
Dikra sudah berada di kantor Martin. Keyla sedang berada diluar ruangan tersebut sebelum Dikra datang. Asisten Hen masih seperti biasanya dia berdiri disampai Martin dengan wajah datar.
"Dikra kau harus menerima hukuman yang akan aku berikan padamu!" Ucap Martin sembari menyilangkan kakinya dia bicara dengan gaya arogan seperti biasanya.
"Baik Tuan Martin, hukuman apapun itu akan saya terima tapi tolong jangan sampai menyentuh Jeni aku sangat mencintainya." Dikra bicara dengan mata berkaca-kaca.
"Hahaha! Setelah apa yang dia lakukan padamu kau masih menghawatirkan nya." Terdengar tawa sindiran yang terlontar dari bibir pedas Martin kala itu.
"Saya pernah berbuat salah padanya dan saya angap ini adalah penebusan dosa yang saya lakukan dimasa lalu padanya."
"Terima hukuman mu!" Ucap Martin dengan wajah datar.
"Baik Tuan muda, apapun hukuman itu." Jawab Dikra dengan wajah tak kalah seriusnya dengan Martin.
"Nikahi Jeni!"
Dikra seakan tak percaya dengan hukuman yang diucapkan oleh Martin. Dikra mengira jika Martin tidak akan membiarkannya masuk kembali kedalam kota itu tapi hukuman yang diberikan Martin padanya sungguh diluar nalar. Martin memang selalu mempertimbangkan apa saja yang akan dia lakukan karna hukum tersebut adalah hukuman yang paling tepat untuk membuat Jeni bisa kembali menjalani kehidupannya. Keyla lah dalang dibelakang semuanya.
flashback saat di rumah sakit.
Saat itu Keyla sedang berbisik ditelinga Martin dan ini yang dia bicarakan saat itu.
"Aku mempunyai rencana, Kau panggil kak Dikra datang ke kota ini dan berikan dia hukuman dengan menikahi kak Jeni. Seiring berjalannya waktu maka kak Jeni akan jatuh cinta lagi pada kak Dikra. Dengan begitu kak Jeni bisa perlahan mulai melupakan cintanya pada mu kan. Bagaimana menurutmu sayang?" Ucap Keyla sembari mengerdip-ngerdipkan matanya.
Martin kembali ke posisi duduknya, "Tak ku sangka jika dibalik wajah polos Istriku ini ternyata kau sangat pintar dan licik sayangku." Sindir Martin sembari tersenyum menatap kearah Keyla.
"Aku tertular sikap licik yang sering kau tunjukkan padaku, Kak!" Ejek Keyla balik sembari tersenyum kecut.
Martin hanya bisa diam saat mendengarkan apa yang diucapkan istrinya barusan karna apa yang Keyla bicarakan memanglah benar dulu Keyla terlihat polos dan lugu saat awal menikah Martin tapi kini gadis kecil itu perlahan mulai menjelma menjadi wanita licik yang berkedok polos namun bisa menantikan musuhnya dengan begitu mudah. Ya cara itulah yang sebelumnya Keyla lakukan pada mantan kekasih Martin yang bernama Keiko saat mereka bulan madu di Jepang beberapa waktu yang lalu.
Ruangan Martin.
__ADS_1
Wajah bahagia kini terpancar jelas dari wajah Dikra dan pria itu sampai berlutut dihadapan Martin karna dia tak bisa menahan rasa bahagia yang kini menjalar ke seluruh tubuhnya. Mata Dikra terlihat berkaca-kaca itu buka air mata sedih namun itu adalah air mata bahagia pria itu tak mengira jika keinginannya untuk menikahi Jeni akan segera terwujud hukuman indah yang Martin berikan mampu membuat jantung Dikra berdetak sangatlah kencang. Pria itu sudah tak sabar menantikan hari dimana dia akan bersanding dengan wanita yang paling dia cintai didalam pelaminan nanti.
"Terimakasih Tuan muda anda sangat baik, aku kira anda akan membunuh saya atau hal buruk lainya." Sontak Martin segera menarik tubuhnya dari kursi saat Dikra menyentuh kakinya.
Damn it! Bisa gawat jika Key melihat adegan ini nanti dia kira aku mengancam Dikra.
"Lepaskan apa yang kau lakukan Dikra,"
"Tuan Dikra berdirilah. Tidak perlu berlebih seperti itu." Ucap asisten Hen sembari membantu Dikra berdiri perlahan kini Dikra sudah duduk kembali ketempat asalnya dan Martin juga dengan sebaliknya.
"Tuan Martin lalu bagaimana dengan Jeni?" Tanya Dikra yang merasa tidak yakin jika Jeni akan menyetujuinya.
Rasa khawatir tiba-tiba terbersit dalam hati Dikra dia takut Jeni akan menolaknya karna Jeni jelas masih sangat mencintai Martin bahkan Jeni mengakuinya langsung pada Dikra. Namun Dikra akan menerima Jeni apa adanya lebih lagi Karna kejadian waktu di hotel satu bulan yang lalu dimana Dikra secara tidak sadar melakukan hubungan terlarang dengan Jeni karna sedang dipengaruhi dengan alkohol yang mereka minum.
