
Pak Hen yang mengetahui akan pertengkaran yang sedang terjadi itu segera menghampiri Martin dan dia mencoba untuk menghentikan Martin yang sedang terbakar api emosi. Namun sia-sia saja karna Martin masih saja terus melayangkan tinjunya di wajah Dikra sampai darah segar terlihat keluar dari sudut bibir Dikra. Namun Martin masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan pukulannya pada Dikra.
"Tuan muda kumohon hentikan," Ucap Pak Hen sembari memegangi tangan Martin yang akan meninju wajah Dikra lagi.
"Hen! Kau sudah berani menghentikan ku, hah!" bentak Martin dengan wajah merah padam. Martin tak bisa mengendalikan emosinya saat mengingat wanita yang paling ia cintai bercucuran darah beberapa hari yang lalu. Bahkan kesedihan akhibat kecerobohan Martin sampai membuat Keyla terluka juga belum bisa Martin lupakan sampai sekarang. Rasa bersalah, takut akan kehilangan hal itu masih saja terus mengusik hati dan pikiran Martin.
"Jika anda terus memukul Tuan Dikra, maka Nona muda akan mendengarkan pertengkaran ini. Anda pasti tau kan sikap Nona muda saat mengetahui ada orang yang tertindas di hadapannya?" Jelas Hen sembari menjauhkan tubuh Martin dari Dikra yang sedang terluka parah. Walaupun Hen tau dengan jelas jika kamar pribadi Martin yang ada didalam kantor tersebut di kelilingi dengan peredam suara namun tetap saja Pak Hen harus berjaga-jaga agar sang penghuni wanita didalam kamar tersebut tidak sampai melihat perkelahian antar Martin dan Dikra kala itu.
Martin terlihat sedang berusaha mencerna apa yang diucapkan oleh asisten Hen barusan. Martin perlahan memundurkan tubuhnya karna Martin tau jika sampai Keyla tau dia melukai Dikra, maka istri kecilnya itu akan marah padanya dan Martin akan semakin kerepotan dibuatnya karna sebab itu Martin berusaha menahan emosinya karna tidak ingin melihat Keyla marah. Martin mundur teratur sembari masih mengepalkan jari-jari tangannya yang terlihat memerah.
__ADS_1
Setelah Martin memundurkan tubuhnya asisten Hen segera menarik tubuh Dikra dari lantai dengan perlahan. Dikra terlihat meringis kesakitan mengulurkan satu tangannya kearah Pak Hen dan satu tangannya lagi memegangi wajahnya yang kini mulai terasa nyeri dan bengkak akhibat hasil karna tinju Martin yang mendarat diwajahnya beberapa kali. Setelah Dikra berdiri Pak Hen segera memberikan selebar tissue padanya agar mengusap darah yang masih menetes dari sudut bibirnya.
Martin terlihat merapikan jasnya yang berantakan dan segera mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya sembari masih menatap kearah Dikra dengan wajah merah padam. Tak lama setelah Martin duduk alaram di handphone Martin mulai berdering entah alarm apa itu. Martin meraih ponselnya yang ada di atas meja dan dia segera mematikan tombol alaram Tersebut. Setelah alarm itu tidak berbunyi lagi Martin segera menarik tubuhnya dari kursi dan dia segera melangkahkan kakinya mendekati Dikra yang masih meringis kesakitan sembari tangannya masih memegangi wajah tampannya yang kini sudah berubah menjadi hancur itu.
Kasihan sekali kamu Dikra karna kekasih mu Jeni. Kau harus berurusan dengan orang sekejam CEO Martin! Bahkan didalam kota tersebut tak ada satu orangpun yang ingin berurusan dengan CEO Martin karna urusannya bisa panjang kali lebar dan masih banyak kali-kalinya wkwkkwk. Tapi kau pria yang sangat hebat atau bisa dibilang bodoh karena kau mengenal Keyla jadi bis lolos dari cengkraman Martin jika saja Keyla tidak ada di ruangan sebelah maka kau akan habis malam itu juga.
"Pulanglah! Besok kembali lagi ke sini." Ucap Martin pada Dikra dengan tak menoleh.
"Tuan muda ini ada uang untuk berobat!" Ucap asisten Hen sembari mengeluarkan uang dari sakunya dan segeralah mengulurkannya pada Dikra.
__ADS_1
"Terimakasih Pak Hen." Sahut Dikra sembari mengambil uang yang asisten Hen berikan.
"Tuan muda harus ingat jika besok siang anda harus kembali ke sini!" Ujar Pak Hen mengulangi ucapan Martin tadi.
"Saya pasti datang Asisten Hen." Ujar Dikra sembari membungkukkan badannya dihadapan asisten Hen.
Sebenarnya Dikra enggan sekali untuk menerima uang yang diberikan oleh asisten Hen tadi. Namum karna Dikra tidak ingin berlama-lama ada didalam sangkar singa buas yang sedang lapar itu maka Dikra dengan terpaksa menerima uang yang diberikan padanya. Selama berjalan semua perkerja yang berpapasan dengan Martin menatap nya dengan wajah kephoo tentu saja itu bukan tanpa alasan karna wajah Dikra terlihat bengkak. Walaupun Dikra berjalan sembari menundukkan kepalanya namun tetap saja orang yang berpapasan dengannya masih bisa melihat luka diwajahnya.
Namun tidak hanya Dikra yang mengalami hal tersebut karna banyak orang yang masuk kedalam ruangan Martin terlihat baik-baik saja namun saat mereka keluar dari ruangan tersebut banyak ekspresi wajah yang berbeda-beda yang orang-orang bernasib malang itu tunjukan. Ada yang cemberut, ada yang pucat lengkap dengan tubuh yang gemetaran ada juga yang terlihat linglung dan masih banyak lainnya. Mereka semua menunjukkan ekspresi wajah tergantung penyiksaan dan makian yang keluar dari bibir manis CEO Martin.
__ADS_1
Ha-ha-ha! berat sekali hidup para perkerja MK GROUP. Namun gaji yang sangat besar setiap bulannya membuat mereka tak terpikirkan keluar dari perusahaan tersebut. Dan banyak sekali orang yang berlomba-lomba masuk kedalam MK GROUP setiap tahunnya.
Bahkan masuk kedalam ruangan Martin juga bisa disebut sebagai masuk kedalam jurang kegelapan. Dan ruangan Martin juga adalah tempat yang paling ingin dihindari oleh setiap perkerja MK GROUP. Namun Keyla tidak mengerti akan kenyataan pahit ini.