
Asisten Hen masih menundukkan pandangannya, sedangkan Keyla terlihat sedang menahan tawanya itu dalam hati saat melihat wajah asisten Hen pucat pias hanya dengan tatapan sinis suaminya itu. Martin masih tak bergeming menatap asisiten Hen dengan wajah kelihatan jutek. Ruangan itu terlihat horor karena tatapan CEO Martin mampu merobohkan semua wibawa dan juga rasa percaya yang Asisiten Hen miliki bahkan
udara seakan tidak bisa masuk ke dalam ruangan kamar yang pagi ini masih
tertutup dengan sangat rapat karena masih pagi jadi jendela kamar itu masih tertutup hingga hanya ada hawa dingin dari AC yang saat ini sedang menyelimuti seluruh kamar itu.
“Asisiten Hen, kau punya nyawa banyak ya! Berani sekali menguping pembicaraan ku dengan istriku,” ucapan yang sangat tidak wajar namun itu lah CEO Martin dia mengucapkan apa saja itu sah-sah saja karena sultan mah bebas.
Sedangkan asisten Hen mengerutu dalam hati karena mana mungkin dirinya tidak bisa mendengar apa yang di ucapkan oleh majikannya itu sedangkan dirinya berada di ruangan yang damai dan juga dari jarak yang begitu dekat pula.
“Maafkan saya Tuan muda,” sahut asisten Hen dengan menyeka peluk di jidatnya.
“Ingin sekali aku marahi asisten Hen tapi aku juga sangat takut jika sampai Keyla marah karena dirinya sendiri yang sekarang suka bermain pistol gawat ini jika dia
jago menembak,” gerutu Martin dalam hati dengan begitu geram menatap asisitenya.
“Tuan muda saya akan menunggu di bawah,” setelah melihat isyarat tangan majikannya asisiten Hen segera membungkukka badanya pada Martin dan juga Keyla dan segera pergi keluar dari kamar itu.
Martin menatap Keyla dengan sangat bahagia bahkan kini rasa cintanya itu semakin bertambah besar terhadap istrinya dan juga dirinya begitu tidak sabar melihat anak ke duanya itu lahir kedunia ini. Martin mendekati Keyla dan dia mendudukkan
tubuhnya di samping istrinya itu dengan senyum terbit di bibirnya dia begitu
bersyukur karena author memberikan dirinya anak kedua dan Martin juga berharap
author bisa memberikan anak perempuan untuknya sehingga rasa sedih akhibat
kehilangan Miranda akan terobati dengan adanya bayi wanita yang sangat cantik dan juga lucu di dalam rumah itu.
“Sayang, apakah benar yang di ucapkan oleh Micahel tadi jika aku sekarang sedang hamil?” Tanya Keyla dengan menatap ke arah suaminya yang kini sedang berada di sampingnya.
“Ya itu benar, kau sedang hamil dua minggu sayang,” sahut Martin dengan menaruh kepalanya di perut istrinya yang masih kelihatan datar.
Mendengar apa yang di ucapkan oleh suaminya, tentu saja wnaita itu sangat bahagia sapai Keyla mengusap lembut kepala suaminya itu namun yang terjadi justru apa yang tidak di duga, Martin mulai menatap ke arah istinya dan dia mencium lembut kening Keyla, perlahan mulai turun ke bibir istrinya yang terlihat merah mereka seperti buah ceri yang terlihat sangat manis rasanya jika di makan. Kira-kira seperti itu arti dari sorot mata Martin pagi hari ini saat menatap istrinya.
Namun Keyla segera mendorong tubuh suaminya karena Keyla tau dengan sangat jelas apa yang akan di minta oleh suaminya itu di pagi hari, Keyla sangat lelah lebih lagi
__ADS_1
karena kejadian kemarin siang itu untuk pertama kalinya dirinya menembak orang
sampai meninggal bahkan semalaman Key sampai bermimpi buruk karena masih
menginggat kejadian itu dalam mimpinya bahkan kejadian itu sepertinya berulang-ulang di dalam mimpinya.
“Sayang, kau tidak bertanggung jawab,” ucap Martin dengan menatap istinya yang masih bersandar di ranjang.
“Apa yang telah aku lakukan padamu?” Tanya Keyla balik dengan mengeryit heran.
“Kau membangunkan Martin junior barusan tapi kau tidak mau menidurkannya lagi,” ucap Martin dengan tersenyum getir karena merasakan hasratnya yang sudah meronta-ronta di bawah sana.
“Kanapa aku lebih suka bermain pistol sungguhan!” ucap Key dengan beranjak berdiri dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Martin mulai tersenyum nakal dan langsung mengekor di belakang Keyla sedangkan wanita itu hanya bisa menghela nafas melihat tingkah suaminya itu.
