
“Apakah benar yang kau katakana itu Pa?” Jeni sampai teriak kegirangan karena mendengar kabar jika Keyla sedang hamil dua minggu.
Menutup mulut istrinya karena takut jika Miranda akan bangun saat mendengar kegaduhan dari luar kamarnya, “Kecilkan suaramu itu Sayang, nanti Miranda bangun,” setelah melihat anggukkan pelan kepala istrinya itu barulah Dikra melepaskan tangannya dari mulut sang istri.
“Benarkah yang kau katakana barusan Pa,” Tanya Jeni untuk yang kedua kalinya bahkan wanita itu terlihat antusias dengan apa yang akan di ucapkan oleh suaminya dia sampai
membuka telinganya itu lebar-lebar.
“Iya, Adikmu sedang hamil dua minggu besok berikan kabar ini pada Miranda agar anak itu tidak khawatir lagi dengan kondisi Keyla,” imbuh Dikra dengan berjalan membuka pintu kamar putrinya itu.
Tak lama kemudian Jeni ikut masuk ke dalam kamar Miranda dan malam ini mereka akan menemani Miranda tidur bersama karena takut jika gadis kecil itu akan bermimpi buruk lagi.
Rumah Martin.
Pagi hari yang cerah Martin berjaga semalaman dengan Michael putranya. Kedua pria itu tak bisa tidur sebelum melihat wanita yang mereka sayangi bangun dari tidurnya bahkan Michael terlihat sudah menguap beberapa kali, Martin menyuruh putranya itu
untuk tidur karena nantik dia harus pergi ke sekolah namun Michael masih bersih
keras ingin melihat Mom nya dulu bangun dari tidurnya dan setelah itu dirinya
bisa pergi tidur.
Martin hanya bisa diam karena sikap bocah kecil itu sama dengan Martin jika di larang maka akan semakin menjadi, Martin baru mengetahui jika sikapnya selama ini begitu menjengkelkan dan entah bagaimana asisiten Hen bisa bertahan selama ini berada di sampingnya tanpa mengeluh sedikitpun.
Keyla mulai mengerak-ngerakkan pelan matanya yang masih terpejam, wanita itu mulai mengeryip-ngeryipkan matanya mencoba menyesuaikan cahaya yang baru saja masuk ke dalam kornea matanya. Keyla menyapu seisi rua ga itu dia menyadari jika itu adalah kamarnya. Martin dan Michael segera duduk di sisi ranjang Keyla saat wanita itu sudah mulai membuka lebar matanya.
“Kalian sudah bangun di jam segini?” Tanya Keyla setelah lebih dulu melihat jam dinding yang ada di tegah kamarnya itu.
“Kami belum tidur dari semalam Mom,” Micahel menimpali dengan menguap. Bahkan mata anak kecil itu kini mulai terlihat memerah karena dia menahan rasa kantuk itu
semalaman.
“Kenapa kau tidak tidur sayang,” ucap Key dengan mendudukkan tubuhnya di ranjang dengan mata menatap ke arah putranya itu. Anehnya tubuh key di pagi hari itu tidak merasakan lemas sedikitpun bahkan dirinya seperti sudah terbiasa dengan darah yang dia lihat di restoran kemarin siang.
“Aku menunggu Mom sampai sadar lebih lagi sekarang ada calon adik ku di dalam sana,” ucap Micahel dengan mengusap pelan perut Keyla yang masih terlihat rata.
Keyla langsung melotot seolah wanita itu sedang kebingungan mencerna apa yang anaknya itu katakan barusan, Key mengeryitkan dagunya menatap ke arah sang suami yang sedang duduk di belakang putranya.
“Benar apa yang di ucapkan Michael jika kau sekarang sedang hamil sayang,” Martin menimpali apa yang di ucapkan oleh anaknya tadi dengan berdiri dari posisi duduknya.
“Sudah jangan bermesraan di depan anak kecil seperti diriku,” Michael langsung memasang wajah datar dan berdiri kasar dari posisi duduknya.
Michael sudah tau jika Martin akan mencium kening Keyla sehingga anak kecil itu lebih memilik ke luar dari kamar itu agar tidak menganggu keduanya lagi. Keyla menatap ke arah Michael dengan wajah datar sedangkan Martin melanjutkan niatnya tadi untuk duduk di samping istrinya itu setelah pintu kamar tertutup kembali dan kini hanya ada mereka berdua yang ada di sana.
