
Sudah beberapa hari ini Keyla selalu saja kesulitan tidur di malam hari, Martin sebagai suami siaga dia tidak tidur dan menjaganya semalaman bahkan Martin tak segan untuk mengambil air hangat di dapur saat wanita itu sedang menginginkan air hangat agar membuat perutnya yang mulai sering kontraksi merasa lebih nyaman.
Namun sangat berbeda dengan malam hari ini karena Keyla sedang cemberut namun Martin tidak menyadari akan hal tersebut. Martin masih sibuk memainkan ponselnya dengan tak menatap ke arah Key yang sedari tadi menatapnya dengan sinis.
*Dia sedang apa sih sampai tidak memperhatikan jika aku sedari tadi sedang menatapnya aku ingin sekali tidur dengan di peluk olehnya*. *Keyla menatap ke arah jam dinding yang ada di dalam kamarnya, sekarang sudah menunjukkan tengah malam namun pria itu masih juga belum ada tanda\-tanda akan mengakhiri permainan ponselnya.
Keyla berpura\-pura tidur dengan menendang selimutnya begitu saja agar tidak menutupi tubuhnya, tentu saja wanita itu melakukan hal tersebut dengan perlahan karena dia sedang hamil besar saat ini.
Martin yang sedang sibuk dengan ponselnya Langsung mengalihkan pandangannya saat melihat tubuh istrinya tidak tertutup selimut, Martin menarik punggungnya dari tempat tidur dan segera mengembalikan selimut itu sampai menutupi bagian dadanya. Keyla membuka sedikit matanya dan wanita itu melihat Martin kembali mengarahkan pandangannya ke layar ponselnya.
Keyla membuka lagi Selimut itu dengan tangannya, untuk yang kedua kalinya Martin menatap ke arah Keyla dan pria itu menaruh ponsel yang sedari tadi sedang dia pegang. Martin mematikan lampu tidur berwarna putih yang ada di atas nakas samping ranjangnya dan pria itu juga menaruh ponselnya di sana.
. Martin menaruh tubuhnya di bawah selimut berwarna hitam dan pria itu juga menutup tubuh istrinya dengan selimut, Martin memeluk tubuh istrinya dengan lembut pria itu membenamkan wajahnya di punggung leher istrinya. Martin mengarahkan tangannya ke perut istrinya yang sekarang kelihatan buncit pria itu tersenyum tipis di kegelapan kamar saat merasakan tangganya seakan di tendang oleh bayi yang ada di dalam perut istrinya.
Martin tidak mengetahui tentang jenis kelamin bayi yang sekarang tumbuh sehat di dalam rahim istrinya, Martin tetap akan merasa bahagia asalkan buah hatinya itu lahir dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun.
Keyla sungguh pintar mengalihkan perhatian suaminya, lihatlah saat ini pria itu tidur dengan memeluk tubuh istrinya aku sangat yakin semua wanita pasti sangat iri jika melihat betapa besar cinta dan kasih sayang CEO Martin pada anak dan istrinya.
Pukul 04.00, pagi.
Hari masih pagi detak jam seakan terdengar keras di pagi hari itu karena suasana rumah Martin terlihat sepi sebab semua penghuni rumah besar itu masih berada di atas ranjang mereka dengan selimut tebal pasti masih menghangatkan tubuh mereka di pagi hari ini.
"Auch, perut ku sakit sekali," gumam Keyla dengan masih memejamkan matanya namun tangan wanita itu mulai memegangi perutnya.
Wanita itu masih tertidur lelap di atas ranjang namun dia segera terbangun dari tidurnya saat merasakan jika perutnya terasa nyeri yang teramat sangat, Keyla mendudukkan tubuhnya perlahan di ranjang dengan menyandarkan punggungnya di sana. Wanita itu melihat wajah suaminya yang sedang tertidur Lelap di tengah kegelapan Keyla tidak tega jika membangunkan suaminya karena pria itu sudah sibuk berkerja bahkan saat di rumah juga Martin masih berkerja.
