Di Paksa Menikahi CEO 2

Di Paksa Menikahi CEO 2
Sebuah Kenyataan.


__ADS_3

Martin masuk kedalam ruangan tersebut dengan wajah panik bukan main. Martin berjalan mendekati ranjang istrinya, rasa takut dan juga rasa cemas terpancar dari raut wajah tampan Martin. Martin membayangkan sesuatu yang buruk telah terjadi pada Keyla hingga wanita itu memejamkan matanya setelah bertemu dengan Jeni. Pikiran buruk itu terus menerus berterbangan di benak Martin. Martin segera menghentikan langkahnya di samping ranjang Keyla.


"Sayang bangunlah, apa kau baik-baik saja?" Tanya Martin sembari menggoncang kasar tubuh kurus Istrinya yang sedang memejamkan matanya itu.


Plap!


Beberapa detik berikutnya Keyla membuka matanya lebar-lebar dia menatap Martin dengan wajah merenggut. Kepala Keyla masih terasa pusing karna benturan semalam pantaslah wajah Keyla terlihat di tekuk seketika saat menatap Martin. "Aku baik-baik saja Kak." Ujar Keyla pelan.


Sebenarnya Keyla ingin sekali memaki suaminya saat itu karna sikapnya yang terlampau berlebihan, namun Keyla mengurungkan niatnya karena dia tau jika saat ini Martin sangat khawatir padanya hingga pria itu selalu bersikap berlebihan saat melihatnya sedang dalam kondisi yang sulit. Keyla menatap wajah khawatir suaminya itu perlahan mulai hilang saat melihatnya membuka mata.


"Sayang, maafkan aku apakah aku tadi menyakitimu?" bisik Martin ditelinga Keyla sembari memeluk tubuh kurus Istrinya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Tidak masalah sayang, aku tau kau hanya tidak ingin jika sampai aku kenapa-kenapa!" Jelas Keyla sembari memeluk balik tubuh suaminya itu.


"Kak Jeni bicara sesuatu padaku?" Ucap Keyla saat Martin sudah melepaskan pelukannya.


"Dia bilang apa!" Jawab Martin sembari memegangi tangan Keyla yang tidak terlilit infus itu.


"Kakak ingin tingal di rumah kita," Jawab Keyla pelan.

__ADS_1


Wanita itu sangat tau jika Martin akan marah setelah mendengarkan ucapannya barusan! Jangankan untuk satu rumah dengan Keyla, bahkan Martin masih mengawasi Jeni dengan sangat ketat pria itu kini semakin posesif pada Keyla setelah melihat kondisi Keyla tergeletak dipinggir jalan semalam bahkan Martin masih mengontrol dirinya agar tidak sampai lepas kendali dan membunuh Jeni saat berada dihadapannya.


Martin dan Keyla berbincang cukup lama membicarakan akan permintaan Jeni pada Keyla. Keyla berbisik di telinga Martin cukup lama entah apa yang Keyla bicara pada suaminya itu karna Martin hanya diam sembari mendengarkan apa yang sedang istrinya jelaskan tersebut.


"Baiklah jika itu mau mu! Jeni akan tingal dengan kita tapi tidak sekarang." Ucap Martin sembari kembali duduk di posisinya semua.


"Terimakasih sayang," Ucap Key sembari mengerdipkan sebelah matanya mencoba untuk menggoda suaminya itu. Martin hanya bisa tersenyum melihat tingkah imut istrinya. Martin memang selalu memanjakan Keyla tapi bukan berarti Martin tidak pernah marah pada Keyla. Namun Martin menyadari jika istrinya memang masih dalam masa remaja.


_ _ _ _


Kediaman Jordan Hans.


Sinta, Jordan dan Jeni tengah duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumahnya. Tak ada satu orangpun yang bicara terlihat pelayan rumah tersebut datang membawakan nampan berisikan tiga cangkir kopi pelayan tersebut menaruh tiap cangkirnya dihadapan majikanya setelah selesai dengan tugasnya pelayan tersebut segera pergi karna dia merasa jika hawa dingin tersirat dari wajah Sinta dan Jordan.


Sedangkan Sinta hanya bisa diam dan menatap lurus kedepan. Jeni hanya bisa menundukkan kepalanya karna dia tau jika kedua orangtuanya kini sedang marah padanya.


