
"Jeni sudah menceritakan semuanya pada kami nak Dikra, dan kenapa ini dengan wajah mu nak?" Tanya Sinta sembari mengamati wajah Dikra.
"Tidak papa Ma, ini hanya luka kecil saja."
"Apakah Nak Martin yang telah melakukannya?" Tanya Sinta sembari mengerutkan dagunya.
"Tidak masalah Ma, karna aku memang bersalah sudah membantu Jeni kembali ke kota ini."
Ketika Sinta hendak menjawab Jeni sudah ada dihadapan mereka. Sinta segera mengajak Dikra masuk kedalam rumah dan mereka duduk di ruang tamu rumah tersebut. Dikra melihat ke sekeliling rumah yang dulu sangat sering dia kunjungi itu. Rumah Jordan tidak banyak perubahan bahkan semuanya masih sama seperti beberapa tahun yang lalu saat terakhir kali Dikra datang kesana.
Sinta segera meninggalkan Dikra berdua dengan Jeni diruang tamu tersebut. Dan pelayan juga sudah menaruh camilan dan dua cankir kopi dihadapan Dikra dan Jeni kini hanya tinggal Dikra dan Jeni saja yang ada didalam ruangan tersebut.
Jeni menatap wajah Dikra dengan rasa khawatir dan juga cemas tiba-tiba menyelimuti tubuh Jeni. Wajah dan rasa bersalah yang kini sangat terlihat jelas di wajah Jeni dia tak menyangka jika Martin akan menghukum Dikra karna telah membantunya lolos dari penjagaannya di Paris. Seharusnya Jeni tau dengan jelas jika Dikra masih berdiri dihadapannya saat ini itu adalah sudah suatu keberuntungan karna Martin tidak membunuh orang yang menentang perintahnya.
Dikra masih diam sembari menatap lurus kedepan Jeni masih tak bergeming menatap wajah Dikra dengan rasa sedih yang menyelimutinya saat ini.
"Wajah mu sampai seperti ini, itu semua pasti karna aku!" Ujar Jeni sembari menitihkan air mata.
Sangat terlihat jelas rasa menyesal yang terpancar dari raut wajahnya saat ini. Atau mungkin tanpa sadar Jeni mulai jatuh cinta lagi pada Dikra karna saat ini Jeni mulai menghawatirkan pria yang sempat membuatnya depresi berat itu. Bahkan air mata Jeni jatuh semakin deras Dikra tak tega melihat wanita yang dia sayangi itu terus menitihkan air mata. Dikra mengusap air mata Jeni dan dia segera memeluk tubuh Jeni dengan lembut.
"Berhenti menangis, kau tau kan aku tidak suka melihatmu bersedih." Bisik Dikra dengan lembut sembari membelai rambut panjang Jeni.
"Martin tidak akan melepaskan mu begitu saja. Aku bahkan tidak memberitahumu tentang kejadian saat aku datang kesini. Aku sangat mencintai Martin dan aku masih belum bisa menerima kenyataan jika dia menikah dengan adik ku." Ucap Jeni sembari melepaskan pelan pelukannya pada Dikra.
"Jen! Sadarlah dia Keyla adik yang kau sayangi kenapa kau tega melakukan hal itu padanya. Apa kau akan bahagia jika Martin kembali padamu dan adik yang kau sayangi akan melahirkan tanpa ayahnya?" Dikra mencoba menasehati Jeni dengan kata kata yang muda dicernanya.
"Kau tenang saja Dikra aku akan berusaha tidak melukai Keyla lagi. Dan aku akan mencoba untuk mencintaimu. Aku baru tau setelah aku memukul adikku sampai tidak sadarkan diri namun dia masih terus membelaku dan tidak mengijinkan Martin untuk menyentuhku. Aku kira Keyla akan balas dendam padaku atau akan menyuruh Martin menghabisi ku saat itu juga tapi siapa yang tau jika dia malah bersikap sebaliknya padaku."
"Kau tau Keyla tidak akan menyakitimu kan. Bisakah kau relakan Martin hanya untuk adikmu dia sedang mengandung Jen." Jelas Dikra degan wajah terlihat serius.
