DI ATAS SAJADAH

DI ATAS SAJADAH
CERAI


__ADS_3

Rafa mengetuk pintu kamar nya dengan Ara, Rafa sudah menyiapkan hati nya untuk kena caci makian dari Ara, Istri yang dia cintai yang selalu sabar menghadapi nya sampai bertahun tahun, tanpa sengaja Rafa mengkhianati nya.


Tok tok tok


Ara yang di dalam kamar yang terpukul mendengar kalau suami nya punya anak dari perempuan yang masih sama dengan usia putrinya. Ara berulang kali menyebut nama Allah agar hatinya lebih tenang dan kuat dalam menghadapi cobakan yang datang silih berganti.


Ara yang mendengar pintu kamar nya di ketuk, dia beranjak dari duduk nya berjalan mendekat kearah pintu kamar nya, Ara menghapus air mata nya, membaca Bismillah sebelum membuka pintu kamar.


Ceklek..


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Ara langsung masuk tanpa mencium tangan Rafa seperti biasanya, Ara juga tidak menanyakan bagaimana hari nya di kantor. Ara hanya diam, Ara masuk dengan di ikuti Rafa di belakang nya.


Ara duduk di tepi ranjang bersandar pada sandaran ranjang, tatapan Ara kosong. "Umi- " belum juga Rafa menyelesaikan kata kata nya tapi Ara sudah mengangkat tangannya agar Rafa diam.


"Silahkan Abi menikah lagi dengan Sisil, aku tidak mau berdosa melarang suami ku menikah kembali. Memang sudah menjadi takdir ku akan selalu di duakan oleh kamu Bi"


"Umi aku minta Maaf, tapi saat itu aku dalam keadaan pengaruh obat aku tidak sadar Umi"


"Sadar atau tidak sadar Abi sudah berbuat zina dengan perempuan lain, itu saja sudah berdosa Abi!! apa lagi perempuan itu sampai hamil, anak yang tidak berdosa hadir di antara kalian. Hasil dari perzinaan kalian, Aku sudah iklhas jika Abi ingin menikahi Sisil"


"Umi, Abi mohon Maafkan Abi"


"Sudah lah Bi, aku ingin istirahat silahkan Abi keluar. Aku tidak mau di ganggu"


Ara berbaring memunggungi Rafa yang masih duduk di tepi ranjang, Rafa menatap istrinya yang memunggungi nya. "Umi, aku mohon jangan seperti ini"


"Lalu aku harus bagaimana?? Di saat suami nya mengandung beni perempuan lain di saat belum menikah!! Apa aku harus bahagia?? Atau aku harus merayakan sakit di dada ini"


"Umi, laki-laki ingin memiliki berapa pun istri jika dia mampu, jadi Abi mohon dengan Umi. Tolong Umi menerima pernikahan Abi, agar Abi tidak semakin berdosa"


Ara kembali duduk menatap suami nya yang terlihat sangat frustasi, di satu sisi ada perempuan yang lain tengah mengandung anak nya, di sisi lain istrinya yang selalu sabar dengan nya. Selalu menemani diri nya di saat terpuruk.


"Aku tau, tidak ada larangan untuk suami menikah lagi, tidak perlu kamu mengajari ku. Aku kan sudah katakan kalau aku sudah ikhlas menikahi Sisil apa aku kurang jelas"

__ADS_1


"Iyah kamu mengijinkan tapi kamu marah Ara, dia anak aku Ara, aku yang merebut kesucian nya!! Aku mohon kamu menerima dengan lapang dada dan jangan seperti anak kecil yang merajuk pada ibu nya"


Ara menatap Rafa dengan tatapan nyalang, Ara turun dari ranjang nya berdiri di depan Rafa lalu menarik tangan Rafa menyeret nya keluar dari kamar. "Suru dia besok kemari dan menikah lha kalian di rumah ini" Ara menutup pintu dengan sangat keras sampai Aisya yang ada di samping kamar nya mendengar.


Brak..


"Astgafirullahaladzim" Aisya mengusap dada dengan memejamkan mata nya.


Sedangkan Ara yang ada di dalam kamar menghubungi keluarga nya menceritakan apa yang tengah terjadi, Ara juga mengatakan kalau besok Rafa akan menikah dengan Sisil.


