DI ATAS SAJADAH

DI ATAS SAJADAH
PERASAN


__ADS_3

Aufia paking barang yang di butuhkan di negara yang jauh, Aufia sudah menguatkan hati nya untuk menempuh pendidikan yang jauh dari kedua orang tua nya.


Aufia sebelu pergi meminta doa kepada Kakek, Nenek dan juga Uti dan Abah, setelah paking Aufia akan menyuruh Ara untuk menghubungi kakek, nenek, Uti dan Abah nya untuk datang ke Rumah.


Aufia turun dari lantai dua mencari Umi nya di taman belakang, Aufia sangat hapal di pagi hari seperti ini Umi nya akan ada di taman belakang.


"Umi.."


Ara mendongak dia melihat putrinya berjalan kearah nya dengan seperti biasa Ara akan merentangkan tangan nya untuk menyambut putri nya. "Umi..".


" Kenapa nak??"


"Hubungi para orang tua Umi, Aufia mau meminta doa mereka"


"Baik lah sayang"


Ara mengotak atik ponsel nya Ara menghubungi Mertua dan juga Mami nya untuk datang ke Rumah nya karena nanti sore Aufia akan berangkat ke Negara lain.


Ara kembali menaruh ponsel nya di atas kursi panjang yang dia duduki bersama dengan Aufia, Ara menatap putri yang ada di samping nya. "Aufi kamu di sana nanti jangan sampai melepas cadar kamu nak" Ara mengingatkan Aufia agar tetap menjaga kehormatannya.


"Iyah Umi"


"Nak Umi enggak mau kamu sampai salah jalan, Umi lebih baik mati dari pada melihat anak anak Umi harus salah jalan"


"Umi jangan ngomong kayak gitu"


"Nak, Umi enggak sanggup melihat anak anak Umi harus berada di jalur yang salah, Umi akan hancur!!"


Ara dan Aufia mengobrol seperti anak dan orang tua di mana Ara akan berbicara serius dengan Anak anak nya, Ara juga mengatakan hal yang sama kepada Aisya saat Aisya ingin pergi ke LA.


Aisya yang selalu menurut dengan Umi nya mendengarkan apa yang di katakan Aisya kalau menurut nya benar.


Ara menatap Aufia yang ada di depan nya dengan pandangan yang sangat sulit di artikan, seakan Ara takut melepas Aufia untuk pergi ke Kairo. Berbeda dengan saat melepas Aisya pergi ke LA, walau berat tapi rasanya berbeda dengan yang Ara rasakan sekarang.


"Kenapa dada ini sesak sekali, aku seperti tidak ingin melepas Aufia pergi" batin Ara.


"Umi kenapa??" Aufia merasa kalau Umi nya tengah dalam mode yang tidak baik baik saja


"Umi tidak apa apa sayang, hanya berat melepas kamu" Ara berkata jujur kepada Putri nya


"Umi, aku pergi untuk kembali tidak pergi untuk tidak kembali" perkataan Aufia membaut Ara semakin sesak


Ara mengajak putrinya untuk masuk ke dalam untuk menyiapkan makan siang untuk parang orang tau, Aufia dengan patuh mengikuti Ara masuk ke dalam rumah.


Ara masuk ke dapur begitupun dengan Aufia yang masih mengikuti Ara, Ara mulai menyiapkan bahan bahan yang akan dia gunakan untuk memasak dengan di bantu oleh Aufia.

__ADS_1


Ara mengajari semua hal tentang memasak kepada putrinya, dia ingin nanti saat menikah mereka akan menjadi istri yang baik untuk suami mereka, Ara mengajarkan mulai hal kecil dalam memasak.


"Umi, siapa yang mengajari Umi untuk memasak masakan yang enak??"


"Abah"


"Abah??"


"Iyah, Abah sangat pintar memasak apa saja mulai masakan jawa atau luar jawa bahkan masakan luar negeri"


"Wah hebat sekali Abah"


"Kamu mau bisa begitu minta belajar dengan Abah setelah pulang dari mencari ilmu"


Ara dan Aufia memasak dengan banyak yang Ara ceritakan tentang memasak dan juga kehidupan jauh dari orang tua, Ara mengatakan kalau Aisya kemarin sudah mengeluh karena jauh dari Ara dan Rafa apa lagi dari sang Adik yang suka sekali dia jahili.


"Apa sebosan itu Umi sampai dia menghubungi Umi berulang kali"


"Iyah sampai tengah Malam Umi di ajak bicara oleh kakak kamu sampai dia selesai mengerjakan tugas kuliahnya"


"Kalau di sini malam di sana masih jam berapa Umi??"


