
Sudah satu minggu Sasa ada di rumah sakit tidak kunjung melahirkan, Sudah di cek berulang kali tapi tidak ada pembukaan sama sekali. Sasa juga sudah di coba untuk di operasi tapi aneh tapi nyata Alat alat yang di gunakan untuk operasi Sasa tidak dapat di gunakan.
Seakan perut Sasa sangat keras sampai alat alat operasi tidak dapat digunakan, para dokter bingung bagaimana cara nya mengeluarkan bayi yang ada di delam perut Sasa.
Ada salah satu dokter yang menyarankan Sasa untuk meminta Maaf kepada orang yang mungkin tidak sengaja Sasa sakiti hati nya, Sasa yang mendengar itu pun tidak percaya malah berteriak kepada dokter yang memberi saran kepadanya.
"Aku tidak perna membuat salah sialan" pekik Sasa dengan melempar dokter itu dengan bantal yang dia gunakan.
Dokter Yeni yang memberi saran itu pun menghela napas melihat kelakuan Sasa, dia yakin kalau Sasa benar benar perna menyakiti hati seseorang.
Pihak rumah sakit berulang kali menghubungi Rafa selaku suami tapi tidak kunjung datang ke rumah sakit. Pihak rumah sakit kini kembali menghubungi Rafa paska operasi Sasa yang gagal, mereka akan memberi tau Rafa kalau operasinya gagal.
Rafa yang sedang menemani Istrinya jalan jalan santai di taman belakang merasa ada getaran di paha nya, Rafa merogoh ponsel yang ada saku celana nya. Rafa mengangkat telpon yang dia yakin dari rumah sakit.
Pihak rumah saki menjelaskan apa yang terjadi dengan Sasa kepada Rafa, kening Rafa mengerut saat mendengar cerita pihak rumah sakit. "Apa kalian tidak menipu saya kan??"
"Mana ada orang enggak bisa dioperasi??"
.....
"Yah, saya akan kesana"
Rafa mematikan sambungan telpon, lalu dia mendekat kearah istrinya yang kini sudah duduk di bangku taman, Rafa duduk di samping Ara, Rafa menceritakan apa yang terjadi dengan Sasa kepada Ara, Ara sangat terkejut mendengar cerita Suami nya. terkesan tidak masuk akal tapi ini terjadi kepada Sasa.
"Yah sudah Mas ayo kita kesana untuk melihat Sasa" Ucap Ara sangat perihatin dengan Sasa yang sudah satu minggu belum melahirkan.
"Sayang kamu sudah hamil tua enggak boleh kecapekan" Rafa mencoba membujuk Ara agar tidak pergi
"Mas kita kesana menggunakan mobil bukan jalan kaki mana bisa aku capek" Ara menatap Rafa malas
"Tapi sayang, aku enggak mau kamu kecapekan sayang" Rafa masih kukuh untuk tidak mengijinkan Ara pergi.
Ara mendengus menatap suami nya setelah itu beranjak dari duduk nya meninggalkan Rafa yang terbengong di taman melihat kepergian istri tercinta.
Rafa mengajar langkah sang istri yang kini sudah menaiki anak tangga satu persatu, tanpa menoleh kebelakang. Rafa menarik pelan tangan istrinya. "Kamu jangan ngambek sayang"
"Enggak siapa yang ngambek"
"Kamu"
"Enggak"
Mereka masuk kedalam kamar untuk siap siap. Tidak lama mereka kembali keluar, Rafa dan Ara masuk kedalam mobil yang sudah di siapkan di halaman luas rumah mereka.
Ara dan Rafa sudah ada di rumah sakit setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, Rafa menggandeng tangan Ara yang ada di samping nya, mereka berjalan kearah kamar Sasa.
Saat dari luar kamar mereka sudah mendengar teriakan Sasa dari dalam kamar, Rafa membuka pintu itu secara perlahan. Rafa dan Ara melihat Sasa yang kini sudah sangat kacau dengan cairan infus yang yang sudah terlepas dari tangan Sasa, kamar yang awut awutan.
__ADS_1
Suster yang ada di sana bingung harus melakukan apa untuk menghentikan Sasa yang mengamuk bak orang gila buka lagi melahirkan.
"Assalam'alaikum" Suara lembut Ara mengalikan dua suster yang ada di sana begitu pun dengan Sasa.
"Ngapain kamu kesini?? Mau mentertawakan aku??? Nanti juga kamu bakal merasakan apa yang aku rasakan Ara"
"Sa, ingat sama Allah, agar kamu di lancarkan proses persalinan kamu"
"Enggak usah ceramah elo sialan"
"Astagfirullahaldzim"
"Sayang biarkan saja, biar dia tau bagaimana rasanya sakit, itulah dia yang berani bersumpah tapi kenyataan nya tidak sama dengan dia ucapkan"
"Apa maksud kamu sayang"
"Sudah katakan saja siapa ayah kandung anak haram kamu itu" pekik Rafa
Plakk...
