
"Ma, Pa.. Kenapa kalian tega sekali dengan ku??"
"Kamu sudah bukan anak-anak lagi Raf!! Kamu sudah jadi orang tua, sebentar lagi Aisya menikah" Adam merasa sangat kesal dengan putra satu-satu nya.
Rafa menatap Mama dan Papa nya bergantian berharap mereka mau membantu nya demi kelangsungan hidup nya. Merasa Papa dan Mama nya tidak akan mau membantunya, dia beranjak dari duduk nya.
"Mau kemana kamu???" Ketus Yesi.
"Aku ingin meminta Maaf sama Ara sendiri" Rafa melangkah meninggalkan ruang keluarga, kini di ruang keluarga tinggal Sisil, kedua orang tua Rafa dan Ara.
"Nak, kami mengerti perasaan kamu!! aku hanya khawatir kamu tidak muda beradaptasi dengan Ara" Aisya juga tidak tega dengan Sisil apa lagi dia juga memiliki anak perempuan cucu perempuan.
"Saya akan akan mencoba beradaptasi dengan kak Ara tan" Sisil yang sudah pasrah dengan keadaan nya, mau rugi atau untung yang jelas anak yang dalam kandungan nya bisa bersama dengan Ayah kandung nya.
"Aku tidak akan terlalu ikut campur masalah keluarga kalian, karena kalian bukan anak-anak yang harus kami atur"
"Mbak, kenapa seakan kamu memperbolehkan dia masuk ke dalam rumah tangga Ara??" Yesi merasa heran dengan Aisya.
"Bagaimana lagi kita punya cucu perempuan Yes"
Yesi yang mendengar perkataan Aisya memang benar ada nya kalau dia punya cucu perempuan yang sebentar lagi akan menikah. "Itu berbeda Mbak"
"Apa yang berbeda Yes?? Mereka sama-sama perempuan" Aisya mencoba untuk membuat Yesi mengerti, yang Awal nya Aisya juga kesal tapi dia mengingat kalau dia punya cucu perempuan yang sebentar lagi akan menikah.
Yesi menghela napas lelah, dia benar benar tidak akan menduga kalau Rafa kembali membuat kesalahan yang sangat melukai Ara, istri yang tidak banyak menuntut, sabar.
Jika di ruang keluarga tengah saling memahami, mengerti, mencoba menerima semua yang terjadi berbeda dengan di lantai atas. di kamar Ara dengan Rafa saling tatap tanpa anda nya pembicaraan dia antara mereka.
Sudah lima belas menit Rafa diam seribu bahasa, dia bingung harus bagaimana mengatakan nya kepada Ara istrinya. Ara yang sudah lelah dengan Rafa kini beranjak dari duduk nya.
"Tunggu Umi" Rafa akhirnya mengeluarkan suara nya.
"Apa lagi???" ketus Ara
__ADS_1
"Umi, Abi minta Maaf karena sudah mengatakan yang seharusnya Abi enggak katakan.
"Sudah lah Abi kan sudah mendapatkan yang Abi inginkan, Anak berserta ibu nya" Ara melangkah meninggalkan Rafa yang duduk di sofa.
Rafa beranjak dari duduknya mengejar Ara yang sudah duduk di Ranjang nya, ranjang yang selama ini menjadi saksi di mana Ara dan Rafa bersama. "Umi, Abi mohon"
"Apa yang Abi inginkan??" Ara menatap Rafa yang duduk di depan nya.
"Kita masih tetap bersama??" Rafa menatap Ara seperti biasa dengan tatapan cinta.
"Iyah, jika sekali lagi kamu bilang Aisya bukan anak aku lebih baik kita sudah hubungan ini"
"Iyah, Umi"
"Silahkan kamu keluar dari sini, bawa istri baru kamu keluar dari sini. aku tidak mau kalau satu atap dengan nya" Ara berubah menjadi sangat tegas dengan Rafa.
"Iyah, Abi akan membawa dia ke rumah lama kita"
Rafa beranjak dari duduk nya dia mencium kening Ara dengan sayang, setelah itu Rafa meninggalkan Ara di kamar sendiri.
Rafa yang sudah ingin di lantai satu dia mendengar suara Aisya yang cukup menggelegar. "Apa yang terjadi??" Rafa segera menuruni anak tangga terakhir berjalan cepat ke ruang keluarga.
