
Dikra yang melihat istrinya sedang bersedih tidak tega melihatnya bahkan dari raut wajah Jeni kala itu kelihatan sangat frustasi, Dikra menghampiri istrinya dan segera memeluk wanita itu sesaat hingga akhirnya dikra mengajak Jeni duduk di sofa yang ada di dalam ruang kerjannya. Setelah Jeni duduk Dikra berdiri dari duduknya dan mengambilkan Jeni air mineral.
Apakah dia sudah tau tentang rencana ku pindah dari kota ini. Ya pastilah hal itu yang membuatnya sampai menangis seperti ini.
"Minumlah," ujar Dikra dengan menyodorkan satu gelas air mineral itu di hadapan Jeni.
Tanpa bicara Jeni langsung meminum air itu, setelah air dalam gelas itu habis Jeni menyodorkan kembali gelas kosong tersebut pada Dikra, dan Dikra segera menaruhnya di atas meja. Dikra duduk di samping Jeni dengan memegangi kedua tangan istrinya. Belum sempat Dikra bertanya apa yang terjadi padanya Jeni sudah memeluknya dengan isak tangis dan air mata yang jatuh begitu deras menetes bergantian di kedua pipinya. Dikra memeluk lembut istrinya dengan tangan pria itu mengusap lembut punggung Jeni. Dikra diam sesaat karna dia tau jka pasti ada masalah dengan istrinya sampai wanita itu menangis tersedu-sedu dalam pelukannya lebih lagi masalah itu mengenai rencananya tersebut.
Dikra tidak mau bertanya saat ini, dia membiarkan wanita dalam pelukannya itu terlihat tenang lebih dulu nantik setelah Jeni merasa lebih tenang baru Dikra akan bertanya pada istrinya itu. Dikra begitu menyayangi Jeni bahkan rasa cintanya tidak memudar sedikitpun.
"Ma, apa yang terjadi sampai kau sedih seperti ini?" Tangannya mengusap rambut Jeni pelan.
"Pa, apakah kita akan pidah dari kota ini dan tingal di Amerika?" tanya Jeni dengan mendongakkan kepalannya menatap ke arah Dikra.
Mengerutkan keningnya, "Kau sudah tau, dan itu memang harus terjadi Ma. Aku berharap kau selalu mendukung setiap langkahku karna aku melakukan semuanya demi keluarga kecil kita ini." Dikra bicara dengan wajah serius. "aku malu Ma, jika kita terus menerus mengandalkan bantuan dari CEO Martin untuk memperbesar perusahaan ini."
"Aku tidak bisa meninggalkan Keyla, Pa." Suaranya bergetar.
"Tapi kita harus, dan kita tidak bisa terus menerus meminta tolong pada CEO Martin, Ma." Pria itu bicara dengan nada suara terdengar tegas.
Jeni terdiam sesaat dia sedang mencerna apa yang di ucapkan oleh suaminya itu. Jika di pikir-pikir sangat benar apa yang di ucapkan Dikra barusan selama ini perusahaan mereka selalu bergantung pada Martin. Dan sudah saatnya bagi mereka untuk memperluas bisnisnya sampai ke luar kota itu adalah impian Jordan sejak dulu. Sebenarnya akan sangat mudah bagi Jeni maupun Dikra untuk memperluas bisnisnya tanpa harus pindah dari kota itu tapi, DIkra tidak mau terus bergantung pada nama CEO Martin.
__ADS_1
Jeni mengusap air mata di kedua pipinya, dia melepaskan pelukannya pada suaminya. Jeni sudah bisa memahami apa yang di ucapkan oleh Dikra. Jeni menganggukkan pelan kepalannya pada pria itu tanda jika dia tidak keberatan dengan apa yang sudah menjadi pilihan suaminya itu karna Dikra adalah kepala keluarga dan dia yang menentukan semuanya. Dikra sangat menyayangi Jeni adaikan Jeni menolak untuk pindah keluar kota maka pria itu akan menuruti keinginan istinya untuk tetap tinggal di Irlandia.
Dengan berat hati Jeni menuruti keinginan suaminya itu karna dia juga merasa sudah waktunya mereka berdiri sendiri tanpa mengandalkan nama CEO Martin.
Siang hari di rumah Martin.
