
Rafa dan Sisil ternyata pergi keluar Negeri untuk memanjakan Sisil, Sisil ingin merasakan yang nama nya honeymoon. Sisil merasa kalau dirinya sudah terlalu lama tidak bersenang-senang, kini dia ingin menikmati waktu nya hanya dengan Rafa suami nya.
Sisil setelah melahirkan menjadi berbeda dia selalu ingin di manja dan di nomor satukan oleh Rafa, menjadikan Rafa yang tidak ingin melukai Sisil menuruti semua keinginan Sisil.
Tapi Rafa tidak ingat jika dia juga mempunya Istri lain yang membutuhkan dirinya sebagai suami. Rafa akhir-akhir ini menjadi tidak adil, dia lebih memilih selalu memanjakan Sisil dan melupakan Ara, Sisil juga menjadi egois ingin bersenang-senang sendiri tanpa Ara, yang selama ini sudah menerima nya menjadi yang kedua.
Rafa dan Sisil yang sudah ada di Negeri Ginseng itu bermanja, tanpa memikirkan Ara. Rafa membawa Sisil berbelanja, mencicipi semua makanan khas Negeri Ginseng. Layak nya pasangan muda yang baru saja menjalin ikatan pernikahan, tanpa memikirkan anak yang ada di rumah bersama dengan Ara.
Ara kini sudah ada di Rumah Andika, Ara menyetujui untuk ikut Menantu dan juga Putrinya untuk tinggal bersama, dengan mengasuh tiga seorang Malaikat kecil.
Ara mengasuh dua cucu nya sampai Aisya atau Andika pulang dari kampus terkadang Andika harus ke kantor Papi nya untuk bekerja di sana selain menjadi Dosen Andika juga membantu menjalankan Bisnis Papi nya.
Hari sudah semakin siang, Aisya tak tidak kunjung pulang. Ara masih setia dan sabar mengurus tiga putri yang tertidur di box bayi di kamar nya.
Saat Ara ingin ikut merebahkan dirinya terdengar suara ketukan pintu, Ara membuka pintu kamar nya melihat siapa yang datang. "Assalamualaikum Umi"
"Waalaikumsalam nak.. Kamu baru pulang sayang???"
"Iyah jalanan macet Umi"
"Kamu sudah cuci tangan dan kaki nak??"
"Sudah Umi"
"Yah sudah, ayo masuk Anak-anak tertidur jangan kamu ganggu mereka!! Biarkan mereka tidur nak"
__ADS_1
"Tapi Umi, Umi sudah sejak pagi bersama mereka biar sekarang Aisya yang menjaga merek"
"Yah sudah tapi jangan kamu pindah merek, kamu di sini saja. Suami kamu belum pulangkan??"
"Belum Umi, Mas Andika akan pulang sore karena harus ke kantor Papi!! Umi besok Mami akan bekerja di rumah tidak datang ke butik lagi, Mami bilang ingin menjaga Cucu nya dan menyuruh Untuk berkerja saja"
Ara diam mendengar apa yang di katakan Putrinya, Di sudah lama tidak datang ke kantor Papi nya. Dia juga sudah melupakan kegiatan nya di kantor sejak semua nya di pasrahkan kepada Rafa.
Ara menjadi ingat ini sudah lama Rafa tidak menghubungi nya dan mengatakan kalau tidak pulang atau memberi kabar kalau dia di sana baik-baik saja. Rafa maupun Sisil tidak memberi kabar apapun untuk dirinya.
"Apa Mas Rafa sudah lupa dengan ku??" Batin Ara yang mengingat suami nya yang entah ke Negara mana dia bersenang-senang.
Aisya yang melihat Umi nya dia merasa bersalah, merasa kalau Umi nya mungkin salah paham dengan nya karena menyuruh nya berkerja. "Apa mungkin Umi mengira aku mengusir nya??" Batin Aisya.
