
Sesuai dengan saran dokter Malik hari ini Ara dan Rafa datang ke dokter kandungan, memastikan kalau Ara benar benar hamil. Sebenarnya Ara sudah mencoba mengecek menggunakan tes pack dan hasil nya memang positif kalau Ara tengah Hamil.
Ara dan Rafa sudah ada di depan rumah sakit, mereka berjalan berdampingan dengan Ara memeluk lengan Ara, Aura Ara sangat bersinar memancarkan kalau dia benar benar bahagia begitupun dengan Rafa, Rafa yang mengetahui hasil tes urin Ara tadi pagi sangat lah bahagia.
"Mas aku sangat gugup bagaimana kalau aku enggak hamil dan hasil testpack tadi keliru???"
"Sayang, kamu jangan mikir yang aneh aneh"
"Kamu sih Mas"
"Aku kenapa???"
"Udah yakin belum kalau.." Ara menggantung kata kata nya lalu menyuruh Rafa mendekat kearah nya, Ara berbisik di telinga Rafa sangat pelan takut kalau ada yang mendengarkan perkataan nya.
Sungguh sangat tidak pantas menurut Ara membicarakan hal rumah di tempat umum, menjadikan Ara berbisik sangat pelan. "semprot di dalam"
"Yah aku yakin sayang!! Kalau enggak di dalam di mana lagi?? Mubazir"
"Huss"
"Sudah kamu harus yakin kalau kamu beneran hamil"
"Kamu ini"
Obrolan mereka terhenti karena suster sudah memanggil nama Ara, tentu saja Ara tidak akan masuk sendiri dia akan di temani oleh Rafa. Rafa harus benar benar memastikan kalau Ara benar benar hamil. Ara dan Rafa masuk ke dalam ruang dokter kandungan.
"Selamat pagi nona dan tuan Hendarso"
"Selamat pagi dok"
"Silahkan nona berbaring, saya akan memeriksa nona"
Ara tidur di ranjang rumah sakit suster membantu Ara, suster memberi gell di perut Ara, dokter mulai menempelkan alat yang di geserkan di perut Ara, sedangkan Ara dan Rafa memperhatikan layar yang ada di depan Ara.
"Nona ini sudah terlihat kantung nya, nona hamil sekitar dua minggu"
"Dokter yakin saya hamil???" pertanyaan Ara sungguh membuat Rafa gemas dengan sang istri
"Iyah nona tengah hamil muda"
"Alhamdullilah Ya Allah"
"Mas, aku benar benar hamil"
"Iyah sayang"
Rafa mencium kening Ara dengan sayang, Rafa sangat bersyukur atas kehadiran malaikat yang ada di dalam perut Ara, Rafa akan menjaga Ara dengan sangat baik.
Setelah pemeriksaan Ara, dokter memberikan resep kepada Rafa untuk di tebus. Rafa dan Ara keluar dari dalam ruang kandungan untuk menebus vit dan penguat kandungan untuk Ara.
"Mas, Ya Allah aku benar benar bersyukur Mas"
"Aku juga sangat bersyukur sayang, tidak sia sia usahaku"
Plakkk.
"Jangan ngomong yang enggak enggak di tempat umum Mas"
"Asih.. Sayang aku kan enggak bilang kalau-" Rafa berbicara dengan lengan nya yang di pukul Ara karena gemas, karena bisa saja Rafa mengatakan hal frontal di tempat umum. Ara juga memotong kata kata Rafa yang sudah ada di ujung lidah nya, Raya menelan kembali kata kata nya yang memang benar pikiran Ara kalau suami nya akan mengeluarkan kata kaya frontal.
"Shutt,.." Ara menempelkan jari telunjuknya di bibir Rafa, banyak yang memandang aneh Ara dan Rafa.
__ADS_1
"Lihat kita jadi pusat perhatian" Ara mengatakan dengan nada yang di tekan agar tidak ada yang mendengar selain Rafa.
Rafa menengok kanan kiri dan benar saja mereka menjadi pusat perhatian pengunjung rumah sakit lain nya. "Itu karena mereka belum perna melihat wajah tampan seperti ku sayang"
"Jangan mengada ngada Mas, ayo duduk di sini Mas"
"Iyah cinta"
Ara mengambil ponselnya yang ada di dalam tas mahal nya, dia mengotak atik benda pipih tersebut, sedangkan Rafa tengah melihat email yang masuk di ponsel nya. Mereka duduk di kursi tunggu ruang obat, menunggu vit dan obat Ara.
Kini mereka berdua sudah ada di parkiran rumah sakit setelah menebus obat dan Vit Ara, mereka masuk ke dalam mobil Rafa. "Mas aku sudah mengirim pesan kepada Mama dan Mami"
"Pesan apa sayang???"
"Untuk datang ke rumah"
"Jam berapa???"
"Mungkin makan siang Mas"
"Nanti aku akan mengusahakan untuk pulang"
"Iyah Mas, apa kamu enggak usah kekantor Mas"
"Boleh asal kamu mau"
"Mau nanana"
"Apaan nanana???"