Anehnya Martin seperti tidak merasakan nyeri sedikitpun pada luka di lengan kirinya itu. Seperti CEO Martin sudah terbiasa dengan luka seperti itu tapi jika di lihat dari tubuhnya yang terlihat mulus tanpa sebuah luka goresan sedikitpun dia terlihat tidak pernah terluka sebelumnya.
Di lantai Bawah rumah Martin.
__ADS_1
Asisten Hen berjalan masuk ke dalam rumah megah dan mewah itu, sepanjang jalan asisten Hen di suguhkan dengan banyak pelayan rumah tersebut sedang sibuk membersihkan setiap sudut rumah CEO Martin. Ya para pelayan rumah itu menyapa asisiten Hen setiap pria itu berada di hadapan mereka dan seperti biasanya asisiten itu selalu memeasang wajah datar tanpa seulas senyuman pun di wajahnya.
Tanpa bertanya lebih dulu pada para pelayan yang menyapanya tadi, asisiten Hen langsung naik ke atas tangga rumah itu dan langsung menuju ke kamar Martin. Ini memang masih terlalu pagi untuk membicarakan bisnis bahkan senja saja masih menghiasi indahnya langit pagi hari itu. Ini semua karena perintah dari CEO Martin yang menyuruh Asisiten Hen datang ke rumahnya pagi hari pasti ada sesuatu hal yang penting sampai majikannya itu menyuruhnya datang di pagi buta seperti ini.
Tok. . tok. .tok! Ketuk Asisiten Hen dari depan pintu kamar CEO Martin beberapa kali, setelah mendapat jawaban dari dalam kamar tersebut asisten Hen segera masuk membuka pintu kamar itu perlahan dan setelah berada di dalam pria itu langsung menutup pintu kamar itu kembali.
“Pagi Nona muda bagaimana kabar anda?” sapa Asisiten Hen pada Keyla dengan membungkukkan badannya sembari terlihat seulas senyuman di bibirnya.
“Kabarku baik, bagaimana apakah ada yang terluka karena pertengkaran kemarin?” tanya Keyla dengan masih menyandarkan punggungnya di tempat tidurnya itu.
"Aku yang sedari tadi berada di sampingnya saja dia tak bertanya tentang luka tembakan di lenganku, tapi giliran asisiten Hen datang dia langsung menayakan kabarnya. Habis kau asisiten Hen jika sampai
istriku lebih memperhatikan dirimu dari pada aku!" sorot mata CEO Martin
menatap asisiten Hen dengan alis hampir menyatuh solah-olah menunjukkan jika
dirinya sedang merasa terganggu dengan perhatian yang di berikan Keyla
pada asistenya itu.
Asisten Hen sangat mengerti dengan sangat jelas apa arti dari sorot tajam majikannya itu, sampai asisiten Hen menundukkan kepalanya pria itu lebih memilih menatap lantai marmer rumah Martin dari pada harus menatap sorot maja yang seakan hendak mencabik-cabiknya tubuhnya hidup-hidup.
"Nona muda saya mohon, jangan menatap saya seperti itu dan lebih lagi saya akan berterimakasih jika anda tidak
menghawatirkan saya setelah hati ini, itu akan menyelamatkan saya darii rasa
hal tentang anda," Asisten Hen mengerutu dalam hati dengan masih menundukkan
pandangannya.
“Saya baik-baik saja Nona muda, yang terluka ialah CEO Martin bisa anda lihat bekas tembakan di lengan kirinya itu,” ucap asisiten Hen mencoba mengalihkan topic perbincangan mereka pagi hari itu.
Ini masih pagi dan pagi yang cerah ini akan musnah jika CEO Martin mulai terganggu seperti ini bahkan dengan sorot tajam pria itu bisa membunuh orang hanya dengan satu jentikan jarinya saja.
“Asisten Hen, apa kau tau kenapa aku memanggilmu ke sini?” Tanya Martin dengan melingkarkan tangan kanannya di pundak istrinya itu Keyla hanya diam saja dan tidak merasa terganggu sedikitpun.
