
Mobil berwarna hitam mulai memasuki halaman rumah sakit yang pagi hari ini kelihatannsepi, Asisten Hen sudah berada di depan rumah sakit dengan banyak dokter dan
juga perawat yang akan membantun persalinan Keyla. Semua orang termasuk asisten Hen membungkukkan kepalanya saat mobil Martin berjalan mendekati mereka, suasana di rumah sakit itu pada pagi ini kelihatan tenang dan sepi tidak seperti biasanya di jam 05,30. Akan banyak orang yang lalu-lalang keluar masuk rumah sakit dengan membawa banyak makanan yang akan mereka santap di pagi hari tapi suasana ramai itu kini tidak terlihat lagi.
Kecuali dokter yang di tugaskan membantu persalinan Keyla dan juga banyak pengawal yang di tugaskan untuk menjaga setiap pintu yang ada di rumah sakit itu untuk menjaga jika ada hal yang tidak di inginkan. Martin turun dari dalam mobil dia bahkan
tidak menunggu asisten Hen menbukakan pintu untuknya bahkan asisten Hen yang
hendak membukakan pintu mobil untuk Keyla segera di hentikan oleh Martin karena
dia sendiri yang akan membukakan pintu untuk instinya Keyla yang sudah menahan
kesakitan di dalam mobil hanya bisa menghela nafas pelan saat melihat sikap
posesif yang di miliki oleh suaminya itu. Michael ikut keluar dari dalam mobil
anak itu terbangun saat mendengar kegaduhan dan teriakan Daddynya yang membuat para pelayan dan semua orang yang berada di rumahnya seakan terkena serangan jantung mendadak.
Flashback
Martin yang melihat wajah Keyla pucat pasih langsung menghubungi asisten Hen. Setelah pria itu menghubungi, Martin meraih remote yang ada di nakas samping tempat tidur keyla, remote itu berguna untuk menyambung ke semua rekaman cctv yang ada di dalam rumahnya, hingga jika Martin membutuhkan sesuatu tidak perlu keluar dari dalam kamarnya dan dia tinggal memencet tombol khusus pada remot dan saat berbicara langsung bisa di dengan semua orang yang ada di dalam rumahnya.
“Cepat bangun kalian semua, cepat menuju ke depan kamar ku jika terlambat aku habisi kalian semua!”
Semua pelayan dan juga pengawal yang sedang tidak bertugas di dalam rumah itu langsung bangun dari tidurnya saat mendengar nada ancaman mematikan yang keluar dari penguasa kota itu bahkan Jeni dan juga Dikra ikut bangun dari tidurnya karena kaget dengan suara Martin yang terdengar dari salon kecil yang terpasang di sudut
kamarnya bahkan Martin juga memasangnya di setiap sudut ruangan di dalam rumahnya hingga semua orang bisa mendengarnya dengan begitu jelas.
Di rumah sakit.
“Dokter selamatkan anak dan istriku awas jika berani menentang ucapanku!” Pria itu bicara dengan tatapan membunuh yang mampu membuat lutut dokter yang berada di depannya gemetaran saat ini.
Mengusap punggung lehernya yang sekarang mulai merinding karena mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Martin seakan membuatnya tertekan, “Ba. . baik Tuan muda.”
“Sudah sana cepat masuk istriku sedang kesakitan dan kau masih berdiri di depanku!”
Dokter paruh baya itu segera lari masuk ke dalam ruangan di mana Keyla berada sedangkan Martin, asisten Hen dan juga Michael menunggu di depan ruangan itu. Jeni dan juga Miranda di rumah sedang bersiap-siap menuju rumah sakit.
__ADS_1
“Dad,” panggil Michael dengan menatap kearah ayahnya.
“Hem,” Martin menjawab dengan masih menatap ke jendela kaca yang ada di pintu ruangan Keyla melakukan persalinan.
“Tidak bisakah Dad berubah, dokter tadi sebenarnya tidak salah karena Dad yang mengajaknya bicara hingga dokter itu mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan itu,” ucap Michael apa adanya.
“Sudah diam, aku sedang cemas dengan calon adikmu yang akan lahir,” ucap Martin dengan menatap kearah Michael. Michael hanya bisa menghela nafas pelan saat mendengarkan jawaban ayahnya itu sebab kembali ke poin pertama jika sultan mah bebas.
Asisten Hen tersenyum tipis melihat sikap Michael yang jauh lebih bijak dan juga tenang dari pada Martin dalam melakukan suatu hal bahkan anak kecil itu jauh lebih
dewasa dari usianya saat ini, asisten Hen juga memutuskan jika kelak anaknya akan mengantikan dirinya untuk menjaga Michael seperti yang dia lakukan selama ini. Setiap ada bahaya Hen akan berdiri di barisan terdepan untuk menghalangi bahaya yang akan menyentuh majikannya karena itulah istri Asisten Hen selalu saja ketar-ketir saat suaminya melakukan misi berbahaya yang
akan bisa membuatnya kehilagan pria yang dia cintai selama-lamanya namun itu
memang perkerjaan asisten Hen sejak awal jadi dia harus menerimanya dan
membantu dengan doa agar tuhan selalu melindungi suaminya jika sedang berkerja
dan melakukan tugas yang berbahaya.