Kedua orang tua Rafa dan kedua orang tua Ara terkejut bukan main saat mendengar Rafa melakukan hal kotor sampai perempuan itu hamil. Dada Yesi merasa sakit mendengar kelakuan putra nya, Yesi memegang dada nya yang semakin sesak


"Ma, jangan terlalu di pikirkan"


"Iyah, Pa"


"Papa akan mengurus semua nya Ma, mencoret Rafa dari warisan, semua nya akan aku limpahkan kepada Aisya, Ara dan Aufia"


"Iyah Pa, Mama hanya takut Ara akan hancur untuk kedua kalinya"


Adam memejamkan matanya, Adam sangat merasa bersalah kepada teman nya yang selalu menolong nya di saat di susah.


Jika Adam dan Yesi bersalah kepada Ara dan kedua orang tua nya, berbeda dengan orang tua Ara yang ada di rumah nya. Mereka memikirkan bagaimana hancurnya hati Ara yang sudah berulang kali Rafa melukai nya.


"Baru saja Ara mengikhlaskan putrinya kini harus ikhlas suami nya menikah lagi"


"Mi, jangan terlalu di pikirkan mereka sudah dewasa sudah tau mana yang salah dan benar"


"Tapi Pi, Mami sangat tidak terima dengan Rafa yang berulang kali menyakiti putri ku"


"Mi, Ara sudah tanggung jawab suami nya!! Ikhlas atau tidak tergantung Ara, Ara bukan anak kecil yang harus kita bimbing, kita tuntun"


"Sudah lah Pi, kalian kamu laki laki tidak akan tau bagaimana di duakan oleh seorang pria walau di perbolehkan suami memiliki lebih dari satu"


Aisya meninggalkan Zeufa yang duduk di sofa ruang kelurga, Aisya menaiki tangga naik ke lantai dua. Zeufa menatap istrinya dengan menghela napas. "Ya Allah apa lagi ini" Batin Zeufa.


Aisya masuk ke dalam kamar, Aisya mengunci pintu kamar nya. "Dasar tua bangka anak nya selalu di lukai malah masih santai" Aisya kesal dengan membaringkan dirinya di atas ranjang nya.

__ADS_1


Sedangkan Ara kini dia berusaha tegar menghadapi Suami nya, dia menatap photo pernikahan nya dengan suami nya. "Mas, kamu tega mengatakan aku seperti anak kecil!! padahal aku sudah mengatakan ikhlas kamu menikah lagi" Lirih Ara dengan air mata yang tidak mau berhenti menetes.


...****************...


Mertua, ke dua orang tua, Ara, Rafa dan Sisil duduk di sofa ruang keluarga, sedangkan Aisya sudah berangkat kuliah sejak pagi.


"Kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri, saya sebagai orang tua Rafa sudah memutuskan, melepas Rafa dari dalam keluarga saya. Saya tidak perduli lagi dengan Rafa ingin menghidupi ke dua istrinya dan ke dua anak nya dengan cara apa!! Sudah sepakat sejak awal jika Rafa mengulang kesalahan untuk yang ke dua kalinya dia harus menerima konsekuensi nya" Adam mengatakan agar ke depan nya tidak ada kesalahpahaman.


"Pa, bagaimana bisa Papa melakukan itu??"


"Diam kamu Rafa, Mama sudah katakan kalau kamu berulah kembali jangan harap dapat warisan dari kami"


"Ma, Rafa melakukan kesalahan wajar kalau Rafa bertanggung jawab!! Rafa juga memiliki hak untuk mempunyai dua istri"


"Dan kami juga memiliki hak untuk membagi warisan kami kepada siapa pun"


Di ruang keluarga menjadi perseteruan anak dan orang tua, Rafa tengah bingung dengan apa yang harus dia lakukan untuk menghidupi keluarga nya di saat dia tidak lagi di terima di perusahaan.


"Kamu ingat baik baik Rafa perusahaan yang kamu pimpin ada di bawa naungan mertua kamu, dan aset mertua kamu lebih besar dari kami sebagai orang tua kamu"


Bagai tersambar petir di siang hari Rafa menatap Istri dan mertua nya yang tengah menunduk. "Mi, Pi biarkan Rafa kerja di kantor"


"Tergantung Ara dan Aisya karena Aufia sudah tidak ada jadi nanti warisan untuk Aufia akan di sumbangkan ke orang orang yang membutuhkan"


"Umi.."


"Aku terserah Aisya putri ku"


"Dia bukan anak kita"


Plakkk


Ara yang mendengar perkataan Rafa tanpa pikir panjang langsung menampar Rafa yang ada di samping nya, Sisil yang ada di samping Rafa merasa dirinya akan rugi.


"Lebih baik kita cerai"


Ara meninggalkan ruang tamu dengan rasa sakit yang sangat dalam, karena perkataan Rafa yang menyakiti perasaan Ara berulang kali. kini Ara sudah tidak tahan dengan Rafa suami nya.

__ADS_1


__ADS_2