DI ATAS SAJADAH

DI ATAS SAJADAH
ADIK


__ADS_3

Tujuh belas tahun kemudian....


"Kakak...!! Kembalikan ponsel aku" teriak Aufia yang tengah kesal dengan Aisya yang sangat suka sekali menjahili nya.


Aufia turun ke lantai bawa mencari sang kakak yang biasanya ada di dapur membantu Umi nya memasak, Aufia berjalan memasuki dapur dia hanya melihat Umi nya saja di dapur.


"Umi, dimana kakak???" Aufia benar benar lupa kalau Aisya baru berangkat beljar di LA beberapa hari yang lalu.


Ara yang mendengar suara putrinya, Ara menoleh ke belakang. "Kamu lupa kalau kakak enggak ada di Rumah nak??" Ara bukan nya menjawab Ara malah balik bertanya.


"Emmm, aku lupa Umi!! Jadi di mana ponsel Aufia??" Aufia malah bertanya ponsel nya kepada Ara.


"Di ambil Abi"


"Abi??" Aufia mengulang perkataan Ara dengan menatap Ara bertanya


"Kenapa??"


"Kamu mau kuliah di mana?? Kakak kamu sudah berangkat ke mengejar cita cita nya"


Suara berat dan hangat menyapa pendengaran mereka, mereka menoleh kearah sumber suara, mereka melihat Rafa yang kesal dengan putrinya, yang tak kunjung menentukan melanjutkan sekolah di mana.


"Aku mau kuliah di kairo Bi"


"Hemm, kuliah yang benar jangan main main mulu, pusing Abi"


"Iyah Bi, jangan terlalu pusing memikirkan putri Abi yang cantik ini"


Rafa menghela napas lelah melihat putrinya yang menuruni sifat nya saat muda, jika Aufia menuruni sifat Rafa maka Aisya berbeda dari Sasa, Aisya sangat lemah lembut dan sangat sabar.


Tapi Aisya sangat jahil kepada Aufia sang adik, Aisya sangat kecanduan untuk menjahili adik nya, sampai Aisya sudah berangkat ke luar negeri Aufia masih mencari kakak nya saat kehilangan barang nya.


"Umi lihat lah putri kamu satu ini.." Rafa mengadu kepada Ara yang tengah melanjutkan memasak.


"Sudah lah Bi, kamu selalu saja berdebat dengan putri putri ku"


Ara selalu membela Aisya dan Aufia saat berdebat dengan Rafa. "Pada dasarnya perempuan tempat nya benar dan pria tempat salah, kalau perempuan salah kembali ke awal perempuan tempat nya benar" ucap Rafa dengan kesal.

__ADS_1


"Itu Abi tau"


Rara mendengus kesal mendengar jawaban Istri tercinta nya, istri yang sudah menemani saat dia susa, senang, sedih dan bahagia.


"Yah sudah kamu duduk Aufia, Abi mau bicara dengan kamu nak"


Aufia dengan patuh duduk di kursi meja makan, begitupun dengan Rafa yang juga duduk di kursi meja makan. Rafa menatap putrinya yang juga menatap nya, Rafa melihat Ara di mata putri nya walau mata nya menuruni Rafa.


"Apa kamu yakin nak untuk kuliah di sana???" Rafa memastikan kembali kalau anak nya benar benar yakin akan sekolah di tempat yang jauh.


"Aufia yakin Bi, aku sudah waktu nya serius dalam hidup aku bukan anak anak lagi Bi, jadi aku paham Bi" ucap Aufai dengan tegas menatap Rafa.


Rafa menganggukkan kepalanya, dia yakin kalau putrinya juga akan menuruni Ara yang solehah, Rafa tidak mau kalau kedua putrinya malah menjadi salah langkah.


"Abi.. Kenapa Abi melamun???" Aufia bertanya karena melihat Abi nya melamun.


"Abi memikirkan akan membuat adik baru buat kamu dan kakak kamu" ucapan santai Rafa membuat Ara yang memasak melotot.


