DI ATAS SAJADAH

DI ATAS SAJADAH
MENYUSUL


__ADS_3

Ara duduk di kursi taman dengan Al- Quran di tangan nya, akhir-akhir ini lebih mendekatkan lagi kepada Allah. lantunan Al-Quran terdengar indah dan menenangkan hati yang mendengar nya.


Aisya yang baru pulang dari kuliah mendengar suara indah Umi nya, Aisya berjalan ke arah taman belakang rumah nya. Aisya melihat Umi nya yang terlihat sangat tenang dan kembali ceria setelah satu bulan di mana hati nya di porak-porandakan oleh Rafa.


"Assalamualaikum"


Ara yang mendengar suara putri nya menyudahi mengajinya, Ara mendongak menatap putri nya yang tengah menatap nya di ambang pintu dapur.


"Waalaikumsalam"


"Umi, aku akan cerita banyak hari ini!! Ayo ke kamar aku"


"Umi tidak mau mendengar cerita Andika yang bersikap manis sama kamu sangat membosankan"


"Yah, karena Umi kan sudah tua jadi Aisya maklumi"


"Hey, siapa yang bilang Umi tua??"


"Umi aku tanya!! Umi tengah berbicara dengan siapa??"


"Dengan anak Umi yang suka bikin Umi kesal"


Huufff


Aisya mendengus mendengar jawaban Umi nya niat hati ingin membuat Umi nya kesal malah dia yang kesal duluan. "Sudah lupakan pertanyaan Aisya Umi"


Aisya menatap Umi nya yang tengah ingin beranjak dari duduk nya. "Umi aku lihat-lihat Umi memang sudah tua ternyata"


"Kurang ajar anak ini!! Umi belum tua yah, kalau di jalan masih banyak yang melirik Umi"

__ADS_1


"Iyah kah Umi, bukan kah mereka melihat kasihan wanita tua yang tengah berjalan sendiri" Aisya selalu membuat Ara bisa melupakan semua nya yang terjadi akhir-akhir ini


"Oohhh miris sekali yah Umi??"


"Tentu Umi sangat Miris"


"Sudah lah Umi lelah melihat kamu, anak nakal"


"Hahaha"


Aisya menggandeng Ara masuk ke dalam rumah, dengan Aisya yang terus menjahili Umi nya. Ara sangat bersyukur memiliki putri yang selalu mengerti dirinya.


Ara dan Aisya menaiki anak tangga untuk ke lantai atas. "Nak, kalau kamu menikah sering-sering jenguk Umi yang sudah renta ini"


"Aish, Umi tadi bilang masih muda sekarang sudah renata"


"Ish.. Kau ini merusak suasana saja"


"Malas ah Umi bicara sama kamu" Ara pura-pura merajuk dengan putri nya, sedangkan Aisya sangat bersyukur Umi nya sudah mengikhlaskan Abi nya menikah lagi.


Sedangkan Rafa kini tengah ada duduk di kursi kebesaran nya yang selama ini dia duduki, kursi yang sudah 3 minggu dia tidak duduki. Kini Rafa kembali menduduki setelah Aisya mengijinkan dirinya kerja di kantor yang sudah atas namanya Aisya dan Aufia.


"Ya Allah, hanya kesalahan malam itu rumah tangga yang aku jalani dengan Ara hampir saja kandas" Lirih Ara dengan mengacak acak rambut nya, jika Rafa yang biasanya akan tampil dengan sangat tampan, hari ini Rafa terlihat sangat kacau. Bulu kumis, sedikit brewok, rambut yang memanjang.


Di dalam ruangannya seharian Rafa tidak melihat tumpukan berkas yang menumpuk, karena sudah tiga minggu belum ada yang mengerjakan nya.


Seharian Rafa hanya menatap photo yang ada di atas meja nya photo keluarga nya, ada kedua anak nya, Ara dan dirinya di pantai.


Rafa mengusap Photo Aufia yang terlihat sangat bahagia di dalam photo. "Aufia, kamu jangan ikut marah sama dengan kakak kamu yah nak!! Abi tau Abi salah tapi saat itu bukan kemauan Abi nak, Abi sangat mencintai Umi. Mana mungkin Abi tega dengan Umi" Abi memeluk photo keluarga nya yang.