Rumah Jeni.
Pagi hari seperti biasanya sebelum berangkat berkerja Jeni lebih dulu menyiapkan sarapan pagi
seperti roti bakar telur dan juga aneka makanan pagi yang sehat lainya selalu
juga di bantu oleh pelayan rumah tersebut, rumah yang tertata rapi dan bisa di
bilang cukup besar jika hanya di tempati bertiga saja.
Setelah sarapan pagi itu siap Jeni segera menaiki anak tangga rumahnya dan segera melangkahkan kakinya menuju kamar Miranda, dia melihat anak gadisnya itu sedang tertidur lelap dengan masih berada di dekapan suaminya. Dikra tidur dengan
tangan pria itu memeluk tubuh mungil putri kecilnya yang kini tidur sangat lelap dalam pelukannya, Jeni tersenyum manis melihat sikap dua orang yang paling dia sayangi itu sungguh membuat mood Jeni membaik di pagi ini.
“Pa, pa. Ayo banyun kita sarapan sudah puku 06,00 pagi.” Wanita itu bicara dengan mengoyang pelan lengan suaminya.
Beberapa saat kemudian Dikra mulai membuka matanya dan pria itu mengeryip-nyeryipkan matanya
kemudia menatap ke arah Jeni dan segera mendudukkan tubuhnya dari posisi
tidurnya. Setelah Dikra beranjak bangun dan segera keluar dari kamar itu untuk
__ADS_1
membersihkan dirinya, Jeni segera membangunkan putri kecilnya yang masih juga belum membuka matanya itu.
“Sayang, ada kabar baik tentang Tante Keyla, apa kau tidak mau dengar?” bujuk Jeni dengan
berbisik lirih di samping telinga anaknya itu.
Miranda merespon apa yang di ucapkan oleh Mamanya, itu terlihat dari bola mata anak kecil itu mulai bergerak kesana kemari dengan mata masih terpejam, Miranda mengusap kedua matanya dan kini sudah menatap ke arah Jeni yang tersenyum lebar padanya. Miranda mendudukkan tubuhnya dengan perlahan karena sebenarnya dia masih ingin tidur di
ranjangnya yang nyaman itu namun karena dirinya begitu penasaran dengan kabar
apa yang mau di sampaikan oleh Jeni sehingga Miranda begitu antusias dan mengusir rasa kantuk yang kini masih menyelimuti tubuhnya.
“Kabar apa Ma,” Miranda masih terlihat menguap dan anak kecil itu mencoba mengumpulkan semua nyawanya.
“Tante Key sedang hamil dua minggu,”
Mendengar akan kabar tersebut mata Miranda langsung melotot tajam dan dirinya tak menyangka jika akan memiliki adik baru. Namun sesaat kemudian Miranda menundukkan pandangannya karena anak kecil itu merasa bersedih sebab dirinya tak bisa dekat dengan Keyla lagi.
Jeni mengetahui apa yang sedang di pikirkan oleh anak gadisnya itu dirinya segera menasehati Miranda dengan begitu sabar, beberapa saat kemudian Miranda mulai menganggukkan kepalanya tanda jika gadis kecil itu sudah mengerti apa yang di ucapkan Jeni.
Rumah Martin.
Keyla turun dari anak tangga setelah membersihkan diri dan juga memberikan sarapan pagi untuk Martin junior, kalian tau kan apa maksud dari ucapan ku barusan.
Tak seperti kehamilan pertama, saat kehamilan pertama Keyla terlihat manja dan juga sangat malas untuk melakukan hal apapun. Tapi sekarang dia sangat rajin bahkan dia menuju dapur rumahnya dengan mengosok pelan perutnya yang masih datar itu.
Semua pelayang segera berjejer di bawah tangga rumah Keyla saat mengetahui jika Nona mudanya itu ada di hadapannya. Semua orang membungkukkan badannya terlebih dahulu setelah itu memberikan selamat atas kehamilan ke dua Keyla. dan Key pun mengiyakan apa yang pelayan rumahnya itu ucapkan.
Keyla sangat baik hati pantas saja jika semua orang sangat betah berkerja di rumah itu. Keyla menuju dapur dan karena merasa bahagia semua pelayan rumahnya di suruh Cuti berkerja pada pagi hari ini, Keyla ingin memasak sarapan pagi sendiri.
Awalnya semua pelayan menolak untuk cuti kerja namun Key meyakinkan jika suaminya tidak akan marah pada mereka semua sehingga semua pelayan bisa bernafas lega saat ini.
__ADS_1
BESOK AKAN LEBIH SERU LAGI YA KAWAN CEO MARTIN AKAN SENGACO APA JIKA SEDANG NGIDAM