
Ara sedang memasak di dapur, sedangkan Rafa yang baru bangun mencari keberadaan istrinya di kamar nya tidak ada, padahal waktu masih jam 5 subuh tapi Ara sudah ada di dapur.
Rafa mencari nya ke kamar sebelah tempat Ara dulu sebelum satu kamar dengan nya, tapi tidak ada setelah itu Rafa turun dari lantai dua untuk mencari Ara di dapur.
Dan benar dugaan Rafa kalau Ara tengah di dapur sedang memasak bau nya saja sudah tercium dari luar dapur. Rafa mendekat ke arah Ara yang tenga menumis bumbu, Rafa memeluk Ara dari belakang, menyembunyikan wajah nya di leher yang tertutup dengan jilbab.
"Kenapa kamu bangun Mas???"
"Karena kamu meninggalkan aku"
"Aku memasak Mas buat sarapan"
"Ini masih terlalu pagi sayang"
"Iyah Mas, tapi nanti aku ada meeting pagi"
"Emmm, jadi kamu masih menyempatkan untuk memasakan ku"
"Iyah dong, kalau aku enggak masak kamu enggak sarapan. berangkat ke kantor dengan keadaan perut kosong"
"Kamu terlalu mencemaskan ku sayang"
"Karena aku istri kamu!! Yang enggak mau kalau suami nya sampai tidak fokus kerja karena lapar"
"Yah sudah aku sholat dulu sayang"
"Iyah"
Rafa mencium kepala belakang Ara dengan sayang, setelah itu melangka meninggalkan Ara yang tengah menumis bumbu nasi goreng untuk menu sarapan hari ini.
Rafa masuk kedalam kamar mandi, setelah lima belas menit Rafa keluar dari dalam kamar mandi untuk menjalankan sholat subuh di kamar nya, biasanya diri nya akan sholat dengan Ara tapi Ara sudah sholat terlebih dulu, sebelum dia memasak di dapur.
Rafa menyelesaikan sholat nya, dia tidak lupa berdoa, untuk istrinya dan keluarganya agar di berikan banyak kebahagian, dan ridho nya. Setelah selesai sholat Rafa kembali turun ke lantai satu untuk melihat istrinya apa sudah selesai atau belum, kalau belum selesai Rafa berniat membantu Ara di dapur.
"Sayang, apa sudah selesai???"
"Belum Mas"
"Apa yang bisa aku bantu Mas???"
"Tolong kamu potong sosis itu"
"Bagaimana???"
"Terserah kamu Mas"
Rafa memotong sosis yang di berikan oleh Ara kecil kecil setelah itu bakso, dan mengupas udang yang ada di samping sosis. "Sayang kamu makan udang???"
"Iyah kenapa Mas??"
"Kamu kan Alergi dengan udang sayang"
"Yah akan makan sedikit saja Mas"
__ADS_1
"Tidak boleh sayang, aku enggak mau kamu sakit".
"Tapi Mas aku sangat ingin makan udang"
"Sayang"
"Mas..."
Ara mantap Rafa dengan mata yang sudah mengembun menandakan Ara akan menangis, Rafa menghela napas saat melihat Ara yang ingin menangis, dia menatap udang yang sudah dia kupas, lalu menatap Ara yang sudah menitihkan buliran bening yang tadi mengembun.
"Sayang"
"Mas"
"Iyah hanya sedikit saja"
"Apa benar Mas???"
"Iyah sayang"
"Terima kasih"
"Jangan menangis lagi, Air mata kamu sangat berharga sayang"
Ara memeluk Rafa menyembunyikan wajah nya di dada bidang suami nya, mencari kenyamanan di dada bidang Rafa. Rafa mengusap punggung Ara dengan sayang.
Ara melepaskan pelukannya dari Rafa dia kembali menumis bumbu yang akan dia gunakan untuk nasi goreng, Ara membuat bumbu sedikit banyak agar saat ingin membuat nasi goreng tidak lagi membuat bumbu nya.
Ara memasukan udang yang sudah di cuci, sosis dan bakso ke dalam tumisan bumbu nasi goreng, tidak lama setelah itu Ara memasukan nasi nya yang terakhir sayurnya. sedangkan Rafa sudah berkutat dengan telur yang dia beri cabai lumayan banyak untuk nanti menemani nya sarapan.
