
Aisya berjalan buru buru masuk ke dalam kelas nya dengan membawa banyak buku yang entah buku apa saja, Aisya mengecek buku yang di bawa sudah semau atau belum.
Berjalan tanpa melihat jalan tidak menyadari kalau di depan nya ada orang, Aisya menabrak orang yang di depan nya.
Bhug..
Buku yang ada di pengang Aisya terjatuh semua, Aisya yang ingin jatuh berhasil di bantu oleh orang yang Aisya tabrak, Andika dosen tampan dan irit bicara yang kini memeluk pinggang ramping Aisya yang terbalut oleh baju Syar'i.
Aisya yang belum merasakan sakit membuka mata nya perlahan, maya indah yang mampu membuat siapa saja terpesona termasuk Andika untuk sesaat dia terpesona dengan Aisya.
Aisya yang menyadari dirinya ada di pelukan laki laki yang bukan Mahram nya langsunh melepaskan dirinya, Aisya sama sekali tidak tertarik kepada Andika yang selalu di kejar kejar perempuan.
"Maaf.." Aisya menunduk
"Tidak apa lain kali hati hati" Andika menatap Aisya yang ada di depan nya dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Yah, Maaf sekali lagi!! Saya buru buru" Aisya merasa tidak enak telah menabrak dosen tampan yang ada di depan nya.
"Menarik berbeda dengan yang lain" Batin Andika
"Iyah.." ucap Andika yang sangat jelas padat.
Aisya memukuti buku buku yang ada di lantai, sedangkan Andika meninggalkan Aisya yang sibuk dengan buku buku nya. Aisa kembali melanjutkan langkah nya menjuh kelas yang akan di mulai sebentar lagi.
Aisya duduk di bangku yang bisa dia duduki, dia membuak ponsel nya untuk memberi tahu Umi nya kalau dirinya sudah ada di Kampus dan akan segera melakukan belajar. "Selesai" Ucap Aisya memasukan ponsel nya kedalam tas nya.
Dosen masuk setelah Aisya menaru ponsel nya kedalam tas nya, proses pembelajaran di mulai, Aisya dengan sangat fokus memperhatiak penjelasan dari dosen.
kelas Aisya sudah berakhir dia keluar kelas, Aisya langsung berjalan ke arah parkiran untuk pulang hari yang semakin sore membuat Aisya ingin cepat pulang.
"Ah Alhamdullia selesai juga aku hari ini" Lirih Aisya saat sudah ada di dalam mobil sport mewah nya.
Setelah perjalana yang sangat membosankan akhirnya dia sampai di rumah mewah milik kedua orang tua nya. "Huu kalau pulang gini selalu mendengar teriakan Aufia, kamu yang tenang di sana dek" Lirih Aisya yang ada di dalam mobil, tampa terasa ait matanya menetas.
Aisya turun dari dalam mobol dia berjalan kearah pintu rumah, Aisya masuk kedalam rumah yang terlihat sepi karena kepergian Aufia.
"Assalamualiakum"
__ADS_1
"Waalaikumsalam"
"Umi dan Abi di mana Mbak??"
"Ibu sama bapak ada di ruang kerja bapak non" Siti pengasuh Aisya yang sampai saat ini tetap melayani Aisya.
Aisya naik ke lantai dua di mana dia akan menemukan kedua orang tua nya yang selama ini Aisya tidak perna masuk ke dalam ruang kerja Rafa kalau tidak penting.
Tok tok tok..
Ceklek..
Aisya membuka pintu ruang kerja Rafa, Aisya melihat jelas kalau Rafa dan Ara saling tegang. "Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Apa ada masalah???" Aisya bertanya kepada orang tua nya yang masih saling tatap dengan tajam.
"Tanya sama Abi kamu yang sudah gila itu" Kesal Ara menjawab pertanyaan Aisya.
"Ada apa Bi??" Aisya mulai bertanya kepada kedua orang tua nya saling tegang.
