
Ara menatap putri nya yang tengah duduk di taman belakang dengan buku tebal di tangan nya, Ara mendekat kearah putri nya.
"Aisya.."
Aisya yang mendengar suara Umi nya mendongak menatap Umi nya yang sudah ada di depan nya. "Umi.."
"Apa yang tengah kamu lakukan nak??"
"Membaca buku Umi"
"Benarkah buku apa yang kamu baca nak??"
"Buku.. Emm buku ke dokteran"
"Oohh, jadi kamu baca buku kedokteran dengan gaya baru nak???"
Aisya menaikan satu alis nya mendengar apa yang di katakan oleh Umi nya, dia menunduk melihat buku yang ada di pangkuan nya. "Ghemm.. Aisya mau belajar dengan gaya baru Umi"
"Emm.. Kalau begitu ajarkan Umi untuk membaca dengan gaya baru kamu"
Aisya menatap Umi nya dengan bingung dia tengah mencari cara bagaimana dia bisa kabur dari Umi nya. "Umi, Aisya baru ingat kalau Aisya ada tugas yang belum Aisya kerjakan" Aisya beranjak dari duduk nya ingin kabur dari Umi nya.
"Aisya.. Lepaskan yang sudah tidak ada jangan kamu buat adik kamu berat di sana sayang!!! Umi bisa kamu pasti bisa sayang" Lirih Ara yang masih menatap bangku kayu yang sering Aisya dan Aufia duduki.
"Maaf Umi"
"Sudah lah, ayo masuk kita makan siang dulu. Bukan kah kamu sebentar lagi kuliah??"
"Iyah Umi"
Mereka berdua masuk ke dalam Rumah dengan Ara menggandeng tangan putrinya, Aisya dan Ara duduk di kursi meja makan. Jika mereka biasanya mendengar suara teriakan Aufia yang turun dari lantai dua kini tidak ada lagi teriakan Aufia.
"Umi, kenapa Umi sambal nya kurang pedas"
"Ahis anak ini, ini sudah sangat pedas nak!!! Kala Abi tau kita makan sambal bisa ngoceh Abi. Sudah makan sebelum Abi pulang dari kantor"
"Tumben Umi??"
"Abi akan pergi keluar kota untuk mengurus perusahan cabang yang ada di kota B nak"
Mereka makan dengan Aisya banyak bercerita tentang kuliah nya, Ara sesekali tertawa mendengar carita Aisya yang menurut Ara lucu. "Kamu enggak takutkan kak??"
"Takut Apa Umi??"
"Praktek nya lah masak apa nya cobak"
"Takut Umi, takut kalau tuh orang tiba tiba hidup"
Ara semakin tertawa mendengar apa yang di katakan oleh Aisya, Aisya yang melihat Umi nya tertawa kesal. "Umi.. Ini beneran lho teman aku pas waktu nya praktek, ada yang di mimpin, ada yang kebayang bayang Umi"
"Itu karena mereka takut nak!! Kamu kalau praktek ingat sama Allah, baca doa, minta Maaf sama yang punya badan, insya'Allah semua nya lancar"
Aisya mendengar apa yang di katakan oleh Umi nya mengangguk pelan, Aisya benar benar mendengarkan apa yang di katakan Ara. Sampai mereka tidak sadar makanan mereka sudah habis.
"Umi.. Kalau Aisya lanjut sekolah gimana??"
__ADS_1
"Kamu mau sekolah sampai gelar apa saja Umi dukung nak, Umi juga akan selalu mendoakan anak Umi yang cantik ini"
"Sayang Umi banyak banyak"
Ara membalas pelukan Aisya dengan sayang, Ara mencurahkan segalah kasih sayang nya kepada Aisya, walau bukan anak kandung. Aisya tidak perna kekurangan kasih sayang.
Ara melepas pelukan Aisya. "Yah sudah sana siap siap nanti terlambat lagi" Ara menyuruh Aisya segera bersiap untuk kuliah.
"Siap Umi"
Aisya beranjak dari duduk nya meninggalkan meja makan, sedangkan Ara membereskan bekas makan nya dengan Aisya untuk di cuci. "Sudah, tinggal paking baju Mas Rafa" Ara meninggalkan meja makan.
Saat Ara ingin naik ke lantai dua dia mendengar suara bel berbunyi, Ara urungkan naik ke lantai. Ara berjalan kearah pintu rumah nya. Ara membuka pintu Rumah nya.
Ceklek..
Ara menatap perempuan cantik yang masih muda di depan nya. "Maaf cari siapa yah??" Aisya bertanya dengan nada lembut nya.
"Saya Sisil mbak.."
"Emm.. Mbak Sisil mau cari siapa yah??" Sisil yang tengah ada di depannya seumuran dengan Putri nya Aisya.
"Saya mau cari Mas Rafa"
"Silahkan masuk dulu Mbak!!"
"Terima kasih"
Ara mengajak Sisil masuk kedalam rumah nya dengan Sisil, perempuan cantik yang ada di depan nya. "Silahkan duduk Mbak!! Mau minum apa??"