30 menit kemudian.
“Om, bagaiman dengan Tante Key?” tanya Miranda dengan mencoba mengatur nafasnya.
“Dia masih di dalam, kau tidak perlu khawatir,” ucap Martin dengan mengusap puncak kepala gadis kecil itu.
Martin mengucapkan hal itu pada Miranda agar anak kecil itu tidak khawatir, namun Martin sendiri sejak tadi merasa tegang bahkan dia mondar mandir di depan pintu di
mana istrinya melakukan persalinan, satu detik seakan lama bagi Martin jika
dalam keadaan seperti ini bahkan pria itu terus mengerutu di dalam hati karena
tidak ada satu dokter pun yang keluar dari ruangan itu dan memberikan kabar
istrinya di dalam sana. Orang paling angkuh di kota itu sedang cemas dan kebinggungan siapapun tak berani mendekati Martin tak tercecuali Jeni dan juga Dikra hingga mereka lebih memilih untuk bertanya pada asisten Hen.
1 Jam Kemudian.
__ADS_1
Martin mulai kehilangan kesabaranya saat melihat pintu berwarna pink yang tadi sempat di lalui istrinya satu jam yang lalu masih belum terbuka, Martin bahkan tidak
perduli dengan pyama tidur berwarna hitam yang masih melekat di tubunya dia
hanya ingin melihat kabar tentang istrinya.
“Apa yang di lakukan oleh dokter itu di dalam! Berani sekali mereka melakukan hal ini padaku, mereka bahkan tidak membiarkan aku mengetahui kabar istriku.” Martin
berteriak dengan mengepalkan tangannya.
Asisten Hen berdiri di belakang Martin dengan menundukkan padangannya, “Tuan muda bersabarlah mereka akan melakukan yang terbaik untuk Nona muda,” asisten Hen
mencoba menenagkan majikannya yang sekarang sedang di selimuti api kehawatiran.
Di persalinan pertama Martin juga terlihat seheboh ini namun di kehamilan pertama Keyla hanya butuh beberapa menit saja untuk melahirkan anak pertamanya dan karena sebab itu juga Martin begitu khawatir bahkan hatinya tidak tenang dia terus mondar-mandir
ke sana kemari dengan melihat terus ke pintu ruangan itu namun belum terbuka juga.
Martin membelakangi pintu ruangan persalinan Keyla, beberapa detik kemudian pintu ruangan itu mulai terbuka dan semua orang segera mengarahkan pandangan mereka kearah pintu yang terbuka itu dengan senyum mengembang di bibir mereka.
Martin melotot pada Jeni, Dikra dan juga Asisten Hen, "Berani sekali kalian tersenyum di saat istriku sedang bertarung nyawa di dalam sana! Sudah bosan hidup!” baru kali ini
Martin berbicara kasar pada Jeni dan juga Dikra, Karena terlalu mengkhawatirkan
keadaan isrinya Martin sampai lepas kendali. Namun Jeni dan juga Dikra sangat paham jika pria itu selalu saja posesif jika sudah menyangkut tentang istri kecilnya.
“Tuan muda,” panggil dokter paruh baya yang tadi sempat mendapatkan ancaman dari Martin.
“Berani sekali kau bicara dengan nada suara tanpa merasa bersalah seperti itu padaku!” teriak Martin dengan berbalik arah memutar tubuhnya untuk melihat dokter yang sedang memangilnya barusan.
Tubuh dokter itu gemetaran seketika bahkan lututnya mulai terasa lemas namun dia tidak boleh terjatuh jika masih ingin hidup lebih lama lagi di dunia ini, karena dokter itu
keluar dari ruangan tersebut tidak sendirian bersama dengan bayi mungil dan juga cantik dengan kulit putih seperti boneka berada di gendongannya.
BAGAIMANA YA DENGAN EKSPRESI WAJAH MARTIN JIKA MELIHAT ANAK KEDUANYA TELAH LAHIR AKANKAH
PRAI ITU MARAH PADA DOKTER YANG MEMANGGIL NAMANYA TADI ATAUKAN AMARAHNYA AKAN HILANG SEKETIKA SAAT MELIHAT PURTI KECILNYA DAN BAGAIMANA DENGAN PERASAAN MARTIN SAAT PERTAMA KALI MELIHAT BUAH CINTANYA ITU.
__ADS_1
NOVEL KEMARIN BERJUDUL. “SANG PENAKLUK 2.”
DAN MINTA MAAF JIKA SAYA KEMARIN SEMPAT PROMO DI NOVEL KARENA SAYA JUGA INGIN MEMPERKENALKAN NOVEL SAYA YANG LAINNYA JUGA.