
Ara duduk di bangku panjang yang ada di taman belakang, dia menatap lurus dengan pandangan yang kosong. Sudah berhari hari tapi belum ada kabar soal Aufia.
Rafa yang melihat istrinya berhari hari tidak mau makan, tidak bersemangat, wajah yang pucat, Rafa merasa sangat bodoh dan menyesal saat Ara ingin dia menghalangi Aufia untuk tidak pergi.
Rafa mendekat kearah Ara yang ada di bangku panjang, bangku yang biasanya dia duduki dengan kedua putrinya yang selalu manja dengan nya, Ara meneteskan buliran bening membasahi cadar Ara. "Umi.." Rafa memanggil Ara dengan suara yang bergetar
"Abi, Abi sudah pulang Bi?? Mana putri kita Bi?? Mana Aufia Bi??" Ara bangun dari duduk nya mendekat kearah Rafa yang tengah diam dengan memejamkan matanya.
Rafa yang tidak kunjung menjawab membuat Ara frustasi, Ara terjatuh duduk di rerumputan di bawa bangku panjang. "Abi, kenapa Abi diam saja, jawab Umi Bi!! Abi" pekik Ara yang sangat frustasi kehilangan Aufia, apa lagi belum ada kabar tentang Aufia.
"Maaf Umi" Rafa hanya bisa mengatakan Maaf kepada Ara
Ara yang mendengar Rafa meminta Maaf pun semakin terisak di bawa Rafa, Rafa menatap Istrinya semakin hancur. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpah keluarganya.
"Umi bangun dulu yah, kita pasrahkan kepada Allah Umi" Rafa membantu Ara bangun dari duduk nya, Rafa menggendong Ara masuk kedalam rumah.
Rafa membawa Ara naik kelantai dua di mana kamar mereka berada, Rafa membuka pintu kamar yang memang tidak tertutup sempurna, menjadikan Rafa dengan muda membuka pintu.
Rafa menidurkan Ara di atas kasur empuk mereka yang sudah menemani mereka puluhan tahun lama nya, Rafa mengusap lembut kening Ara agar dia Ara menjadi lebih baik.
"Bi, Aisya mana Bi??" Ara menanyakan Aisya yang masih ada di LA untuk mengurus kepindahan nya, Aisya tidak tega melihat Ara terpuruk seperti saat ini.
"Aisya masih ada di LA Mi"
"Dia akan naik pesawat Bi??"
"Iyah Umi"
__ADS_1
"Umi enggak mau Bi, biarkan anak Umi ada di sana jangan naik pesat lagi Abi, Umi enggak mau kehilangan kedua anak Umi"
"Umi tenang lah sayang, jangan khawatir semua akan baik baik saja":
Ara yang mendengar perkataan Rafa menjadikan Ara semakin marah kepada Rafa, dia menganggap Rafa enggak sayang kedua putrinya. " Abi bilang kemarin semua akan baik baik saja, mana buktinya Abi?? Aufia putri ku Abi hilang belum di temukan!! Dan sekarang Abi bilang akan baik baik saja!! Dia putri ku Abi putri ku" teriak Ara yang membuat Rafa semakin sesak.
"Umi tenang dulu Umi"
"Lebih baik Abi keluar dari sini, keluar Abi" Ara semakin berteriak kepada Rafa, Rafa beranjak dari duduk nya dia meninggalkan Ara sendiri di kamar.
Ara terduduk di atas lantai yang dingin dengan jilbab yang entah di mana, rambut panjang yang tergerai mengembang membuat Ara terlihat sangat memprihatinkan.
Sedangkan Rafa yang ada di kamar Aufia menatap photo yang di tergantung indah di dinding kamar Aufia, photo yang ada gambar, Rafa, Ara, Aisya dan Aufia yang baru merayakan kelulusan mereka.
"Nak, Maafkan Abi!! Harus nya Abi mendengarkan perkataan Umi waktu itu" Lirih Rafa mengusap photo Ara yang ada di samping photo keluarga.