"Masak kamu enggak paham sayang??? Kemarin kan malam jumat"
Rafa melajukan mobil nya meninggalkan rumah sakit, membelah jalan yang padat dengan pengendara, Hati Rafa dan Ara di selimuti kebahagian yang sangat luar biasa. "Mas kita mampir melihat Sasa dulu"
"Kenapa harus lihat sih sayang??."
"Dia lagi hamil Mas"
"Aku enggak peduli"
"Itu bisa saja anak kamu Mas"
"Enggak"
"Sudah lah Mas kita lihat aja dulu kenapa sih sebentar saja"
"Baik kita lihat tapi kamu jangan memancing emosi aku, karena aku enggak mau sampai anak kita kenapa kenapa karena aku emosi dan kamu akhirnya tersulut"
"Iyah Mas"
"Dimana???"
"Di rumah sakit ......"
Rafa membelokan mobil nya masuk ke parkiran rumah sakit, karena posisi Rafa dan Ara tadi tidak jauh dari rumah sakit yang di maksud Ara. Ara dengan Rafa masuk kedalam rumah sakit, mereka langsung ke lantai 4 dimana Sasa di rawat.
Tok tok tok..
Ara mengetuk pintu kamar Sasa, setelah itu dia membuka pintu ruang rawat Sasa terlihat Sasa sedang bermain ponsel genggam nya di atas tempat tidur, Sasa yang tau kalau Rafa yang datang langsung menaruh ponsel nya di atas nakas samping ranjangnya.
"Assalamu'alaikum"
__ADS_1
Sasa tidak menjawab salam dari Ara, Sasa lebih fokus kearah Rafa yang menatap nya sangat dingin. Sasa bangun dari tidurannya setelah itu melepas pelukan Ara yang ada di lengan Rafa.
"Jangan kurang ajar j***ng"
"Sayang, kamu datang kesini karena mau menjenguk aku kan???"
"Iyah kami datang menjenguk kamu Sa" Bukan Rafa yang menjawab melainkan Ara
"Aku tidak berbicara dengan kamu perempuan sialan"
"Astagfirullahaladizm"
"Sayang tidak ada gunanya kita ada di sini"
"Mas"
"Rafa sayang, kamu harus menikahi aku karena mau hamil anak kamu"
"Hamil aku menyentuh mu saja tidak perna bagaimana kamu hamil anak aku???"
"Kamu tidak ingat Rafa saat di rumah kamu aku tidur dengan kamu"
"Kamu jangan mengarang, mungkin anak yang ada di dalam kandungan kamu anak dari dua pria yang kamu gumbuli"
Deg...
Sasa tidak menyangka kalau Rafa tau dia bergumbul dengan dua laki laki dan tentu saja itu di Apartemen nya, selain di Apartemennya dia tidak perna. "Sayang apa maksud kamu"
"Jangan berlagak bodoh Sasa, aku tau semua nya dan sekarang kamu bilang kepada Ara dia anak aku!! Hahahah, dasar perempuan tidak tau diri"
"Ara, lihat suami kamu tidak mau bertanggung jawab malah mengelak dari kenyataan!! Jika kamu nanti hamil dia juga akan mencampakkan kamu seperti aku yang di campakkan"
Ara menatap Sasa dengan pandangan yang menusuk, tapi Sasa tidak menyadari kalau dirinya tengah di tatap Ara dengan tajam.
"Lakukan tes DNA saja apa kamu berani???"
"Kenapa harus tes DNA??"
"Untuk membuktikan kalau yang kamu kandung anak Mas Rafa"
"Tidak aku tidak mau"
"Sayang lihat dia saja tidak berani tes DNA" Rafa sangat kesal dengan Sasa yang berusaha mengompori Ara.
"Kenapa kamu tidak mau hemm, kamu takut ketahuan kalau dia bukan anak Mas Rafa???"
"Aku tidak mua anak yang belum lahir malah di lakukan tes DNA"
"Kalau itu anak Mas Rafa aku siap di madu tapi kalau dia bukan anak Mas Rafa aku akan mengirim kamu jeruji besi, Atas tuduhan pencemaran nama baik"
"Aku tetap enggak mau!! Aku harus dinikahi Rafa"
"Jangan harap kamu bisa mengambil Mas Rafa dari genggaman tangan ku"
Tidak bisa seperti itu aku harus tetap Rafa nikahi, kamu jangan egois jadi perempuan"
"Sebelum semua nya jelas jangan harap kamu bisa mendapatkan Mas Rafa"
Setelah mengatakan itu Ara dan Rafa meninggalkan Sasa di ruangan rawat nya, mereka berdua berjalan ke arah lift untuk turun ke lantai satu. Sedangkan Sasa di kamar nya sudah mengamuk karena Ara sulit untuk melepas Rafa untuk nya, Sasa menyesal kenapa janin yang dia kandung sangat susa di gugurkan.
Ara dan Rafa sudah ada di dalam mobil, Rafa melajukan mobil nya meninggalkan area rumah sakit untuk pulang ke rumah, untuk mempersiapkan kedatangan Mami dan Mama mertua nya.
__ADS_1