Keyla menyalakan lampu tidur yang ada di samping ranjangnya, dia mengambil botol air minum yang ada di samping lampu tidur berwarna putih itu. Keyla meminum air di dalam gelas itu sampai habis. Wanita itu semakin merasakan kesakitan yang teramat sangat sampai keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya wajahnya mulai kelihatan pias karena sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang semakin terasa di bagian perutnya.
"Auch sakit. . " wanita itu merintis untuk yang kedua kalinya namun kali ini Keyla sedikit mengeraskan suaranya sampai Martin yang sedang tertidur pulas kaget.
Pria itu sontak mendudukkan tubuhnya dari posisi tiduri, dia masih mencoba mengumpulkan nyawanya yang masih berterbangan di alam mimpi, Martin mengucek kedua matanya dan tangannya menyalakan lampu tidur di sampingnya.
Martin langsung melotot saat melihat wajah Keyla berkeringat, dan wanita itu kelihatan kesakitan dengan kedua tangannya memegangi perutnya, sembari mengigit kedua bibirnya mencoba menahan rasa sakit di bagian perutnya. Martin menyambar ponselnya yang tadi di taruh di samping lampu tidurnya.
Rumah Asisten Hen.
Sekarang masih sangat pagi, Asisten Hen masih tidur dengan memeluk tubuh istrinya di balik selimut berwarna abu\-abu,. Pria itu melepaskan perlahan pelukannya saat mendengarkan ponselnya berdering. Asisten Hen mengerti jika pasti hanya Martin saja yang berani menganggu tidur nyenyak ya.
. "Hallo," belum selesai asisten Hen melanjutkan ucapan Martin sudah memotong ucapan tadi.
"Cepat siapkan persalinan!" Selesai bicara tanpa menunggu jawaban dari asistenya Martin langsung menutup panggilan teleponnya.
__ADS_1
Jika di dengar dari cara bicaranya Martin pasti sedang kebingungan minta tolong sampai dia membangunkan semua penghuni rumah itu termasuk para pelayan.
Hen langsung beranjak dari ranjang dia masuk ke dalam kamar mandi untuk mengosok gigi kemudian membersihkan tubuhnya secepat yang dia bisa. Asisten Hen bahkan sampai menabrak pintu kamar mandi yang ada di dalam rumahnya dengan keras saat hendak keluar dari kamar mandi itu. Karena kebingungan pria itu sampai lupa membuka pintu kamar mandi, Hen sibuk menghubungi semua dokter yang ada di rumah sakit agar segera menyiapkan ruangan persalinan bagi nona mudanya.
Rumah Sakit.
Semua dokter sudah siap siaga melakukan tugas mereka, bahkan mereka semua melakukan do'a bersama agar tidak melakukan kesalahan sekecil apapun saat membantu persalinan istri orang nomor satu di kota itu. Semua perawat pria dan wanita sudah bersiap menanti kehadiran Martin dan juga Keyla di depan rumah sakit itu salah satu dokter terlihat membawakan kursi roda untuk di duduki oleh Keyla nantik.
Wajah semua perawat dan juga dokter kelihatan begitu tegang hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya, mereka bahkan belum pernah terkena amarah CEO Martin namun mereka susah takut duluan bahkan nyali mereka menciut seketika saat melihat mobil mewah yang hanya di miliki oleh Martin saja di kota itu dengan cepat mulai memasuki halaman rumah sakit dan mobil berwarna hitam itu berhenti tepat di hadapannya semua dokter yang saat ini sedang membungkukkan badannya dengan hormat pada keluarga orang nomor satu di kita itu.
. PENGUMUMAN DI BAWAH INI NASKAH TERAKHIR DARI NOVEL (SANG PENAKLUK 2.) KEPHOIN NOVEL KHAIRIN NISA YANG LAINNYA YA ☺️☺️☺️
Selama di dalam mobil Emil terus saja berpikir tentang hidupnya setelah hari ini karena dia selalu saja takut jika melihat sorot
mata Lee yang seakan-akan ingin sekali mencabik-cabik tubuhnya hingga mencari
serpihan yang sangat kecil, Emil masih berpikir bagaimana cara untuk membuat
pria itu terpenuhi hasratnya entah apa yang sedang ada di dalam pikiran wanita
cantik, polos yang masih duduk dengan
menatap kearah jalanan dari mobil yang terus melaju semakin kencang.