"Abi mau menjodohkan kamu dengan anak Abi" Rafa langsung menjawab pertanyaan Aisya.
"Lalu..???"
"Umi tidak setuju karena kamu masih menempuh pendidikan" Lirih Rafa.
Aisya menatap Umi dan Abi nya bergantian setelah itu Aisya menghela napas lelah, melihat kedua orang tua nya. "Umi, Abi jodoh kan sudah di atur sama Allah kenapa kalian jadi sepaneng gini" Lirih Aisya yang merasa kesal dengan orang tua nya baru juga baikan malah kini malah kembali tegang.
"Salahkan Abi kamu yang membuat ketegangan diantara kami" Ara menyahut dengan rasa kesal nya.
"Umi, Umi yang selalu mengajarkan Aisya harus baik dengan suami, kenapa Umi marah kepada Abi???"
"Karena Abi kamu gila" ketus Ara.
"Sayang ini kan enggak langsung menikah, hanya perkenalan saja" Lirih Rafa yang langsung mendapat pelotoan dari Ara.
__ADS_1
Nyali Rafa menciut kalau Ara sudah melotot karena di sini bukan hanya dirinya yang akan kena tapi pedang pusaka akan kena imbas nya. "Ghemmm"
"Umi kalau ini sudah jodoh Aisya, Aisya menerima nya!!" Aisya menatap manik hitam pekat milik Ara.
"Sayang masa depan kamu masih panjang jangan menyia nyiakan itu" Ara masih tidak mau kalau Aisya mengenal laki laki dulu.
"Umi mungkin saja ini jodoh yang di turunkan untuk Aisya" Aisya meyakinkan Ara kalau dirinya baik baik saja.
Ara menatap putri nya dengan kesal bagaimana bisa dia mempercayai kalau ini jodoh dari Allah, diusia nya yang baru 20 tahun, sedangkan Ara menikah di usia 25 tahun.
Ara beranjak dari duduk nya lalu berjalan kearah pintu ruang kerja Rafa, Ara keluar dengan rasa kesal dengan Rafa dam Aisya. "Dasar anak dan bapak sama saja suka bikin bad mood" gerutu Ara yang kini sudah ada di dalam kamar nya.
Ara merebahkan dirinya di atas ranjang king size nya dia menahan kesal kepada Ara, jika di jam segini Ara akan masak di dapur kali ini Ara rebahan di ranjang kamar dengan kesal.
Berbeda dengan di ruang kerja Rafa bersama dengan Aisya, Rafa mengatakan kalau perjodohan ini bisa Aisya tolak kalau memeng tidak suka.
"Abi tidak memaksa kumu naka, yang penting kamu mau melihat nya "
"Iyan Bi"
"Kalau begitu Aisya ke kamar dulu mau mandi"
"Iyah nak"
Ara beranjak dari duduk nya, dia berjalan kearah pintu ruangan Rafa, Aisya tidak memikirkan siapa yang akan kedua orang tua nya jodohkan. Yang Aisya tau kalau nanti malam dia akan bertemu dengan laki laki yang akan di jodohkan.
Aisya masuk kedalam kamar mandi untuk siap siap untuk makan malam dengan kedua orang tua sahabat yang dulu hubungan nya merenggang karena ke salah pahaman diatara mereka, tapi setelah itu mereka saling dekat kembali.
Waktu jam makan malam di rumah Rafa, perjamuan makan malam akan di lakukan dengan ramai dengan obrolan mereka di Rumah Rafa. "Nak putuskan sebelum bertemu".
"Aku sudah putuskan Umi kalau aku akan mencoba menerima perjodohan ini kak dan selama nya"
"Apa kamu yakin nak" Ara memastikan kalau Aisya benar benar tulus jangan khawatir dengan Aisya.
"Tenanglah sayang kuat akan menyelesaikan bersama sama sama" Lirih Rafa
Aisya menyakinkan dirinya sendiri dan juga keyakinan kedua orang tuan yang tidak ingin terlihat sedih.
__ADS_1