DI ATAS SAJADAH

DI ATAS SAJADAH
TINGGAL


__ADS_3

"Sil apa kamu tidak mau tinggal bersama ku di rumah ku??" Ara menatap Sisil yang tengah makan yang ada di piring makan di meja nya.


"Kak, apa kakak tidak keberatan!! Makan ku banyak lho" Sisil mengatakan hal yang memang sudah melekat di dalam dirinya, hamil atau tidak Sisil akan selalu makan banyak.


"Hah.. Sebanyak apa pun kamu makan aku tidak keberatan, aku hanya kasihan dengan kamu yang sendirian di rumah sebesar itu"


Sisil menatap Ara dengan mata memicing, sedangkan Ara yang di tatap malah menatap Sisil dengan melotot. "Aish kak menakutkan sekali" keluh Sisil yang terkejut saat dengan tiba-tiba Ara melotot pada nya.


"Hahahaha.. Kamu kenapa menatap ku seperti itu!! Aku juga merasa kesepian di rumah tidak ada Aufia tidak ada Aisya, kamu juga pasti merasa kesepian kan di rumah??"


Sisil menganggukkan kepala nya dia memang merasa sendiri, apa lagi sejak dirinya di tinggal meninggal orang tua nya selalu sendiri di rumah besar peninggalan keluarga nya.


Itu lah kenapa Sisil sering kali tidur di hotel atau tidur di tempat teman-teman nya yang lain, karena ingin menghilangkan rasa sendirinya di dalam hidup nya. "Apa benar kak, kakak tidak keberatan???" Sisil kembali mengulang pertanyaan nya.


Ara tersenyum menatap Sisil yang ada di depan nya, Ara kembali mengingat Aufia yang selalu mengulang ulang pertanyaan nya. Sampai membuat Ara merasa kesal. "kamu tau, dulu Aufia juga sama dengan kamu selalu mengulang-ulang pertanyaan yang sama. Malah sekarang kamu yang mengulang-ulang pertanyaan yang sama" Ara menepuk punggung tangan Sisil meyakinkan Sisil kalau dirinya sudah menerima Sisil dalam kehidupan nya.


"Aufia, dia teman ku yang paling cerewet kak. Sebelum dia berangkat dia menghubungi mengatakan jangan perna kangen sama Aufia!! Karena dia akan pergi sangat lama" Sisil kembal mengingat saat di mana Aufia menghubungi nya pagi itu.


"Anak nakal itu meninggalkan Umi nya dengan kakak nya dengan rasa kesal dan sesak di dada!! mungkin Allah lebih sayang anak nakal itu ketimbang kami keluarga nya" Ara merasa sangat sedih saat mengingat Aufia putri kandung nya yang meninggalkan dirinya dengan banyak luka, sesak di dada.


"Sudah lah kak.. Aufia sudah tenang di sana" Sisil mantap Ara dengan mata polos nya.


Mereka mengobrol sampai makanan mereka habis, Ara menatap jam mahal yang ada di pergelangan tangan nya menunjukan hari yang sudah malam. Ara mengajak Sisil untuk pulang ke rumah nya dan Rafa tinggali sebelum ada Sisil.


Ara dan Sisil pamit kepada besan nya yang untuk pulang dulu karena hari sudah malam, setelah pamit kepada besan, Ara dan Sisil pamit sama Aisya dan juga Andika.

__ADS_1


"Nak, Umi titip dan jaga anak Umi yang bandel ini yah!! Kalau di nakal jewer aja telinga nya biar panjang" Ara ingin Andika menjaga Aisya dengan baik lagi, memperlakukan Aisya dengan lembut.


"Iyah Umi, saya akan menjaga Aisya dengan sangat baik" Andika meyakinkan mertua nya agar mertua nya tidak khawatir dengan Aisya.


"Umi, Aisya tidak bandel Umi" rengek Aisya yang masih sama manja kepada Ara.


