DI ATAS SAJADAH

DI ATAS SAJADAH
CEMBERUT


__ADS_3

Hari hari terlewati begitu saja dengan tanpa tau bagaimana nasib kita nanti nya, kita hanya menjalankan dan melakoni peran yang sudah di gariskan. Sudah berbulan-bulan tidak mendengar kabar atau saling bertukar kabar dengan mantan madu Ara.


Kini Aisya, Ara dan Naila ada di salah satu butik ternama untuk fitting gaun pengantin Naila atau Aufia, mereka bertiga jelas tau kalau yang ada di ambang pintu Butik adalah Sisil.


Sisil tengah menggandeng pria setengah baya yang lebih cocok kalau yang di gandeng Sisil itu ayah nya, mendekati tiga perempuan cantik yang tengah melihat nya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Kak Ara, kakak masih ingat dengan ku..??"


Ara menatap Sisil dengan pandangan yang lembut dan tidak ada dendam di tatapan Ara, hanya saja Ara tidak percaya dengan yang dia lihat dengan Sisil yang berpakaian seksoi dan sangat minim.


"Assalamualaikum Sil..!!"


"Kakak masih saja dengan keluguan dan kepolosan kakak"


"Ini lah aku Sil, tidak akan berubah sampai napas terakhir ku"


Sedangkan kakak beradik yang ada di samping Ara saling tatap lalu menatap Sisil dengan pandangan yang sulit diartikan. Sisil menatap Aisya yang jelas dia hapal dengan mata Aisya, tapi saat melihat mata Naila dia terkejut dengan apa yang dia lihat.


"Aufia..!! Kamu sudah kembali..??"


"Maaf saya bukan Aufia tapi Naila Alandra..!!"


"Naila..??"


"Tapi kamu sangat mirip dengan Aufia.."


Ara yang tengah menyimak pembicaraan Naila dan Sisil tersenyum sama dalam cadar nya, dia merasa kalau Sisil hanya terbawa arus dia percaya kalau Sisil bisa kembali ke jalan yang benar kalau dia dipertemukan dengan orang yang tepat.


"Dia memang Aufia Sil, hanya saja Aufia tidak mau kalau memakai nama Aufia dia lebih nyaman memakai nama Naila dan menyandang gelar Daddy nya"


Sisil menatap Aufia yang juga menatap nya dengan lembut, dia mengingat kalau dia juga punya putri dari Rafa sebelum dia hamil kembali. Anak yang mungkin sekarang berusia 10 tahun sama dengan usia cucu Ara.

__ADS_1


"Emmm.. Jadi bukan hanya putri ku saja yang enggan memakai nama pemberian Mas Rafa..!!"


"Kamu bilang putri kamu, aku jadi ingat dimana dia sekarang pasti dia juga seusia cucu ku"


"Dia aku berikan orang saat usia nya 9 bulan, orang yang sudah bertahun-tahun menikah tapi belum punya anak"


"Kenapa kamu memberikan putri kamu kepada orang..?? Kamu tidak kasihan dengan nya..??"


"Mas Rafa tidak memberi aku uang buat apa aku menghidupi anak Mas Rafa"


"Tapi dia putri kamu Sil..!!"


Ara tidak menyangka kalau Sisil tega dengan putrinya yang dilahirkan dari rahim nya sendiri, Sisil sudah sangat berubah. Tapi siapa yang tau kalau dia berubah sejauh ini"


"Bahkan aku hamil kembali tapi aku juga kasih ke orang yang membutuhkan anak"


"Astagfirulluhaldazim..!!"


"Sudah lah kak, aku mau belanja dulu kapan-kapan kita sambung lagi yah"


Sedangkan Naila dan Aisya yang mendengar ucapan Ara malah menatap Ara dengan bingung, kenapa Umi nya yakin kalau Sisil bisa berubah. Padahal jelas-jelas sekarang dia bagaikan iblis yang menyamar menjadi manusia.


"Kenapa Umi yakin kalau dia akan berubah..??" Naila bertanya dengan menatap nya bingung.


