Di Paksa Menikahi CEO 2

Di Paksa Menikahi CEO 2
Pulang Lebih Awal.


__ADS_3

Setelah dari kamar Jeni, Keyla masuk ke dalam kamarnya sendiri, kini Keyla duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Wanita itu masih memegang beberapa butir pil yang kakaknya berikan padanya tadi. Keyla menaruh pil tersebut di meja yang ada di hadapannya saat ini entah apa yang sedang ada di dalam pikiran Keyla saat ini, Dia masih bengong sembari pandangan lurus ke depan dengan pandangan kosong.


Brakk!


Suara lantang pintu kamar Keyla yang tiba-tiba dibuka oleh seseorang, sontak angan-angan yang tadi sedang bertebaran liar di dalam pikiran Keyla langsung hilang setelah mendengarkan suara pintu kamarnya yang terbuka dengan kasar. Mata Keyla langsung melihat siapa yang sudah membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk lebih dulu.


Ya seorang pria yang tadi pagi sangat mengkhatirkan kondisi Keyla, pria itu tak lain adalah Martin Kwang suaminya sendiri. Ini masih pukul 11 siang tapi kenapa Martin sudah pulang ke rumah padahal dia sangat sibuk di kantor. Seseorang berdiri di belakang Martin dengan wajah tak kalah paniknya ya itu adalah Asisten Hen yang selalu menjadi bayang-bayang Martin setiap harinya. Sepertinya kamar Jeni juga tak lolos dari pengawasan Asisten Hen.


''Kak, ada apa sampai kau pulang jam segini tidak seperti biasanya?'' Tanya Keyla sembari berdiri dari posisi duduknya dan berjalan hendak menghampiri Martin.


Martin tak bicara apa pun namun dia semakin mempercepat langkahnya kemudian memeluk Keyla dengan lembut namun semakin lama pelukan itu semakin erat, Keyla sangat kebinggungan melihat sikap Martin yang seperti itu Keyla belum mengetahui jika kini rumahnya sudah di penuhi oleh cctv. Hahahah! Entah bagaimana jika Keyla sampai tau suaminya tak hanya menaruh patung yang berwajah datar dalam rumahnya namun pria itu juga mengawasi setiap sudut rumah Keyla bahkan termasuk kamar pribadi Jordan juga tak luput dari pengawasannya.

__ADS_1


''Sayang apa yang terjadi padamu?'' Keyla bicara sembari melepaskan pelan pelan pelukan Martin dan kini Keyla sedang melihat wajah lega yang terpancar dari raut muka suaminya itu.


''Apakah kau sudah meminum obat yang di berikan oleh Jeni?'' Martin melihat ke arah meja dan di sana masih ada beberapa butir obat yang di berikan oleh Jeni masih belum di minum oleh istrinya  itu.


Mungkin Martin melupakan satu hal yang penting jika selama ini Keyla tidak pernah bisa minum obat tanpa bantuannya. Karna rasa khawatir yang terlalu berlebihan membuat Martin meninggalkan rapat yang sangat penting dengan pembisnis dari luar kota hanya untuk menemui istrinya itu.


''Dari mana kau tau jika kak Jeni memberikanku obat?'' Keyla bicara sembari mengerutkan dagunya. Wajah penasaran itu sangat terlihat dari wajah Keyla saat ini.


''Ya, Tuan muda.'' Menjawab sembari menundukkan kepalanya.


''Kembali lah ke kantor dan selesaikan urusan di sana!'' Perintah Martin sembari melirik ke arah Asistenya yang berdiri tepat di belakangnya.

__ADS_1


Setelah Martin bicara asisten Hen segera membungkukkan badanya dan menutup kembali pintu kamar Keyla.


Tanpa sengaja ketika pria itu hendak turun dari tangga dia berpapasan dengan Jeni yang juga hendak menuruni tangga.


''Asisten Hen kenapa anda di sini?'' Tanya Jeni dengan nada suara terdengar sok akrab.


''Saya mengantar tuan muda, Nona Jeni.'' Bicara dengan sorot mata terlihat semakin tajam dan itu membuat Jeni sedikit menggeser tubuhnya menjauhi asisten hen.


Hahaha dengan melihat sorot mata asisten Hen saja sudah membuatmu Jeni salting, apalagi kamu harus melihat amarah asisten yang sangat dikenal paling kejam didalam kota tersebut mungkin kamu bisa saja kencing di celana hahaha!


''Hahaha! Kenapa anda menjauh Nona Jeni?'' Sindir asisten Hen dengan alis hampir menyatuh.

__ADS_1


Kedua orang itu masih berdiri si ujung anak tangga, wajah Jeni kini terlihat semakin pucat pias saat asisten Hen mulai tertawa. Jika orang lain yang tertawa itu hal yang biasa namun jika Asisten Hen yang tertawa itu sangatlah menakutkan dan bisa membuat sesak nafas orang yang kini sedang berada di dapanya, hal itulah yang kini sedang di rasakan oleh Jeni.


__ADS_2