Martin dan asisten Hen sedang bicara melalui telepon di dalam ruangan kerjanya mereka berdua sedang membicarakan tentang siapa pembunuh bayaran itu. Asisten Hen sudah menyelesaikan semuanya dan CEO Martin sangat beruntung karna memiliki asisten cekatan dan juga pintar dalam segala hal sepertinya. Hingga bisa di bilang asisten Hen memiliki wewenang yang sama dalam perusahaan itu dan tidak ada satu orang pun yang berani menentang ucapan asisten Hen kecuali dua orang yaitu Keyla dan Zenap Istri asisten Hen.
Sedangkan Miranda sedang menjaga baby Eve di dalam kamarnya. Miranda tidak sendirian karna Michael juga menemaninya namun Michael tidak berminat untuk menjaga baby Eve sehingga anak lelaki itu lebih suka bermain dengan mobil-mobilan yang di kendalikan dengan remot.
"Micahel. . Michael," panggil Miranda dari atas ranjangnya.
"Bisa kau jaga Baby Eve sebentar aku mau ke kamar mandi dulu karna perutku sakit," ucap Miranda dengan mengigit bibir bawahnya.
"Kau ini menganggu ku saja, sana cepat." Dia menatap ke arah Miranda.
Dengan berat hati Michael menaruh permainanya itu dan berjalan menuju ranjang Miranda. Baru saja gadis itu masuk ke dalam kamar mandi tapi Baby Eve sudah menangis sontak Michael langsung kebingungan melihat akan hal tersebut dia tak tau apa yang harus dia lakukan. Michael mengangkat baby Eve perlahan dari ranjang dengan keringat dingin di tubuhnya. Ini untuk pertama kalinya Michel mengendong seorang bayi kecil lihat itu dia sampai berkeringat dingin dan menelan ludahnya getir ketika mau mengendong Eve.
"Ya tuhan Miranda, kau lama sekali jika anak kecil ini aku biarkan menangis maka Mommy akan marah dan akan menyangka jika aku yang sudah mencubitnya nanti," gumam Michael dalam hati dengan terus menggerutu kesal.
Sekarang Michael sudah mengendong baby Eve dia menganyu-ayun anak kecil itu. Tapi Miranda yang sedang buang air besar tentu saja mendengar isak tangis Baby Eve yang semakin keras tapi apalah daya dia tak bisa berbuat apaun karna perutnya masih terasa sakit.
__ADS_1
MIchael semakin kebingunggan tak lama kemudian Martin yang sedang berjalan di depan kamar Miranda segera masuk ke dalamnya dia melihat Michael sedang mengendong Eve dengan mengayun-ayunkan badannya. Martin menghampiri putranya itu dengan senyum tipis di wajahnya, Micahel melihat Martin dan dia seakan bernafas lega karna dia tau jika setelah Martin mengendong Eve maka dirinya tak perlu repot-repot lagi mengendong bayi itu.
"Apa yang telah Kak Michael lakukan pada mu putri kecil," ucap Martin saat mengambil Eve dalam gendongan putranya itu.
Michael langsung melotot saat dia melihat Daddy nya bicara dengan begitu lembut pada Baby Eve. Setelah Martin mengendong bayi itu, Eve langsung diam karna Martin memberikan anak itu susu, ternyata tadi Baby Eve sedang mengantuk mangkanya dia menangis karna Michael tidak pernah mengaja seorang bayi jadi hal yang sangat wajar jika Michael tak mengerti apa yang Baby Eve butuhkan.
"Daddy apakah kau dulu juga menyayangi ku seperti ini?" tanya Michael dengan berdiri di depan Martin.
"Tentu saja Michael," jawab Martin.
"Saat semua anak kecil bermain pistol mainan, Daddy mengajariku bermain pistol sungguhan," bicara dengan sangat jujur sampai membuat Martin melotot kaget.
"Nanti Miranda dengar Kecilkan suaramu itu, kalau sampai Mommy mu dengar bisa di maki habis\-habisan nanti Daddy." Pria itu meloto pada anaknya.
JANGAN LUPA IKUTAN YA. DAN BAGI SIAPA YANG MAU IKUTAN KIRIM BUKTI JIKA KALIAN TELAH SELESAI FOLLOW IG KHAIRIN NISA YA.
ACARA INI AKAN DI MULAI TANGGAL 10 AGUSTUS NANTIK YA. 08993487652. KIRIM BUKTI FOLLOW YA KE NOMOR KHAIRIN NISA YA ☺️☺️☺️☺️
__ADS_1