka App novel. Aisya membaca cerita yang berjudul. "TERJERAT CINTA CASANOVA KEJAM" Cerita nya tidak kalah seru lho!!!.


Aisya membaca dengan merebahkan dirinya di ranjang king size nya, dia selalu membaca karya Isnainidyah. tanpa terasa dia tertidur dengan ponsel yang ada di dadanya.

__ADS_1


Sedangkan Ara dan Rafa kini masih bercanda di meja makan dengan Ara dan Rafa kembali mengingat mereka saat belum memiliki anak, yang selalu kemana kemana mana berdua.


Mereka sampai tidak sadar kalau makanan yang ada di piring merek sudah habis, Ara mengambilkan minum untuk Rafa, setelah itu baru Ara yang meminum nya. Rafa dan Ara beranjak dari kursi meja makan, mereka berjalan kearah tangga untuk beristirahat. Rafa juga membatalkan semua pekerjaan nya demi Ara yang emosi nya naik turun.


__ADS_2