__ADS_1
Jeni terdiam sesaat dia tak menjawab namun dia hanya bisa mengangguk anggukan kepalanya tanda jika dia setuju dengan apa yang diucapkan Dikra barusan. Tapi entah mengapa jika dilihat dari raut wajah Dikra saat menatap Jeni sangat terlihat jika Dikra seakan tak percaya dengan ucapan Jeni barusan.
_ _ _ _
Rumah Ferdi.
Rumah yang terlihat mewah dan megah yang hanya dihuni oleh kakak beradik saja. Malam sudah menunjukkan tengah malam namun Sendi masih sibuk dengan segudang perkerjaan yang harus dia selesaikan malam itu juga.
Kita melihat kamar Ferdi, kamar yang terlihat berantakan dan penuh dengan bau alkohol yang sangat menyengat. Ferdi tidur di atas ranjangnya sembari melihat kearah ponsel yang sedang dia pegang.
Keyla, aku masih belum bisa melupakanmu. Aku tidak tau caranya melupakan rasa cinta yang sudah terpatri didalam hati ku, kau cinta pertama bagiku dan aku sungguh semakin tersiksa jika mengingatmu hidup bahagia bersama pria lain hal itu semakin menambah rasa sakit yang aku rasakan. Ferdi berbicara dengan foto Keyla yang ada didalam layar ponselnya.
Ferdi terus bicara sembari melihat foto Keyla dalam layar ponselnya rasa rindu yang semakin hari semakin membunuh Ferdi dalam kesepian tentang Keyla. Ferdi yang dulu telah berubah pria itu kini semakin mencintai alkohol bahkan tiada satu haripun tanpanya meminum alkohol bahkan wajah tampan Ferdi kini tidak terlihat lagi janggut Ferdi terlihat di tumbuhi brewok karna dia tak pernah memperhatikan penampilannya lagi semenjak Keyla memberitahunya agar mencari wanita lain yang lebih baik darinya. Kata-kata yang terakhir diucapkan oleh gadis pujaannya itu masih tertanam dengan rapi di memori internal otaknya.
Kamar yang indah itu berubah menjadi pengap dan suram selain bau alkohol tidak ada yang menarik lagi dari kamar tersebut.
Ferdi duduk di sofa yang ada dibawah ranjangnya dan dia sedang menuangkan anggur dalam cawan ya. Ferdi menggoyangkan pelan anggur dalam cawan ya itu Hinga akhirnya meminum anggur dalam cawan Tersebut dalam satu kali tegukan saja. Karna kurang puas akhirnya Ferdi minum langsung dari botolnya Ferdi dan minuman sudah seperti dua hal yang tidak bisa di pisahkan.
Seseorang membuka pintu kamar Ferdi. waktu telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari namun Ferdi masih belum tidur juga. Ferdi melihat kearah pintu kamarnya yang terbuka lebar-lebar itu. Dia melihat seseorang berjalan menuju sakral lampu dan orang itu menyalakan lampu tersebut. Ya itu adalah Sendi kakaknya Ferdi orang yang paling menghawatirkan kondisinya selama ini karna kedua orang tua Ferdi telah meninggal dalam kecelakaan mobil beberapa bulan yang lalu.
Sendi menggeleng-gelengkan pelan kepalanya saat melihat kamar yang berantakan itu dan bau alkohol yang sangat menyengat yang tercium di kamar tersebut membuat Sendi berdecak kesal.
Sendi segera melangkah mendekati Ferdi yang masih meminum anggur dari dalam botolnya itu, Ferdi merampas kasar botol minuman tersebut dan menaruhnya di atas meja.
"Apa yang mau lakukan Kak?" Teriak Ferdi sembari hendak mengambil botol yang ditaruh Sendi di atas meja namun Sendi segera mendorong kasar Ferdi hingga punggungnya membentuk sofa.
"Sudah cukup hentikan, selama ini aku hanya diam melihat apa yang kau lakukan Ferdi! Kakak berpikir kau akan sadar dan melanjutkan hidupmu namun apa ini, kau malah tidak mengakhiri semua kebodohanmu ini!" Teriak Sendi sembari tangannya memegangi kedua pundak adiknya itu.
