
Rumah Martin.
Malam hari seperti biasa keluarga besar itu makan malam bersama Keyla sudah sembuh setelah mendapatkan perawatan sehari punuh dari suami dan putra kesayangannya itu. Keyla bersenda gurau dengan Miranda di meja makan namun Jeni hanya diam dengan sibuk menghabiskan makanan di piringnya.
Hati Jeni sangat sedih jika dia mengingat akan pergi meninggalkan rumah yang sedari kecil dia tempati dengan Mama dan Papanya itu. Lebih lagi terlalu bayak kenangan indah di rumah ini dan dirinya juga sudah terbiasa dengan kehadiran Michael dan juga Keyla dalam hidupnya. Hati Jeni seakan tersayat pisau tajam jika mengingat sebentar lagi dia akan pindah dari rumah itu bersama dengan keluarga kecilnya. Miranda tertawa bersama Michael dan juga keyla, Jenis semakin tidak tega untuk mengungkapkan rencana akan kepindahan dirinya ke luar kota.
Tapi apa daya hal ini harus tetap dia sampaikan setelah makan malam selesai, Dikra tidak memaksa Jeni tapi wanita itu juga tidak ingin mengecewakan keputusan suaminya sehingga dia memilih mengikuti kemanapun suaminya pergi sebab Jeni tau jika Dikra juga menginginkan anak dan istrinya selalu mendunkung keputusannya itu.
Makan malam telah selesai semua orang sedang duduk di ruang tengah dengan menonton televisi di sana. Jeni duduk persis di samping Keyla. Jeni sebenarnya sangat tidak tega hendak mengatakan hal tersebut namun itu harus dia lakukan karna beberapa hari ke depan dia akan pindah keluar kota lebih lagi Jeni tidak ingin membuat keyla kaget dengan kepergiannya yang mendadak.
Martin sebenarnya sudah mengehatahui rencana kepergian Dikra dari asisten Hen namun dia hanya diam saja. Itu keputusan Dikra sendiri dan Martin tidak mau ikut campur urusan keluarga iparnya itu. Dikra tadi juga sudah memberitahukan pada Martin sendiri, dan Martin sangat mendukung semua keputusan iparnya itu tapi Martin juga berpesan pada Dikra jika ada yang Martin perlu bantu maka pria itu tidak perlu sungkan untuk mengatakannya.
Martin memang sama kejamnya seperti dulu tapi jika bersama dengan keluargannya dia tidak pernah kejam bahkan Martin selalu mendahulukan keluarga besarnya.
"Keyla, beberapa hari lagi Kak Jeni akan pindah dari rumah ini," ucap Jeni lirih dengan memandang ke adiknya yang sedang fokus menonton televisi.
Menoleh kasar ke arah Jeni, "Kau jangan bercanda denganku tentang masalah seperti ini kak," terlihat jelas perubahan wajah keyla yang kelihatan cemas setelah mendengar apa yang Jeni ucapkan barusan.
"Aku serius Key, kami akan pergi beberapa hari kedepan. Aku akan membawa Miranda." Dia bicara dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Daddy," Keyla menatap ke arah suaminya namun Martin hanya menganggukkan pelan Kepalannya tanda jika Key harus mengiyakan kepergian Jeni.
"Aku tidak mau pindah dari rumah ini," teriak Miranda dengan air mata jatuh di kedua pipinya.
"Sayang kita harus, kau masih bisa menemui Tante Key dan juga Michael jika sedang libur sekolah nanti, " bujuk Jeni dengan membelai lembut rambut panjang Miranda.
Namun Miranda tidak mau menuruti keinginan Mama dan Papanya itu. Keyla yang sudah terbiasa dengan kehadiran gadis kecil itu dalam setiap hari-harinya jelas merasa kehilangan tapi itu semua sudah menjadi keputusan Jeni dan Keyla dengan berat hati hanya bisa mengiyakan ke inginan kakaknya itu. Keyla mendekap tubuh Jeni dengan sangat erat dengan mengecup pipi anak kecil itu beberapa kali. Martin sbenarnya sangat kehilangan namun dia tidak bisa memperlihatkan hal itu pada istrinya karna itu akan membuat Keyla semakit merasakan sedih. Bukan hanya Martin dan Keyla saja yang merasa kehilangan namun Michael juga sangat sedih hanya saja dia mencoba untuk menutupi kesedihanya itu
Martin mulai berdiri dari posisi duduknya dia berjalan dan berhenti tepat di depan Miranda, Miranda melepaskan pelukannya pada Keyla dan berdiri. Anak kecil itu memeluk tubuh Martin dengan sangat erat dan Martin segera berjongkok di hadapanya, Martin membalas pelukan gadis kecil itu dengan erat seolah pria itu merasakan kesedihan yang sama dengan Miranda.
