
Rumah CEO Martin.
Michael masih duduk di teras rumah dia tidak sendirian karena banyak pengawal yang menjaganya di sana. Anak lelaki itu masih memikirkan bagaimana nasib adik dan juga ibunya di luar sana matahari mulai tenggelam karena sekarang hampir pukul enam sore namun masih juga belum ada kabar tentang Keyla dan juga adiknya bahkan Martin juga tidak ada kabar.
Michael tidak mau makan apapun sejak tadi siang dia bahkan tidak menyentuh makan siangnya selera makannya seakan hilang bersama dengan menghilangnya adik dan juga ibunya. Michael sangat takut sesuatu terjadi pada adik dan juga ibunya anak itu tak berhenti menatap ke arah gerbang utama hingga berjam\-jam lamanya namun belum juga ada satu mobil yang melewatinya hari semakin larut lampu yang ada di halaman rumahnya sudah mulai menyala karena hari sudah gelap.
Di dalam restoran.
Martin mengajak anak buahnya singgah di salah satu restoran untuk makan. Restoran itu terlihat ramai sampai ruangan makan itu tak bisa menampung semua pengawal Martin karena jumlahnya ada ratusan sedangkan rumah makan itu hanya bisa menampung kurang dari seratus orang sehingga banyak pengawal Martin yang makan di luar restoran dengan menggunakan alas seadanya bagi mereka tidak jadi masalah asalkan rasa lapar mereka bisa hilang.
Martin melihat ke arah layar ponselnya di sana ada foto dua Key. Martin terus melihat ke arah layar ponselnya dengan rasa rindu yang tidak bisa dia sembunyikan dari sorot matanya. Biasanya di jam seperti ini Martin sudah pulang kerja dan dia akan mengendong anaknya itu namun ini sudah hari ke empat Martin tidak melihat Keyzia hal itu membuatnya menahan rindu yang sangat dalam bahkan Martin tak mempunyai minat untuk menyentuh makanan yang ada di hadapannya saat ini.
Asisten Hen ikut sedih melihat apa yang Martin rasakan saat ini. Karena selama menjadi asisten Martin pria itu tidak pernah melihat Martin frustasi seperti sekarang, Martin seakan kehilangan hidupnya saat ini hatinya terasa sepi.
__ADS_1
"Tuan muda makanlah walaupun sedikit saja, sebentar lagi Lean akan datang dan memberitahukan kita di mana Markas Henden," ucap Asisten Hen dengan menaruh nasi di piring putih yang ada di depan Martin.
Asisten Hen juga menaruh ikan bakar di piring Martin karena itu makanan favorit majikanya selama ini.
"Kau tau asisten Hen," bicara dengan menatap ke arah ikan bakar yang ada di hadapannya. "istriku sangat pintar jika memasak ikan hingga rasanya sangat lezat."
Asisten Hen tertunduk sedih saat dia melihat mata CEO Martin berkaca\-kaca saat ini. CEO Martin tidak mengungkapkan kesedihannya namun dia sudah menjelaskan semuanya dari tingkah laku dan juga wajahnya yang kelihatan acak\-acakan seperti sekarang dia tak perduli dengan penampilan yang penting baginya adalah menemukan anak dan juga istrinya di manapun mereka berada.
Semua pengawal yang tadi sedang menikmati makanan mereka serentak berdiri masal dari posisi duduknya, Lean tak gentar dia terus maju karena asisten Hen masih tersambung di telepon yang sedang dia genggam saat ini. Satu orang berjalan mendekati Lean, Lean memberikan telepon itu pada pengawal yang ada di hadapannya setelah mendengarkan ucapan Asisten Hen di telepon pengawal itu membiarkan Lean masuk ke dalam.
Kini Lean sudah berada di dalam restoran dia berjalan mendekati CEO Martin.
"Maafkan saya karena datang terlambat," pria itu bicara dengan membungkukkan badannya di hadapan CEO Martin hormat.
__ADS_1
"Beraninya kau bica," asisten Hen hendak melayangkan satu tinjunya di hadapan pria itu namun CEO Martin menghentikannya.
Asisten Hen hanya bisa menahan kekesalannya dalam hati, Lean sedang berada di luar kota karena menjenguk saudaranya yang sakit jadi wajar jika pria itu tidak mengangkat beberapa panggilan telepon dari asisten Hen tadi.
"Kau pasti tau di mana Markas pria itu?" tanya CEO Martin dengan tangan terkepal kuat hingga membentuk tinju.
"Markasnya sangat banyak tuan muda, tapi ada satu yang sering dia kunjungi jika sedang ingin menyendiri," sahut Lean apa adanya.
"Asisten Hen suruh semua pasukan bersiap perintahkan mereka untuk menghabisi apa yang ada di hadapannya tanpa sisah! Hancurkan orang yang sudah berani menganggu ketenangan keluargaku agar kelak tidak ada orang lagi yang berani melakukannya untuk yang kedua kalinya."
Martin bicara dengan mata masih menatap ke layar ponselnya. Dia melihat senyum anak dan juga istrinya di sana dan berharap mereka akan baik\-baik saja.
JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL KHAIRIN YANG BERJUDUL "SANG PENAKLUK 2."
__ADS_1