Menepis kasar tangan Sendi dan beranjak berdiri dari sofa, "Orang yang aku cintai telah meninggalkanku Kak, aku sudah melakukan semua cara untuk menjalani hidupku dan melupakannya tapi apa! Aku tidak bisa mengusir bayangan Keyla dalam benak ku."
__ADS_1
Ferdi bicara sembari berjalan sempoyongan kesana kemari, pria itu bahkan sampai meneteskan air matanya saat bicara. Sendi tak tega melihat kondisi adiknya seperti itu tapi apalah daya seorang Kakak yang tidak akan pernah bisa mengusir cinta sang adik untuk istri sahabatnya itu. Dan entah apa yang akan dilakukan Keyla jika mengetahui Ferdi masih tidak bisa melupakan.
"Besok pergilah ke kampus dan jalani hidupmu dengan baik!" Namun Ferdi sudah terbaring di ranjangnya tanpa menjawab ucapan Sendi.
Sendi mendekati ranjang Ferdi dan dia segera menyelimuti tubuh adiknya itu saat Sendi melihat wajah adiknya itu. Air mata tiba-tiba menetes dari sudut matanya Sendi segera mengusap air mata adiknya itu dengan hati yang sangat pilu dan rasa tidak berdaya karna dia tak mampu menghilangkan rasa sakit pada hati adiknya itu.
Di luar ruangan Ferdi.
Sendi mendudukkan tubuhnya di sofa sembari menyandarkan kepalanya dengan mata tertutup. Pelayan rumah tersebut yang bernama Bi Ana datang membawakan kopi pahit untuk Sendi, "Nak Sendi silahkan diminum kopinya," Ucap Bi Ana sembari duduk di samping Sendi.
Bi Ana adalah pengasuh Ferdi dan Sendi sejak kecil jadi tak heran jika pelayan itu sudah seperti keluarga bagi Sendi dan tak jarang jika Sendi sedang kebingungan dia akan minta pendapat dari BI Ana.
Bi Ana kini sudah usianya sekitar 45 tahun dan dia tak memiliki anak, suaminya telah lama meninggal karna sebab itu Bi Ana menganggap Sendi dan Ferdi seperti anak kandungnya sendiri.
Ferdi mulai membuka matanya dan dia memijat pelan kening kepalanya sendiri, "Terimakasih Bi, Loh kenapa Bi Ana belum tidur jam segini ini masih jam 03.00 pada pagi loh." ucap Sendi sembari mengarahkan pandangannya melihat jam didinding yang tertempel di sana.
"Bibi terbangun mendengar kegaduhan di ruangan nak Ferdi." Jelas Bi Ana sembari menyodorkan kopi pahit kesukaan Sendi.
"Terimakasih Bi," Ucapnya sembari mengambil gelas tersebut. "maaf Bi jika aku menganggu tidur nyenyak mu."
"Tidak masalah nak Sendi, Bagaimana dengan keadaan adik mu Ferdi?"
"Entahlah Bi, dia semakin hari semakin tidak bisa mengendalikan dirinya selain alkohol tida ada yang dia lakukan lagi bahkan sudah satu satu bulan dia tak mau pergi ke kampus lagi." Jelas Sendi sembari menaruh gelas yang ada di atas meja.
"Apakah Bibi boleh memberikan saran Nak?"
"Bicaralah Bi Ana tidak perlu sungkan, kau sudah kami anggap sebagai bagian dari keluarga kami sejak lama." Jelas Sendi sembari memegang tangan Bi Ana.
"Nak biarkan Keyla mengetahui tentang kondisi Ferdi saat ini. Biarkan Keyla menasehati nak Ferdi mungkin dengan cara seperti itu akan membuat nak Ferdi menyadari jika apa yang ada didalam hatinya itu tidaklah benar. Karna nak Ferdi juga harus menjalani hidupnya seperti yang sebelumnya."
__ADS_1
Setelah Bicara Bi Ana segera kembali masuk kedalam kamarnya sedangkan Sendi masih mencoba mencerna saran yang di berikan oleh Bi Ana barusan.