"Om Martin, bisakah kau bujuk Mama dan Papa agar tidak pergi dari kota ini. Aku tidak bisa pergi jauh dari kalian aku mohon." Suaranya bergetar dengan air mata mengalir deras di kedua pipinya.
"Aku akan merindukan kalian," Miranda memeluk Martin lagi dan pria itu menaruh Miranda dalam gendongannya. Miranda memang anak yang penurut contohnya seperti sekarang ini walaupun dia tidak rela pergi dari rumah itu tapi demi mengikuti permintaan ke-dua orangtuanya dia mengubur egonya.
Martin menatap ke arah Michael yang juga sedang menatapnya, Michael yang tidak mau jika Daddynya melihat ekspresi wajah sedihnya segera membuang pandangannya dan Keyla yang berada di samping Michael segera memluk anak lelakinya itu. Michael sangat ingin menangisi kepergian Miranda karna anak itu sudah terbiasa bermain dan juga bersenda gurau dengan Miranda. Sebenatar lagi Miranda akan pergi dari rumah itu dan Michael akan kesepian tanpa keusilan saudarinya itu.
Malam Hari.
Ini untuk pertama kalinya Mirandan dan juga Michael tidur di kamar Martin. Awalnya Jeni tidak memperbolehkan hal itu karna takut menganggu waktu istirahat pasangan suami-istri itu namun Martin yang memaksa agar Miranda malam ini ikut tidur bersama dengan mereka terpaksa Jeni mengikuti keinginan Martin. Keyla tidur dengan memeluk Miranda dan Martin tidur dengan memeluk Michael. Tengah malam Miranda dan Michael sudah tidur.
__ADS_1
Martin berdiri pelan dari posisi tidurnya dan berjalan mendekati Keyla, Keyla yang belum bisa tidur namun hanya memejamkan matanya saja, segera membuka mata saat Martin mengusap pelan rambutnya. Keyla bangun perlahan dari posisi tidurnya dan dia berjalan keluar dari kamarnya menuju teras yang ada di dalam kamar tersebut. Keyla berdiri di terali besi yang sangat kokoh dan kuat, sedangkan Martin memeluk wanita itu dari belakang dengan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
"Kenapa mengajak ku keluar malam begini," tanya Keyla dengan merasakan kedinginan. Melihat hal tersebut Martin semakin mengeratkan pelukannya agar istrinya itu tidak merasakan kedinginan lagi.
"AKut sangat sedih jika mengingat sebentar lagi gadis kecil itu akan pergi, rumah kita akan menjadi sepi," ujar Martin dengan mengecup leher Keyla dengan lembut.
"Andai aku bisa menahanya tetap di sini, tapi itu tidak mungkin karena kak Jeni adalah ibu kandungnya. Aku pasti akan sangat menderita jika melihat Miranda jauh dariku," imbuh Keyla dengan memeluk tubuh kekar suaminya itu.
"Masih ada aku dan Michael, kau tidak akan merasa kesepian." Pria itu bicara dengan penuh percaya diri.
"Aku pasti bisa gila jika tinggal dengan dua manusia dingin seperti kalian," keyla bicara apa adanya dengan merasakan akan kesunyian yang dia rasakan sebentar lagi.
Martin tidak menyangka jika Keyla akan mengucapkan hal itu, namun itulah kenyataan Marti mengigit bibirnya geram karna dia dan anaknya di angap seperti bongkahan es oleh istrinya. Malam itu Martin dan Keyla tidak bisa tidur semalaman padahal pagi harinya Martin harus berkerja dan dia harus bagun pagi namun karena Keyla bersandar di dadanya mau tidak mau dia terus menemai istrinya itu.
__ADS_1
jangan lupa kirim buktinya jika kalian telah selesai follow IG Khairin Nisa ya acaranya akan di mulai tanggal 10 ya.