
"Pergi! Dan ingat jangan sampai kejadian ini diketahui oleh nona muda!"
"Ba, baik asisten Hen." Ucap Halen dan Lena dengan menundukkan kepalanya.
Asisten Hen segera menyudahi hukuman para pelayan itu karna mengetahui jika Martin sedang menahan Keyla agar tak melihat kejadian tersebut. Keyla yang bisa lolos dari suaminya segera nyelonong keluar dari ruangan tersebut matanya menyapu seisi ruangan itu. Dilihatnya tidak ada siapapun disana bahkan asisten Hen sudah kembali kedalam ruangan Keyla.
"Eh, kenapa sepi ya! Aku kira tadi ada yang terjadi disini sampai kak Martin terlihat tidak tenang." Gumam Keyla sembari masih mengamati setiap sudut ruangan itu yang terlihat kosong.
"Hahaha," Martin tersebut garing dibelakang Keyla. "aku hanya menggodamu saja sayang."
Memalingkan wajahnya menatap kearah Martin dengan menekuk mukanya. "Tidak lucu Kak!"
Setelah bicara Keyla langsung keluar dari ruangan itu seperti biasa Keyla akan menggangu Merlin karna hanya resepsionis itu saja yang sangat dekat dengan Keyla.
Martin mendudukkan tubuhnya dikursi kerjanya.
"Asisten Hen!"
Wajah Martin berubah menjadi merah padam dan dia berteriak memanggil Asisten Hen yang ada didalam ruangannya. Asisten Hen langsung menarik tubuhnya dari kursi setelah mendengar namanya dipanggil.
"Anda memanggil saya tuan muda?"
"Ya! jelaskan apa yang terjadi?" Ucap Martin sembari menyandarkan punggungnya di kursi.
Asisten Hen menceritakan semua yang terjadi didalam ruangan tersebut secara detail termasuk tentang mulut usil para perkerja itu yang dengan sengaja menggosipkan istrinya Martin terlihat sangat emosi melihat istrinya di hina tidak seberapa cantik walaupun Martin tau dengan jelas jika Keyla memang tak secantik mantan-mantan kekasihnya dulu.
"Kelak jangan sampai memberikan hukuman di dalam ruangan ini! Apa sudah kau pecat mereka?"
"Tentu saja tuan! Sudah saya hukum dengan semestinya."
"Bagus! Kelak biar tidak ada yang berani bergosip tentang istriku lagi!"
__ADS_1
Setelah bicara asisten Hen segera kembali masuk kedalam ruangan kerjanya. Sedangkan Martin membuka laptopnya dan seperti biasa dia akan mengawasi Keyla dari cctv sembari berkerja hal itu membuat Martin sangat bersemangat saat berkerja karna Keyla adalah sumber energinya.
Rumah sakit.
Setelah keluar dari kantor MK GROUP. Dikra langsung pergi ke rumah sakit dan kini wajahnya terlihat masih bengkak namun sudah mendapatkan perawatan dari dokter dan Dikra diberikan beberapa obat anti nyeri dan salap untuk luka diwajahnya agar luka diwajahnya tidak terlalu terasa sakit.
Namun anehnya Dikra tidak menunjukkan wajah marah ataupun kesal karna dia telah dibohongi oleh Jeni mungkin itu karna rasa cinta yang begitu besar pada Jeni hingga rasa sakit akhibat pukulan Martin tidak dia rasakan lagi.
Kediaman Jordan Hans.
Jordan sudah pergi kekantor sejak pagi seperti biasanya. Rumah Jordan dijaga oleh para pengawal Martin didepan gerbangnya juga banyak para bodyguard yang menjaga tentu saja itu agar Jeni tidak bisa keluar dari rumah tersebut. Mobil Dikra sudah berada didepan gerbang utama rumah Jeni namun para pengawal yang berjaga didepan pintu gerbang tidak mengijinkan Dikra untuk masuk kedalam tentu saja itu karna perintah Martin.