Saat tengah menatap gambar Aufia, Rafa menemukan kertas yang ada di meja belajar Aufia yang tertutup buku tebal, yang Rafa tidak sengaja menyenggol nya menjadikan buku itu bergeser.
Rafa mengambil kertas itu dari bawa buku tebal yang menutupi nya, Rafa membuka kertas itu, kertas yang bertuliskan.
Jam 18:00
Kamar Raufia Abraham Hendarso..
Dua hari aku membolak balikan pikiran ku untuk keberangkatan ku ke Kairo untuk mengejar cita cita ku, Aku sudah siap dan matang untuk pergi kesana menimbah ilmu yang banyak..
Tapi entah kemana aku rasanya sangat tidak ingin meninggalkan Umi di rumah hanya dengan Abi, Umi sudah sangat sedih saat kak Aisya pergi menimbah ilmu di negara yang lain. Apa kau juga sanggup untuk pergi.
__ADS_1
Aku merasa kepergian ku akan cukup lama, bukan hanya 4 atau 8 tahun, aku merasa mungkin cukup sangat lama aku akan kembali, mungkin kepergian ku juga akan menjadi luka di hati Umi.
Aku pergi untuk kembali, bukan pergi untuk tidak kembali...
Surat ini akan aku simpan di kamar ini, jika sewaktu saat aku pergi aku sudah meyakinkan kalian aku akan kembali. Aku pergi membawa luka dan aku kembali membawa bahagia."
Rafa melipat kembali kertas yang di temukan setelah dia membaca isi surat yang dia temukan di kamar Aufia. "Ternyata kamu sudah merasa akan terjadi sesuatu kepada kamu nak!! Tapi kenapa kamu malah nekat pergi" batin Rafa dengan kembali menyimpan kertas yang dia temukan di tempat semula.
Rafa keluar dari dalam kamar Aufia kini dia kembali ke kamar nya, dia melihat Ara yang sudah tertidur di ranjang mereka. Rafa mendekat kearah Ara mencium kening Ara berulang kali.
Rafa ikut berbaring di samping Ara dengan memeluk Ara begitu sangat erat, mencari kenyamanan di dalam tubuh Ara. Tidak lama Rafa ikut Ara ke alam mimpi.
Baru saja Rafa memejamkan mata nya dia mendengar suara Ara yang memanggil Aufia, Rafa juga mendengar kalau Ara seperti berbicara dengan Aufia, Rafa membuka mata nya dia melihat Ara masih memejamkan matanya.
"Ternyata kamu mengigau Mi, Maafkan Abi, Mi ini semua gara gara Abi yang enggak mendengarkan Umi"
Rafa mengusap rambut Ara dengan lembut dan sayang berharap Ara kembali tenang dalam tidurnya dan benar saja Ara kembali tenang dalam tidur nya.
Rafa menatap jam yang tergantung di dinding sudah waktu nya sholat, Rafa turun dari ranjang dia berjalan kearah kamar mandi untuk mandi lalu sholat.
Satu jam berlalu Rafa sudah menyelesaikan Sholatnya dia tidak langsung beranjak dari duduk nya setelah sholat dan membaca Al Quran, Rafa berdoa untuk Aufia.
"Ya Allah, Yah Robb tunjukkan jalan yang terbaik kepada keluargaku!! beri petunjuk kepada Hamba di mana Putri hamba. Jika dia masih selamat pertemukan kami segera pertemukan kami agar kami bisa merawat nya, jika dia sudah ada di sisi mu pertemukan kami dengan tubuh nya ya Allah. Agar kami bisa memberi peristirahatan terakhir dengan layak"
Rafa bangun dari atas sajadah dengan tubuh yang lunglai mengingat surat yang Aufia tulis dan dia kembali ingat bagaimana Ara mencoba menghalangi Aufia pergi.
Rafa kembali duduk di tepi ranjang setelah membereskan perlengkapan sholatnya. Dia menatap Ara seakan dia menatap Aufia di dalam tubuh Ara. "Semoga Allah segerah menjawab doa kita Umi" Lirih Rafa.
__ADS_1