"Abi kenapa malah jadi buat anak lagi??" Ara ikut nimbrung dengan membawa spatula.


Ara bukan nya tidak mau untuk memiliki anak lagi, tapi Ara tidak mungkin bisa hamil lagi kalau kejadian masa lalu nya membuat nya tidak bisa hamil lagi walau ingin. "Umi tidak mau dek" Ara mengucapkan dengan nada kesal


"Kenapa Umi tidak mau???" Aufia bertanya dengan memandang Umi nya dengan pandangan bertanya.


"Umi sudah tua usia Umi tidak muda lagi, terus lagi anak anak Umi sudah besar"


"Ohh, kenapa kalau sudah besar Umi???"


"Yah Umi malu, kalau harus punya anak kecil"


"Umi enggak boleh ngomong begitu"


"Sudah lah intinya Umi enggak mau punya anak lagi, kalau mau punya anak lagi adopsi saja"


Ara kembali melanjutkan masaknya yang sempat tertunda karena masalah adik dan anak, mana bisa Ara mengatakan kepahitan yang Suami dan anak anak nya tidak ketahui selama ini.


Rafa tidak ambil pusing kalau Ara tidak mau punya anak lagi, karena selama ini dirinya juga sangat pusing dengan ke dua anak nya yang sudah besar.

__ADS_1


Apa lagi Aufia yang merasa dirinya masih kecil membuat nya sangat manja dari pada Aisya kakak nya, Aisya juga terkadang menjahili Aufia menjadikan rumah seperti hutan. Karena banyak nya ocehan anak anak nya.


Rafa dengan Ara sangat bahagia memiliki dua anak yang saling melengkapi satu sama lain, jika satu marah satu akan menghibur, jika satu kesulitan satu akan membantu.


"Hah.. Kenapa kalian cepat sekali besar" Lirih Rafa yang masih bisa di dengar Aufia yang ada di samping Rafa.


"Karena kami bertumbuh dan berkembang Bi"


"Tapi pertumbuhan kalian sangat cepat, Abi merasa baru kemarin kamu lahir dan kini sudah membuat kepala Abi ingin pecah"


"Tidak asik ngomong sama Abi, merusak momen saja"


Aufia beranjak dari duduknya berjalan mendekat kearah Ara yang kini sedang menaruh ikan di atas piring saji. "Umi, jangan rindu yah kalau Adek mencari ilmu di negara yang jauh"


"Tentu saja Umi Rindu dengan putri Umi, apa lagi kedua putri Umi sangat jauh dari Umi"


"Apa Umi berat melepas Aufia, Umi?? Seperti berat melepas kakak"


"Tentu saja sayang, kalian akan jauh dari kami"


Ara menatap putri nya dalam, dia merindukan Aisya kecil dan Aufai kecil yang selalu saja berebut mainan dan kini mereka sudah sangat besar, membuat Ara merasa pertumbuhan anak anak nya terlalu cepat.


"Kamu harus jadi anak yang bisa membanggakan Umi dan Abi, tunjukan pada dunia kalau anak manja kami bisa merai cita cita nya"


"Sipa Umi" Aufia mengangkat tangan nya seperti hormat.


"Kapan kamu berangkat sayang???"


"Lusa Umi"


"Yah sudah, mari kita habiskan waktu kita bersama sebelum nanti kamu berjuang"


"Iyah Umi"


Mereka makan siang hanya bertiga, Aisya sudah lebih dulu mengejar cita cita nya dari pada Aufai yang memang sangat berat meninggalkan kedua orang tua nya, tapi setelah mendapat pencerahan dari Nenek dan kakek nya Aufia mau mengejar cita cita nya..


Setelah makan siang bersama mereka bertiga memutuskan untuk jalan jalan ke tempat wisata, Ara dan Rafa akan membuat kepergian putrinya nanti merasa tanpa ada nya beban karena meninggalkan orang tua nya cukup lama.

__ADS_1


__ADS_2