"Hahaha.. Iyah kamu tidak bandel, kamu anak yag suka bikin pusing"


"Umi..." Ara semakin manja kepada Ara.


Sisil dan Andika terkekeh melihat ibu dan Anak yang suka saling menggoda satu sama yang lain. Ara selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk Aisya, agar Aisya merasakan kalau dirinya benar-benar tulus mencintai dan menyayangi Aisya.


"Yah sudah Umi dan Bunda pulang dulu yah nak, jangan lupa sering-sering mengunjungi Umi dan Bunda" Ara memegang tangan Aisya dengan sangat lembut.


Aisya menganggukkan kepala nya, walau berat harus berpisah rumah dengan Umi nya tapi ini sudah kewajiban nya menjadi seorang istri. Mengikuti kemana saja suami nya pergi.


Setelah memeluk Ara, Sisil memeluk Aisya dengan sayang seperti biasa nya dulu saat masih bersahabat. "Bunda pulang dulu yah Aisya, jangan lupa berdoa nanti saat pembukaan"


Plak..


"Aish, kak.. Aku hanya mengingatkan dua pengantin ini saja"


"Sudah pulang, kamu membuat mereka menjadi salting"


"Andika menantu ku, kamu jangan lupa baca doa yah biar langsung jadi cucu buat Bunda dan Umi" setelah itu Sisil dan Ara meninggalkan pengantin yang merasa malu dengan perkataan Sisil.

__ADS_1


Ara menuju mobil nya sendiri sedangkan Sisil juga menuju mobil nya sendiri, Sisil akan pulang ke rumah Ara seperti yang Ara katakan tadi saat di dalam hotel.


Setelah tiga puluh menit mereka sudah sampai di depan gerbang rumah mewah Ara, Ara menghentikan mobil nya di depan gerbang. Ara turun membuka gerbang lebar-lebar setelah itu kembali masuk ke dalam gerbang rumah nya.


Dua mobil sport mewah terparkir cantik di halaman rumah mewah Ara, Ara dan Sisil keluar dari dalam mobil mereka masing-masing berjalan masuk ke arah teras rumah.


Saat mereka ada diteras rumah, Ara dan Sisil terkejut melihat Rafa yang sudah tertidur di kursi teras. Ara membangunkan Rafa dengan sangat pelan.


"Mas, bangun Mas"


Rafa yang merasa bahunya terguncang membuka mata nya perlahan, Rafa melihat dua perempuan cantik ada di depan nya. Dua istrinya ada di depan mata nya saat baru bagun tidur.


"Ah kalian pulang bersama, kalina dari mana??" Rafa bertanya dengan menggosok mata nya pelan untuk mengembalikan nyawanya.


"Kami dari acara pernikahan Aisya dan Andika" bukan Ara yang menyahut melainkan Sisil.


"Aisya menikah bukan kah dua hari lagi Aisya akan menikah??" Rafa masih ingat kalau Aisya akan menikah dua hari lagi.


"Rico mempercepat pernikahan mereka, acara mereka sangat mendadak jadi aku lupa memberi tahu kamu dan lupa kalau kamu sudah boleh pulang"


Rafa memakhlumi istrinya kalau lupa dengan nya karena ini menyangkut acara penting putri nya, yang akan di lakukan sekali seumur hidup.


Ara mengajak Rafa dan Sisil masuk ke dalam rumah, karena udara sangat dingin. Dua perempuan cantik itu masuk lebih dulu setelah itu Rafa masuk ke dalam rumah.


Ara menunjukan kamar yang ada di samping kamar Aufia yang masih kosong agar di tempati oleh Sisil. Sisil merasa bersyukur kalau Ara sudah mau menerima nya menjadi yang kedua.

__ADS_1


Sedangkan Rafa masuk ke dalam kamar Aufia yang sudah tidak di tempati, mareka akan tidur sendiri-sendiri sampai hati mereka menerima kehidupan baru mereka lagi.


__ADS_2