"Tidak nak, Umi mengingat kalau Abi dan Bunda belum menghubungi Umi sama sekali!! Mungkin kamu benar kalau kini cinta Abi sudah sama Sisil yang lebih muda dari pada Umi yang sudah berumur"
"Umi, Umi masih belum 50 tahun, jangan mengatakan kalau Umi tua"
Ara menatap putrinya yang selama ini selalu menemani nya di saat dia terpuruk sampai dia bisa melalui keterpurukan nya dengan baik. "Aisya andai Umi berpisah dengan Abi, apa kamu akan membenci Umi yang tidak bisa menjadi guru yang baik untuk kamu nak??"
"Kenapa Umi berbicara seperti itu, jodoh, rejeki, Maut semua sudah tercatat Umi!! Jika memang jodoh Umi dan Abi sudah sampai sini mungkin Allah menyiapkan Jodoh yang lebih baik dari pada Abi" Aisya menyikapi secara dewasa mendengar pertanyaan Umi nya yang mungkin merasa kalau Abi nya sudah tidak mencintai nya.
"Hahahah.. Umi ini bukan Remaja lagi sayang mana ada yang mau sama Umi yang sudah tua ini" Ara membuat candaan keseriusan Aisya.
Aisya menatap Umi nya dengan kesal selalu saja Umi nya mengatakan kalau dia sudah tua, padahal kalau dirinya dengan Umi nya berjalan mereka orang-orang yang ada di luar mengira kakak dan Adik.
__ADS_1
Meninggalkan Aisya dan Ara yang tengah saling membagi cerita, berbeda dengan pasangan yang berbeda usia tengah menikmati waktu berdua tanpa ada yang mengganggu. "Mas, lihat aku mau beli jajanan yang ada di sana!!" Sisil menunjuk jajaran makanan yang di jual di pinggiran.
"Ayo kita kesana, beli sesuka kamu Bun"
"Iyah Mas" Rafa benar-benar melupakan Ara yang ada di rumah dengan putri kandungnya bersama Sisil.
Sisil juga tidak memikirkan anak nya yang ada di rumah bersama dengan Ara, dia asik memilih jajanan yang banyak di depan nya. Rafa dengan senang dan rasa bahagia menuruti semua yang Sisil inginkan.
Setelah puas mereka kembali ke hotel di mana Sisil dan Rafa tidur di hotel yang satu hari nya bisa merogoh koceng yang tidak sedikit, seharga satu motor permalam nya.
Di hotel yang bernuansa putih itu menjadi tempat saksi di mana Sisil dan Rafa memadu kasih dengan tanpa memikirkan orang lain yang tengah memikirkan mereka berdua.
Di kamar Hotel mereka seling bercumbu menikmati waktu bersama mereka dengan berbagai suara yang terdengar, sampai suara-suara tidak ada hentinya sejak mereka pulang jalan-jalan sampai kini suara itu tidak ada henti nya terdengar.
"Mas, aku sangat menikmati waktu kita di sini sejak pertama kita datang ke sini, jika di rumah ada yang mengganggu anak kita di sini kita berdua bersama, menikmati tidak ada henti dan tanpa ada gangguan"
"Kamu benar sayang, sungguh sangat luar biasa rasanya, setiap hari nya kamu selalu membuat ku merasakan kepuasan yang sangat begitu menggila dan candu bagi ku".
" Iyah Mas, terkadang aku sulit mengimbangi kamu Mas"
Mereka melanjutkan memadu kasih nya tanpa memikirkan Ara yang tengah mengurus anak mereka dengan rasa sedih. "Mas kamu begitu tega tidak memberi aku kabar apa lagi kamu juga tidak pamit kepada ku" Lirih Ara dengan memberi susu Alisia.
"Semoga kamu besok menjadi anak yang berbudi luhur dan patuh kepada kedua orang tua kamu nak" Lirih Ara.
Setelah Alisia tidur Ara kembali menaruh Alisia di box bayi yang ada di kamar nya, dengan rasa sedih yang menjalar di dalam hati nya.
__ADS_1