"Ahhh.. Yank sakit"
"Tau gelap"
"Ini terang lho yank"
"Yah baik lah ndoro putri Maafkan saya"
"Mas..." Ara merengek di situasi menegangkan.
"Rafa kamu harus bantu aku agar anak kita bisa keluar" Rengek Sasa, membuat Rafa semakin jijik.
Rafa menatap Sasa dengan sinis, bagaimana bisa wanita yang sudah ingin merenggang nyawa malah masih menyembunyikan sesuatu yang buruk. Sesuatu kenyataan yang seharusnya semua tau kalau Anak yang Sasa kandung bukan Anak Rafa.
"Mas bantu"
"Ogah"
"Sa, sebaik nya kamu jujur siapa ayah anak yang kamu kandung??? Kalau pun bukan Mas Rafa dan kamu tidak mau merawat nya maka aku mau merawat nya" bujuk Ara agar Sasa luluh.
"Dia anak Rafa" pekik Sasa dengan wajah yang memerah
"Sa kamu jujur saja, pasti setelah itu Allah akan mempermudah jalan lahir kamu"
"Dasar wanita gila" pekik Sasa.
Rafa mengajak Ara untuk pulang dari rumah sakit, Rafa merasa cukup melihat Sasa yang belum melahirkan. Melihat wajah Sasa membuat Rafa ingin mencabik cabik Sasa.
__ADS_1
"Ingat Allah Sa" Ara mengatakan setelah dia pergi, dia pergi bersama Rafa.
Rafa menggandeng tangan Ara, Rafa sangat kesal dengan istrinya. Yang malah melihat wanita gila seperti Sasa. sepeninggalan Ara dan Rafa, Sasa kini arah jatuh pingsan.
Rafa Dan Ara sudah ada di dalam mobil perjalanan untuk pulang ke Rumah. "Mas aku mau makan soto, buatkan yah besok"
"Sayang aku kan tidak bisa memasak sayang cinta"
"Aku enggak mau tau sayang"
Kini Rafa melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit, Rafa membawa Ara pulang untuk bersih bersih, Rafa enggak mau kalau anak nya terkontaminasi dengan Sasa.
Pemikiran Rafa kalau banyak bergaul dengan Sasa bisa ikutan kena Virus gila, Ara yang mendengar itu dari Rafa, mendengus malas melihat Suaminya yang akhir akhir ini sangat sensitif.
Setelah bersih bersih Ara dan Rafa kembali keluar Rumah untuk mengajak Ara makan siang di luar, Ara bingung dengan Rafa kenapa tadi pulang kalau ujung ujung nya keluar lagi.
"Mas, kenapa coba kita pulang tadi???"
"Agar kamu dan anak kita enggak tertular gila"
Ara ternganga mendengar jawaban Rafa bagaimana bisa, dia dan anak yang ada di dalam perut tertular gila. "Apa bisa Mas gila itu menular???" Zeina Johara Abraham yang pintar kini mendadak bodoh mendengar jawaban suami nya.
"Bisa, jadi kamu jangan dekat dekat sama orang gila kayak Sasa" Rafa mewanti wanti Ara.
"Kamu yang gila Mas, terlalu berlebihan"
"Lho mana bisa begitu cinta ku"
"Sudahlah Mas, aku jadi kasihan dengan Sasa!! Bagaimana bisa dia tidak melahirkan??"
"Itu karma, dia sudah bersumpah tapi kenyataan nya tidak sama"
"Jangan jangan dia kamu guna guna Mas"
Ciittt...
Suara ban mobil beradu dengan aspal yang keras, Rafa sangat terkejut dengan apa yang di katakan oleh Istri cantik nya yang ada di samping nya. Rafa menatap Ara yang kini sudah mengusap kening nya yang baru saja terbentur.
"Mas, kamu gila mau bikin aku bertemu dengan malaikat???"
"Maaf sayang.. Kamu sih buat aku terkejut" Rafa mendekat untuk mengusap lembut kening Ara yang terbentur.
"Yah tapi kira kira Mas, untung aja jalanan sepi kalau tidak kita sudah ada di alam lain" kesal Ara menatap Suami nya.
"Kamu jangan sekarang masih saja percaya seperti itu Sayang" Rafa sangat tidak percaya istrinya bisa mengatakan itu.
"Sudah enggak usah di bahas Mas, lupakan" dengan mengusap kening nya.
__ADS_1
Rafa kembali melajukan mobil nya dengan sesekali melirik istrinya heran, bagaimana bisa punya pikiran yang enggak masuk akal. Buat apa dirinya mengguna guna Sasa. "Enggak penting juga guna guna Sasa" Batin Rafa.