"Kau tenang saja, aku sudah mendiskusikannya dengan kedua orang tua Jeni!" Jelas Martin sembari menyuruh Dikra pergi.
"Saya permisi dulu Tuan muda dan terimakasih atas semua kebaikan anda." Ucap Dikra sembari membungkukkan badannya.
"Kak Dikra!" Sapa Keyla sembari berjalan mendekati Dikra yang masih berdiri di tengah-tengah ruangan tersebut sembari tersenyum menatapnya.
Dulu saat Keyla masih sekolah dia akan memeluk tubuh Dikra dengan erat saat bertemu dengan pria tersebut. Keyla sudah menganggap Dikra seperti kakaknya sendiri dan hal itu juga yang saat ini Keyla lakukan dia bahkan tak memperhatikan wajah Martin saat ini.
Martin segera menarik tubuhnya dari kursi dan dia mendekati Keyla yang masih memeluk tubuh kekar Dikra.
"Lepaskan!" Perintah Martin dengan mengangkat kera baju Keyla. Perlahan Keyla melepaskan pelukannya pada Dikra.
"Kau kenapa Kak, dia ini Kak Dikra dia sudah ku angap sebagai kakak ku." Jelas Keyla dengan nada suara terdengar sangatlah jutek.
"Ya itu dulu sebelum kau menikah denganku! Kelak dimasa depan selain aku kau dilarang keras memeluk pria lain." Bicara dengan mata melotot tajam kearah Keyla.
Baru kali ini aku melihat Martin marah pada Keyla bahkan dia mengabaikan apa yang diucapkan Keyla tadi. Rasa cemburu semakin membakar tubuh Martin saat itu hanya karna masalah Keyla memeluk pria lain dihadapannya. Dikra memundurkan tubuhnya sedikit menjauhi Keyla.
__ADS_1
Emosi Keyla semakin memuncak saat mengingat jika Liana pernah mencium Martin tepat sebelum kejadian dipinggir jalan itu. Keyla Bicara sembari menyatuhkan alisnya dia bahkan seakan sedang melahap api saat bicara dengan Martin.
"Hentikan rasa cemburu mu yang berlebihan ini. Aku sudah lelah dengan semuanya. Apakah kau ingat saat Liana mencium mu, Kau bahkan tak mencoba menghindari ya kau seakan menikmati ciuman itu padahal kau tau dengan sangat jelas jika aku sedang merasa marah saat melihat melihat suamiku bermesraan dengan wanita lain!" Teriak Keyla sembari menatap tajam kearah Martin.
"Kau memeluk pria lain didepan mataku, dan aku tidak boleh marah. Saat bersama Liana aku hanya ingin tau kabar mengenai Jeni saya saat itu Key," Bentak Martin dengan tak kalah kerasnya Martin benar-benar marah saat itu. Rasa cemburu semakin menjalar keseluruhan tubuhnya apa lagi saat Keyla menatap kearah wajah Dikra.
"Kak kenapa dengan wajah tampan mu ini, siapa yang berani melakukannya?" Tanya Keyla sembari berjalan mendekati Dikra dan Keyla memegang lembut wajah Dikra.
Martin melotot tajam melihat Keyla menyentuh lembut wajah Dikra. Darah Martin semakin mendidih saat itu namun Keyla tidak memperdulikan rasa cemburu yang kini sedang membakar tubuh suaminya itu.
Jika dilihat dari sikapnya Keyla seakan sedang sengaja membuat Martin merasa cemburu.
"Key, Kak Dikra tidak apa-apa." Sahut Dikra sembari menepis pelan tangan Keyla karna Dikra merinding saat melihat sorot mata Martin.
"Apakah suami ku yang melukaimu Kak?"
"Tidak Key, kau jangan berpikir seperti itu. Suamimu tidak akan pernah melukai semua orang yang mau sayangi." Jelas Dikra.
"Semoga saja yang kau ucapkan barusan itu benar Kak?" Ucap Keyla sembari melirik tajam kearah Martin yang juga sedari tadi tidak bergeming menatapnya.
"Key, aku masih ada urusan, dan ingat jangan bertengkar dengan suamimu hanya karna kak Dikra ya." Ucap Dikra sembari hendak melangkah pergi namun lagi-lagi Keyla memeluk Dikra sebagai salam perpisahan.
Martin terlihat mengepalkan jari-jari tangannya saat melihat adegan itu dihadapannya. Dikra segera kabur dari ruangan tersebut saat Keyla sudah melepaskan pelukannya.
Setelah melihat tangan Martin asisten Hen segera masuk kembali kedalam ruangan kerjanya.
"Kau memeluknya lagi! Beraninya kau melakukan hal itu dihadapan ku!" Bentak Martin sembari berjalan menghampiri Keyla dengan emosi meledak-ledak.
"Oh maksud mu, aku boleh jika melakukannya dibelakang mu." Ucap Keyla dengan nada suara terdengar lembut namun langsung menendang telak didalam hati Martin.
Damn it! Dia selalu bersikap seperti ini terlihat tenang saat sedang menghadapi musuhnya tapi mulut manisnya itu semakin membakar emosiku.
__ADS_1