“Kak Lee bisakah kau hentikan mobilnya sebentar,” ucap Emil dengan matanya terus menatap keluar jendela mobil yang di kemudikan oleh Lee.
“Kau mau kabur?” tanya Lee dengan menyipitkan matanya saat berbicara pada Emil.
menatap ke arahnya saat ini, Lee tidak menemukan apapun di wajah polos istrinya
itu hingga membuat Lee bertanya-tanya dalam hati apa yang akan di lakukan oleh
istrinya setelah keluar dari dalam mobil apakah wanita itu akan kabur dan lari
menjauh darinya. Dan jika sampai itu terjadi apa yang harus Lee katakan pada
kedua mertua dan orangtua kandungnya nanti mereka pasti akan memarahinya
karena lalai dalam menjaga istinya sendiri.
“Percayalah aku tidak akan kabur tapi bisakan kau berikan uang padaku, aku ingin membeli sesuatu yang sangat manis seperti senyumanku ini,” ucap Emil dengan tersenyum manis dengan menatap kearah Lee namun sedetik kemudian wanita itu langsung mengalihkan pandangannya karena dia begitu ngeri jika melihat sorot mata tajam
pria itu mampu membuat nyali Emilia menciut dengan sendirinya.
Tanpa bicara Lee mengarahkan tangannya di kantung celana hitam yang dia pakai dan dia mengambil dompet kulit asli yang berwarna hitam dari saku celana hitamnya, Lee mengeluarkan beberapa lembar uang kemudian memberikannya pada Emilia yang langsung menerimanya tanpa sungkan, namun Emil mengembalikan tiga lembar uang yang di berikan Lee padanya karena itu terlalu banyak.
Dasar gadis bodoh di kasih banyak uang malah di kembalikan lagi dia cuman ambil satu lembar saja, bukankan setiap wanita menginginkan banyak uang untuk memenuhi kebutuhannya tapi kenapa dia
berbeda. Gumam Lee dalam hati dengan
menatap kearah Emil yang sudah mulai turun dari mobil.
Wanita itu mengangkat gaun pengantinya agar tidak terkena jalanan aspal yang dia lewati, dia bahkan kerepotan mengangkat gaun pengantinya yang bentuknya seperti gaun yang biasanya sering digunakan princess di negri dongeng. Semua orang yang berlalu lalang menatap kearah Emilia dengan
wajah kagum akan kecantikan gadis itu yang membuat banyak pria betah untuk
menatap wajah cantiknya. Emil tidak
perduli jika banyak mata yang menatapnya saat ini dia terus melanjutkan niatnya
__ADS_1
untuk membeli apa yang dia inginkan. Emil menghirup aroma gula kapas yang
rasanya begitu manis dan mampu menenagkan perasaa takut akan pria yang masihnmenunggunya di dalam mobil dengan masih tak bergeming menatapnya saat ini.
Mata emilnberbinar-binar saat dia melihta gula kapas yang berbagai macam bentuk ada yangnberbentuk bunga dan masih banyak bentuk lainnya dengan warna gula kapas merah, kuning, hijau seakan membuat Emilia tidak tahan untuk menikmatinya bahkan dia menelan
salivanya dengan membayangkan gula kapas yang saat ini ada di hadapanya.
“Nona mau beli yang bentuk apa?” tanya penjual gula kapas itu dengan masih mencoba membentuk gula kapas yang berbentuk mawar merah yang ada di tangannya.
“Saya mau mawarnmerah yang sedang anda buat sekarang,” ucap Emil dengan memberikan uang yang ada di tangannya pada penjual gula kapas itu.
“Mau ambil berapa?” tanya penjual gula kapas itu lagi.