__ADS_1


Rafa kini jarang pulang ke rumah yang dulu selalu menjadi tujuan pertama saat pulang dari kantor, rumah yang selalu membuat nya nyaman dan betah saat di rumah.


Kini rumah itu sudah sangat asing baginya, tidak ada senyum Ara dan kedua putrinya di dalam nya. Saat dia pulang Ara tidak akan keluar dari dalam kamar, Aisya juga lebih memilih keluar sendirian tanpa menghiraukan nya.


Rafa benar-benar kacau, hancur, frustasi dengan keadaan nya yang sekarang ini. Tidak ada yang tersenyum, tidak ada yang membuat nya kesal, tidak ada yang dia ajak untuk berdebat.


Di rumah lama nya dengan istri baru nya dia sibuk dengan tugas-tugas nya, tidak ada waktu untuk Rafa dia akan keluar kamar jika makan malam saja. Setelah itu Sisil akan kembali ke kamar nya.


Hari sudah malam, tapi Rafa belum juga beranjak dari duduk nya. Dia masih menatap photo keluarga nya yang kini sudah merenggang tidak ada lagi keharmonisan keluarga yang dulu Rafa miliki.


Jam sudah menunjukan pukul 21:00 Rafa baru beranjak dari duduk nya dia berjalan lunglai keluar dari ruangan nya. Tidak ada karyawan lagi di dalam kantor hanya menyisakan Rafa, mungkin di depan kantor masih ada Security yang berjaga.


Jika biasanya dia akan buru-buru pulang karena rindu dengan istrinya kini dia takut pulang menemui Istri nya. Mungkin biasa nya Ara akan mengomel jika Rafa pulang telat, kini tidak akan ada yang mengomeli Rafa.


Rafa keluar dari dalam lift di berjalan keluar kantor, tanpa menyahut sapaan Security yang menyapa Rafa. dua Security yang berjaga di depan pintu sangat heran dengan Rafa yang tidak biasanya dalam keadaan kacau apa lagi Rafa terlihat Frustasi.


Rafa yang sudah ada di dalam mobil tidak langsung menjalankan mobil nya dia menatap lurus jalan yang terlihat gelap, bukan-bukan jalan nya yang gelap melainkan hati dan mata Rafa yang gelap.


"Aufia apa Abi menyusul kamu saja??" Lirih Rafa yang sudah terlihat frustasi.


Rafa dengan Ara memang tidak jadi cerai, Ara juga sudah ikhlas kalau Rafa bertanggung jawab dengan Sisil yang sudah dia nodai. Tapi semua itu tidak sesuai dengan apa yang di pikirkan Rafa.


Hidup dengan dua Istri, saat pulang ke rumah salah satu di sambut dengan hangat, kedua istrinya bisa akur. Saling memahami, saling mengerti, menghargai dia sebagai suami.


Tapi itu hanya angan-angan Rafa, saat pulang ke Rumah Ara jangankan mendapat senyum Ara, melihat Ara saja tidak.


Jika pulang ke rumah Sisil berharap Sisil akan manja dengan nya, karena usia nya yang masih sangat muda. Akan menunggu Rafa pulang di teras rumah, itu pun hanya angan-angan Rafa.


Jangankan menunggu Rafa pulang, Sisil baru akan keluar kamar saat makan malam, kalau tidak dia akan pulang malam lalu masuk ke dalam kamar, belum juga Rafa bangun Sisil sudah pergi kuliah.

__ADS_1


Satu bulan Rafa menikah dengan Sisil hidup nya semakin kacau balau tidak terurus. "Abi, tau kalau Abi salah Aufia tapi apakah Abi tidak pantas di sayang??" pandangan Rafa kosong, Rafa menghidupkan mobil nya dia mulai melajukan mobil nya dengan sangat pelan meninggalkan parkiran kantor.


Rafa menatap jalan yang sangat padat di depan nya, dia mulai mengingat bagaimana Ara dulu tersenyum saat mereka mengulang pernikahan mereka. Rekaman adegan di mana Raga dan Ara menikah lagi berputar putar di kepala Rafa.


__ADS_2