Rafa melihat Aisya yang tengah marah dengan Sisil dengan Yesi dan Aisya menenangkan Aisya. Rafa mendekat ke arah Aisya. "Ada apa nak??"
Aisya menatap Abi nya dengan benci, dia mendekat ke arah Rafa. "Jadi Abi yang merusak Sisil dan sampai membuat dia hamil??"
"Kamu- kamu kenal dengan Sisil nak??"
"Dia, teman aku dengan Aufia sejak sekolah SMP, Abi" pekik Aisya dengan cairan bening membasahi cadar nya.
"Sayang.. Abi-Abi saat itu tidak sadar nak" Rafa mencoba mencoba untuk menjelaskan kepada putrinya, Aisya tidak menghiraukan perkataan Rafa, Aisya berlari menjauh dari ruang keluarga, dia sangat kecewa dengan Abi nya.
"Aisya.!!!" Rafa merasa sangat sesak melihat anak nya berlari menangis, walau bukan anak kandung tapi mereka sudah hidup bersama sejak Aisya lahir.
__ADS_1
Ahhhhhhh....
Rafa menjambak rambut nya sendiri melihat keluarganya hancur gara-gara kejadian malam panjang Rafa dengan Sisil. Rafa menatap Sisil yang tengah bingung dengan keadaan di sini.
"Kamu kenal dengan Aisya??" Rafa bertanya dengan menatap kesal, marah dengan keadaan tapi Rafa seakan ingin melampiaskan kekesalan nya kepada Sisil.
"Iyah Mas"
"Kamu tau dia putri ku, kamu sudah menghancurkan hubungan kami" pekik Rafa yang sudah sangat kacau.
"Kenapa salah ku Mas, kamu yang mepe*****sa ku, aku juga yang kamu salahkan" Sisil tidak terima di salahkan oleh Rafa.
"Kenapa malam itu kamu tidak membunuhku saja, kenapa?? Lihat keluarga ku hancur" Rafa merasa diri nya tidak memiliki tenaga untuk menerima semua ini.
Istrinya, putri satu-satu nya sudah sangat kecewa dengan nya. Rafa menangis menatap lantai yang ada di bawa nya. "Kenapa semua ini terjadi" Lirih Rafa.
Aisya dan Yesi melihat Rafa bukan nya kasihan malah mereka semakin menyudutkan Rafa yang sedari dulu hanya bisa membuat Ara terluka, sedangkan Rafa yang mendengar ocehan orang tua dan mertua nya hanya bisa diam, tidak bisa menjawab karena memang benar ada nya.
"Sudah lah jangan kamu sesali semua sudah terjadi, kamu punya dua istri dan dua anak" Adam beranjak dari duduk nya mengajak Yesi untuk pulang.
"Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri, mereka bukan anak-anak lagi" Zeufa menggandeng Aisya lalu meninggalkan Rafa dan Sisil.
Sisil menatap Rafa yang sudah sangat kacau dengan rasa kesal, bagaimana bisa dia menyalahkan dirinya di saat Sisil yang menjadi korban. "Mas, lalu aku bagaimana???" Lirih Sisil yang sudah sangat kesal, dia merasa di rugikan dan juga di kecewakan
"Kamu akan tinggal di rumah lama kami sebelum pindah ke sini, kamu tenang saja rumah yang akan kamu tinggali lebih mewah dari rumah yang aku dan Ara tinggali" Rafa menatap Sisil dengan lelah, bingung.
"Aku tidak ingin tau rumah nya Mas, yang aku minta kamu adil sama aku dan Mbak Ara" Lirih Sisil
"Iyah, aku akan berusaha adil kepada kalian berdua" Rafa memegang tangan Sisil menenangkan Sisil.
Sisil menghela napas lelah mendengar perkataan Rafa, dia merasa kalau dirinya tidak akan mendapatkan keadilan dari Rafa. Sisil juga merasa bersalah dengan Aisya, bagaimana dirinya menghadapi Aisya nanti nya.
Sisil beranjak dari duduk nya menatap Rafa yang juga menatap nya. "Aku ingin pulang" Lirih Sisil.
__ADS_1
"Aku akan mengantar kamu"
Rafa beranjak dari duduk nya menggandeng Sisil berjalan kearah pintu rumah, dengan rasa bersalah yang ada di depan mata nya. Bayangan Ara yang menangis selalu di lihat di mata nya.