Ara meninggalkan Sisil di ruang tamu untuk mengambil cemilan dan makanan yang dia simpan untuk di cermili Aisya dan untuk tamu. Ara keluar dengan membawa nampan di tangan nya, Nampan yang sudah ada makanan ringan dan Minuman.
Ara duduk di sofa sebrang meja setelah menyajikan cemilan dan minuman di atas meja ruang tamu. "Mbak ada perlu apa mencari Rafa??"
"Emm.. Saya ingin minta pertanggung jawaban untuk anak yang saya kandung"
Bagai tersambar petir di siang bolong Ara terkejut bukan main mendengar apa yang di katakan oleh Sisil yang tengah menunduk. "Sejak kapan kalian punya hubungan??" Ara pura pura tegar dan kuat
"Kami tidak saling kenal, tapi karena kesalahan malam itu kami melakukan hubungan terlarang!! Mas Rafa menarik paksa saya yang tengah berjalan di lorong hotel ingin pulang. Saat saya tengah lewat dengan kamar nya.
"Kalian melakukan di mana??"
"Di hotel ****"
"kamu tunggu saya sebentar lagi Rafa akan pulang"
"Terima kasih Mbak"
"Iyah..saya masuk dulu yah??"
"Iyah Mbak"
Ara beranjak dari duduk nya melangkah meninggalkan ruang tamu, saat sudah sampai ruang keluarga Ara tanpa terasa air mata nya jatuh membasahi cadar nya.
Ara naik ke lantai dua di mana kamar nya dengan Rafa, Ara masuk kedalam kamar. Ara mengunci pintu dari dalam kamar. "Ya Allah apa-apaan ini" Ara memukul dada nya yang terasa sangat sesak berkali kali.
__ADS_1
Sedangkan Rafa yang baru turun dari mobil nya seperti biasa dia akan langsung masuk ke dalam rumah, tapi hari ini sangat berbeda dengan biasa nya tidak ada istri yang menyambut nya di ruang tamu.
Rafa hanya melihat perempuan tanpa hijab tengah duduk membelakangi nya, Rafa tidak menghiraukan nya dia tetap melangkah masuk ke dalam rumah, tapi gerakan nya berhenti saat ada yang memanggil nya.
"Mas Rafa"
Rafa berbalik melihat perempuan cantik di depan nya dengan mata sayu nya sedangkan Rafa menatap perempuan yang di depan nya dengan perasaan tidak karuan.
Rafa mendekat kearah perempuan yang duduk di sofa ruang tamu, Rafa duduk di sofa seberang nya. "Kenapa kamu kemari???"
"Mas aku hamil"
Deg...
Rafa yang ada di depan nya sangat terkejut mendengar apa yang di katakan oleh Sisil, dia tidak tau apa harus bagaimana.
"Kamu hamil???"
"Iyah Mas, aku hamil kamu lupa kalau kamu yang memaksa ku" Lirih Sisil
"Tapi bisa saja kan setelah itu kamu bermain dengan laki laki lain" Rafa benar benar seperti orang bodoh saat ini
Sisil beranjak dari duduk nya dia mendekat kearah Rafa yang tengah duduk di sofa, Sisil merasa terhina karena tuduhan Rafa.
Plak...
"Mas kamu yang merenggut kesucian ku, kamu lupa mas!!! Kamu sendiri yang menyeret aku tanpa perasaan, kamu memaksa ku kamu lupa Mas" pekik Sisil yang benar benar merasa terhina.
Rafa kembali mengingat di mana dia ada di hotel **** saat itu dia yang tidak tau kenapa sampai menyeret perempuan yang ada diluar kamar nya, dia melihat bayangan Ara yang ada di rumah.
Rafa mengira kalau itu Ara yang datang menjemput nya, Rafa memaksa perempuan itu, tidak perduli dia menangis Rafa yang terpengaruh obat hilang akal sehat nya.
Saat pagi menjelang dia dengan perempuan yang tidak di kenal dalam keadaan polos dan ada bercak darah di ranjang, Rafa benar benar gila saat itu. Dia mempe*****sa perempuan yang sama dengan putrinya.
"Maaf"
"Kamu harus bertanggung jawab mas"
"Nanti kita bicarakan kamu pulang dulu"
"Mas aku butuh kepastian kamu"
"Iyah aku akan tanggung jawab, tapi nanti kita bicara sekarang aku masih pusing"
"Baik Mas aku tunggu kabar kamu besok pagi"
Sisil melangkah meninggalkan ruang tamu bertepatan dengan Aisya yang masuk ke dalam Rumah setelah dari taman belakang. Aisya melihat Abi nya yang duduk di sofa Aisya mendekat kearah Rafa.
"Bi, kenapa Abi duduk di sini sendiri???"
"Ah tidak nak, kamu masuk saja. Abi mau masuk ini"
"Aneh sekal, baik lah Bi"
Aisya berbalik di masuk kedalam rumah, membiarkan Rafa sendiri yang tengah bingung menghadap Ara.
__ADS_1