"Tuan muda, anda tidak bisa masuk!" Ucap salah satu bodyguard yang bicara disamping kaca mobil Dikra.
"Saya ingin bertemu dengan Jeni, saya kekasihnya!" Sahut Dikra sembari mulai turun dari mobilnya.
"Ini perintah dari tuan muda Martin, dan kami tidak berani menentang keputusannya!" Sahut bodyguard itu dengan menundukkan kepalanya.
Dikra mengeluarkan ponsel yang ada disaku celananya dan dia seperti sedang menghubungi seseorang. Ya ternyata benar Dikra sedang menelpon asisten Hen.
"Hallo asisten Hen, ini saya Dikra." ~Ucap Dikra setelah telpon itu tersambung.
"Ya, tuan Dikra ada apa menghubungi saya? Ada yang bisa saya bantu?" ~ Tanya asisten Hen dari sebrang.
"Bisakah anda bilang pada tuan Martin agar membiarkan saya masuk kedalam rumah Jeni. Saya sangat ingin bertemu dengannya." ~ Dikra
"Baiklah akan saya sampaikan pada tuan muda." ~Sahut Asisten Hen sembari mengakhiri panggilan ponselnya.
Di ruangan Martin.
"Siapa yang menelfon asisten Hen?" tanya Martin yang melihat asistennya berjalan menghampirinya.
__ADS_1
"Tuan Dikra berkunjung kerumah Jeni dan para bodyguard yang anda taruh disana tidak mengijinkannya masuk, tuan muda." Jelas asisten Hen sembari berdiri dihadapan Martin.
"Dia sangat mencintai Jeni ternyata! Biarkan saja dia masuk aku ingin lihat apa yang dia bicarakan dengan Jeni." jelas Martin.
"Baik Tuan muda."
Sekarang rumah Jordan dipenuhi dengan penyadapan suara dan kamera cctv yang bisa dilihat langsung dari kantor Martin. Tentu saja itu kerjanya asisten Hen yang memantau semua pergerakan didalam rumah Jordan agar kesalahan tidak kembali terjadi.
Rumah Jordan.
Setelah mendapatkan perintah dari Martin para bodyguard itu segera membukakan gerbang utama dan mobil Dikra masuk kedalamnya.
Salah satu pelayan langsung menghampiri Dikra yang baru turun dari mobilnya.
"Tuan muda, mencari siapa?" Tanya asisten rumah Jordan.
"Saya Dikra Bi, saya datang ingin bertemu dengan Jeni." Jawab Dikra sembari menyiratkan senyumannya.
"Tuan Dikra tunggu di sini dulu," Ujar asisten rumah tangga itu sembari melangkah masuk kedalam rumah.
Asisten rumah tangan itu tak langsung memangil Jeni didalam kamarnya. Namun dia lebih dulu menemui Sinta yang sedang ada didapur. Pelayan tersebut menghampiri Sinta yang sedang bicara dengan Bi Eve kepala pelayan rumah tersebut yang baru.
"Nyonya diluar ada tuan muda Dikra, dia datang mencari nona Jeni." Ucap pelayan tersebut sembari menundukkan pandangannya.
"Dikra datang ke sini! Bi kamu pangil Jeni biar aku yang menemui Dikra."
"Baik Nyonya."
Setelah Bicara Sinta segera pergi menemui Dikra diruang tamu sedangkan pelayan tadi memanggil Jeni didalam kamarnya. Dan Bi Eve segera membuatkan minuman untuk tamu yang baru datang itu.
Sinta terkejut saat melihat wajah Dikra yang dipenuhi luka. Saat Dikra mengetahui jika Sinta sudah berdiri dihadapannya Dikra segera membungkukkan badannya dihadapan Sinta memberikan hormat.
__ADS_1
"Ma, maafkan saya karna meninggalkan Jeni dihari pelaminan kami." Ujar Dikra dengan mata berkaca-kaca.