Dulu sebelum Jeni meninggalkan rumah ini semua terlihat sangat sedih bahkan Jordan tak pernah bersikap kasar pada Jeni begitu juga dengan Sinta. Rumah yang dulu terlihat tenang dan nyaman itu kini berubah menjadi suram dan dingin akhibat apa yang dilakukan pada Jeni pada adiknya. Kini kasih sayang yang biasanya Sinta dan Jordan tunjukkan pada Jeni sudah tidak terlihat lagi yang ada hanyalah rasa benci dan marah yang terpancar dari raut wajah kedua orangtuanya.


Orang tua mana yang tidak marah melihat Kakak kandungnya sendiri rela memukul adiknya demi laki-laki lain sungguh ironis kan hal itu yang kini sedang terjadi didalam keluarga Hans.

__ADS_1


"Jen! Apa niatmu kembali ke kota ini hanya untuk menyakiti adikmu?' Tanya Jordan sembari menatap Jeni dengan wajah merah padam. Tangan Jordan terlihat mengepal perlahan membentuk sebuah tinju amarah itu sangat jelas terlihat, api yang ada dalam hati Jordan itu meledak ledak seperti hendak melahap anak bungsunya itu.


"Aku tidak menyangka kalian akan menikahkan Key dengan pria yang aku cintai! Aku tidak bisa menerima ini semua dengan mudah Pa, Ma." Jeni bicara sembari meneteskan air matanya rasa sakit dan dibohongi jelas terbaca dari air mata Jeni kala itu.


"Jen, Keyla adalah adikmu Nak, mana bisa kamu berniat untuk menghabisinya. Key tidak mengetahui akan kisah cinta antara kamu dan Martin di masa lalu." Imbuh Sinta bicara dengan gayanya yang terdengar lembut namun juga menunjukkan jika dia sangat keberatan dengan apa yang dilakukan oleh Jeni pada Keyla namun Sinta tidak ingin bicara kasar pada anak sulungnya itu.


"Apa maksudmu Ma, Key tidak tau jika selama ini orang yang aku cintai adalah suaminya!"


Deg!


Seperti ada tinjuan keras yang mengenai jantung Jeni. Jani mencoba mengobrak abrik memori internal yang tersimpan di otaknya satu tahun yang lalu, Jeni menundukkan kepalanya sembari mencari sesuatu yang sempat ia lupakan ya itu adalah perbincangannya dengan Keyla waktu membujuk adiknya saat merajuk malam hari itu.


Satu tahun yang lalu Keyla marah pada orang tuanya dan Jeni mengikuti Keyla masuk ke kamarnya. Di dalam kamar Keyla Jeni, bicara' jika Jeni mencinta seorang pria yang kaya dan juga tampan. Yang Jeni cintai adalah orang nomor satu di kota tersebut namun saat Keyla tanya siapa nama pria itu! Jeni tidak memberitahukan ya dan menyuruh Keyla untuk istirahat.


Jeni tak mengubris jika saat itu adiknya merasa kesal dan jengkel Jeni beranjak dari ranjang Keyla dan segera mematikan lampu kamarnya dan Jeni berlalu pergi.


"Ma, Pa, apakah benar yang kalian ucapkan tadi? Key tidak mengetahui akan hal ini?" Tanya Jeni sembari meneteskan air matanya dia sangat menyesal karna kecerobohannya hampir membahayakan nyawa calon keponakannya.


Jordan dan Sinta diam tanpa bicara menatap kearah Jeni dengan wajah serius. Itu menandakan jika apa yang jeni dengan tadi Ialah benar adanya.

__ADS_1


Jeni menutupi wajahnya dengan kedua tangannya rasa penyesalan itu terlihat nyata dan tidak dibuat-buat awalnya Jeni mengira jika Keyla dengan sengaja menikahi pria yang dia cintai tapi siapa sangka jika hal buruk yang Jani pikiran itu tak sesuai dengan kenyataannya memang waktu itu Jeni emosinya sedang tidak baik jadi dia secara sadar melakukan penganiayaan itu terhadap adiknya.


Jikalau Jeni tau sejak awal tentang kenyataan ini mungkin Jeni tidak akan melakukan tindakan keji itu terhadap adik kesayangannya. Jordan dan Sinta sebenarnya tak tega melihat kondisi Jeni saat ini namun apalah daya Jeni harus tetap menerima kenyataan jika pria yang dia cintai kini telah menikah dengan adik kesayangannya.


__ADS_2