“Saya tau, anda ingin mengetahui bagaimana Nona Muda bisa menembak,” jawab Asisten Hen karena apa yang ada di dalam pikiran majikannya itu sangat mudah di tebak.
“Kau pintar juga,” nada suara terdengar dingin dan wajah datar yang cukup membuat asisten Hen merasa serbah salah.
“Kau keberatan jika aku bisa bermain pistol!” Keyla menyambar ucapan Martin dengan bibir mengerucut bahkan wanita itu mulai menepis kasar tangan suaminya yang berada di pundaknya saat ini.
Keyla menceritakan pada Martin jika dirinya sudah mengerti apa perkerjaan Martin selain menjadi CEO di prusahaan Mk group. Martin sangat terkejut pada awalnya namun
Key mencoba memberitahukan pada Martin jika tidak seharusnya anak seumuran Michael
di ajari memainkan pistol sungguhan dan selama bicara CEO Martin hanya bisa
__ADS_1
diam dengan menundukkan pandanganya seperti seorang anak yang sedang di marahi
oleh orang tuanya.
Lihat itu asisten Hen sampai memerah wajahnya karena dia sangat tidak tahan ingin sekali tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah CEO Martin pagi hari ini. Orang yang
sangat di takuti di seluruh kota tapi tak dapat di percaya pria itu malah begitu takut jika sudah mendengar sang istri mengomel bahkan CEO Martin hanya diam
tanpa mengeluarkan suaranya sedikitpun sepertinya Keyla memang pawang bagi CEO
MAFIA itu. Hati-hati asisiten Hen kau
bisa kena masalah besar jika sampai Martin mengetahui kalau kau diam-diam
merasa bahagia saat pria itu sedang mendapatkan siraman rohani dari istrinya
kau akan di habisi saat ini juga.
“Kau masih mau marah dengan asisiten Hen?” tanya Keyla dengan bibir mengerucut.
“Aku tidak marah dengannya,” CEO Martin mencoba menenangkan istrinya itu. “maafkan aku sayang karena aku tidak memberitahukan semuanya padamu dan aku memang sengaja menyuruh Michael bermain pinstol karena aku ingin anak itu bisa menjaga dirinya jika
dalam keadaan darurat seperti kemarin,”
“Maafkan saya tuan muda karean tidak memberitahukan kepada anda terlebih dahulu,” ucap asisten Hen dengan membungkukkan badanya dari bawah tempat tidur.
“Mulai sekarang jangan pernah bermain pistol lagi!” Perintah pria itu dengan berdiri dari ranjang.
“Kenapa tidak boleh?” Tanya Keyla dengan penasaran.
“Kau bermain pistol ku saja, tak perlu memegang pistol lain,” ujar Martin dengan menatap ke arah Keyla dari posisinya berdiri.
“Apa,” tanpa sadar asisten Hen yang kaget setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh CEO
Martin tanpa sadar langsung melontarkan kata tersebut.
"Ya tuhan aku sedang dalam bahaya besar kenapa aku bisa lancang seperti ini habis aku," gumam pria itu dalam hati dengan wajah pucat pias.
Martin yang tadi sedang menatap ke arah Keyla langsung melirik tajam ke arah asistenya itu.
BAGAIMANA
KELANJUTAN CERITANYA SETELAH INI IKUTIN TERUS YA. KASIHAN SEKALI NASIB ASISITEN HEN PAGI HARI INI DIA PASTI SEDANG OLAH RAGA JANTUNG DECH. .
JANGAN LUPA BACA KELANJUTAN CERITA DARI NOVEK, "PERNIKAHAN KONTRAK AILIN."
KHAIRIN NISA SENGAJA UPDATE CUMAN SATU EPISODE SATU HARI KARENA JUMLAH KATANYA SEBENARNYA SAMA SEPERTI DUA EPISODE.
__ADS_1
JANGAN LUPA IKUTI AKU MANGATOON KHAIRIN YA. DAN JANGAN LUPA FOLLOW JUGA IG KHAIRIN NISA. KARENA JIKA NOVEL PERNIKAHAN KONTRAK AILIN SUDAH SAMPAI 15 M PEMBACA KHAIRIN AKAN ADAKAN GIVEAWAY LAGI NIC. .