"Iyah sayang kenapa??"
"Itu kamu buat siapa???" Ara memastikan untuk siapa telur yang belum di goreng itu.
"Untuk ku sayang"
Ara meringis mendengar apa yang dikatakan oleh Rafa. "Mas kamu nanti akan sakit perut"
"Tidak akan sayang"
"Kamu yakin Mas???"
"Yakin sayang"
Ara mengangguk anggukan kepalanya, merasa tidak ada lagi yang diragukan Ara membantu menggoreng telur yang Rafa bawa tadi. "Ya Allah, bagaimana rasa telur ini nanti nya"
"Sayang, aku mau mandi dulu yah???"
"Iyah Mas"
Ara menyelesaikan acara memasak nya, setelah itu dia menyajikan makanan nya di meja makan, tidak lupa menyajikan telur cabai suaminya, yang mungkin nanti akan terbuang karena rasa cabai semua.
Setelah menyajikan di meja makan Ara meninggalkan meja makan, untuk bersiap untuk pergi kekantor. Rafa melihat istrinya masuk ke dalam kamar. "Sayang apa sudah selesai???"
__ADS_1
"Ah sudah Mas"
"Yah sudah, kalau begitu"
Rafa masuk ke dalam walk in closet sedangkan Ara masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap ke kantor Zeufa. Setelah tiga puluh meni Ara keluar dari dalam kamar mandi menggunakan kimono mandi.
Ara melihat suami nya yang membolak balikan berkas yang ada di tangannya, Ara masuk ke dalam Walk in closet untuk berganti baju. Ara sudah selesai berganti baju mendekat ke arah Rafa yang masih fokus dengan berkas nya.
"Mas ayo turun"
"Iyah sayang sebentar lagi yah"
"Menunggu apa Mas???"
"Ini tinggal sedikit lagi sayang"
"Kamar tempat nya untuk apa???"
"Tidur sayang"
"Lalu kamu mempergunakan nya untuk apa Mas???"
"Untuk meluk kamu"
"Kamu gunakan menjadi tempat kerja kamu"
Ara menaruh berkas yang ada di tangan suami nya ke atas meja setelah itu menarik pelan tangan Rafa berjalan ke arah keluar kamar. Ara dan Rafa menuruni anak tangga satu persatu.
Rafa dan Ara sudah duduk di kursi meja makan, Ara mengambilkan Rafa nasi goreng buatannya setelah itu mengambil telur yang sudah dia pisah dengan telur yang lain.
"Mas, kamu yakin mau makan itu???"
"Iyah sayang"
Ara tidak lagi bertanya dia memilih mengambil nasi goreng untuk dia makan, setelah itu mengambil telur mata ayam ehhh maksud mamak telur mata sapi.
Ara mantap suaminya yang tengah menyantap nasi goreng dengan telur yang terlihat cabainya saja dengan sangat lahap tanpa merasakan pedas. "Apa Mas Rafa lidah nya kena sariawan yah mejadikan dia tidak merasakan pedas nya cabai" Batin Ara
Ara makan sesekali melirik Rafa, Ara yang penasaran pun meminta telur milik Rafa, Ara sangat terkejut dengan rasanya, telinga sampai terasa panas, kepalanya langsung terasa nyut nyut.
"Mas apa yang kamu makan itu???"
"Itu bukan telur Mas, melainkan Telur selimut Cabai"
"Yang ada selimut tetangga sayang"
"Huss, buang mas telur itu membahayakan"
"Apa yang bahaya sayang???"
"Telur itu Mas, kamu bisa sakit perut"
"Tapi ini enak sayang tidak pedas"
__ADS_1
Ara menghela napas melihat suaminya yang sangat Aneh menurut Ara, tapi dia tidak mau memaksa suami nya untuk membuangnya karena Rafa terlihat sangat menikmati telur yang dia buat sendiri.
"Telur enak apaan!!! Itu bukan telur enak, tapi telur berbahaya" Ara menggerutu di dalam hati melihat suami nya telah menghabiskan telur penuh cabai yang dia bua.