"Mungkin di sana masih pagi atau siang!! Umi tidak tau wkwkwk"


Mereka menyelesaikan acara memasak mereka dengan banyak cerita, tapi tidak mengurangi kecemasan yang ada di hati Ara kepada putrinya, Ara menyajikan makanan yang sudah matang di meja makan.


"Iyah nak"


Aufia meninggalkan Ara di dapur menyajikan makanan dengan kecemasan pada Aufia yang tak kunjung hilang, Ara menatap kepergian Aufia dengan pandangan yang sulit di arti kan.


"Umi harap ini hanya perasaan Umi saja nak" Batin Ara


Ara masuk kedalam kamar, dia langsung masuk kedalam kamar mandi untuk bersih bersih, setelah lima belas menit Aufia sudah menyelesaikan mandi nya.


Aufia sudah bersih dan Wangi, dia menatap pantulan dirinya di kaca besar yang ada di depan nya. "Aku baru sadar kalau aku sangat cantik, pantas Umi menyuruh ku bercadar kalau tidak bisa mengundang maksiat" Lirih Aufia


Aufia memakai cadar nya setelah terpasang sempurna Aufia keluar dari ruang ganti, Aufia berjalan kearah sofa yang ada di dalam kamar nya. Ara menghubungi Aisya menanyakan kabar kakak nya selama di LA.


"Kak, kamu jangan merindukan aku"


"Aku tidak akan merindukan adik laknat seperti kamu"


"Yah yah aku memang baik dan penurut kak, terima kasih atas pujian kakak"


"Kamu berangkat jam berapa??"

__ADS_1


"Nanti sore kak, aku pergi dengan waktu yang lama atau pergi selama lamanya"


"Kamu mau kuliah tau travel ke dunia lain hah??"


"Hahaha.. Yah kalau bisa dua dua nya kak"


"Dasar gila"


Mereka berdua bercanda dan tawa layaknya kakak adik pada umum nya yang selalu bercanda dan tawa tanpa ada jarak di antar mereka walau Aisya sudah tau kebenaran nya.


Setelah cukup lama mereka bercanda dan tawa di sambungan ponsel Aufia mengakhir sambungan telpon nya. Aufia menaruh kembali ponsel nya di atas meja nya.


Aufia beranjak dari duduk nya berjalan kearah pintu kamar, Aufia keluar karena sudah waktu nya makan siang. Mungkin para orang tua sudah datang, Aufai menuruni anak tangga satu persatu.


"Hay hay para para orang tua" sapa Aufia kepada Mertua dan orang tau Ara


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Aufai mencium tangan para orang tua yang duduk di Sofa ruang keluarga. "Kamu semakin bar bar saja nak" ucap Aisya yang kini menciumi wajah Aufia.


"Jangan bandel nanti di sana" Zeufa mengingatkan Aufia.


"Cucu kecil ku sudah besar jangan nakal di sana sayang" ucap Yesi yang memeluk Aufia


"Selalu saja cucu kecil, sedangkan kakak cucu cantik"


"Hahahaha..." Semua orang yang ada di sana tertawa bersama mendengar rengekan Aufia.


"Rupanya ada yang merajuk di sini" Ledek Adam.


Mereka tertawa mendengar perkataan Adam yang menurut nya benar ada nya kalau Aufia tengah merajuk. "Yes jangan panggil dia cucu kecil lagi, panggil dia Cucu bayi ku"


Hahahahha..


"Uti.. " Aufia merengek


Mereka tertawa bersama setelah itu Ara mengajak keluarga nya untuk makan siang bersama di meja makan. Saat mereka ingin makan mereka mendengar salam dari Rafa yang baru pulang dari kantor.


Rafa mencium tangan mertua dan juga orang tau nya, Rafa ikut bergabung dengan keluarga nya untuk makan siang bersama.


Mereka makan siang dengan personil lengkap, walau Aisya hanya ada di sambungan panggilan video call yang di lakukan Ara, tapi mereka sudah sangat bahagia dan senang.


Hay kakak kakak yang setia di cerita aku yang berjudul DI ATAS SAJADAH , aku ada cerita baru lho yang enggak kalah seru dari cerita ini.

__ADS_1


Cerita aku yang baru berjudul TERJERAT CINTA CASANOVA KEJAM. mampir yuk kak cerita nya enggak kalah seru lho.


__ADS_2