Emil berpikir sejenak akhirnya dia memutuskan untuk membeli satu gula kapas untuk dirinyansendiri karena jika di lihat dari sikap Lee yang dingin pria itu tidak akan mau
memakan gula kapas yang di belikan oleh Emil. Penjual gula kapas itu sudah
selesai membentuk gula kapas yang di pesan oleh Emilia, Emil segera menerimanya
dengan senyum terbit di bibirnya. Dia kembali masuk ke dalam mobil dengan
sesekali mencium aroma manis dari gula kapas itu. Lee masih tidak bergeming
menatap kearah pengantinya dengan senyum tipis di bibirnya mungkin dia
sedikit terhibur dengan sikap Emil yang terlihat polos dan juga lugu bahkan apa
yang di sukai oleh gadis itu sama persis dengan apa yang di sue
Mungkin karena usia mereka sama, namun bedanya Park sering bergonta-ganti pacar sedangkan Emil belum pernah berpacaran sama sekali, Lee sangat beruntung karenabdia bisa menikahi wanita polos dan juga lugu seperti Emilia semoga saja kehidupan rumah tangga yang baru saja mereka jalani terhindar dari cobaan
besar.
“Kak, Lee ini uang kembaliannya tadi kau memberikannya terlalu banyak,” ujar Emil dengan memberikan beberapa lembar uang pada Lee dan pria itu mengambilnya dengan mengerutkan jidatnya.
“Kau menyuruhku berhenti hanya untuk membeli makanan sampa,”
Belum selesai Lee melanjutkan ucapanya Emil sudah memasukkan gula kapas itu ke dalam mulut Lee, mungkin wanita itu mulai bosa mendengarkan Lee selalu saja menyalahkan dirinya akan apa saja yang dia lakukan, Lee merasakan gula kapas yang begitu lembut seakan pecah di mulutnya tanpa di kunyah pria itu menelannya dengan menyipitkan matanya menatap ke arah pengantinnya.
Karena takut dengan tatapan sinis pria itu Emil segera membelakanginya dan kembali menatap ke arah jalanan dari jendela mobil yang ada di sampingnya. Lee kembali menyalakan mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanan mereka.
30, menit kemudian.
Mobil yang di kemudian oleh Lee mulai masuk ke dalam komplek perumahan, Emil sudah terbiasa dengan suasananya tenang dan juga sejuk seperti sekarang. Jantungnya semakin berdetak kencang saat membayangkan jika dia akan berada di dalam rumah hanya berdua saja dengan pria yang selalu saja mengancam dirinya. Lee mulai mengarahkan mobilnya memasuki halaman rumah berlantai satu dengan desain khas kota Korea.
Emil pura\\-pura memejamkan matanya karena dia tidak ingin turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah itu berdua dengan suaminya. Padahal biasanya suami istri akan mendambakan berdua di rumah dengan melakukan banyak hal yang bisa mereka lakukan namun Emil malah ketakutan sampai dia pura\\-pura tertidur di kursi mobil.
Lee menahan senyumnya karena melihat sikap kekanak\\-kanakan yang wanita itu lakukan sekarang, jika di lihat dari senyuman evil yang tersungging di bibir pria seperti dia akan menggoda Emilia untuk yang beneran kali.
"Kenapa bisa ada asap di dalam mobil ini." Pria itu bicara dengan nada suara lantang seolah apa yang sedang dia ucapkan saat ini benar adanya.
\*Apa yang dia bilang barusan di mobil ini ada asap, bagaimana ini bisa mati terpangang aku di dalam mobil ini karena pria seperti dirinya pasti akan menyelamatkan dirinya sendiri tanpa memperdulikan aku sedikitpun\*. gumam Emil dalam hati dengan guratan di keningnya mulai terlihat menandakan jika dia sedang cemas.
"Wanita ini sedang tidur, aku tinggal saja!" goda Lee dengan pura\\-pura membuka pintu mobilnya. Dan pria itu berlagak seperti dia sudah berada di dalam mobil.
"Kurang ajar dia meninggalkan aku?" gerutu Emil dengan langsung menarik punggungnya dari kursi mobil.
Karena bingung bercampur kaget, Emil tidak menyadari jika Lee masih berada di dalam mobil itu, Lee menarik tangan Emilia saat wanita itu hendak keluar dari dalam mobil. .
__ADS_1
.
JANGAN LUPA MAMPIR JUGA YA.