Di Paksa Menikahi CEO 2

Di Paksa Menikahi CEO 2
Berdua Dengan Jeni.


__ADS_3

Martin duduk di sofa yang ada disudut ruangan Keyla, dan Jeni sudah duduk di ranjang yang ada disamping adiknya itu. Jeni menangis tersedu-sedu sebelum bicara pada Keyla. Dan Keyla yang masih dalam posisi berbaring hanya bisa menatap kearah Jeni dengan wajah sedih.


Martin menatap kearah Jeni dengan pandangan sinis bahkan sejak Jeni masuk kedalam ruangan tersebut Martin tak sedikitpun mengalihkan pandangannya pada kakak beradik itu.


Sangat terlihat jelas jika Martin sedang waspada dengan sikap Jeni karna Martin tidak ingin jika sampai dirinya kecolongan lagi dan membuat Keyla tersakiti untuk yang kedua kalinya.


"Kak Jeni kenapa menangis? Apakah Kak Martin menyakitimu?" Tanya Keyla sembari mengusap pelan air mata Jeni yang terus berjatuhan bergantian dikedua pipinya.


"Key, maafkan atas tindakan kasar Kak Jeni semalam padamu. Kak Jeni benar-benar tidak menyadarinya." Ucap Jeni dengan suara terisak-isak. Entah itu bohong ataupun jujur namun Jeni terlihat sangat meyakinkan dan bahkan Keyla sampai tak tega dibuatnya. air mata Jeni jatuh semakin deras membasahi pipinya dan penyesalan terlihat nyata dari raut wajahnya.


Hati Keyla sangat teramat pilu melihat air mata Jeni yang seakan tidak habis-habisnya jatuh bergantian dikedua pipinya. Bahkan Keyla sampai ikut menangis karna tak tahan melihat penderita yang Jeni alami.


"Aku tau Kak, kau tidak akan tega menyakiti ku!" Imbuh Keyla sembari beranjak duduk.


Jeni hendak membantu Keyla untuk mendudukkan tubuhnya namun segera dihentikan oleh Martin. "Biar aku saja Jen!"


Martin langsung berdiri kasar dari posisi duduknya dan dia menatap kearah Jeni dengan pandangan sini. Jeni hanya bisa menelan kasar Saliva nya yang terasa getir itu setelah melihat sorot tajam Martin yang seakan menusuk hatinya itu. Mata yang dulu pernah terlihat menggoda itu kini tidak telihat lagi yang ada hanya pancaran kebencian yang Martin tunjukkan pada Jeni sungguh membuat Jeni sulit menerimanya namun Jeni hanya bisa menahan apa yang semuanya sendiri. kepedihan, kesedihan dan penderitaan yang dia rasakan.

__ADS_1


Pria yang dulu menjadi kekasihnya kini telah menjadi suami adik kecilnya. Kenyataan itu masih membuat Jeni merasa kurang nyaman bahkan Jeni mulai kesulitan bernafas saat melihat Martin bersikap lembut pada adiknya itu. Jeni melihat kearah Keyla sembari memaksakan senyuman diwajahnya namun tangan Jeni terlihat mengepal di bawah ranjang pasien adiknya itu.


Selesai membantu Keyla mendudukkan tubuhnya, Martin segera berjalan kembali kedalam posisinya semula Martin masih menatap kearah Jeni dengan ekspresi wajah kelihatan terganggu.


"Kayla, Kak Jeni sangat bersyukur karna bayi yang kau kandung baik-baik saja."


"Kak bayiku sangat sehat sama seperti Deddy nya." Celetuk Keyla sembari melirik kearah Martin yang senyum-senyum tanpa alasan saat mendengar Keyla mengucapkan hal tersebut.


"Key, bisakah kau suruh Martin keluar dulu?" Ucap Jeni dengan lirih. Keyla tak menjawab namun sebagian gantinya dia menganggukkan kepalanya menandakan jika dia tak keberatan dengan permintaan Jeni barusan.


Setelah kejadian semalam bahkan Keyla tak menaruh curiga sedikitpun pada Jeni. Tanpa berpikir panjang Keyla langsung mengiyakan permintaan Jeni. Karna Keyla yakin jika Jeni tidak akan melukainya lagi.


"Keyla kau percaya padaku kan?" tanya Jeni sembari memegang tangan Keyla dengan lembut.


"Kak Jeni tenang saja, aku percaya padamu sepenuhnya." Sambung Keyla sembari balik memegang tangan Jeni.


"aku dengar kau berhubungan kembali dengan Kak Dikra,"

__ADS_1


"Ya," Jawab Jeni dengan singkat. "Martin minta bertemu dengan Dikra, dua hari kedepan!" imbuh Jeni dengan wajah terlihat cemas entah apa yang ada didalam pikiran Jeni hanya dia dan tuhan saja yang tau.


"Ada masalah apa lagi kak?" Tanya Keyla dengan wajah terlihat serius.


"Entahlah," Jawab Jeni sembari menarik kedua pundaknya.


"Kak, setelah ini kau tidak akan pergi lagi kan?"


"Tidak akan, aku akan tinggal disini bersamamu!" Ucap Jeni tersenyum renyah.


"Maksutnya?"


"Bolehkah Kakak tinggal bersamamu?" Ucap Jeni sembari mamasang tampang melas dihadapan Keyla.


"Kita lihat saja nantik Kak!"


_ _ _ _

__ADS_1


Sedangkan di luar ruangan Keyla.


Martin dan Sinta sedang kebingungan mereka takut kejadian semalam terulang kembali dan membuat mereka harus kehilangan salah satu anaknya. Tak lama kemudian Jeni keluar dari kamar tersebut dan dia terlihat baik-baik saja. Martin segera mendorong Jeni minggir dari pintu tanpa bicara dan dia membuka pintu yang separuh tertutup itu dilihatnya Keyla sedang terbaring sembari memejamkan matanya.


__ADS_2