"Tutur kata nya, sikap nya, prilakunya yang mencerminkan dia hanya terbawa arus bukan sepenuh nya merubah dirinya, dia hanya kesepian yang butuh kasih sayang lebih" Ara menyahut dengan menatap Sisil yang tengah memilih gaun yang ada di ujung butik.


Aisya menatap Umi nya saat mendengar ucapan Ara, awal nya dia menatap Sisil yang tengah sangat santai saat jalan dengan pria tua yang ada di samping nya. "Umi, Umi terlalu lembut itu lah yang membuat Umi mengatakan demikian" ucap Aisya yang tidak percaya dengan Ara.


"Kamu lupa, Kalau ibu kandung kamu kini sudah berubah Nak..?? walau kamu tidak di akui tapi kini dia menjadi perempuan pengusaha sukses bersama dengan anak dan Suami nya yang benar-benar may menerima nya.


"Tapi Aisya bersyukur karena Umi mau menerima Aisya dengan tulus"

__ADS_1


"Dasar anak bodoh tentu saja karena kamu anak Umi, bagaimana Umi tidak menerima kamu"


"Sudah lah kalian jangan baper-baperan malas aku melihat nya, kita di sini untuk menghabiskan uang Daddy bukan untuk meratapi nasib atau bersedih hati" ucap Naila yang enggan melihat Umi dan kakak nya saling bersedih.


Mereka bertiga berpelukan dan tertawa bersama, mereka melanjutkan fitting gaun yang akan di gunakan untuk acara pernikahan Naila dan Alvin yang tinggal menghitung hari saja.


Setelah selesai dari butik ketiga perempuan cantik itu kini ada di tempat perhiasan yang ada di samping butik, butik langganan Ara tidak hanya menjual pakaian yang dia buat sendiri melainkan dia juga membuka usaha perhiasan yang ada di samping butik nya.


Mereka bertiga seakan kalap dengan apa yang mereka beli, berbagai model, berbagai perhiasan mulai dari emas kuning sampai berlian yang mereka beli.


Memang dasar nya kalau perempuan memegang uang, kalau uang mereka cukup dan bisa untuk membeli apapun mungkin dunia akan mereka beli kalau bisa.


Setelah puas dengan gaun dan perihasan yang mereka beli, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah Aisya dan Andika. Rumah yang kini sudah banyak yang tinggal di Rumah Andika dengan Aisya ada tiga pasang yang tinggal di rumah Aisya.


Mungkin kalau Naila sudah menikah akan ada empat pasang keluarga yang hidup dengan damai tidak perna ada selisih yang besar di antara mereka.


Kehidupan mereka lalui tanpa ada nya perdebatan besar hanya perdebatan kecil yang selalu mereka debatkan, mungkin yang paling sering Aisya dengan Jasmin.


Jasmin yang selalu membuat Aisya merasa kesal kalau sudah masuk ke dalam dapur, karena dapur akan menjadi kapal tempur. Di mana dapur akan sangat berantakan dan perabotan akan rusak.


Walau begitu Aisya tidak perna marah kepada mertua nya atau benci kepada mertua nya, dia mungkin hanya mengomel dan setelah itu mereka akan kembali bercanda dan tawa bersama.


Aisya melihat Jasmin yang duduk di sofa ruang keluarga dengan cemberut membuat Aisya yang baru masuk rumah bingung dengan Mami mertua nya dengan bingung.


"Mi, kenapa Mami cemberut..??"


"Kamu jahat sekali meninggalkan Mami sendiri"


"Kami tidak tau kalau Mami pulang sekarang"


"Itu karena Papi yang mengulur-ngulur waktu di Eropa"

__ADS_1


"Sudah lah jangan cemberut Mi, Aisya sudah membelikan Mami gaun untuk pernikahan Naila, aku juga sudah membelikan perhiasan untuk Mami"


Mendengar apa yang di katakan oleh Menantu nya Jasmin menatap Aisya dengan berbinar, wajah yang awal nya cemberut kinu tersenyum lebar.


__ADS_2