Di Paksa Menikahi CEO 2

Di Paksa Menikahi CEO 2
Masih Posesif.


__ADS_3

Seperti dugaan kalian, api yang sedang berkobar dari sorot mata pria itu langsung padam saat melihat bayi mungil di dalam gendongan dokter paruh baya itu, Martin tersenyum lebar dengan mendekati putrinya. Namun wajah Martin kembali cemberut saat dia melihat mata indah buah hatinya itu hampir saja tertutup sedikit topi yang ada di kepalanya.


      “Dokter bagaimana mungkin kau biarkan putri cantikku menderita seperti ini, lihatlah


matanya hampir saja tertutup topi,” gerutu Martin dengan membenarkan posisi


topi itu.


     “Ma. . maafkan saya Tuan muda karena bayi anda terlalu aktif,” dokter itu bicara dengan menundukkan kepalanya.


     Martin mengambil buah hatinya dan menggendongnya dalam dekapannya dia mengecup pipi putrinya yang


selama ini sudah dia nantikan selama delapan bulan lamanya, “Hen!” panggil


martin dengan melirik kearah asistenya.


      “Jangan hukum saya tuan muda saya mohon,” dokter itu berlutut di bawah kaki Martin dengan tubuh berselimut keringat dingin di seluruh tubuhnya.


       “Ya Tuan muda,” Hen membungkukkan tubuhnya di belakang pria itu, sudah siap mendapatkan perintah yang akan di berikan Martin.


     “Berikan dia hadiah,” setelah bicara Martin masuk ke dalam ruangan di mana Keyla berada.


      Dokter paruh baya yang tadi berlutut di bawah Martin langsung mengangkat wajahnya karena kaget dengan ucapan Martin barusan. Kau tidak usah kaget dokter karena CEO memang seperti itu dia tidak bisa membedakan bagaimana mengancam orang dan memberikan hadiah karena CEO hanya tau itu semua sama hingga tidak heran


jika banyak orang yang salah mengartikannya.


     Martin masuk ke dalam ruangan itu dia melihat Keyla masih berbaring di atas ranjang pasien tubuh wanita itu terasa begitu lemas bahkan sekujur tubuhnya terasa kaku semua

__ADS_1


setelah melahirkan dengan normal. Semua dokter wanita yang tadi membantu


persalinan Keyla berdiri berjejer dengan rapi di tengah ruangan itu dengan membungkukkan kepala mereka dengan penuh hormat.  Asisten Hen mengeluarkan Cek yang ada di daku dalam jas hitamnya dia menuliskan nominal yang begitu besar dalam cek tersebut dia memberikannya pada semua dokter yang tadi ikut menangani persalinan dengan membungkukkan badanya. Hen sangat berterimakasih pada para dokter itu sebab mereka menjalankan tugasnya dengan baik.


       “Terimakasih Tuan muda, Nona muda. Kami permisi keluar dulu.” Ucap salah satu dokter mewakilkan semua rekannya berbicara dan mereka berjalan keluar dari ruangan itu


tanpa menimbulkan suara langkah kaki sepatu mereka.


        DI luar ruangan.


       “Hei lihatlah ini, aku bahkan harus satu tahun berkerja untuk mendapatkan banyak uang seperti ini,” ucap suster yang masih muda yang tadi ikut membantu persalinan Keyla.


     “Lihatlah ini aku bahkan harus tiga tahun berkerja jika ingin mendapatkan gaji sebanyak itu,” sahut dokter yang tadi mengendong bayi Martin. Dokter itu dengan bangganya pamer di hadapan teman lainnya.


      Martin tidak pernah tanggung-tanggung jika memberikan hadiah pada seseorang walaupun kejam namun Martin juga sangat royal dan sangat menghargai kerja kerasa seseorang apa lagi orang itu membantu persalinan istrinya.


       Martin memberikan anaknya pada Keyla untuk di berikan Asi namun saat Key mau


       Martin menatap kearah asisten Hen, Dikra dan juga Michael. Kedua orang itu sudah tau dengan maksud Martin yang selalu saja tidak memperbolehkan seseorang pria melihat tubuh istrinya, namun Michael yang masih kecil belum mengerti akan hal itu dengan


polos dia bertanya pada Martin apa yang akan terjadi kenapa dia di suruh keluar. Tidak banyak bicara Martin mengandeng tangan anak lelakinya itu dan mengajaknya keluar dari ruangan itu dengan berdalih sekarang waktunya sarapan pagi. Padahal ini masih terlalu pagi untuk mereka melakukan sarapan namun Dikra, asisten Hen, Michael mengiyakan saja ucapan Martin karena mereka tidak ingin berdebat di dalam rumah sakit.


     Miranda mengecup pipi bayi kecil itu


beberapa kali dia begitu gemas saat melihat bayi kecil yang ada di dekapan Keyla, Jeni juga tak henti menggerutu ingin mengendong bayi kecil itu Keyla segera memberikannya setelah dia selesai memberikan bayi itu asi. Jeni begitubgemas dan dia menaruh bayi itu di dalam gendongannya dan Miranda juga


menciumnya sekali lagi beberapa saat kemudian bayi itu tertidur karena dia sudah

__ADS_1


merasa perutnya kenyang setelah di berikan makananya. Jeni menaruh bayi itu di


dalam tempat tidur bayinya.


       Di depan ruangan Martin ada banyak penjaga yang berjaga di sana dan di lobby juga banyak penjaga semua di awasi dengan ketat bahkan orang yang mau masuk ke dalam rumah sakit harus di periksa terlebih dahulu untuk menjaga keamanan Keyla.


           


Keesokan harinya Keyla sudah boleh pulang ke rumah mereka, semua wartawan sudah menunggu di luar rumah sakit mereka menerima kabar ini karena Martin sendiri yang menginginkannya dia sangat bahagia atas kehadiran buah hatinya dengan kekurangan suatu apapun. Keyla mengendong putri kecilnya yang di beri nama Keyzia Kwang.


Awalnya Keyla tidak menyetujui akan naman tersebut karena hampir mirip dengan namanya namun pria itu untuk pertama kalinya tidak perduli dengan apa yang Keyla ucapkan karena Martin begitu mencintai kedua Key itu. Hingga Keyla hanya bisa mengiyakan keinginan suaminya dengan berat hati karena Keyla berpikir percuma saja dia marah Martin tidak akan pernah merubah keinginannya itu.



Keyla mengendong Keyzia dalam pelukannya Martin melingkarkan tangannya di bahu istrinya, semua pengawal memberikan batas lagi para wartawan agar tidak berdiri terlalu dekat dengan Majikannya. Martin bicara dengan nada arogan namun itu justru membuat semua wanita yang melihat siaran langsung dalam tv di rumah mereka tergila\-gila dengan ketampanan Martin dan sikapnya yang sangat penyayang jika pada keluarga.



Kediaman Henden.



Henden mengepalkan tangannya saat melihat wajah Martin dan juga keluarganya muncul di televisi namun Henden tersebut saat melihat Keyla yang berada di samping orang yang sangat ingin dia bunuh.



"Aku akan merebutnya dari mu Martin, dia lebih pantas bersamaku!" Henden bicara dengan berdiri dari posisi duduknya.

__ADS_1



Pria itu membanting televisi yang ada di hadapannya ke lantai pualam di dengan kasar sampai kaca televisi itu pecah. Semua pengawal yang mendengarkan kegaduhan dari dalam kamar majikanya segera berlarian memasuki kamar Henden.


__ADS_2